Indonesia
NovelToon NovelToon
DEKEKOUI

DEKEKOUI

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Matabatin / Vampir
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Muka Kanvas

Ketika penyihir dan Pemburu Penyihir bertemu dalam satu wilayah yang tak pernah mereka sangka. Satu berburu dan yang lain diburu, bagaimana jika akhirnya mereka jatuh cinta?

Dua makhluk Kekal bertikai sejak berabad-abad silam dan tak pernah mampu berdamai, berperang, bersembunyi dan akhirnya tertangkap, berulang tanpa pernah istirahat.

Apakah pada akhirnya mereka mampu bersatu? atau malah menjadi alasan peperangan terjadi lagi, seperti dulu Dekekuoi hancur lebur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muka Kanvas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 : Pertemuan Pertama

Yelak dan keluarganya baru saja sampai rumah baru mereka, Lira yang baru berusia 10 tahu, tapi lagi-lagi harus kuingatkan bahwa, itu hanya umur tinggi badan dan juga tampilannya, karena tidak pernah ada yang tahu berapa umur seorang Dekekuoi sebenarnya.

Rumah sederhana yang dikelilingi pohon, Dekekuoi selalu suka alam, karena sihirnya selalu membutuhkan keterlibatan alam, tanah, tumbuhan, dan juga para binatang. Dekekuoi paling benci api, karena sekali mereka pakai, sudah pasti mati, tidak memandang manusia. Api adalah yang paling dibenci karena yang paling ampuh untuk memusnahkan.

“Papa apakah kita akan pindah lagi nanti?” Lira bertanya.

“Tidak, mungkin kali ini kita akan menetap lama, aku memiliki harapan yang besar pada tempat tinggal kita di sini.”

“Sayang, bagaimana jika para tetangga menyadari tentang wajah Lira yang tak kunjung dewasa kelak sementara para tetangganya sudah mulai remaja dan bahkan dewasa? Ingat kan, wajah kita yang paling sulit diubah, tidak berubah itu selalu terlalu mencolok.

“Maka kita akan menjadi penduduk baru terus menerus, dari generasi ke generasi.”

“Oh tidak, apakah kau sudah menemukan mantra yang sepadang dengan silanya?” Nyonya Yelak bertanya.

“Hampir, hampir, tapi aku pikir jika kita punya waktu banyak dalam samaran ini, aku akan bisa menguasai sihirnya.”

“Jika itu benar terjadi, sungguh rasanya menyenangkan, tinggal bersama dengan orang yang kita kenal dalam jangka waktu yang panjang.”

“Ya, kau akan membersamai orang itu dari dia lahir, balita, remaja, dewasa, paruh baya, nenek kakek tua dan akhirnya meninggal dunia, bukankah kau selalu suka merasa dekat dan membantu mereka?” Yelak berkata dengan sedikit sedih, karena kekal itu bukan abadi memang, tapi tetap saja, berumur jauh lebih panjang dibanding semua orang akan selalu ada bayaran yang mahal, salah satunya kehilangan orang yang disayang jika dia bukan Dekekuoi juga.

Makanya para Dekekuoi selalu memilih menikah dengan sesamanya, bukan karena tuntutan, setiap Dekekuoi punya kebebasan memilih hidupnya, bahkan pernikahan, bahkan jika dia ingin mengubur Silanya dalam tanah kuburan jiwa yang kelam, tanah yang membuat Sila mati sempurna, seperti tanaman yang ditanam tanpa pupuk, Sila yang dikubur di tanah kuburan jiwa akan mati pada lapisan tanah terakhir.

Karena banyak sekali Dekekuoi yang akhirnya memilih menjadi manusia biasa dengan melepas Silanya, bahkan Dekekuoi yang pensiun itu jarang sekali terdeteksi Jagabaya Kasipin, karena tak ada Sila lagi di tubuhnya, tapi banyak Dekekuoi yang tetap memilih menjadi Dekekuoi karena tanggung jawab yang diemban turun temurun.

Seperti papa Yelak yang adalah ketua dari suku Kabat, suku yang menjunjung tinggi perlindungan bagi seluruh Dekekuoi, suku dengan kelas yang sangat tinggi, konon katanya leluhur mereka adalah pendiri dari perkumpulan Dekekuoi seluruh negara, suku yang paling dihormati.

Tapi bagi Dekekuoi, meski dihormati, tetap saja hidup mereka bukan hidup yang terlihat menyenangkan, justru hidup mereka adalah hidup yang paling mengerikan, karena keselamatan Dekekuoi yang lain jauh lebih penting dari kebaikan individual. Tak jarang keluarga bahkan dikorbankan jika itu kepentingan untuk perkumpulan Dekekuoi itu sendiri.

