Kisah seorang maid yang memiliki keahlian membunuh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azai Nagamasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Setelah memberikan kue super lembut pada Syarifah, Lania langsung merebus adonan bola-bola ketan kecil yang baru ia bentuk dalam waktu lama.
Lania nampak sangat menikmati pekerjaannya, jujur ia jauh lebih nyaman menjadi maid ketimbang bangsawan, karena tanggung jawab seorang bangsawan terlalu berat untuk dirinya yang berjiwa bebas.
Setelah beberapa menit, Lania mengangkat dan mengganti air mendidih yang memasak adonan ketan yang dibentuk bola-bola kecil tadi menjadi kuah santan dengan gula merah parutan jahe untuk kuahnya.
Kabar mengenai Baroness Guardina, Lania Guardina yang datang berkunjung ke rumah rakyat jelata dan memberikan bantuan yang cukup banyak sampai ke telinga banyak orang termasuk para bangsawan dan keluarga Raja, salah satunya adalah pangeran ketiga, Lucas Van Derkope yang sedang di medan pertempuran melawan iblis bersama para pahlawan Kekaisaran.
Arif yang mendengar kabar itu hanya tersenyum tipis, "Rupanya mantan pelayan Pribadi tuan Putri itu tak bisa berdiam diri saat bosan," ucap Arif seolah ia sangat mengenalnya, padahal pertemuan mereka baru berlangsung 2-3 kali saja.
Pangeran Lucas yang penasaran langsung menghampiri Arif si pahlawan Kekaisaran yang dikenal dengan keahlian sihir tingkat tinggi miliknya.
"Hei, namamu Arif bukan, aku dengar kau adalah pahlawan kekaisaran?" ucap Pangeran Lucas.
"Ya begitulah, ah salam hormat saya Pangeran Ketiga, saya Arif, Hero dengan Job Mage of Elemental," ucap Arif sambil menunduk.
"Ya, baiklah, apakah kau cukup mengenal Lania, Baroness yang ditunjuk Kaisar untuk ke wilayah ini?" tanya Lucas pada Arif.
"Ah, ya tapi aku tidak begitu mengenalnya secara keseluruhan, pertemuan kami hanya terjadi beberapa kali, ia dulunya hanya seorang Pelayan yang melayani Putri Kekaisaran. Dia naik pangkat menjadi Baroness karena ia berjasa dalam penyelamatan putri Kaisar yang diculik," jawab Arif
Pangeran Lucas mendengarkan penjelasan Arif dengan serius. "Dia tampak sangat berbeda sekarang. Memberikan bantuan secara langsung ke rakyat jelata, bahkan dengan memasak sendiri," ucap Pangeran Lucas, terlihat sedikit terkesan.
Arif tersenyum, "Baroness Guardina selalu memiliki karakter yang kuat. Meskipun telah naik pangkat, sepertinya dia tetap ingin berkontribusi langsung pada rakyat."
Pangeran Lucas berpikir sejenak, "Kau mengenalnya sebagai pelayan Putri Kekaisaran. Bagaimana menurutmu, apakah dia cocok menjadi seorang bangsawan dan memimpin wilayah ini?"
Arif berpikir sejenak sebelum menjawab, "Baroness Guardina memiliki kepekaan terhadap kebutuhan rakyat dan tindakan yang tulus. Meskipun tidak banyak berbicara, tapi ketulusannya terpancar dari tindakannya. Saya rasa dia memiliki potensi untuk memimpin dengan baik."
Pangeran Lucas mengangguk mengerti, "Terima kasih atas pandanganmu, Arif. Aku harus kembali ke medan pertempuran. Pastikan untuk memberikan salamku pada Baroness Guardina jika bertemu dengannya."
Arif mengangguk, "Salam hormat, Pangeran. Semoga keberuntungan menyertai pertempuran Anda."
Sementara itu, di kediaman Lania, kabar mengenai tindakan baiknya menyebar lebih luas. Beberapa warga mulai berkumpul di depan rumahnya, menyampaikan ucapan terima kasih dan memberikan doa restu untuknya. Lania menerima mereka dengan ramah, tetap rendah hati meskipun mendapat perhatian.
Wiliam yang melihat kejadian itu langsung tersenyum, ia tidak menyangka kalau orang yang ia layani adalah orang yang sangat luar biasa, ia sempat mengira kalau orang-orang kekaisaran adalah orang kikir yang tak peduli dengan orang lain.
"Lady apa masih ada keperluan lain?" tanya Wiliam.
