Indonesia
NovelToon NovelToon
Queen'S Choice

Queen'S Choice

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Kaya Raya / Perperangan / Harem / Romansa / Fantasi Wanita / Romansa Fantasi
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: OrangAsing27_

Cassitovia itu dijuluki sebagai Dunia Terbalik. Di mana perempuan begitu diagungkan, tanpa menginjak laki-laki.

Sejak berdiri, Cassitovia dipimpin oleh seorang Ratu. Tapi bukan itu poin penting dari julukan 'Dunia Terbalik'.

Di Cassitovia, Ratu bisa memiliki banyak suami. Gila atau menakjubkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon OrangAsing27_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Cara Membuat Bayi

"Kenapa kau melakukan pemberontakan, Tuan Hans?" Reese melayangkan tatapan tajam pada sosok pemuda berambut ungu yang tengah berdiri tak jauh di hadapannya. "Kau melakukan hal yang tidak terpuji sebagai anak seorang Duke."

Pemuda itu---Hans tersenyum. "Saya hanya ingin tau, bagaimana cara seorang calon Ratu menyelesaikan masalah yang dibuat oleh rakyatnya sendiri," jawabnya. "Bukankah sebelumnya Anda pernah mengatakan 'Rakyat bisa bersuara kapan pun dan pihak kerajaan akan berusaha mencari solusinya'? Saat ini saya juga sedang bersuara tentang kegundahan saya terhadap sosok calon Ratu."

Reese menghembuskan napas berat. "Tapi caramu salah, Tuan Hans," ujarnya. "Kau bisa mengirim surat atau datang langsung ke istana untuk membuktikan sendiri bagaimana sosok calon Ratu."

"Tapi Yang Mulia, dengan cara ini rakyat akan meminta tolong pada pihak kerajaan dan jika pihak kerajaan menuntaskan masalah ini secara langsung, rakyat pasti akan semakin simpati dan hormat pada pihak kerajaan," balas Hans tak mau kalah. "Selain itu, rakyat juga bisa melihat sendiri kinerja calon Ratu selanjutnya. Bukankah itu bagus? Calon Ratu tidak perlu mencari muka, karena rakyat sudah lebih dulu menghormati perjuangannya."

Reese terdiam selama beberapa saat, lalu berkata, "Baiklah. Akan kupertimbangkan alasanmu. Sebelum itu, kau harus tetap berada di lingkungan istana."

Hans mengangguk. "Baik, Yang Mulia."

"Natha," Reese menoleh pada Neonatha yang berdiri beberapa langkah di belakang Hans, "antarkan dia ke salah satu kamar."

Neonatha mengangguk. "Baik, Yang Mulia," jawabnya, kemudian memberi isyarat pada Hans untuk ikut dengannya. "Memberi hormat kepada Yang Mulia."

Sepeninggal kedua pemuda itu, Reese langsung menghela napas pelan. Ia beralih pada Niccolas yang tengah duduk di kursi Menteri miliknya. "Niccolas, siapkan rapat segera untuk membahas hukuman Tuan Hans."

Niccolas bangkit, lalu membungkuk hormat. "Saya akan segera memanggil para Menteri, Yang Mulia," katanya, dikarenakan para Menteri tidak selalu harus berada di istana, jadilah di aula saat ini hanya tersisa dirinya dan sang Ratu juga beberapa prajurit yang berjaga.

"Kirimkan surat pada Duke Harry juga," titah Reese.

"Maaf Yang Mulia, tapi saya sudah lebih dulu mengirim surat pada Duke Harry atas perintah Putri Mahkota," balas Niccolas. "Haruskah saya kembali mengirim surat?"

Reese menggeleng. "Tidak perlu, kau pergilah dan segera panggil para Menteri," katanya. "Aku juga harus mengatakan hal lain pada mereka."

"Baik, Yang Mulia." Niccolas kembali membungkuk. "Memberi hormat kepada Yang Mulia."

Aula benar-benar hening. Reese sibuk dengan pikirannya yang berkecamuk. Sedangkan prajurit hanya diam tak bergeming.

Selama beberapa saat, yang terdengar hanya deru napas. Hingga, sebuah suara memecah keheningan; "Ibu, apa yang harus aku lakukan jika bayi menangis?"

Reese memejamkan mata sejenak, lalu menatap sosok yang baru saja tiba dan langsung memberikan pertanyaan; Mey. "Bayi yang mana maksudmu?"

Mey berdecak pelan. "Kenapa malah bertanya balik?" gerutunya.

"Kenapa tidak kau jawab saja pernyataan Ibu?" balas Reese tak mau kalah. Matanya menatap Mey dengan sorot menantang. "Ibu lebih berpengalaman dalam mengurus bayi. Harusnya kau jawab saja pertanyaan Ibu."

