Nancy, seorang gadis kaya raya yang melakukan aktivitas layaknya remaja biasa lainnya. Bedanya, sejak kecil dirinya dikaruniai kekuatan elemen untuk memindahkan benda apa saja yang diinginkannya, ia dilahirkan di sebuah planet bernama Omegalfa, planet yang telah ada beberapa Masehi sebelum terbentuknya kehidupan di planet bumi. Namun saat umurnya beranjak 17 tahun, ia mulai menyadari jika dirinya memiliki panggilan untuk mengikuti pertandingan yang diadakan di planetnya setiap 10 tahun sekali untuk mewakili klannya yaitu klan Naribasa. Planet Omegalfa sendiri terdiri dari 5 klan yaitu NARIBASA, KRETINO, MEMORIJIN, HUBEMO dan ANANDA. Baru menginjak hari pertama pertandingan, Nancy sudah bertemu masalah baru bersama 4 peserta lainnya dari 4 klan yang berbeda. Pertemuan mereka dimulai sebagai musuh dan malah berakhir sebagai sahabat. Apakah panggilan Nancy tersebut akan membawanya pada keberhasilan atau malah kegagalan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Johana Agustin Choandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN 14: KELUH KESAH NANCY
Setelah Nancy kembali ke kamarnya, ia langsung melemparkan dirinya ke atas kasur, ia langsung menangis sesenggukan merindukan kedua orangtuanya karena perbincangannya dengan Andy mengenai Naribasa, ia ingin kembali ke kamarnya saja saat itu, disaat itu juga ia merasa dirinya tak bisa apa apa dibandingkan Andy yang bersikap sangat siaga dan matang, jauh di dalam hatinya ia tak ingin dianggap lemah oleh orang lain, Jika tadi tidak ada Andy dan Karen, pasti sekarang dirinya sudah berada dalam perjalanan pulang kembali ke rumah Ayah dan Ibunya. Selama tiga puluh menit, Nancy menangis mencurahkan apa yang ia rasakan seharian ini, rasanya tubuh Nancy sudah lemas tak kuat menghadapi hal hal di depannya sendirian, ia merasa tak berguna dan harus terus bergantung pada orang lain, padahal tekadnya hanya untuk membuktikkan ke Ayahnya bahwa ia bisa tanpa bantuan dirinya.
Setelah jam di tangannya menunjukkan pukul 12, Nancy segera memaksakan dirinya untuk bangun, ia mengelap air matanya yang membajiri pipinya cepat-cepat dan segera mengganti bajunya dengan baju latihan yang sudah disiapkan otomatis di setiap ruangan. Dengan cepat, ia segera mengikat rambut panjangnya sampai tinggi menyerupai buntut kuda, ia merasa ini saatnya ia bangkit, segalanya sudah ia korbankan hanya agar dirinya dapat mencapai titik ini, semua perjuangan orang tuanya dan dirinya tak boleh hilang begitu saja saat ini. BUKAN HARI INI!
Setelah pukul 12.25, ia segera memasuki lapangan Gedung Severest yang terletak di bagian paling belakang, saat memasuki gedung tersebut ia sangat terheran-heran, sepanjang hidupnya di Naribasa Ia tak pernah melihat gedung semegah dan secanggih itu, kalau disamakan dengan ukuran bumi...ya kira kira sebesar lapangan sepak bola namun area yang satu ini dipenuhi berbagai macam alat bahan dan juga robot-robot canggih yang bisa diatur untuk berlatih bela diri tingkat tinggi. Tanpa berfikir panjang, Nancy langsung bertarung memasuki arena untuk melawan robot-robot tersebut. Di arena lain ia melihat juga Karen, Max, Andy dan Hugo yang sedang berlatih. Nampaknya kali ini hubungan Max dan Hugo semakin dekat, keringat mereka berdua sangat deras seperti habis dibasahi hujan, terlihat mereka sudah berlatih sejak lama disini. Nancy dengan tekadnya yang kuat melihat ada seorang peserta sedang berlatih dengan robot tarung hingga poinnya mencapai 99. Nancy pun memulai serangannya berkali kali...poin yang dihasilkan juga semakin besar...5....8....11...15...27...33...42...53...66....78....97...101...102...Nancy yang kelalahan setelah menjatuhkan lebih dari 100 robot tarung, langsung duduk di bangku dengan meja panjang sendirian.
Tiba tiba...
"Sendirian lagi nih...." ujar perempuan berambut kriting merah berponi.
"Yaaa seperti itulah aku..." balas Nancy santai dengan nafas berat.
"Rindu keluarga tidak?" tanya Nancy datar.
"Pastilah...lebi tepatnya aku rindu paman dan bibiku, ya kalau boleh jujur aku sedari kecil tak pernah bertemu dengan mereka," jawab Karen dengan muka tegar.