"Untuk saat ini tidak ada. Namun, bisa dibilang aku senang dengan apa yang aku miliki saat ini. Selain itu ... Ada banyak hal yang ingin aku lakukan," ucap Lania sambil berbalik masuk ke dalam rumah dinasnya sebagai Baroness di kerajaan Grander.
Wiliam tersenyum mengangguk, "Saya senang melihat Anda memberikan bantuan kepada rakyat jelata, My Lady. Jika ada sesuatu yang dibutuhkan, jangan ragu untuk memberi tahu saya."
Lania menyapa dengan lembut, "Terima kasih, Wiliam. Saya akan melibatkanmu jika ada keperluan. Bagaimana dengan keluarga Anderson? Apakah mereka merasa terbantu?"
Wiliam mengangguk, "Tentu, My Lady. Mereka sangat terkejut dan bersyukur atas bantuan yang Anda berikan. Kehadiran Anda memberikan semangat baru bagi mereka."
Dengan itu, Lania tersenyum tipis, ia kemudian memejamkan mata mengingat saat-saat ia bertemu anak Anderson yang sedang terbaring sakit di kamar.
Flash back beberapa jam lalu.
Lania datang membawa semangkok hidangan, berupa bola-bola ketan dengan seukuran kelereng kecil yang ada dalam mangkok dilumuri kuah kental kecoklatan dan dan mengeluarkan aroma wangi pandan dan gula merah dan jahe.
"Yo apa kamu masih lapar?" tanya Lania.
"Lady Guardina, anda tak usah serepot itu untuk membawa makanan pada anakku," ucap Anderson merasa tidak enak melihat majikannya datang membawa semangkok makanan hangat.
"Ta apa, kau berkomitmen dalam menjalankan tugasmu di kediamanku, anggap saja ini caraku untuk berterima kasih, ah iya siapa nama anak kalian?" tanya Lania pada Anderson dan istrinya Syarifah, mengenai nama anak perempuan yang terbaring lemah di kasur dan mengenakan kompres kain yang dibasahkan tanda ia sedang demam tinggi.
Istri Anderson, Syarifah, menjawab dengan penuh kerendahan hati, "Anak kami bernama Aisha, My Lady."
Lania mengangguk dengan penuh kepedulian, "Aisha, apakah kamu merasa lebih baik setelah minum obat yang diberikan dokter?"
Aisha yang masih lemah tersenyum kecil, "Sedikit, Lady. Terima kasih sudah membantu."
Lania mengulurkan semangkok bola ketan kecil pada Aisha, "Coba makan ini, Aisha. Semoga bisa membantu meningkatkan energimu."
Aisha mengangguk dan mulai mencicipi bola ketan. Lania duduk di samping tempat tidur Aisha, memberikan perhatian dan kehangatan kepada keluarga Anderson.
Lania terus menyuapi Aisha dengan sendok kayu yang dimiliki keluarga itu, "Makan yang banyak agar kamu punya cukup energi untuk sembuh, tubuhmu memanas karena sedang berjuang melawan penyakit, jangan patah semangat, makanlah bantu tubuhmu untuk melawan penyakitmu," ucap Lania sambil meniup kuah yang ada di sendoknya karena masih panas, lalu ia arahkan ke mulut Aisha ketika dirasa sudah cukup dingin.
Aisha hanya membuka mulutnya dan memakannya sambil mencoba tersenyum, air matanya menetes, karena baru kali ini ia bisa menikmati hidangan enak, karena dulu sebelum Lania datang, ayah dan ibunya hanya sanggup membeli roti, dan roti itu juga harus di rendam dalam air di waktu yang lama agar bisa dimakan karena roti itu sangat keras hampir seperti bata.
Lania melihat ekspresi bahagia Aisha, dan senyum kecil muncul di wajahnya. Ia merasa puas bisa memberikan bantuan dan kebahagiaan bagi keluarga Anderson.
"Anda hebat, Lady Guardina. Tak ada seorang bangsawan pun yang pernah peduli seperti Anda pada rakyat jelata," ucap Syarifah dengan mata berkaca-kaca.
"Aku tidaklah hebat, aku membantu kalian hanya karena pa Anderson bekerja di rumahku, aku tidak mau melihat wajah murung Karyawanku, jadi aku membantu kalian dengan harapan pa Anderson bisa bekerja dengan lebih semangat," tanggap Lania.