Yelak bukan lelaki yang tidak bijaksana hingga ingin mengorbankan keluarga, dia adalah yang terbaik dalam pengambil keputusan, tak heran meski dia adalah anak kedua, tapi diangkat menjadi pemimpin suku oleh ayahnya karena pemikirannya yang selalu matang dan mengambil keputusan dengan tenang.

Seperti ketika bertarung dengan keluarga Roman, Yelak terpaksa mengambil keputusan yang paling berat, karena taruhannya adalah semua Dekekuoi ditangkap atau bahkan di bunuh, karena Yelak tak pernah benar-benar tahu soal itu, kelak Lira akan tahu kemana dibawa perginya para Dekekuoi yang katanya dibakar setelah ditangkap, tidak! Itu isu yang sangat menyesatkan, karena Jagabaya Kasipin jauh lebih lihai dari yang mereka tahu.

Maka pada saat ini, Yelak hanya ingin memberikan kehidupan yang baik pada Lira, sekolah, memiliki teman dan akhirnya memilih jalan hidup sendiri, tidak menjadi manusia yang selalu bertarung tanpa lelah.

...

“Kita cari sekolah dulu ya, ingat ini Lira, tidak boleh pakai sihir pada temanmu, kalau ...”

“Kalau pakai sihir, Jagabaya Kasipin akan datang, menangkapku dan membakar tubuhku sampai aku hangus. Aku sudah hapal papa.”

“Anak pintar.” Nyonya Yelak mengusap kepala anaknya.

Dengan becak yang mangkal di depan gang, mereka bertiga menuju sekolah dasar yang dekat dari rumah, rencananya hari ini mereka berdua ingin melihat kondisi dan situasi sekolah itu, bukan sekolah yang terlalu mewah, bukan juga sekolah yang hanya menerima anak dari keluarga kaya, tetapi sekolah yang cukup baik dan memiliki banyak anak dari keluarga biasa. Bagi Yelak, itu justru yang dia cari karena dia tidak ingin Lira terlihat berbeda dari anak-anak lainnya.

Mereka membutuhkan tempat yang sederhana, tempat di mana seorang anak bisa datang pagi-pagi, bermain, belajar, pulang bersama orang tuanya, kemudian keesokan harinya kembali lagi tanpa ada seorang pun yang bertanya terlalu banyak tentang keluarganya.

Ketika becak berhenti di depan gang menuju sekolah, Lira langsung melihat bangunan itu dari kejauhan. Bangunannya tidak terlalu besar, cat temboknya terlihat sudah beberapa kali diperbarui, tetapi halaman depannya cukup luas dan dikelilingi pagar pendek. Ada beberapa pohon yang tumbuh di sekitar halaman, sebagian bahkan sudah cukup tua sehingga dahannya menjulur ke atas pagar. Lira melihat beberapa anak sedang bermain sebelum jam pelajaran dimulai, ada yang berlari, ada yang duduk di bawah pohon sambil berbicara dengan temannya, ada pula yang menangis karena tidak mau ditinggal ibunya.

“Papa, aku boleh sekolah di sini?”

Yelak tersenyum.

“Kita lihat dulu.” Yelak menjawab sambil menggendong Lira turun dari becak, sementara Nyonya Yelak sudah turun duluan.

“Kalau aku suka?”

“Kalau Papa dan Mama merasa aman, mungkin kau bisa sekolah di sini.”

Lira langsung turun dari becak dengan wajah ceria. Ia tidak lagi terlihat seperti anak yang selama beberapa tahun harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Untuk sesaat, ia benar-benar terlihat seperti anak biasa yang hanya sedang mencari sekolah baru. Kelebihannya adalah, dia sangat cantik dan cerdas.

Nyonya Yelak melihat wajah anaknya dan tersenyum.

“Sudah lama aku tidak melihat dia sesenang itu.”

Yelak mengangguk. “Aku juga.”

Mereka kemudian masuk ke halaman sekolah. Seorang perempuan yang mengenakan pakaian sederhana dan membawa beberapa buku menyambut mereka.

“Selamat pagi.”

“Pagi,” jawab Nyonya Yelak.

“Apakah ingin melihat sekolah?”

Yelak mengangguk.

“Kami sedang mencari sekolah untuk anak kami.”

Guru itu melihat Lira yang berdiri di samping mereka.

“Ini anaknya?”

“Iya.” Nyonya Yelak menjawab dengan hangat.

“Namanya siapa?”

Lira sempat menatap ayahnya sebelum menjawab.

“Lira.”

“Umurnya berapa?”

