Perjalanan hidup terkadang tidak sesuai yang kita impikan. Pastinya setiap orang memiliki kisah perjalanan hidup yang baik, nyaman dan Bahagia. Aku tidak memiliki perjalanan hidup yang indah , banyak ujian yang menghadang. Aku seorang bayi yang dibuang di tempat sampah, hingga akhirnya seorang janda paruh baya yang berprofesi sebagai pemulung mengangkatku menjadi anaknya. Aku hanyalah lulusan SMP, dengan berbekal otodidak aku belajar membuat kerajinan tangan berbahan plastic daur ulang hingga menjadi sukses.
Perkenalanku dengan seorang pria yang baik hati, berharap ia adalah jodohku. Ternyata orang tua angkatnya tidak menyetujuinya. Sebagai balas budi pada orang tua angkatnya ia rela aku menikahi adiknya yang lumpuh akibat kecelakaan. Ternyata ujianku masih tetap berlanjut , suamiku yang lumpuh itu seorang yang angkuh, sombong dan kasar. Pernikahan ini harus kuterima dan kujalani dengan sabar, sehingga membuat aku mencintai suamiku dengan tulus dan aku menganggapnya ia sebagai suami ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmah Safitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 14 Aku mulai menyukainya ?
Aminah keluar dari rumah mewah dengan berjalan kaki. Waktu sudah menunjukkan jam sebelas malam. Jarak untuk menuju pintu gerbang dengan rumah Rian cukup jauh karena rumah ini sangat luas sekali. Sepanjang jalan Aminah hanya menggerutu, “bisa-bisanya aku akan menikah dengan laki-laki yang lumpuh , sombong dan kasar.”
Petugas keamanan melihat Aminah dari kejauhan sedang berjalan menuju pintu gerbang. Petugas keamanan segera memencet tombol agar pintu gerbang terbuka dengan sendirinya. Aminah tertegun melihatnya, “ Masyaallah, memang beda rumah orang kaya semuanya serba otomatis.” ucap Aminah.
Aminah lalu menengok ke arah petugas keamanan dengan tersenyum, sebagai pertanda terima kasih sudah membukakan pintu gerbangnya. Aminah berjalan keluar pintu gerbang, ia juga merasa bingung harus berjalan ke arah mana, karena ini Kawasan rumah paling elit di Jakarta.
Tanpa disadari oleh Aminah, ada mobil sport yang berwarna kuning telah menunggu Aminah diluar pintu gerbang. Rama menunggu Aminah. Hampir dua jam lebih di dalam mobilnya. Rama ingin menemui wanita yang sangat ia sayanginya dari beberapa tahun lalu. Ia masih berharap Aminah mau membatalkan pernikahannya dengan Rian karena ia yakin kalau Aminah memiliki perasaan padanya.
Aminah mengaktifkan ponselnya, lalu membuka aplikasi ojek online. Kemudian ia mulai memesan ojek online. Di saat Aminah sedang fokus dengan ponselnya, Aminah dikagetkan dengan mobil yang mendadak berhenti di depan Aminah.
Aminah lalu berteriak , “Astagfirullah,” dengan menutup matanya karena ketakutan.
Keluarlah dari mobil soprt, sosok yang telah dikenal oleh Aminah.” Aminah,” Sapa Rama. “Maaf saya sudah membuat kamu takut.” Ucapnya.
Aminah membuka matanya, ia merasa tidak asing dengan suara yang menyapanya.” Kak Rama,” ucapnya dengan heran. “Kenapa kakak berhenti mendadak di depan saya.” Aminah mundur beberapa langkah ke depan.
“ Maafkan saya yang sudah membuat kamu kaget,” ucap Rama meminta maaf dengan mengangkat kedua tangannya.
“ Tidak ada yang perlu dimaafkan kak, Aminah hanya terkejut saja.” jawab Aminah.
“ Ayuk, kaka kantar pulang.”ajak Rama.
“ Maaf kak, Aminah sudah memesan ojek online.” Aminah menolak dengan halus.
Rama lalu mengambil ponsel yang sedang digenggam oleh Aminah, kemudian Rama membatalkan pesanan ojek online tersebut.
Aminah merasa kesal dengan sikapnya Rama, “ Kembalikan ponsel saya kak, kak Rama tidak sopan merebut barang yang bukan miliknya.” ucap Aminah dengan ketus.