"Ah begitu," ucap Syarifah yang nampak senang karena suaminya bekerja untuk Lady yang tepat, karena jika saja majikan suaminya bukan Lania, bisa saja keadaan mereka dibuat-buat lebih menderita lagi.
"Selain itu aku juga berharap kalau aku bisa membawa Aisha bersamaku ketika ia sudah sembuh, aku ingin menjadikannya murid untuk menjalankan bisnis keluarga," ucap Lania lagi, yang mempertegas kalau ia punya tujuan atas kebaikannya.
"Aku tidak sembarangan dalam memberikan perhatian, jadi aku tidak sepenuhnya baik. Karena aku juga sama saja seperti bangsawan lain yang mencari keuntungan," ucap Lania lagi.
"Lady Guardina, apakah kau seorang Saint atau Maiden?" tanya Aisha hal itu karena dalam pengetahuan rakyat jelata, orang baik yang membagikan makanan pada rakyat kecil hanya ada dalam golongan, Saint dan Maiden.
Lania menggeleng, "Panggilan Saint atau Maiden terlalu baik untuk disematkan padaku, aku bukanlah orang yang sesuci itu," ucap Lania yang teringat kalau ia dulunya pernah membunuh orang yang tak bersalah dan menghilangkan nyawa orang suci kekaisaran hanya karena satu hal yang tak bisa ia sebutkan.
"Tapi orang-orang bilang hanya Saint dan Maiden yang mau berbagi makanan pada rakyat jelata secars gratis seperti yang anda lakukan?" tanya Aisha.
"Aisha," tegur Anderson sambil menggelengkan kepala.
"Tapi ayah, bahkan saat orang-orang suci berbagi makanan, makanan yang mereka bagikan juga tidak enak dan itupun hanya terjadi sekali setahun," ucap Aisha lagi.
Lania langsung menepuk kepala Aisha, dan berkata, "Apakah kau akan percaya jika ada yang berkata padamu kalau aku adalah seorang pembunuh berdarah dingin?" tanya Lania secara tersirat memberitahu Aisha kalau dia adalah mantan pembunuh.
"Pembunuh? I-Itu tidak mungkin, tak ada pembunuh yang selembut anda!" seru Aisha yang tiba-tiba semangat dan melupakan rasa sakitnya, seolah-olah demamnya hanyalah hal sepele.
Lania hanya tersenyum tipis saja, "Besok aku akan menjengukmu kembali," gumam Lania.
Flash back selesai.
Lania lalu masuk ke dalam kediamannya dan disambut para Maid yang tersenyum ke arahnya, ia juga diikuti untuk masuk ke dalam kamar.
Malam hari kemudian.
Lania terlihat keluar rumah dengan mengenakan pakaian pelayan, ia berjalan berkeliling kota Raja dan melihat-lihat sekitar.
Seperti kebiasaanya saat menjadi pembunuh. Lania mulai berbicara dengan orang-orang di sekitarnya, ia mendengarkan gosip ibu-ibu yang masih hangat.
Ia juga menanyakan rumor-rumor menarik yang diketahui orang-orang. Ia juga menanyakan hal-hal yang mereka keluhkan saat tinggal di kota Raja Grander. Lania dari sini mendapatkan isu-isu menarik salah satunya adalah salah satu Viscount Kerajaan yaitu Viscount Loupestro suka semena-mena dan menagih utang dengan bunga yang sangat besar yang dimana dalam perjanjian tidak ada. Namun, karena sudah tanda tangan mereka yang tak bisa membaca akhirnya bisa tertipu dan terjebak hutang dan menderita antara anak istri mereka diambil dan dijual mereka akan dijadikan budak dan tontonan orang kaya.
Lania masih belum bisa memastikan kebenaran rumor, hal ini membuatnya hanya menyimpan itu dalam buku catatannya saja, ia ada niat untuk menyampaikannya pada Pangeran Lucas. Namun, karena belum ada bukti Lania hanya menyimpannya dan bergerak di malam hari menyusuri pasar malam untuk mendapatkan info lebih mendetail dari pedagang yang ingin pulang dan kesatria yang berjaga.
Merasa kalau ia tidak akan mendapatkan bukti di malam hari. Lania akhirnya pergi kembali pulang ke kediamannya.
Sesampainya di rumah.
Lania terkejut karena saat membuka rumah ia melihat Wiliam menunggunya di depan pintu.
"Ah .... Halo William," sapa Lania agak canggung.
"Apa Nona sudah puas dengan jalan-jalannya?" tanya Wiliam.
