Nayla berusia 23 tahun hidupnya cukup sederhana, awalnya ia bekerja di tempat sebuah restoran mewah itu. Tapi sudah dipecat oleh bosnya, hanya karena ia sudah membuat masalah di tempat restoran itu.
Setelah mencari pekerjaan ditempat lain, ia tidak sengaja di tabrak oleh seseorang lelaki yang begitu tampan. lelaki itu sedang ada masalah dengan istrinya.
Apa yang akan terjadi setelah pertemuan mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nuryani15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menunggu surat perceraian
"Aku udah coba kasih dia kesempatan berulang kali, tapi apa? Dia tidak mau berubah juga Mah, aku sudah capek. Keputusan ku sudah bulat, aku akan tetap menceraikan dia. Aku pamit kembali ke kantor lagi Mah. Maaf aku pergi dulu," jelas Aris bukankah dirinya pun sudah mencoba memberikan kesempatan kepada istrinya, lalu dia juga yang sudah merusak kepercayaan dirinya lagi.
Sampai kapan dirinya menunggu istrinya itu berubah, jika istrinya saja hanya mencintai lelaki itu bukan dirinya. Lalu Aris segera buru-buru keluar dari dalam ruangan itu untuk kembali lagi ke kantornya, sudah tak ingin. Membahas permasalahan rumah tangganya lagi, ia pun sudah sangat lelah sekali.
"Astaga, tuh anak memang sangat keras kepala sekali sih." Mamahnya Aris juga tak tahu harus melakukan apa lagi supaya anaknya itu mau menuruti perkataan dirinya.
"Mah, aku minta maaf yah. Ini semua pun salah ku juga," kata Maira meminta maaf kepada mamah mertuanya karena ini semua pun salah dirinya juga.
"Gapapa, Mamah yakin kamu pasti akan berubah kok," ucap Mamahnya Aris sama sekali pun tidak masalah juga, ia yakin menantunya itu pasti akan berubah perilakunya lagi.
"Yes, akhirnya Mamahnya Mas Aris percaya juga. Dia nggak tahu aja, gue menikah sama Mas Aris cuma karena harta warisan gue di papah gue aja haha," batin Maira merasa sangat senang sekali, mamah mertuanya itu masih saja percuma dengan dirinya.
Padahal ia berniat menikah dengan suaminya hanya karena warisan papahnya saja. Sejak saat itu, seandainya jika dirinya tak ingin menikah dengan suaminya, pasti harta warisannya akan hilang juga.
Aris memukul stir mobilnya, sangat frustasi sekali hari ini. Ia capek jika masalahnya selalu terulang kembali, lebih baik ia menceraikan istrinya saja dari pada harus membuat dirinya pusing seperti ini lagi. Kapan istrinya itu berubah, sampai kapan pun juga istrinya tak akan pernah berubah.
Tiba saja handphone miliknya berbunyi menandakan ada seseorang yang menelpon dirinya. Dan benar saja, sahabatnya lah yang sudah menelpon dirinya. Untuk apa dia menelpon dirinya jam seperti ini, biasanya malam-malam selalu menghubungi dirinya untuk nongkrong saja.
"Iya ada apa Ken?" tegur Aris mengangkat panggilan telpon dari sahabatnya sendiri.
"Gue lagi ada di tempat diskotik, niatnya mau ngajak lu nongkrong di sini sih." Kenzi mengatakan kalau dirinya sedang berada di tempat diskotik, ia berniat ingin mengajak sahabatnya untuk nongkrong di tempat itu lagi.
"Oh ya udah gue ke sana sekarang," sahut Aris menyetir ajakan dari sahabatnya lalu segera mematikan panggilan telponnya lagi.
"Lah, tumben banget tuh anak langsung main setuju aja. Apa mungkin dia ada masalah sama istrinya lagi yah," gumam Kenzi merasa ada yang aneh dengan sahabatnya. Biasanya dia selalu menolak dirinya untuk nongkrong di tempat seperti ini.
Sampai di depan diskotik, Aris memarkirkan mobilnya di parkiran terlebih dahulu. Kemudian segera berjalan masuk ke dalam tempat haram itu. Terlihat jelas, banyak sekali wanita yang sedang berdansa dengan lelaki lain. Biasanya wanita itu adalah wanita penyewaan yang sering di beli oleh lelaki lain.