"Maaf maaf bukan ku bermaksud membuatmu sedih," kata Nancy sambil menoleh dengan muka bersalah, akibat dirinya yang rindu dengan kedua orangtuanya sampai sampai dirinya membuat orang lain sedih, ia semakin berfikir bahwa dirinya terlalu egois untuk mengikuti pertandingan ini.
"Tak apa kok, aku sudah biasa menceritakan hal ini," jawab Karen sambil memaksakan senyumnya.
"Kalian berdua lagi..." tiba tiba suara seorang laki-laki terdengar, muncullah Max dengan membawa nampan makanan di kedua tangannya dan juga Hugo yang mengikutinya di belakang.
"Nampaknya kalian sudah baikan, cukup cepat juga bagi seorang asing yang baru bertemu kemarin...hahahah," ujar Karen sambil tertawa melihat Nancy disebelahnya yang cekikikan juga, Hugo dan Max pun duduk di bangku kosong yang se-meja dengan mereka.
"Yayaya...kalau bukan karna semua bangku penuh, kami ga akan duduk disini," kata Hugo sambil memberi kode pada Max seperti tanda sepakat, ia takut dikira cari perhatian saat itu, jadi dengan asal mulutnya reflek berkata demikian.
"Terserah kalian saja,yang penting ingat! Kalian masih berhutang budi padaku," ujar Karen melirik ke arah dua laki laki di depannya, tanda dirinya tak mau kalah percakapan begitu saja dengan mereka.
"Sudah sudah cukup...nanti yang ada kalian bertiga lagi yang bertengkar," ujar Nancy dengan nada bercanda.
Jam menunjuk pukul 13.35.....
"Emm ngomong-ngomong diantara kalian ada yang tau ga kapan tahap seleksi masing-masing pulau dimulai?" tanya Nancy tiba-tiba.
"Sayangnya hal tersebut ga akan terjadi..." ucap sebuah suara yang muncul dari sebelah Nancy, ternyata Andy yang kelihatan sehabis latian tiba-tiba ikutan nimbrung di bangku meja mereka ber-empat.
"Gaw awkan terjaadi gewmana maksuwd mu???" (Trans: "Ga akan terjadi gimana maksudmu?") tanya Max dengan mulut penuh makanan.
"Waktu aku hendak melewati para panitia pengurus pertandingan, yang ku dapat dari pikiran mereka, sehabis ini akan diadakan pemilihan kelompok, 1 tim wajib terisi dari lima anggota yang berasal dari masing-masing pulau yang BERBEDA," jelas Andy dengan muka serius
Saat itu Hugo melihat ke arah Max...
"Apa kau lihat-lihat hah? Kita baikan bukan berarti kuingin kita menjadi anggota setim!" kata Max sambil melanjutkan makanannya.
"Siapa juga yang mau setim sama kamu...jangan harap!" balas Hugo santai.
"Kalau dipikir-pikir lagi, buat apa untungnya bagi mereka membagi-bagi kita menjadi kelompok?" ujar Nancy.
"Iya, merepotkan saja," timpal Karen.
"Mungkin untuk mengeliminasi peserta yang tak mendapatkan anggota," timpal Hugo yang baru saja menyelesaikan makanannya.
"Masuk akal si, soalnya anggota anggota dari setiap pulau yang paling sedikit itu dari pulauku, Ananda, kurang lebih hanya 95 orang, jadi kurang lebih hanya akan ada 95 kesempatan tim yang terbentuk, itu kalau belum ada yang tereliminasi," ujar Andy sambil mengambil makanan Max di depannya.
Tiba tiba muncul suara dari semua sisi ruangan...
"PERHATIAN DIMOHON BAGI SELURUH PESERTA, HARAP BERKUMPUL DI LAPANGAN UDARA GEDUNG SEVEREST YANG TERLETAK DI LANTAI 58 (lantai tertinggi), TERIMA KASIH." Terdengar suara robot Severest yang membagikan pengumuman tersebut.
tetap smgt y thor..
ditunggu lo kelanjutannya😁
eh iya bom like semua bab+ rate5 + favo❤ telah mendarat y
salam dari "Make Sure You Love Me"
jgn lupa mampir di karyaku😊
Salam –Belong to Esme–
salam dari karyaku
CINTAKU PEMBUNUH KEKASIHKU
❤
TERPAKSA MENIKAHI SI ANAK MAMI
baca juga novel ku ya kk
Baekhyun adalah Takdirku
semangat thor ☺💪💪
salam kenal dari karyaku 😁🙏
kalau berkenan, baca juga tulisanku thor, judulnya Perjalanan Cinta Hara 😊😊😊
cuss bacaa jan lupa tinggalkan jejaakk🤗
tkan prfil q aja yaa😍
vielen danke😘