Viola adalah mahasiswa jurusan hukum di salah satu universitas swasta di Jakarta. Namun tidak ada yang mengetahui identitasnya sebagai penulis terkenal bernama Armoon. Suatu hari Viola mengadakan seminar kepenulisan sekaligus jumpa fans untuk mengumumkan hiatus untuk sementara waktu di gedung aula kampusnya. Setelah selesai acara ia langsung pergi membuka wig penyamarannya sebagai Armoon, tidak disangka dosen yang terkenal dingin dan galak seantero kampus bernama Aldo memergoki kenyataan bahwa gadis itu adalah Armoon. Bagaimana selanjutnya keseharian Viola dan Aldo di kampus ? Sementara Aldo yang merasa tidak enak karena mengetahui penyamaran Viola pun mengajukan permintaan menjadi partnertnya di kepolisian. Lalu bagaimana keseharian Viola sebagai asisten polisi ? Apakah akan baik-baik saja ? Atau justru malah membuat perubahan dalam diri Viola ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greyvee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Terselubung
Hari ini Aldo sudah mulai mengajar kembali di kampusnya. Selesai mengajar kelas pertama, dia berjalan menuju ruangan pribadinya. Saat melewati papan pengumuman, dia melihat orang berkerumun.
"Eh eh ini seriusan ? Gila ya dia. Ansos tapi monster." celetuk salah satu mahasiswi.
Aldo melihat papan pengumuman, terlihat foto perkelahian antar gadis dan disebelahnya ada tulisan Hot news : Viola M****embully dan Melukai Naira cs.
"Eh ini orangnya datang. Naira lo gapapa kan ? Kok bisa sih dia nyerang lo gitu ?" tanya mereka penasaran.
"Gue juga gak tahu salah gue apa. Gak nyangka ternyata dia benci banget sama gue." jawab Naira pura-pura sedih. Aldo terus memperhatikan gerak gerik Naira.
"Gak usah nangis Nai, kita pasti bela lo kok." jawab salah satu mereka menepuk pundak Naira.
"Makasih ya guys, gue mau ke kamar mandi dulu." jawab Naira sok tegar dan pergi ke kamar mandi. Aldo penasaran dan mengikuti Naira diam-diam.
Sampai di kamar mandi, Naira dan kelompoknya tertawa terbahak-bahak.
"Kalian lihat kan ? Bodoh banget semua percaya berita gituan." tawa Naira puas.
"Iya ya benar juga Nai. Bentar lagi Vio bakal dipanggil sama ketua prodi. ****** deh itu anak." tambah teman Naira yang lain.
"Dia juga bodoh sih gak ngelawan. Sok pingin ngebuktiin rumor lah kalo dia bukan monster. Makan tuh bukti. Pokoknya guys, gue itu punya seribu cara buat nyingkirin kutu Vio itu. Kalian lihat aja selanjutnya." tawa Naira lagi.
Mereka keluar dari kamar mandi dengan muka yang kembali datar. Aldo yang sembunyi untuk menguping sedari tadi geram mendengar obrolan gadis munafik seperti mereka. Aldo segera pergi dan berpapasan dengan Rena.
"Ohh Pak Aldo." sapa Rena sopan karena ini masih area kampus.
"Iya Rena..." jawab Aldo singkat.
"Pak Aldo udah sembuh ? Berarti nanti ngajar di kelas saya kan ?" tanya Rena formal.
"Iya hehe. Rena kamu sudah lihat berita di papan pengumuman ?" jawab Aldo agak canggung.
"Iya... Saya lihat barusan." kata Rena tak kalah canggung.
"Ikut saya ke ruangan. Kita bahas disana saja ya." perintah Aldo membawa Rena ke ruangan miliknya.
Di ruangan Aldo, Rena menjelaskan bahwa Vio telah difitnah oleh Naira. Justru kebalikannya mereka yang sudah melukai Vio sampai dia pingsan kemarin.
"Kakak tahu yang sebenarnya. Barusan juga aku mengikuti mereka sampai di toilet dan menguping sebentar. Bisa dilihat skema permainan mereka." ujar Aldo meneliti.
"Skema apaan kak ?" tanya Rena tidak mengerti.
"Naira itu membuat dia seperti korban Vio. Padahal sebenarnya Vio yang menjadi korban disini. Dia sengaja membuat nama Vio buruk dimata orang lain." jawab Aldo datar.
"Oohh itu mah sudah lama kali dia kayak gitu." jawab Rena mulai paham maksud Aldo."
"Hah ? Maksud kamu sudah lama ?" tanya Aldo tersentak.
"Iya kerjaan si Naira itu. Mulai dari jaman SMA mah dia emang suka ngerjain Senior. Bukan Senior aja dulu, tapi kebanyakan cewek angkatan atas banyak diperlakukan kayak gitu sama dia." ujar Rena sambil mengingat.
"Kita butuh banyak bukti untuk menangkap Naira di kesempatan selanjutnya. Aku juga akan menjebaknya dan di waktu yang tepat kita bisa menangkapnya." ujar Aldo menyusun strategi.
