Indonesia
NovelToon NovelToon
Sang Pengintai

Sang Pengintai

Status: tamat
Genre:Spiritual / Cinta Terlarang / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:12.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sagaras Hubba

"Apa-apaan ini!! Lepaskan aku.. lepaskan aku...!!" teriak gadis remaja itu mencoba memberontak melepaskan diri dari penjagaan para pelayan yang berpakaian seperti wanita-wanita kerajaan zaman kuno yang masih sibuk memakaikan perhiasan ditubuhnya juga riasan diwajahnya.

"Tangkap gadis itu!! jangan biarkan gadis itu keluar dari batas aula pemberkatan pernikahan yang mulia raja..!" seru seorang wanita paruh baya dengan aura kepemimpinan yang kuat dari arah tempat sang raja bersiap.

Naas. Semua perjuangannya harus pupus mana kala tubuh mungilnya sukses terkepung kembali oleh berbagai senjata tajam yang mengarah ke leher jenjangnya yang pucat.

"Bawa dia ke peraduan sang raja. pemberkatan raja dan dia sudah selesai." lanjut wanita paruh baya itu mendekat dengan mulut komat Kamit membacakan mantra penunduk kepada pengantin sang raja yang begitu malang.

"Kamu milikku.." bisik sosok lelaki berperawakan gagah meniduri remaja tersebut.


Penasaran? yuk ikuti ceritanya. Jangan lupa jejaknya ya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sagaras Hubba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MOZAIK XIII

Hiruk pikuk kesibukan kota di pagi hari perlahan-lahan mulai kembali menggeliat memenuhi jalanan kota hari itu. Riuh rendah keramaian para pedagang di sepanjang jalanan pasar menyamarkan kegundahan hati salah seorang pedagang sayur yang menatap sendu lalu lalang keramaian. Hening, itulah yang dirasakan Rahman di tengah-tengah keramaian pasar terminal kota B. Sendu dan gundah memikirkan keadaan sang anak yang secara tidak langsung karena dirinyalah sang anak sakit berhari-hari. Meskipun beberapa hari yang lalu sang anak mulai menunjukkan tanda-tanda kesembuhan dari penyakitnya yang terbilang cukup aneh. Namun sedikitpun hal itu tidak membuat Rahman sadar akan sinyal yang diberikan Tuhan kepada Rahman jika semua yang terjadi pada sang putri adalah salah satu akibat dari perbuatan keluarga nya.

Dalam benaknya semua yang terjadi pada sang putri belakangan ini hanyalah hal biasa yang memang wajar bagi semua anak untuk sakit atau mengalami suatu penyakit yang sedikit tidak biasa dari biasanya. Karena memang menilik latar belakang keluarga nya yang tidak bisa dikatakan sebagai orang biasa dikarenakan beberapa orang diantara mereka bisa menyembuhkan beberapa macam penyakit tanpa ada sedikitpun pengetahuan medis sebelumnya.

Tanpa memikirkan lebih lanjut penyebab sang anak bisa sakit demam aneh tersebut, Rahman dengan santai tetap berusaha ramah melayani pelanggannya. Karena hanya dari kegiatan jual beli yang dilakoninya lah anak dan istrinya masih bisa mendapatkan makan dan minum ditengah peliknya keadaan keluarganya saat ini. Dulu biasanya sebelum sang putri sakit, rumah senantiasa memiliki banyak energi positif yang menguat dari tingkah laku anak-anak nya yang begitu menghibur kesusahan hatinya. Namun kini, setelah semua yang terjadi pada sang putri secara perlahan hubungan antara dirinya dengan sang istri mulai merenggang karena merasa tidak becus menjaga si bungsu yang memang sedari lahir sudah diketahui memang memiliki daya tahan tubuh yang begitu lemah terhadap penyakit.

'Apapun yang terjadi aku tidak akan membiarkan anak-anak ku sakit ataupun menderita dengan penderitaan yang sama dengan apa yang pernah aku alami' bisik kecil hatinya menyuarakan semangat untuk terus semangat memperjuangkan keluarganya terutama anak-anaknya. Karena walaupun dirinya senantiasa keras terhadap anak-anaknya, dia juga tidak akan tega melihat anak-anaknya hidup dalam keadaan menderita dengan sebab apapun, baik itu menderita karena sakit ataupun karena hal lainnya.