Mey mendengus keras. "Yang usianya sekitar sepuluh bulan."

"Arion?"

Mey mengangguk ragu. "Mm ... ya, mungkin dia."

"Sebelumnya kau melakukan apa padanya?" Reese bertanya penuh selidik dengan mata memicing curiga pada sang Putri Mahkota. "Asal kau tau, dia jarang sekali menangis. Jika menangis pun, pasti karena seseorang melakukan sesuatu padanya dan sesuatu itu tidak dia sukai."

Mey menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali, lalu menampilkan cengiran. "Aku membuang mainannya."

Seketika ekspresi Reese berubah datar. Pantas saja Arion menangis, pikirnya. "Kenapa kau melakukan itu?"

"Aku mengajaknya bicara tapi dia terus saja sibuk dengan mainnya. Aku jadi kesal dan akhirnya aku buang mainan itu ke danau," adu Mey disertai ekspresi kesal yang kentara di wajahnya.

Reese menghela napas berat. Ia langsung bangkit dan berjalan keluar aula, diikuti Mey di belakangnya. "Anak kecil diajak bicara, ya pasti dia akan sibuk dengan dunianya." Reese menggerutu kesal sembari memacu langkahnya menuju halaman belakang istana yang terdapat danau buatan.

"Haruskah aku mengambil kembali mainan itu?" Mey kembali melontarkan pertanyaan tatkala ia dan ibunya tiba di dekat Arion---bayi laki-laki dari Raja Lizard yang saat ini tengah diasuh oleh para pelayan, termasuk Aalisha.

Tak hanya ada Arion saja di sana, ada dua bayi lain berjenis kelamin laki-laki dan perempuan yang Mey dapat dari kerajaan Licaina dan Lavaland. Kedua bayi itu adalah anak Raja yang sudah Mey lenyapkan. Entah apa yang Mey pikirkan, hingga memilih untuk mempertahankan bayi-bayi itu. Padahal jika suatu saat nanti mereka dewasa, perlahan mereka pasti akan tau jika seseorang yang membawa mereka adalah pembunuh keluarga mereka sendiri.

"Arion, kemari!" Reese mengambil alih Arion yang semula dipangku oleh salah satu pelayan. "Arion menangis? Kenapa, hm?"

Bayi laki-laki itu hanya terisak sembari memeluk leher Reese.

"Kita jalan-jalan saja, ya." Akhirnya, Reese memilih menjauh dari kerumunan pelayan dan membawa Arion di gendongannya.

"Salam, Yang Mulia." Para pelayan membungkuk sejenak pada Mey yang tengah terdiam mengamati tubuh sang Ratu yang perlahan menjauh.

Mey menoleh dan memilih duduk di tempat kosong; di sebuah bangku berukuran cukup besar dan luas, di antara Aalisha dan satu pelayan lainnya. Ia memandangi dua bayi lain yang tengah dipangku pelayan. Kedua bayi itu tampak tidak terlalu beda jauh usianya, sekitar 6-7 bulan.

"Mm ...." Mey memejamkan mata sejenak, berusaha mengingat nama bayi-bayi itu. Padahal, ia sendiri yang mengganti nama mereka, tapi ia pula yang lupa. "Siapa nama yang perempuan itu?" Akhirnya Mey memutuskan untuk bertanya.

"Kaleya, Yang Mulia."

"Ah, ya, ya, ya, aku ingat sekarang." Mey mengangguk-anggukkan kepala. "Lalu yang laki-laki?"

"Asher, Yang Mulia."

"Ah, Asher, ya," cetus Mey. "Asher, Kaleya, kemari! Aku ingin memangku kalian juga."

Kedua bayi berbeda jenis kelamin itu benar-benar mendekat dengan cara merangkak.

"Nah, pintar," puji Mey sembari mengangkat kedua bayi itu agar duduk di kedua pahanya dengan menghadap ke depan. "Aku tidak tau jika bayi akan semenggemaskan ini," celetuknya. "Haruskah aku segera membuatnya?"

Mendengar pertanyaan sang Putri Mahkota, membuat wajah para pelayan di sana memerah malu. Bisa-bisanya seorang Tuan Putri bicara seperti itu, pikir mereka.

"Aku akan mencari tau cara membuat bayi nanti," tambah Mey yang semakin membuat para pelayan malu. Ia menunduk, mencium sebentar pipi kedua bayi di pangkuannya. "Aalisha, nanti kau temani aku mencari tau."

Sang pemilik nama mengangguk kaku dengan wajah dan telinga memerah. "Baik, Yang Mulia."

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!