Indonesia
NovelToon NovelToon
I LOVE YOU TOO, MR. MAX!

I LOVE YOU TOO, MR. MAX!

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Lari Saat Hamil / Mafia / Berbaikan
Popularitas:24.6k
Nilai: 5
Nama Author: Futen22

Ratu Maudy. Gadis berusia dua puluh tiga tahun. Menutup diri dari yang namanya cinta dan jatuh cinta setelah dikecewakan teramat dalam oleh kekasih pertamanya tiga tahun yang lalu.

Suatu malam, saat sedang menikmati pemandangan kota yang muram, gadis itu tidak sengaja melihat seorang korban pembunuhan. Dibuang di tempat pembuangan sampah yang tidak jauh dari rusun tempat ia tinggal. Awalnya, Maudy ingin berpura-pura tidak tahu. Tapi, saat seseorang itu bergerak dan hidup, hati gadis itu tergerak untuk menyelamatkannya.

Berlanjutlah hari-hari Maudy yang akan selalu direcoki oleh pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Futen22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13 - Siapa pria itu?

"Sudah ku bilang, aku saja yang mengurusnya. Lihat! Kamu bahkan melukai tanganmu sekarang."

Maudy terus mengomel sementara tangannya dengan telaten membersihkan darah yang mengalir di jari telunjuk Max. Memang bukan luka yang serius. Tapi, darah yang keluar cukup banyak untuk ukuran luka seperti itu. Jari telunjuk pria itu robek terkena serpihan kaca saat hendak membereskan serpihan piring yang tadi ia pecahkan. Padahal, Maudy sudah berkata akan membersihkan semua kekacauan itu, tapi Max ngotot ingin membersihkan sendiri. Katanya, dia yang menyebabkan piring itu pecah, jadi dia juga yang harus membereskannya.

Mau tidak mau Maudy mengalah dan membiarkan pria itu mengurus sendiri kekacauan yang telah ia perbuat. Dan ya, pria itu malah melukai tangannya sendiri. Entah karena kurang hati-hati atau dia memang belum pernah mengurus hal seperti ini sebelumnya.

Terakhir, Maudy membalut luka Max dengan plester usai membalurinya dengan cairan antiseptik.

Setelah semua itu usai, Maudy tidak lantas melepaskan tangan Max. Dia justru terkesima melihat betapa lembut dan terawatnya kulit tangan pria itu. Apa tangan ini pernah menyentuh kerasnya dunia? Sepertinya tidak. Maudy bahkan ragu, apa tangan ini pernah bersentuhan dengan sabun cuci piring sebelumnya.

"Puas menatapnya?" tanya pria itu menarik Maudy kembali pada realita.

Refleks, Maudy melepaskan tangan pria itu dari genggaman. Dia terlihat gugup.

Max yang selama Maudy mengobati lukanya tidak mengalihkan perhatian dari gadis itu, tertawa manis. Dan entah kenapa, malah membuat Maudy semakin gugup.

"Kenapa tertawa?" tanya Maudy mencoba menghilangkan perasaan gugupnya. Lagi pula, kenapa dia menjadi salah tingkah begini? Mungkin, benar-benar ada yang salah dalam dirinya.

Bukannya menjawab, Max malah semakin melebarkan senyuman. Sorot ceria tergambar jelas dalam sinar mata pria itu.

Ketika tatapan mereka bertemu, Maudy merasakan dirinya semakin aneh. Tiba-tiba saja ada desiran aneh yang menerpa dadanya ketika sorot ceria pria itu bertemu dengan sorot sendu miliknya.

Tidak ingin keanehan itu semakin menguasai dirinya, Maudy bergegas bangkit. Memperbesar jarak di antara mereka.

"Sudah selesai. Kamu boleh pergi," ucap gadis itu rendah.

Max menghela napas berat mendengar kalimat itu. Lagi-lagi dirinya diusir. Padahal dia merasa nyaman di sini. Tapi, ya sudahlah, mungkin Maudy tidak merasa nyaman dengan keberadaannya. Kenyamanan gadis itu yang terpenting. Jadi, dirinya memilih untuk langsung menurut kali ini.

Max bangkit, mengambil jas yang tersampir di sofa kemudian mengenakannya.

"Baiklah, aku pergi. Terima kasih untuk makanannya. Aku menikmatinya."

Maudy mengangguk. "Sama-sama."

Maudy mengantar Max sampai di depan pintu.

"Jangan lupa untuk acara besok malam. Persiapkan dirimu dengan baik," peringat pria itu. "Jika kamu berhasil membuat keluargaku percaya mengenai hubungan kita, aku akan langsung mengirim uangmu sesuai janjiku."