“ Kakak tidak bermaksud kasar ataupun tidak sopan, kakak hanya ingin bisa mengantar pulang kamu.” pinta Rama dengan permohonan maaf.
Aminah teringat dengan ucapan papinya Rian, bahwa Rama adalah penyebab kecelakaan kak Rian. Aminah juga memerhatikan gerak-gerik Rama, ia merasa kak Rama sekarang berubah dan menjadi orang yang berbeda saat ia berkenalan sekitar tiga tahun yang lalu.
Aminah juga teringat bahwa ia sudah berjanji dengan papinya kak Rian akan menjaga kak Rian. Tiba-tiba saja bayangan wajah Rian melintas dalam benaknya, “ Aku harus menghindari kak Rama, jangan sampai nanti bermasalah lagi kak Rian orang yang super dingin, kasar dan sombong.” ucapnya dalam hati.
“ Maaf kak Rama, saya bisa pulang sendiri jadi tidak perlu diantar.” ucap Aminah.
Rama kecewa dengan penolakan dari Aminah. Ia berpikir, Aminah yang dikenalnya sudah berubah. Rama langsung menarik tangan Aminah untuk masuk ke dalam mobilnya.
Aminah kaget sekali , saat kak Rama menarik tangannya. Ia berusaha untuk melepaskan tangannya dari kak Rama. Hanya saja tenaganya tidak cukup kuat untuk lepas dari kak Rama. “ Kak Rama sangat tidak sopan, cepat lepaskan tangan Aminah.” ucap Aminah dengan berteriak. “ Lepas kak, atau saya akan berteriak agar semua orang tahu.” ancam Aminah.
Rama tidak bergeming, ia tetap menarik tangan Aminah. Saat Rama membuka pintu mobil, tiba-tiba mobil berwarna hitam langsung menabrakkan ke mobil milik Rama. Rama dan Aminah terlempar karena guncangan yang cukup besar.
Keluarlah beberapa orang yang berperawakan tinggi besar serta menyeramkam dari mobil warna hitam. Muncullah mobil sport warna merah berhenti di belakang mobil warna hitam. Kemudian Bagas lalu keluar dari mobil sport tersebut, Bagas mempersiapkan kursi roda dan membantu bosnya untuk duduk di kursi roda tersebut.
Rian segera menghampiri Aminah, ada perasaan khawatir saat aminah terlempar. “ apakah ia baik-baik saja,” ucapnya dalam hati.
Aminah dan Rama terlempar sekitar lima ratus meter, tampak keluar darah dari kepalanya dan membuat hijabnya berubah warna. Sedangkan kepala Rama terbentur dengan aspal jalanan, mengakibatkan kepalanya
juga terluka cukup serius.
Kondisi Aminah jauh lebih baik, ia masih bisa bangun walaupun sekujur badannya terasa sakit. Rian lalu menjalankan kursi rodanya dan mendekati Aminah. Rian mengulurkan tangannya untuk membantu Aminah berdiri. “Apakah kamu baik-baik saja?” tanyanya.
Aminah berdiri, emosinya benar-benar sudah tidak terbendung. Aminah menampar pipinya Rian “ Plaak,” Aminah juga meluapkan amarahnya kepada laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. “ Tuan Rian yang terhormat, kamu pikir ini bercandanya lucu!” tanya Aminah dengan berteriak. “Anda berasal dari keluarga kaya raya, tapi kelakuan anda sangat rendahan.” Ucapnya kembali.
Rian tersulut emosinya setelah mendapatkan perlakuan kasar dari Aminah, “ Bagas, Tarik Aminah untuk masuk ke dalam mobil apabila ia tidak mau paksa dengan kekerasan.” perintah Rian dengan rahang yang sudah mengeras.
Bagas lalu memegang tangan dari Aminah. Awalnya Aminah memberikan penolakan, akhirnya Aminah menurut, Aminah sekilas melihat raut wajah Rian yang merah padam seakan-akan ingin memakan orang. Aminah mengakui salah karena sudah menampar Rian di depan orang banyak. Aminah lakukan itu karena sikapnya Rian sudah berlebihan dan membahayakan nyawa orang lain.
