Sang pewaris tunggal telah menghilang bak di telan bumi. Dia mengalami amnesia dan memiliki kehidupan yang baru.
Setelah sekian lama, kebenaran baru terungkap. Akankah dia mengingat keluarganya kembali?
Diantara dua wanita yang ada di dalam hatinya, siapakah yang akan dia pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbongkar
Sejak Lily mengetahui ada kejahatan di rumah Raiden. Dengan cekatan ia bertindak untuk melindungi suaminya, setiap obat yang di berikan untuk Raiden oleh wanita yang mengaku ibu tiri Raiden. Lily sudah mengganti obat tersebut tanpa sepengetahuan mereka. Keahlian Lily dalam mencuri sewaktu berada di lembah hitam dulu, saat ini bisa di pergunakan untuk mengelabui mereka.
Sampai akhirnya, Lily mengatakan kebenaran itu kepada Raiden. Bahwa obat yang ia minum selama ini, bukanlah obat untuk meredakan sakit kepala. Akan tetapi obat yang akan membuat kerusakan otak Raiden semakin parah dan lambat laun bisa membuat Raiden tidak bisa lagi mengingat apa apa secara permanen.
Awalnya Raiden tidak percaya dengan ucapan Lily. Namun bukti bukti yang di berikan Lily membuat Raiden percaya.
"Kau memang istri hebatku." Puji Raiden bangga, memeluk erat tubuh Lily.
"Kau harus membongkar kejahatan ibu tirimu dan saudaramu yang lain." Usul Lily lalu melepaskan pelukan Raiden.
"Kau tenang saja, biar aku yang urus. Aku tidak mau terjadi apa apa dengan bayiku." Kata Raiden, tangannya terulur mengusap lembut perut Lily dengan perasaan cinta.
"Aku sudah meminta Adrian untuk menyelidiki ibu tirimu, entah mengapa aku merasa kalau mereka bukan siapa siapa di rumah ini." Ungkap Lily.
Saat mereka tengah asik berbincang bincang, tiba tiba saja Lily merasakan perutnya mulas. Raiden yang merasa tidak asing menghadapi wanita hamil, akhirnya memutuskan untuk membawa Lily ke rumah sakit saat itu juga.
***
"Tok tok tok!! Suara pintu di ketuk dari luar. Viona yang tengah bersiap siap untuk pulang, kembali duduk di kursinya.
"Masuk!"
Pintu terbuka lebar, seorang suster berjalan mendekati meja kerja Viona.
"Dok, ada pasien yang harus segera di operasi sore ini juga." Kata Suster tersebut.
"Baiklah." Viona berdiri, lalu melangkahkan kakinya mengikuti suster tersebut dari arah belakang.
Di ujung lorong rumah sakit. Langkah Viona terhenti, matanya membulat memperhatikan seorang pria tengah ikut mendorong brankar.
"Ayah?" ucap Viona pelan, dengan tatapan lurus ke depan. "Tidak mungkin aku salah lihat."
Hati kecil Viona memaksanya untuk mengikuti pria itu. Langkahnya terhenti tepat di depan pria tersebut, di depan pintu ruangan bersalin. Mata Viona melebar, mulutnya menganga. Bibirnya kelu sekedar untuk menyapa pria tersebut yang tak lain adalah Raiden.
"Dokter? kau baik baik saja?" tanya Raiden, memperhatikan raut wajah Viona.
"A, ayah.." ucap Viona pelan namun jelas terdengar oleh Raiden.
"Ayah?" Raiden menoleh ke belakang sesaat, mencari keberadaan seseorang. "Ayah siapa? maksud Dokter?" tanya Raiden bingung.
"Kalau pria di hadapanku memang ayahku, kenapa dia tidak mengenaliku? atau, jangan jangan hanya mirip saja? tapi tidak mungkin." Ucap Viona dalam hati.
"Dokter!" Raiden mengibaskan tangannya di wajah Viona.
"Ma, maaf." Viona mengerjapkan mata, tersenyum mengembang dan bersikap santai kembali, seolah olah tidak terjadi apa apa.
"Apakah, itu istri bapak?" tanya Viona menunjuk ke arah pintu ruangan bersalin.
Raiden tersenyum mengembang, lalu menganggukkan kepala.
"Iya, dan istriku akan melahirkan anak pertamaku." Timpal Raiden terlihat matanya berbinar.
Viona menganggukkan kepala, lalu mengulurkan tangan.
"Viona."
Raiden sedikit ragu, tapi akhirnya ia membalas jabat tangan Viona dan memperkenalkan diri.
"Raiden."
Viona menganggukkan kepala, menarik tangannya kembali.
"Senang bertemu dengan Anda, maaf saya sudah mengganggu waktu anda." Kata Viona membungkukkan badan sesaat.
"Tidak apa apa, Dok!" sahut Raiden.
Viona tersenyum lagi, lalu beranjak pergi meninggalkan Raiden terpaku sendirian di depan pintu ruangan bersalin.
"Bagaimana mungkin..." ucap Viona pelan.