Maudy kembali mengangguk. "Tenang saja. Aku bisa diandalkan."

"Aku percaya padamu. Dan jangan lupa. Seusai pesta itu kita masih ada perjanjian kencan sebanyak tiga kali. Tapi, kalau mau lebih juga tidak apa-apa," lanjut pria itu kemudian tertawa geli.

Maudy menatap tajam seolah berkata. Cepat pergi sebelum aku melemparmu dari lantai tiga ini!

"Baiklah, baiklah. Aku pergi sekarang," ucap pria itu kali ini benar-benar melangkah pergi.

Maudy kembali masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rapat setelah Max melangkah menuruni anak tangga.

"Apa di sini tidak ada lift?" monolog pria itu. Dia sudah merasa lelah sendiri menapaki anak tangga yang seperti tidak habis-habis.

Saat tiba di lantai dua, Max berpapasan dengan seorang pria berjaket abu-abu. Pria itu membawa sekantong penuh belanjaan dapur. Sebuah lemon jatuh dari kantong belanjaan pria itu, menggelinding kemudian berhenti tepat di dekat kaki Max. Karena fokus dengan ponsel, pria itu tidak menyadarinya.

Max memanggil.

"Hei! Kamu menjatuhkan lemonmu," ujar Max memungut lemon itu.

Pria itu berbalik. Menatap lemon yang kini berada di tangan Max.

"Ah ya, terima kasih," ucap pria itu tersenyum.

Max membalas senyuman pria itu. "Sama-sama."

"MAX!!! Kamu meninggalkan ponselmu!" teriak seseorang yang sedang menuruni tangga dari lantai tiga.

Kedua pria itu refleks menoleh ke asal suara.

"Maudy?"gumam pria berjaket abu-abu yang tidak lain adalah David.

Maudy memperlambat langkah saat menyadari ada David di situ. Gadis itu tersenyum canggung pada David yang tidak dibalas oleh pria itu.

"Ini, ponselmu," ucap Maudy mengangsurkan ponsel Max kepada pemiliknya.

"Akh, maaf, aku tidak sadar meninggalkannya," ucap pria itu menerima ponsel dari Maudy. "Terima kasih."

Maudy mengangguk. "Aku kembali ke rumah," ucap gadis itu kembali melangkah menuju lantai tiga.

Dan Max kembali menuruni tangga menuju lantai dasar. Sementara David masih terdiam di tempat. Menatap kepergian pria bernama Max yang sepertinya baru saja pulang dari rumah Maudy.

Siapa pria itu? Dan, apa hubungannya dengan Maudy? David bertanya-tanya dengan perasaan yang mulai memanas.

***

TOK! TOK! TOK!

Suara ketukan di pintu menginterupsi Maudy yang sedang larut dalam bacaan komik di tangan. Gadis itu menghela napas berat, meletakkan komik bertema bajak laut itu ke atas meja kemudian berjalan gontai menuju pintu depan.

Siapapun itu, Maudy harus berterima kasih karena telah mengganggu minggu paginya yang tenang.

CKLEK!

Pintu itu terbuka, menampilkan sesosok pria tampan dengan senyum manis mempesona.

"Max?" gumam Maudy. "Ka-kamu—"

Belum sempat gadis itu menyelesaikan kalimatnya, pria itu sudah meraih tangannya kemudian menarik dirinya masuk ke dalam rumah. Satu tangan pria itu menutup pintu di belakang sementara tangan lainnya memeluk bahu Maudy agar gadis itu tidak ke mana-mana.

"Max?" Maudy lantas kebingungan. Kenapa pria ini tiba-tiba bertingkah seperti ini? Apa yang salah dengannya?

"Max—"

"Shhhttt..." Pria itu menempelkan jari telunjuk di bibir Maudy, mengisyaratkan agar gadis itu diam.

Maudy lantas mengunci bibir rapat-rapat. Tatapan pria itu yang begitu intens padanya membuat Maudy menelan ludah.

"D*mn, you're so hot. I like you," bisik pria itu tepat di telinga Maudy dengan suara berat.

Gadis itu seketika merinding. Terpaan napas hangat juga sentuhan lembut di pipi membuat Maudy seolah kehilangan kemampuan untuk bergerak. Gadis itu tidak dapat menghindar.

Perlahan namun pasti, Max mendekatkan wajahnya pada wajah Maudy. Keduanya dapat merasakan napas satu sama lain. Beberapa detik kemudian bibir lembut Max sudah mendarat di bibir lembut Maudy. Awalnya hanya pagutan lembut yang pria itu berikan. Hingga ketika Maudy membalas ciuman itu pagutan di antara keduanya semakin panas dan liar.