Sedangkan Rama, berusaha untuk berdiri. Ia melihat Aminah dipaksa masuk ke dalam mobilnya Rian. Rama ingin menolong Aminah agar tidak ikut dengan Rian. Hanya kondisinya saat ini lemah akibat benturan tadi.
Lagi pula banyak sekali bodyguard yang menjaga Rian.
Rian lalu mendekati Rama yang sedang duduk di jalanan. Ia ingin membuat perhitungan kepada Rama karena telah mengganggu ketenangannya dengan mendekati Aminah. “ini baru peringatan karena sudah berusaha mendekati Aminah.” ancam Rian dengan tatapan menakutkan.
Aminah hanya melihat dari dalam mobil saat Rian mendekati Rama. Aminah tidak tahu apa yang sedang mereka berdua bicarakan.Ada rasa penasaran di dalam hati Aminah. Entah ada perasaan senang di dalam hati Aminah, “ Apakah Rian cemburu kepada Rama, sehingga marah di saat Rama mendekatiku?” ucap Aminah dalam hati.
Rama menatap dengan dingin Rian, “ Saya tahu, kamu hanya ingin mempermainkan Aminah.” ucap Rama penuh penekanan.
“ Itu bukan urusanmu, Aminah sendiri sudah menyetujuinya untuk menikah dengan saya!” jawab Rian . “Jauhi Aminah, kalau kamu masih bersikeras saya pastikan anda akan terbuang dari keluarga Wijaya.” ancam Rian.
Rian segera kembali ke mobilnya, Bagas membantu Rian untuk masuk ke dalam mobil. Bagas membuka pintu mobil, terlihat Aminah sudah berada di dalam mobil tesebut. Aminah memalingkan wajahnya ke arah yang
lainnya. Saat Rian masuk ke dalam mobil, hatinya mulai berdegub kencang. “ Kenapa hatiku bergetar saat bersentuhan tangan dengan kak Rian, “ ucapnya dalam hati.
Rian lalu berbicara dengan dingin, “ Bagas , kita ke rumah sakit sekarang. perintahnya. Rian lalu memalingkan mukaanya melihat ke arah luar jendela. “Kamu perempuan baik-baik bukan?” tanya Rian dengan kata-kata kasar. “Seharusnya sebagai perempuan yang akan menikah bisa menjaga dirinya dengan baik bukan sebaliknya bermesraan dengan laki-laki lain.” ucap Rian. “ Kamu calon istri dari Rian Wijaya penerus bisnis kerajaan Wijaya, apa kata orang lain kalau tahu menyukai saudara angkat dari calon suamimu.” ucapnya
penuh penekanan. “ Minggu depan kita akan menikah, saya tidak menerima penolakan atau kamu akan merasakan akibatnya.” ucapnya penuh ancaman.
Rian sangat marah saat tadi, karena Rama memegang tangan Aminah. Sampai ia menyuruh bodyguardnya menabrakkan mobil mereka ke mobilnya Rama. “ ada apa dengan aku, kenapa aku tidak suka melihat Aminah dekat dengan Rama.” ucapnya dalam hati.
Aminah memanglingkan mukanya melihat ke arah jendela. Ia tahu bahwa laki-laki di sebelahnya saat ini sedang emosi. Jadi lebih baik ia diam tidak menjawabnya. Ia teringat dengan almarhumah ibunya, saat ini Aminah membutuhkan sandaran untuk meluapkan emosinya. “ Ibu, Aminah kangen,” ucapnya dengan suara terisak dengan pelan.
Rian mendengar ucapan lirih dari Aminah, ia sempat menengok ke arah Aminah. Ia ingin memeluknya namun rasa gengsinya terlalu tinggi. Kemudian ia memalingkan mukanya kembali melihat ke arah jendela. “ Kenapa
hatiku sakit, saat melihat Aminah bersedih?” ucap Rian dalam hati.
Bagas yang sedang mengendarai mobil, melihat dari kaca spion yang ada di dalam mobil gerak-gerik dari bosnya. Bagas berpikir kalau bosnya sudah menyukai Aminah, hanya saja malu dan gengsi. “ kalau suka dengan Aminah, seharusnya bos jangan marah atau bahkan membuat Aminah celaka itu akan membuat Aminah menjauh.” ucap Bagas dalam hati dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.