Sungguh benarlah pepatah itu membisikkan nasehat bahwasanya 'Kasih orang tua itu sepanjang jalan sedangkan kasih anak itu sepanjang galah' sekalipun orang tua harus bersusah payah membanting tulang untuk anaknya, pastilah semua penderitaan yang dirasakannya tidak akan pernah dia inginkan sang anak ikut mengalaminya juga.

Namun siapa yang tahu kemana angin menerbangkan dedaunan, semua manusia tentu tidak akan pernah tahu bagaimana takdir menggiring mereka untuk melalui satu persatu episode kehidupan mereka, hingga akhirnya nanti kematian akan menjemput mereka, para lakon sandiwara kehidupan dunia yang begitu singkat dan penuh keletihan.

...****************...

Sekolah dasar negeri 1** siang itu terlihat begitu redup dari hari-hari yang lainnya. Mungkin karena masih merasa lelah dengan berbagai kegiatan festival agustusan beberapa hari sebelumnya, kini semua rasa capek yang tertahan selama festival berlangsung mulai naik kepermukaan secara perlahan sesaat setelah semua euforia kegembiraan hari itu menghilang seiring dengan menjauhnya hari dari saat-saat menyenangkan tersebut.

Letih, itulah yang dirasakan oleh murid-murid kelas 4 SDN 1** S. Berjuang keras melawan kantuk saat guru mulai menjelaskan beberapa materi yang berhubungan dengan berbagai angka dan rumus tentunya jauh lebih berat daripada berjuang keras untuk memasukkan bola kedalam gawang ataupun ring pada mata pelajaran olahraga, karena memang dalam olahraga ada berbagai macam euforia yang pastinya tidak akan pernah ada pada pelajaran pagi ini kecuali jika kamu adalah seorang maniak alias pecinta matematika.

"Psst.. pstt.. Syam.. Syam... Syamsu.." panggil Amar meminta atensi sobatnya.

"Hmmm.." sahut Syamsu bergumam.

"Habis ini kita main bola yok.." lanjutnya.

"Hmmm.." balas Syamsu masih dengan jawaban yang sama, bergumam pelan.

"Jadi anak-anak apabila suatu kolam air berbentuk balok maka rumus untuk menentukan volume debit air yang mengalir kedalamnya adalah bila bla bla.." lanjut pak Harto masih menjelaskan rumus menghitung volume debit air dalam kolam berbentuk balok.

'Huh.. rumus lagi.. rumus lagi...' batin Syamsu mendengus lelah menatapi papan tulis berwarna putih yang senada dengan warna tembok dinding kelasnya.

Detik demi detik berlalu bersama putaran jarum panjang kecil di sepanjang garis edar jam berbentuk persegi. Bulir-bulir keringat sebesar biji anak jagung bercucuran membasahi rambut maupun pelipis mereka, tegang itulah yang dirasakan oleh sebagian murid yang merasa kesulitan dalam memahami rumus yang terpampang nyata tepat di depan mereka.

"Oke anak-anak.. mungkin sampai sini saja materi kita pada pagi yang menjelang siang hari ini. Ingat baik-baik semuanya untuk tugas rumah hari ini silahkan kalian kerjakan hal. 35 buku LKS kalian, serta jangan lupa untuk menyertakan jalannya ya. Bapak akhiri pertemuan kita pada hari ini, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokaatuh." Tutup pak Harto mengakhiri penyiksaan murid-murid hari itu.

Setelah memastikan pak Harto benar-benar telah menghilang dari koridor bangunan kelas mereka, Raden, Amar dan Khairuddin pun bergegas keluar dari kelas mereka seraya menggeret tubuh tegap Syamsu yang terlihat begitu lemas hari itu.

"Syamsu.. bro lu kenapa sih bro? kalo ada masalah lu cerita dong sama kita-kita. Kita semua kan sobat Lo." pancing Raden mengulik keadaan sang sobat yang terlihat begitu suram hari itu.

