Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Jadi Istri Mafia Kejam

Transmigrasi Jadi Istri Mafia Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mafia / Romansa
Popularitas:33.7k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Alexa tak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel dark romance yang ditulis oleh saudara kandungnya sendiri. Saat membaca bab terakhir, ia menggerutu karena merasa alurnya terlalu kejam dan tokoh utama perempuan diperlakukan tanpa belas kasihan. Namun, ketika tanpa sengaja terjatuh dari tempat tidur, Alexa membuka mata di dunia yang sama persis dengan novel itu. Yang lebih mengejutkan, ia bukan menjadi tokoh sampingan—melainkan Alexa, karakter utama dengan nama yang sama dengannya. Kini ia adalah istri dari Raiden Damon Alteir, seorang mafia paling berkuasa yang namanya ditakuti di seluruh dunia bawah tanah. Di balik wajah tampannya, Raiden dikenal sebagai pria yang dingin, kejam, dan tak mengenal belas kasihan. Setiap kali amarahnya memuncak, kedua matanya berubah menjadi merah, seolah memperlihatkan sisi tergelap yang bahkan para pembunuh bayaran pun takut hadapi. Dalam alur novel, Alexa hanyalah pion yang terus dipermainkan dan dikendalikan oleh sang mafia psikopat. Ia tahu bagaimana kisah itu seharusnya berakhir—tragis. Karena itulah, Alexa bertekad mengubah takdirnya dan keluar dari cerita sebelum semuanya terlambat. Namun, semakin keras ia berusaha melarikan diri, semakin Raiden Damon Alteir menolak melepaskannya. Di dunia yang dipenuhi rahasia, perebutan kekuasaan, dan bahaya di setiap sudut, Alexa harus memilih: mengubah akhir cerita yang sudah ditulis, atau tenggelam dalam takdir kelam yang menantinya bersama sang raja mafia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

penyakit tertahan?

Sinar matahari pagi kembali menerobos masuk melalui celah gorden kamar utama, membiaskan cahaya hangat di atas tempat tidur. Alexa menggeliat pelan, meregangkan otot-otot tubuhnya yang masih terasa sedikit pegal akibat pelarian malam harinya dari kantor Raiden.

Setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian kasual tentu saja dengan sweater kebesaran yang menutup rapat seluruh lekukan tubuhnya Alexa turun menuju ruang makan.

Suasana meja makan pagi ini terasa jauh lebih tenang. Kursi utama di ujung meja—tempat yang biasanya diduduki oleh Raiden dengan aura intimidatifnya—tampak kosong melompong.

"Tuan Raiden tidak turun untuk sarapan, Nyonya," lapor salah satu pelayan wanita dengan sopan saat meletakkan piring berisi pancake hangat dan secangkir teh aromaterapi di hadapan Alexa.

Alexa menaikkan alisnya tipis. Di dalam hatinya, sebuah kembang api kebahagiaan seolah meletup meriah.

'Baguslah! Muka iblis itu nggak kelihatan pagi ini! Akhirnya aku bisa sarapan dengan tenang tanpa takut leherku dicekik atau disuruh memungut potongan badan lagi!' batin Alexa bersorak kegirangan.

Ia menyunggingkan senyum lega, meraih garpu dan pisaunya, lalu bersiap memotong pancake lezat di hadapannya.

Namun, tepat saat garpunya baru saja menancap di permukaan pancake, seorang pelayan senior melangkah mendekati meja makan dengan wajah pucat pasi dan tubuh yang gemetaran hebat.

"N-Nyonya Alexa..." panggil pelayan itu dengan suara bergetar ketakutan.

Gerakan tangan Alexa terhenti. Ia menatap pelayan itu dengan firasat yang mendadak memburuk. "Ada apa?"

"M-maafkan saya, Nyonya... T-Tuan Raiden menyuruh Anda untuk segera datang ke kamar beliau..." tutur pelayan itu terbata-bata, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Beliau... beliau memerintahkan Anda untuk membawakan nampan sarapannya secara langsung ke kamar utama."

TAK.

Alexa meletakkan garpunya kembali ke atas piring. Senyum bahagia yang baru saja terukir di wajahnya seketika luntur tanpa sisa. Ia menarik napas panjang, menghembuskannya kasar sembari memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri.

'Baru juga mau napas tenang sedetik! Pria gila itu bener-bener nggak bisa lihat aku senang sebentar aja!' gerutu Alexa dalam hati, memutar bola matanya malas.

Dengan enggan dan helaan napas berat yang terdengar pasrah, Alexa akhirnya berdiri dari kursinya. Ia mengangkat nampan perak berisi menu sarapan dan secangkir kopi hitam pekat milik Raiden, lalu melangkah gontai menuju lantai atas tempat kamar pribadi sang penguasa berada.