Lania hanya tersenyum canggung, "I iya, aku sudah melepaskan perasaan setresku ahahahaha," jawab Lania.
"Haaaah, sudahlah, cepatlah, Pangeran dan Pahlawan datang dan saat ini sedang menunggu nona," ucap Wiliam sambil menuntun Lania.
"Ah iya. Nona sebaiknya kembali ke kamar dan berganti pakaian, tidak baik rasanya tampil di hadapan pangeran dengan baju pelayan. Walau bagaimanapun, anda adalah bangsawan, jadi harus tampil layak di depan Pangeran," ucap Wiliam.
Lania hanya mengangguk saja dan akhirnya ia perhi dan setelah mengganti pakaiannya ia menemui Pangeran dan Pahlawan dengan gaun berwarna putih, gaun yang sewarna dengan rambutnya yang juga berwarna putih, mata biru permata membuatnya terkesan seperti bangsawan murni yang elegan, ditambah anting dan kalung yang dihiasi batu giok zamrud yang cantik, sangat mahal dan berkelas.
Penampilan Lania membuat Arif dan Lucas tercengang, mereka sepertinya cukup kaget melihat penampilan Lania yang sangat cantik dan tak terbayang oleh mereka mengenai gadis pelayan yang diangkat menjadi bangsawan kelas bawah oleh kaisar, bisa tampil seperti bangsawan kelas atas di hadapan Pangeran Kerajaan.
"Kau terlihat sangat cantik, Lania," puji Arif.
"Terima kasih," tanggap Lania dengan lembut dan datar. Lania duduk di sofa dan menghadap ke arah pangeran dan Pahlawan, ia kemudian membungkuk memberikan hormat pada pangeran dan pahlawan.
"Ada perlu apa Yang Mulia Pangeran dan Pahlawan Kekaisaran datang menemui saya?" tanya Lania.
"Bukan apa-apa, aku hanya ingin menyapamu saja," tanggap Pangeran Lucas.
"Kalau aku, aku ingin mencoba masakanmu, aku dengar kau bisa memasak, jadi aku penasaran," jelas Arif.
"Kau blak-blakan sekali tuan Pahlawan," ucap Lania sambil tersenyum tipis, ia tidak membicarakan apapun soal temuannya di pasar malam, karena ia merasa menyebarkan keburukan orang lain tanpa bukti hanya akan jadi fitnah.
"Ah iya aku dengar kau menyumbangkan banyak kebutuhan pokok pada rakyat biasa, apa itu benar dan kenapa?" tanya Lucas.
"Karena suami orang itu bekerja di rumahku, aku merasa kalau aku harus membantu pekerjaku saat ia kesulitan," ungkap Lania, aku tak membantu jika tidak ada timbal balik yang baik. Jadi jangan menilaiku terlalu berlebihan," ucap Lania lagi.
"Heeeeh, lalu perhiasan yang kau kenakan, berapakah harganya?" tanya Pangeran Lucas yang tertarik dengan perhiasan yang Lania gunakan, ia ingin membelinya untuk tunangannya.
"Ini hanyalah perhiasan kw, perhiasan yang dibuat sedemikian rupa mirip dengan barang mahal dengan bahan murah, ini hanya batu biasa yang dilapisi dengan pewarna khusus," jelas Lania, "Bahkan bingkai liontin dan antingku juga hanya terbuat dari kayu yang diukir," ucap Lania melepasnya dan memberikannya pada Lucas untuk dicek sendiri.
Lucas terdiam karena Lania sangat jujur dengan kata-katanya. Karena biasanya kebanyakan bangsawan akan membanggakan perhiasan mereka dan tak akan mau mengakui kalau perhiasan mereka adalah barang kw.
"Kenapa kau tidak membeli aksesoris yang bagus dan berkualitas, harusnya dengan keuanganmu kau bisa membelinya," ucap Lucas.
Lania tersenyum tipis dan menjawab, "Apalah artinya perhiasan itu, selama indah dipandang, baik itu asli atau palsu tak ada bedanya dan juga benda itu tidak akan bisa dibawa mati, dari pada aku menghabiskan uang bulananku untuk perhiasan, aku lebih memilih menggunakannya untuk membayar pekerja yang bekerja di rumahku," jawab Lania.
"Ah begitu yah," gumam pelan Lucas.
"Kalian bisa bicara berdua, aku akan menyiapkan hidangan untuk kalian berdua," ucap lembut Lania yang langsung berdiri dan pergi menuju dapur sambil membawa lentera di tangannya.
Bersambung