"Hmm.. enggak.. nggak papa. Mungkin karena kelamaan begadang semalam nonton bola bareng bapak." alibi Syamsu mengalihkan pertanyaan teman-temannya.

"Ngomong-ngomong si Ria kemana ya? udah hampir seminggu lebih dia nggak nongol kayak biasanya nyamperin Lo ataupun gua buat setor muka. Hahaha" celetuk Khairuddin mengingat ketidak hadiran gadis kecil berwajah mungil yang memang biasanya sering muncul menemui sang kakak sekedar untuk melihat ataupun menyapa sang kakak.

Mendengar nama sang adik disebut, raut wajah Syamsu pun kembali lesu sehingga membuat Raden dan Amar faham dengan penyebab keanehan sang teman. 'Pasti ini ada hubungannya sama penyakit Ria kemaren' batin Raden yang memang bertetangga dengan Syamsu dan keluarganya.

Demi melihat keadaan sang teman yang terlihat begitu memprihatinkan saat kedatangannya, Arya yang baru datang menghampiri keempatnya pun lantas segera mengajak keempat teman sepermainannya itu pergi ke belakang gedung untuk sekedar menghibur diri dengan berbagai makanan yang dijual oleh beberapa pedagang di kantin sekolah.

"Ayolah sob kita isi tenaga kita sekarang, mumpung masih agak sepi, biar nanti pas kita main bola kita semua kuat buat tanding sama yang lainnya." ajak Arya menghidupkan semangat juang teman-temannya yang terlihat begitu buruk hari ini. Melihat ketulusan teman akrabnya dengan perlahan-lahan sorot mata tajam yang dipenuhi oleh semangat milik Syamsu itupun perlahan-lahan mulai bangkit menguatkan hatinya.

'Aku memang sedih karena adek yang masih belum sehat dirumah, tapi aku juga nggak boleh egois ngebuat temen-temen ku disini ikut-ikutan bingung karena keadaanku saat ini. Dik bagaimanapun keadaan kamu sekarang, semoga kamu lekas sembuh ya dik.' batin Syamsu menyendu mengingat keadaan adik perempuan satu-satunya.

...****************...

"Kamu kenapa sih Sin mondar mandir terus dari tadi.." omel Rani menatap heran kelakuan aneh Sintia yang tidak berubah sedikitpun dari tadi. Ya, saat ini mereka bertiga sedang berada di koridor bangunan kelas 2 yang berada tepat dibelakang kantor guru.

Gelisah, itulah yang dirasakan oleh Sintia manakala sosok imut bermata jernih yang biasanya senantiasa hadir memenuhi pandangan matanya, kini secara ganjil hilang bagaikan hanyut ditelan ombak. Bagaimana tidak khawatir, berbulan-bulan sudah keduanya akrab layaknya kakak dan adik kandung, namun kini secara mendadak gadis kecil yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri itu justru hilang selama beberapa hari ini. Yah meskipun baru terhitung 4 hari jika dihitung-hitung dengan baik setelah libur sekolah berakhir sebelumnya.

"Sin.. coba kamu tanya sama adekmu si Ahmad itu.." usul Naima memberi masukan kepada Sintia.

"Eh bener juga ya Nai usulmu itu." sahut Rani berujar riang menanggapi tatapan malas salah satu teman dekatnya tersebut.

"Ehmmm. Untuk tanya masalah itu aku udah pernah tanya sama Ahmad dirumah kemarin, tapi kata dia si Ria emang udah beberapa hari ini izin nggak masuk karena sakit, tapi nggak dijelasin dengan spesifik apa sakitnya." jawab Sintia lesu menatap kedua temannya, Naima dan Rani.

"Ya udah kalau gitu. Gimana kalo kita tanya ke kakaknya Ria sekarang. Kamu ingat nggak Sin, di Ria itu pernah cerita kalo dia itu disini punya kakak yang namanya kalo gak salah.... ehmm... emm.. siap ya.. Dji Sam su... atau Samson.." pikir Naima mengingat-ingat dengan keras nama Syamsu, kakak Ria.

"Samson.. kali Nai.." celetuk Rani dihadiahi tepukan gemas Sintia.