Sementara itu, di dalam kamar utama bernuansa hitam-abu yang amat luas dan megah...

Atmosfer di ruangan itu terasa begitu dingin dan mencekam. Seorang dokter pribadi keluarga Alteir baru saja selesai merapikan alat-alat medisnya dengan tangan yang bergetar halus. Wajah dokter setengah baya itu tampak pucat, peluh dingin bertumpuk di dahinya.

Raiden duduk di tepi tempat tidur raksasa, mengenakan jubah mandi hitam yang sengaja dibiarkan sedikit terbuka di bagian dada, memamerkan garis-garis otot tubuhnya yang kekar. Wajahnya yang tampan tampak sedikit tegang dengan raut yang teramat dingin.

"J-menurut hasil pemeriksaan fisik dan tekanan darah Anda, Tuan..." ujar sang dokter dengan nada suara serba salah dan ketakutan, berhati-hati memilih setiap kata agar tidak memicu murka sang penguasa. "Secara medis... kondisi tubuh Anda sebenarnya dalam keadaan sangat prima. Nadi dan hormon Anda meningkat tajam sejak semalam."

Raiden menatap datar dinding di hadapannya, tidak membalas sepatah kata pun.

Dokter itu menelan ludah dengan susah payah sebelum melanjutkan, "S-sebenarnya... Anda sedang mengalami kondisi... gairah yang tertahan, Tuan. Tubuh Anda merespons dorongan alami yang sangat kuat yang tidak tersalurkan, sehingga menyebabkan tekanan darah dan suhu tubuh Anda sedikit menaik."

Mendengar vonis medis dari dokternya, raut wajah Raiden seketika makin mengeruh. Kilat mata kelamnya membeku dingin. Bayangan Alexa dalam tanktop hitam ketat malam tadi kembali melintas sepersekian detik di dadanya, memicu rasa panas yang membakar kembali menyentak.

"Keluar," pangkas Raiden pendek. Suaranya rendah, berat, dan dipenuhi ancaman terselubung yang begitu pekat.

Dokter pribadi itu tersentak kaku. Aura membunuh yang memancar dari tubuh Raiden membuat lutut sang dokter terasa lemas seketika. Tanpa perlu diperintah dua kali, dokter itu membungkuk dalam-dalam dengan tubuh gemetaran.

"B-baik, Tuan! Permisi!" serunya panik, menyambar tas medisnya dan berlari tergesa-gesa keluar dari kamar Raiden seolah-olah baru saja lolos dari sarang singa yang siap menerkam.

TOK! TOK! TOK!

"Tuan? Aku masuk, ya," panggil Alexa dari luar.

Tanpa menunggu sahutan, Alexa mendorong pintu kamar raksasa itu dengan sikutnya, melangkah masuk sembari menyeimbangkan nampan perak berisikan sarapan di kedua tangannya. Tepat saat kakinya menginjak karpet tebal kamar, ia sempat berpapasan dengan sang dokter pribadi yang berlari keluar dengan wajah pucat bagaikan mayat.

Alexa menaikkan alisnya bingung, lalu mengalihkan pandangannya ke arah tempat tidur.

Di sana, Raiden duduk bersandar dengan jubah mandi hitam yang agak terbuka di dada. Tatapan mata hitamnya yang datar dan tak tersentuh emosi langsung menghujam tepat ke arah Alexa.

Melihat wajah Raiden yang tampak sedikit tegang dan pucat, Alexa memutar bola matanya pelan, bergumam sangat halus di balik hembusan napasnya, "Bisa sakit juga ternyata si iblis ini..."

"Kau mengataiku?" desis Raiden tiba-tiba. Suaranya sangat rendah, berat, dan tajam menusuk udara.

DEG.

Alexa tersentak kaku di tempat. Ia refleks menelan ludahnya dengan susah payah. Bagaimana bisa pria ini mendengar gumaman super pelannya dari jarak sejauh ini?!

"E-enggak! Mana ada!" seru Alexa buru-buru menepis, memasang raut wajah sepolos mungkin sembari menggelengkan kepala cepat. "Aku cuma bilang... ini sarapannya!"

Dengan langkah cepat, Alexa berjalan mendekati meja di samping tempat tidur dan meletakkan nampan perak itu ke atasnya dengan hati-hati. Setelah tugasnya selesai, Alexa buru-buru berbalik arah, berniat melangkah seribu langkah menuju pintu keluar sebelum Raiden menemukan alasan lain untuk mengganggunya.

"Tunggu."

Suara berat Raiden menghentikan langkah Alexa seketika.