Maudy kewalahan, gadis itu hampir kehabisan napas. Namun, Max tidak juga menyudahi ciumannya meski Maudy sudah berulang kali mencoba melepas.

"M-Max ..." lirih Maudy mencoba mendorong dada pria itu. Namun, Max malah semakin mempererat dekapan dan ciumannya.

Maudy sudah tidak tahan. Gadis itu seperti tenggelam di dasar lautan terdalam. Dia tidak bisa bernapas.

"M-Max ..."

TOK! TOK! TOK!

Hingga ketukan di pintu mengembalikan semua oksigen Maudy yang hilang.

Gadis itu terengah-engah. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamar yang berwarna putih.

"Max?" gumam Maudy mencari keberadaaan pria itu. Namun, dia tidak menemukan pria itu di sekitarnya.

TOK! TOK! TOK!

Suara ketukan itu kembali terdengar. Kali ini lebih keras dari sebelumnya.

Maudy menghela napas dalam. Mengetok pelipisnya sendiri. Gadis itu baru menyadari bahwa aksi yang baru saja ia lakukan bersama Max tadi tidak lain dan tidak bukan hanyalah mimpi belaka.

"Sial! Sial!" umpat gadis itu merutuki diri sendiri. "Bisa-bisanya kamu memimpikan hal seperti itu, Maudy."

TOK! TOK! TOK!

"Iya!!! Sebentar!!!" teriak Maudy menyibak selimut kemudian bergegas menuju pintu depan.

Cklek!

Pintu itu terbuka dan menampilkan dua orang, satu pria dan satu wanita dengan setelan rapi.

Kening Maudy mengernyit. "Siapa?" tanya gadis itu.

Sang pria tersenyum tipis pada Maudy. "Perkenalkan, saya Tommy dan ini Raisa asisten saya." Pria itu memperkenalkan diri dan wanita di sebelahnya.

Wanita itu tersenyum ramah pada Maudy. "Salam kenal Nona, saya Raisa asisten pak Tommy."

Maudy mengangguk di tengah kebingungan.

Melihat wajah Maudy yang masih bingung, Tommy melanjutkan kalimatnya. "Kami disuruh tuan Max untuk menjemput anda, nona."

Dan saat nama Max disebut, barulah Maudy menyadari sesuatu. Gadis itu langsung melihat jam di dinding. Pukul sembilan pagi? Astaga! Bisa-bisanya dia baru bangun jam segini!

Maudy membuka pintu lebih lebar.

"Maafkan saya. Bisakah kalian masuk dulu? Aku perlu bersiap sebentar," ucap Maudy sesopan dan sehati-hati mungkin.

Tommy dan Raisa saling pandang.

"Tolong. Aku tidak akan lama. Hanya lima belas menit." Maudy mencoba bernegosiasi. "Ah tidak, aku akan selesai dalam sepuluh menit."

Maudy menunjukkan wajah melas. Merasa bersalah karena bangun kesiangan dan lupa akan janji pagi ini.

Tommy tersenyum hangat pada Maudy. "Tenang saja, nona. Kami akan menunggu."

Maudy pun merasa lebih tenang.

***

1
Marya Dina
aminn thor
d tunggu kelanjutan nya
Umisah Asther
semoga max Dateng dan nolongi Maudy.... jangan balik sama Dave Maudy...yg tulus ada pilih max
Sri Bintang
Luar biasa
Mam Jes
itu2 trs thro kpn masa lalu nya qt tau heheh
Suryani Ani
semangat thor...
Marya Dina
semangat thor
sellu d tunggu crita nya💪💪
mama safa
aq selalu menanti max dan maudy...
Lisa
Aq mampir Kak..keliatannya bagus ceritanya
Lisa: Amin..bagus koq ceritanya
total 2 replies
Asngadah Baruharjo
luar biasa
Asngadah Baruharjo
keren thoorrr kerennnnnnnn 👍👍👍
Asngadah Baruharjo
wadidawwww
Asngadah Baruharjo
wa ha ha 🤣🤣🤣,max aku mendukungmu
Marya Dina
apa maudy pernah keguguran ya..
ayo lah thor flasback critan nya penasaran ini
Marya Dina: d tunggu klanjutan nya❤️❤️🌹✌️
total 2 replies
Marya Dina
ada apa y 3 thn lalu
apa aq yg blum ngeh.
Futen22: Di sini memang belum diceritakan. Sabar ya🤗
total 1 replies
Acha Larasati Sembiring
hari ini sampai di sini dulu🙂
Sri Bintang
😊😊😊
Sri Bintang
Woww... sepertinya menarik 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!