"Syamsul Arifin Rani... Naima.." tepuk Sintia gemas melihat kekocakan kedua temannya. Heran deh dia dengan kelakuan aneh kedua temannya yang kadangkala muncul disaat yang tidak tepat seperti saat ini.

"Ya udah kalau gitu.. yuk kita samperin si Syamsu.. duh udah kayak merek rokok aja Dji Sam su.." celetuk Rani melanjutkan gurauannya yang tadi.

"Husss.. udah gak boleh gitu, Ndak elok" sela Sintia memotong gurauan sang teman yang menurutnya sudah terlalu berlebihan.

 

...****************...

Sekolah dasar negeri 1** S adalah salah satu sekolah negeri yang paling dekat dan mudah dijangkau oleh beberapa warga desa yang berada tepat di pinggiran kota S dan B saat ini. Meskipun terbilang cukup dekat, namun jarak yang harus ditempuh oleh para warga yang hendak mengantarkan anak-anak mereka menempuh pendidikan ke sekolah tersebut terhitung cukup jauh. Dengan jarak yang membentang antara desa P dengan desa A tempat dimana sekolah tersebut berada apabila diukur dengan kasar kemungkinan jaraknya sekitar 2-3 KM dengan waktu tempuh sekitar 1-4 jaman jika ditempuh dengan berjalan kaki.

Dengan medan jalan yang memutar dari desa P ke desa K sampai akhirnya tiba di desa A tentu saja jarak yang cukup jauh itu tidak mungkin dapat ditempuh dengan waktu yang efektif kecuali dengan sepeda motor. Namun meskipun demikian, jalur diatas bukanlah satu-satunya jalur yang bisa digunakan untuk bisa sampai ke sekolah tersebut. Setidaknya jika di hitung-hitung berdasarkan letak geografis sekolah tersebut, untuk mencapai SDN 1** masih bisa menggunakan 2 jalur alternatif lainnya selain jalur utama diatas.

Nah salah satu dari jalur alternatif tersebut adalah jalur 'Kandang Ayam'. Yah jalan 'Kandang Ayam' . Jalur alternatif ini adalah satu-satunya jalur dengan jarak tempuh yang paling pendek dan efektif dari sisa jalur yang ada yang seringkali ditempuh para warga untuk segera sampai dengan cepat ke SDN 1** tersebut.

Kembali kepada para murid sekolah dasar negeri 1** yang sedang berhamburan memenuhi warung-warung yang ada di kantin sekolah yang berada tepat diperbatasan SDN 1** tersebut dengan SMPN satu atapnya, SMPN 2* S. Meskipun berdiri diatas satu tanah yang sama, namun untuk masalah perut biasanya para siswa SMPN lebih sering menghabiskan waktu istirahat mereka dikantin dalam gedung sekolah mereka dari pada dikantin luar yang merupakan satu-satunya kantin yang ada di sekolah dasar tersebut. Mengingat keramaian kantin pada jam-jam istirahat seperti ini, ketiga murid akhir kelas 6 sekolah dasar negeri 1** itupun dengan segera bergegas menghampiri salah satu warung yang cukup ramai pada jam istirahat saat itu.

"Gimana neng... pada mau pesen apa neng Sintia, neng Nai sama neng Rani buat makan siang nya neng.." sapa Bu Menuk pemilik warung kantin tersebut.

"Hehehe.. Ndak bude. Ini Rani kesini cuman mau tanya, tadi pas istirahat ada anak kelas 4 yang yang kesini Ndak bude? Orang nya hitam manis, badannya tinggi tegap, biasanya dia kesini ditemenin sama anak kecil cantik yang rambutnya kayak iklan shampo itu loh bude ..." tanya Rani merincikan ciri fisik Syamsu dan Ria kepada Bu Menuk.

"Ooh.. si kasep itu ya? Iya ada. Dulu dia sering kesini cuman buat ngeliat adeknya makan habis itu dia pergi lagi sama temen-temennya yang kasep itu. Duh manih kasep pisan atu temennya yang satunya" jawab Bu menu asik mengingat-ingat beberapa pelanggan setianya.

"Ih.. bude mah.. yang benar atuh bude. Ini urgent masalahnya. Penting pisan soalnya." Keluh Naima yang menyahuti cerocosan Bu Menuk.