Alexa memejamkan matanya rapat-rapt, menghela napas pasrah sebelum berbalik dengan senyum kaku. "Ada apa lagi, Tuan? Sarapannya sudah di sini, kan?"

Raiden tidak menyentuh makanan itu sedikit pun. Iris mata kelamnya bergerak turun, menatap pakaian sweater longgar dan tebal yang membungkus tubuh Alexa pagi ini. Bayangan tanktop hitam ketat dan lekukan tubuh indah yang dipamerkan Alexa semalam kembali melintas di benak Raiden, membakar gairahnya yang tertahan hingga dadanya terasa makin sesak.

"Lepaskan pakaianmu," perintah Raiden dingin tanpa basa-basi.

DUB!

Mulut Alexa seketika melongo lebar. Matanya membelalak penuh rasa syok luar biasa. "H-HAH?! Apa-apaan?!"

"Kau dengar perintahku, Alexa," ulang Raiden. Pria itu sedikit menegakkan posisinya, menatap Alexa dengan pendar mata yang teramat berbahaya.

"Nggak mau!" tolak Alexa mentah-mentah. Tangannya secara refleks menyilang di depan dada, memeluk sweater-nya erat-erat sembari melangkah mundur dua tindak. "Kamu gila, ya?! Masih pagi begini tiba-tiba suruh buka baju! Dasar mesum!"

Mendengar penolakan itu, Raiden memicingkan matanya. Aura dominan yang amat pekat mendadak menguar memenuhi seluruh sudut kamar. Udara terasa bertambah dingin dan mencekam.

"Jangan membuatku mengulanginya untuk ketiga kali," desis Raiden pelan, namun setiap kata dipenuhi tekanan intimidasi absolut yang menegaskan bahwa ia tidak mau dibantah. "Lepaskan sendiri... atau aku yang akan merobeknya dari tubuhmu sampai hancur?"

Melihat kilat membunuh dan keseriusan di mata Raiden, keberanian Alexa yang baru terkumpul seketika menciut habis. Tangan Raiden yang kemarin mencabut rambut wanita lain tanpa ampun melintas di kepalanya—kalau ia nekat menolak, bisa-bisa bajunya disobek dan lehernya dicekik lagi!

"I-iya! Iya, astaga! Sabar napas dulu kenapa, sih?!" seru Alexa panik sembari merengek kekesalan.

Dengan bibir cemberut penuh kekesalan dan jantung yang berdebar kencang menahan takut campur aduk, Alexa akhirnya menurut. Tangannya yang gemetaran perlahan memegang bagian bawah sweater-nya, bersiap untuk membukanya di bawah tatapan kelam sang penguasa mafia.

1
Diah Al Khalifi
Alexa malu sendiri JD nya🤣🤣🤣🤭
Mita Paramita
lanjut Thor 😍😍😍
double up
merry
jlsin Rey kll klo kmu yg tdr in kec bukn tiga cwo sewaan jasmine itu biar gk lompat klo kmu diam ajj ap lex bukn dr dunia in mngkin dgn bgni dia bisa balik ke dunia asli ya
Shela Pereira
lanjuut
mimief
lagi Thor...
takut Raiden nya kelamaan ngejelasinnya nya
Alexa main lompat aja🥹
Pa Muhsid
udah kejam oon lagi anak perawan orang yang sudah gak perawan lagi sama kamu kok ditinggal trauma dan ketakutan lagi kalau udah ilang baru tau rasa, Mampoos
mimief
lagian Raiden kemana si yaa
anak orang udah diperawanin trus ilang
jangan salahin kalau ntar Alexa nya menghilang juga😔
Shela Pereira
lanjut.
Pa Muhsid
dari kejam otw bucin setengah hidup
ketagihan kan kan 🙊🙄🙄
Diah Al Khalifi
lanjut Thor
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Raiden bikin Alexa hamil
Septi Wijaya
awwww manisnya 🥰🥰🥰
merry
untung Rey dtg cb ngk gmn ya,, lgian kn msk ke dunia novel dh bc semua nya hrs bs menghindari jebknn jasmine donk knp mlh terjebak lex,, ap permainan takdir 🤔🤔🤔🤔Xavier sikat tu jasmin dan teman teman nya
mimief
wah ..apakah terjadi yg iya iya itu?
Mita Paramita
lagi thor double up 😍😍😍
Septi Wijaya
awwww....
tunjukkan kehebatan mu Raiden
Mita Paramita
lagi thor double up 😍😍😍
mimief
Dahlan
siap siap besok kita liat perkedel human😱
Pelangi Jingga
iya tor perbanyak up please 💪🙏🤭
berry
terlalu pendek thor ceritanya, ayo thor semangat💪 dan up yg banyak thor😄
Melly Septian: bener nanggung bgt
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!