Lira kembali melihat Yelak. Pertanyaan itu sederhana, tapi tidak selalu bisa dijawab dengan jujur.

Bagi keluarga Dekekuoi, pertanyaan tentang umur selalu menjadi sesuatu yang harus dijawab dengan hati-hati.

“Sepuluh tahun,” jawab Nyonya Yelak.

Guru itu tersenyum.

“Kalau begitu sudah sesuai untuk kelas 5 SD ya pak, bu." Kedua orang tua Lira tertawa, tentu saja seharusnya juga bukan kelas 5 SD, bisa jadi sudah SMP, SMA atau malah kuliah, siapa yang tahu?

Lira sebenarnya sudah jauh lebih pintar daripada anak-anak seusianya yang terlihat oleh manusia, bahkan dia sudah bisa membaca beberapa buku yang diberikan keluarganya, tetapi Yelak tidak ingin anak itu langsung masuk sekolah yang terlalu tinggi. Mereka ingin Lira memulai dari awal, belajar seperti manusia biasa, memiliki teman, bermain, dan merasakan sesuatu yang selama ini tidak pernah benar-benar ia miliki.

Guru tersebut kemudian menjelaskan kegiatan di sekolah. Anak-anak tidak hanya bisa belajar akademik, tapi mereka juga bisa belajar hal lain, ada banyak ekskul di sana, salah satunya adalah ekskul bela diri, Lira terlihat senang, tapi papa menggeleng, tidak boleh ikut ekskul bela diri karena begitu dia kelepasan, akan langsung ketehuan, karena Lira sangat pandai bertarung meski umurnya masih sangat muda.

“Kalau bermain boleh di halaman?”

“Tentu.”

“Ada pohonnya?”

“Ada.”

“Boleh menyentuh tanah?”

Guru itu tertawa. “Ya boleh, memang kenapa?”

Lira langsung tersenyum. Yelak dan Nyonya Yelak saling berpandangan. Bagi manusia, pertanyaan itu terdengar aneh.

Namun bagi Dekekuoi, tanah adalah bagian dari kehidupan mereka. Mereka terbiasa merasakan Sila melalui tanah, tumbuhan dan alam. Bahkan ketika Lira masih kecil, Yelak sering membawanya ke hutan agar ia mengenal berbagai jenis tanaman dan mengetahui mana yang bisa digunakan untuk membantu tubuh, mana yang harus dihindari dan mana yang memiliki hubungan kuat dengan Sila.

Namun di sekolah ini, semua itu harus dilupakan; Lira tidak boleh menggunakan Sila, tidak boleh membuat bunga tumbuh hanya karena dia ingin bermain, tidak boleh membuat daun bergerak ketika tidak ada angin, dan tidak boleh mengetahui sesuatu yang tidak diketahui anak lain hanya karena pendengarannya lebih tajam.

Dan yang paling penting, tidak boleh menunjukkan bahwa dirinya berbeda.

“Kalau ada teman yang menyakiti kamu, jangan gunakan Sila,” Yelak mengingatkan pelan.

Lira mengangguk.

“Kalau ada yang mengejek?”

“Diam.”

“Kalau ada yang mengambil mainanku?”

“Ambil kembali dengan tanganmu.”

“Kalau dia mendorongku?”

“Bilang kepada guru.”

“Kalau guru tidak melihat?”

“Lira.”

“Iya, Papa?”

“Jangan gunakan Sihir.”

Lira menghela napas.

“Iya.”

Guru yang berdiri di depan mereka tersenyum karena mengira Yelak sedang memberi nasihat biasa kepada anaknya dengan berbisik. Dia tidak tahu bahwa bagi keluarga ini, larangan tersebut jauh lebih penting daripada larangan anak-anak lain.

Setelah melihat ruang kelas, mereka diajak menuju halaman belakang. Di sana terdapat lapangan bola besar.

Guru bilang di sanalah mereka melakukan banyak olahraga, lapangan bola itu seringkali dialihfungsikan menjadi lapangan lain dengan menambah ini itu. Seperti tiba-tiba menjadi lapangan tenis, lapangan bulutangkis, lapangan voli atau bahkan lapangan basket, semua tinggal ditambah ini dan itu sesuai kebutuhan. Satu lapangan yang berfungsi banyak.

Sedang halaman depan seringkali dipakai untuk upacara dan acara resmi lainnya.

“Kamu murid baru?” seorang murid perempuan bertanya, dia tiba-tiba datang begitu saja saat orang tuanya sedang berbincang dengan guru di ruang administrasi, sedang Lira bermain di lapangan.

“Mungkin.” Lira menjawab dengan bingung, dia tidak tahu harus berbuat apa, karena dulu ibunya seringkali melarangnya berinteraksi, tapi tadi kata ibunya dia boleh berbicara dengan siapa pun, asal hati-hati.