"Sorry Bro, di jalan macet." Aris mengatakan kepada sahabatnya kalau dirinya datang ke tempat itu telat karena macet.
"Iya santai aja, tumben banget lu mau aja datang ke tempat ini. Biasanya lu selalu nolak tuh," tegur Kenzi bertanya dengan sahabatnya mengapa dia mau saja datang ke tempat ini, biasanya dia selalu menolak permintaan dirinya juga.
"Gue lagi pusing please jangan ganggu gue, mendingan pesenin gue minuman." Aris meminta sahabatnya untuk tidak berbicara lagi, karena dirinya pun sedang pusing dengan masalah rumah tangganya itu.
"Ok, Mbak pesan minuman dia yah." Kenzi meminta kepada Mbaknya membuatkan minuman untuk sahabatnya.
"Ini minumannya Mas," kata Mbaknya sembari memberikan minuman kepada Aris.
"Makasih," ucap Aris mengucapkan terima kasih.
"Gimana rasa minumannya enak 'kan? Biasanya lu selalu nolak kalau gue ajak minum ini," ujar Kenzi ingin tahu apakah sahabatnya itu menyukai minuman yang ia pesan tadi. Biasanya, sahabatnya itu selalu saja menolak permintaan dirinya untuk meminum minuman itu.
"Iya, lumayan buat ngilangin stress." Aris hanya mengiyakan ucapan sahabatnya sembari memijit pelipisnya yang sedang pusing hari ini.
"Ada masalah apa lagi sama bini lu itu?" tanya Kenzia ingin tahu apa masalah yang membuat sahabatnya menjadi galau seperti ini.
"Nggak tahu gue juga pusing, masa iya gue harus maafin dia lagi. Gue udah capek kasih dia kesempatan tapi mengulangi kesalahannya lagi," jawab Aris sudah lelah harus memaafkan semua kesalahan istrinya lagi, padahal ia sudah berulang kali memberikan kesempatan kepada istrinya tapi tetap saja tidak berubah juga.
"Menurut gue sih, lebih baik lu lepasin dia. Masih banyak wanita di luar sana Ar, lagi pula masih perjaka 'kan yah? Sama sekali belum pernah melakukan itu," saran Kenzi meminta sahabatnya untuk melepaskan istrinya saja, bukankah masih banyak wanita di luar sana yang mau mnejadi istri sahabatnya itu. Ia pun ingin tahu, apakah sahabatnya itu sudah melakukan itu dengan istrinya.
"Iya, gue belum lepasin perjaka gue. Karena waktu dulu gue udah tahu kalau dia sering banget main sama sahabatnya itu. Yang benar saja gue main sama dia, yang jelas-jelas dia udah pernah di pake sama lelaki lain juga."
Aris mengatakan kalau dirinya sama sekali belum pernah melakukan hal itu dengan istrinya, karena istrinya itu lah yang sudah melakukan itu dengan kekasihnya. Jadi, untuk apa dirinya melakukan itu dengan istrinya yang sudah jelas sudah pernah di pakai oleh Kekasihnya.
"Gue juga sih ogah Ar, masa iya dapatnya yang udah bekasan sih." Jika Kenzi menjadi sahabatnya itu pasti akan menolaknya juga tak ingin menikahi wanita itu lagi.
"Nah benar banget, mangkanya gue mau cepat-cepat urus perceraian gue sama dia. Tapi mamah gue selalu aja melarang gue buat nggak pisah sama dia lagi," jelas Aris alasan dirinya untuk menceraikan istrinya adalah istrinya sudah mengkhianati dirinya.
"Keputusan ada di tangan lu, kalau menurut lu itu baik lakuin aja. Kata menurut gue sih lebih baik lu ceraikan dia aja sih," ujar Kenzi mengatakan kepada sahabatnya kalau semua keputusan itu ada di tangan suaminya. Tak ingin ikut campur dengan urusan keluarga sahabatnya juga.
"Iya, gue lagi nunggu surat itu di kirim ke rumah dia." Aris pun juga sedang menunggu surat perceraian itu datang ke rumah istrinya.
Malam hari telah tiba, Aris masih saja berada di tempat diskotik seperti ini. Rasanya malas sekali pulang ke rumahnya, karena ia tahu kalau istrinya itu pasti akan datang ke rumahnya lagi. Jadi, lebih baik dirinya memesan tempat hotel terlebih dahulu. Hanya untuk sementara saja, mungkin besok ia sudah ingin pulang lagi.