"Aku mau ikutan, Kak." balas Rena antusias.
"Ini misi kakak Ren. Biar kakak yang menyelesaikan sendiri. Nanti kalo kakak butuh bantuan, kakak pasti menghubungi Rena." jawab Aldo mengelus puncak kepala Rena.
"Yaudah kak, habis ini kelasmu kan ? Aku mau pergi ke kelas dulu ya." ujar Rena keluar dari ruangan itu.
Begitu keluar dari ruangan Aldo, Rena tidak sengaja menabrak seseorang.
"Maaf aku tidak sengaja... Hmm Kak Evan ?"
Rena meminta maaf tetapi dia terkejut melihat orang yang ditabraknya.
Dia adalah Evan mahasiswa pindahan dari universitas di Jogja, sekaligus dia adalah orang yang dulu ditaksir oleh Rena waktu SMA.
"Rena ? Kamu kuliah disini ?" tanya Evan kaget.
Evan juga kaget melihat Rena yang menabraknya. Rena langsung berlari menuju kelas. Kelas selanjutnya adalah mata kuliah Aldo.
...*****...
Pagi ini di markas, Tono sedang bersih-bersih kemudian datang Dokter Diana. Dokter bilang hari ini ada yang mau dibicarakan dengan Kombes Bambang, Tono mempersilahkan untuk segera masuk ke ruangan Pak Bambang. Tidak lama kemudian Kombes menyuruh Diana memanggil Tono kedalam dan menyuruh jangan lupa kunci pintu depan dulu, karena tidak ada orang di markas selain mereka bertiga.
Sampai didalam, Bambang menghidupkan layar konferensnya lalu muncul sosok wanita. Dia adalah Ratnaningsih.
"Pak Bambang, anda membiarkan orang luar ikut campur masalah ini ?" tanya Diana bingung kenapa Kombes membiarkan Tono ikut dalam pembicaraan ini.
"Dia bukan orang luar, Diana. Tono bagian dari kita." jawab Kombes menatap Tono tajam.
"Sebenarnya apa yang kalian rencanakan ?" tanya Tono terusik.
"Tono, kamu diam dan amati. Setelah kami selesai berbicara, kamu boleh simpulkan sendiri." jawab Bambang dingin. Ratna mulai berbicara membuka percakapan.
"Maaf mengganggu waktumu Bambang." kata Ratna basa-basi.
"Tidak apa-apa Nyonya. Jadi apa yang membuatmu repot-repot menghubungi aku ?" jawab Bambang santai.
"Kapan Anda bisa membawa anak itu kehadapanku ? Aku rasa ini sudah lebih dari dua bulan sejak aku minta tolong padamu." ujar Ratna langsung pada inti pembicaraan.
'Jadi alasan Vio bergabung kesini adalah untuk itu ?' ujar Tono dalam hati terkejut.
"Kemungkinan dua hari lagi saya akan membawa dia pulang ke rumah." jawab Bambang menegaskan.
"Baiklah kalau begitu aku sudah tidak sabar bertemu dengan anak bungsuku itu. Oh ya kalau sudah sampai disini, telpon aku dulu ya." balas Ratna menyeringai dan menutup layar konferensnya, sambungan terputus.
"Tono, jadi apa simpulanmu ?" tanya Bambang menunggu.
"Orang tadi adalah alasan Vio bergabung disini." jawab Tono cepat.
"Pintar sekali. Sebenarnya masih ada alasan lain. Tadi aku telpon Aldo tanya apa dia bisa ikut lusa ke tempat Ratna, dia jawab ada urusan lain." kata Bambang lagi.
"Lalu hubungannya dengan saya apa Pak ?" tanya Tono curiga.
"Tono, kamu orang yang saya percayai setelah Aldo. Kamu lusa ikut saya ke tempat Ratna." perintah Kombes pada Tono.
"Pak yang benar saja, Vio masih belum pulih dari kambuhnya tapi lusa dibawa pulang ke rumahnya. Saya rasa kambuhnya akan semakin parah." ujar Tono membantah.
"Oleh karena itu aku sudah mengantisipasi jika hal itu terjadi. Dokter Diana akan menyusul kita ke kediaman Ratna. Jadi misalkan Vio kambuh ada yang menangani." balas Kombes memahami kekhawatiran Tono.
Merekapun mengakhiri pembicaraan dan Tono serta Dokter Diana keluar dari ruangan Kombes Bambang.
"Tono, sebentar." ujar Diana menghentikan langkah Tono yang menuju dapur.
"Ya Dok ?" tanya Tono berbalik.
"Bagaimana kalo kita ngopi diluar ? Kamu juga kayaknya banyak yang mau dibicarakan." balas Dokter Diana mengajak keluar.
aku mampir nihh
semangatt yaa
yuk baca juga cerita aku yang judulnya CONVERGE!!
dijamin baper deh bacanyaa 😍
mari saling support ya thorr ❤️
thanks
aku mampir bawa like ya
jgn lupa like back hehe,
salam literasi,😊
mampir juga ya kak di tunggu fasbackny
mampir juga ya kak di tunggu fasbacknya