“Namamu siapa?”

“Lira.”

“Aku Rara.”

Lira tersenyum.

Mereka langsung berbicara seperti sudah mengenal satu sama lain sejak lama.

Yelak memperhatikan dari kejauhan. Nyonya Yelak berdiri di sampingnya, mereka sudah selesai mengurus administrasi, mereka memutuskan untuk masuk sekolah SD itu, meski sekolah negeri, namun semua sekolah negeri masih bayar SPP bulanan, uang gedung dan biaya lain-lainnya, sampai akhirnya setelah Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 disahkan dan dana BOS resmi dikucurkan pemerintah, sekolah negeri sampai SMA barulah digratiskan.

“Dia cocok.” Yelak berkata dengan semangat.

“Belum tentu.” Mamanya Lira menyangkal. Dia tahu kalau perempuan itu seringkali berubah arah, apalagi baru umur segitu, nanti pasti ada drama pertengkaran remaja.

“Lihat wajahnya.” Yelak tersenyum.

“Aku tahu.”

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Lira terlihat seperti benar-benar menikmati hidupnya.

Tidak ada hutan, tidak ada persembunyian, tidak ada Kasipin, tidak ada mantra.

Hanya anak-anak yang tertawa.

Seorang anak laki-laki yang sedang bermain di dekat pohon tiba-tiba berhenti dan memandang Lira.

Tatapannya cukup lama meski jarak mereka cukup jauh tapi anak lelaki itu bisa melihatnya.

Anak itu kemudian bertanya kepada guru yang lewat di dekatnya. “Bu, kenapa anak itu memakai syal di cuaca yang sepanas ini?”

Lira langsung menunduk.

Guru itu tertawa. “Ya kayak kamu dulu aja, suka pake dompet yang ada rantainya mengikat di tali ikat pinggang celanamu, memang siapa yang mau mencuri di sekolah ini, kamu menjaga dompet sebegitu kuatnya sampai di rantai begitu.”

Anak laki-laki itu masih memperhatikan Lira.

“Lalu apa yang dia jaga dengan memakai syal? kalau ibu bilang aku menjaga dompetku, lalu dia menjaga apa?”

"Menjaga penampilan mungkin, dia cantik kan, Dani?"

Dani diam lalu pergi, guru itu tertawa karena berhasil meledek anak yang begitu dingin itu.

1
Vie Vie Sue
/Good/
Muka Kanvas: Terima kasih
total 1 replies
Betri kardina
berarti jagabaya kasipin jahat ya
Muka Kanvas: nah, akhirnya ada yang ngeh
total 1 replies
Tini Nurhenti
alurnya maju mundur ea thor,😁🤭💪💪💪
Muka Kanvas: Iya nih, stuck di 1965 dulu yaaaa
total 1 replies
Tini Nurhenti
penuh misteri 👍💪💪💪
Tini Nurhenti
hadir thor, cepy story lanjutane to ??
Tini Nurhenti: ok kk
total 2 replies
Arla
mungkin Dani atau orangtuanya
Muka Kanvas: bukan kok, bukan.
total 1 replies
Dea Suci
zombie ya kak
Muka Kanvas: Hampir
total 1 replies
Dea Suci
mei
Dea Suci
wadidaw,,, ternyata ohhh ternyata,, Dani pun sama.
Zakia
sambil nunggu PKJ3 baca ini dulu, sebenarnya heran kok eps beda karena sebelumnya sudah aku baca semua thor
Muka Kanvas: Sudah ganti judul, setelah melalui pertimbangan yang cukup berat, akhirnya aku memutuskan membawa kisah Dekekuoi jadi novel yang panjang.
total 1 replies
Arla
kenapa dihapus kak thor,, pantesan error tadi pas aku mau like🤭
Yosh Pontoh: Pantesan barusan aku cari di rak buku gak ada.
total 2 replies
Damn Nwtch
curiga sama pamannya,Napa Dani g boleh ikut
Muka Kanvas: Lanjt ya, udah ada part selanjutnya
total 1 replies
Tini Nurhenti
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
Arla
kasihannya dokter itu
Arla
ngeri jiwa psikonya...
Ayuk Witanto
hiii serem
Ayuk Witanto
gila dia
Ayuk Witanto
bagus
Ayuk Witanto
seru sih...tapi gantung🤭
Wahyu ningsing: lha yaitu...gak enak digantung....pastinya sakit
total 3 replies
Tini Nurhenti
kek cerpen kk👍💪💪
Muka Kanvas: Iya betul, tapi lebih tepatnya antologi horor
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!