"Hehehe maaf.. maaf atuh neng. Jadi tadi si Syamsu sama temennya ada memang sempat makan disini, tapi habis selesai makan dia langsung pergi sama teman-temannya. Biasanya sih ya neng ya, kalau anak-anak cowok itu sukanya main bola di lapangan dekat halaman gedung tengah situ." tunjuk Bu Menuk mengacungkan centong nasi uduk miliknya.

"Oh gitu ya bude. Matur suwun ya bude. Ya udah untuk tipsnya saya sama temen-temen beli gorengan pisang goreng sama tahu bunting bude 5 ribu ya bude." Sahut Rani seraya menyerahkan selembar kertas bertuliskan angka 5 dengan tiga nol yang mengikutinya.

"Waduh.. makasih ya neng.." ujar Bu Menuk dengan riang gembira melihat gorengannya ludes tak bersisa.

"He'em... sama-sama bude. Kalau gitu kami pamit dulu ya bude. Assalamu'alaikum"

"Wa'alaikumussalam" angguk Bu Menuk menanggapi kepergian ketiganya.

1
Sagaras
Perlu Banyak Diperbaiki
Seruling Emas
Aku mampir ya kak.. Mampir di novelku jg yaa
Malinda N.H
ayo smngt!!
Malinda N.H
awal yang menarik. khairiyyah itu kyk nama adik sepupuku. aku sudah mampir ya, jagn lo mapir balik y thor, rate bintang lima hehe
nesaric
pertama nih, dapet apa dari author 🤣🤣
sagaras Hubba: Dijemput ya hadiahnya kak...

Terimakasih untuk dukungan nya :)
total 1 replies
francess
khairiyyah nama yang bagus thor. .kayag nama anakku. .
francess: mampir di novel ku juga donk
barangkali aja suka

judul : i hope my sins will be forgiven
total 2 replies
nesaric
semangat up kakakkk
sagaras Hubba
Terimakasih ya Zeroind. yuk saling suport dan follow
sagaras Hubba
Salam literasi teman-teman.

Untuk semua reader yang mampir sekedar baca-baca, jangan lupa tinggalkan sedikit jejak mu ya. Baik itu komen, like, vote ataupun bunga.

Semoga hari-harimu menyenangkan dan kamu selalu dalam keadaan baik.

Terimakasih :)
nesaric
keren intronya kakkkk mana islami banget lagi
sagaras Hubba: Terimakasih nesaric.

Semangat terus ya..
total 1 replies
One Tea
Awal yg bagus, smoga banyak yg membaca novel ini,
sagaras Hubba: Terimakasih kak. Mohon dukungan, kritikan dan sarannya ya kak, supaya karya ini bisa semakin berkembang..

Salam literasi :)
total 1 replies
Queen Bee✨️🪐👑
udah lama gak main gini, kalopun main pas 17an
sagaras Hubba: Aku jujur kangen banget lihat anak-anak di sekitar rumah ku maen kayak gitu pas 17 an. Cuman, namanya juga di kota. Agak beda sama desa kalo untuk perayaan kayak gini
total 5 replies
sagaras Hubba
Makasih banyak @Risa untuk dukungan nya :)

Semoga kami sehat selalu juga hari-hari mu menyenangkan...

Semangat berkarya ya risa

salam literasi :)
sagaras Hubba
Hai Risa. Terimakasih udah balik lagi ke cerita ini. Semoga hari-hari mu menyenangkan... :)

Salam literasi
Alice
dih!

lo tuh, mirip bajang!
Sheninna Shen
Novelnya bagus, aku suka cara penggunaan majasnya. Semangat thor !!!
sagaras Hubba: Thanks @Sheninna Shen.

Kamu juga terus semangat berkarya ya. Ganbatte Sheninna
total 1 replies
Alice
aku suka banget sama narasinya 💖💖

semangat selalu untuk terus berkarya!
sagaras Hubba: Thanks ya Risa. semoga Tuhan selalu memberikan kemudahan untuk urusan mu..

Salam literatur Risa :)
total 1 replies
Alice
bahasanya aku suka
Alice
behh narasi nya cuy bagus bener 👍🏻👍🏻 puitis
sukaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!