Kedatangannya ke Indonesia membuat seorang Kay Cyrano Agesislou pemilik perusahaan pelayaran terbesar di Yunani terobsesi terhadap seorang gadis mungil yang dia temui di sebuah pelabuhan.
Sejak saat itulah Kay mencari tahu segala tentang gadis yang baru menginjak usia delapan belas tahun itu. Jillian Lakhaesa nama itu terdengar sangat indah ketika Kay mendengarnya.
Mendengar gadis itu selau diperlakukan tidak manusiawi membuat Kay ingin Jillian berada disisinya. Tapi Kay ingin gadis itu sendiri yang datang menghampirinya.
Cinta dan obsesi menjadi satu membuat Kay melakukan apapun untuk membuat Jillian menjadi miliknya.
Banyak hal yang terungkap dalam hidupnya membuat Jillian merasa dunia memang benar-benar mempermainkannya.
xxxx
Hai, ini adalah cerita pertama yang aku buat.
Maaf jika masih terdapat banyak kesalahan dalam pengambilan dan penulisan kata.
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ssintia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter | 13
+
+
Setelah dari Rumah Sakit, Aebi langsung membawa Lily untuk kembali ke Mansion. Luka yang gadis itu dapatkan tidak terlalu serius jadi bisa langsung pulang tanpa di rawat.
“Makasih paman.” Ujar Lily pada Aebi yang telah mengantarkannya sampai depan pintu kamarnya.
“Kalau butuh sesuatu panggil saja.”
“Iya paman.”
Lily menutup pintu kamarnya setelah Aebi tidak terlihat, dia segera ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya yang kurang nyaman di pakai karena ukurannya yang cukup besar. Juga karena terdapat noda darah.
Lily meringis ketika melihat bayangan wajahnya di cermin. Bekas pukulan di matanya terlihat dengan jelas setelah sekian lama dia mendapat luka lagi di tubuhnya.
Semoga saja obat yang di berikan dokter bisa cepat memudarkan lebamnya, karena dia tidak ingin Kay melihatnya. Tapi kalau di pikir-pikir seharusnya Kay sudah mengetahui kejadian tadi.
Setelah mengganti pakaiannya, Lily bingung harus melakukan apa lagi, dia membuka lemari yang berisi berbagai macam tas lalu mengambil ponsel pemberian Aebi yang selama ini dia simpan di laci, kemudian merebahkan badannya dengan nyaman di bean bag.
Lily menggulir layar untuk melihat apa yang menarik perhatiannya. Telunjuk Lily menekan ikon kamera hingga muncul wajahnya di layar.
“Cantik juga.” Gumam Lily setelah mengambil beberapa jepretan dirinya. Kenapa juga dia baru sadar bahwa wajahnya tidak terlalu buruk. Apalagi kali ini dia tidak melihat lagi tulang yang biasanya menonjol di bagian-bagian tubuhnya karena saking kurusnya dia dulu.
Lily tidak punya akun sosial media apa pun, dan dia pun tidak tertarik sama sekali untuk membuatnya, dia menjadikan foto selfie nya tadi sebagai wallpaper.
Tiba-tiba saja nada panggilan terdengar dan nama Kay terlihat di layar ponselnya. Sejak kapan nomor laki-laki itu berada di ponsel ini, Lily baru menyadarinya. Sebelum Lily menerima panggilan dia berdehem dulu.
“Ada apa Kay.” Tanya Lily.
“Jillian.” Butuh waktu beberapa detik untuk mendengar jawaban Kay.
“Ya.”
“Jangan lupa obati matamu.” Lily yang mendengarnya membeku rupanya Kay benar-benar sudah tahu apa yang terjadi padanya dan kenapa dia tahu Lily belum memberikan lagi salep pada matanya.
“I-iya.”
“Karena kau terluka hukuman menantimu sayang .”
Mendengar suara Kay yang dalam membuat Lily merinding. Jadi lebih baik dia memutuskan panggilannya saja. Lalu dia segera menyimpan ponsel itu ke laci nakas yang ada di sampingnya. Lily keluar dari kamar untuk menemui Paulina daripada bosan sendirian di kamar.
Tapi setelah beberapa kali berkeliling rumah Lily tidak mendapati di mana keberadaan perempuan itu dimana pun. Bertanya pada orang-orang pun tidak ada yang tahu.
“Kak Pau kemana sih.” Lily duduk di tangga terakhir seraya menyandarkan kepalanya ke tiang.
“Kak Pau!” Lily segera berdiri lalu melambaikan tangannya pada Paulina yang baru datang dari pintu masuk.
“Matamu kenapa.” Paulina berlari setelah melihat lebam di mata Lily.
“Kena tonjok.” Jawab Lily seraya tersenyum memperlihatkan giginya.
“Siapa yang melakukannya?”
“Laki-laki mabuk mungkin.” Lily mengendikkan bahunya.
“Sudah di obati?” Wajah Paulina yang khawatir terlihat jelas di mata Lily membuatnya merasa tidak enak.
“Sudah.” Lily menganggukkan kepalanya.
“Kau harus beristirahat, ayo kembali ke kamar.”
“Tidak mau.” Lily menahan tangan Paulina yang akan menarik tangannya.
“Lily jangan keras kepala nanti tuan marah kalau tahu kau seperti ini.” Paulina kembali menarik tangan Lily tapi gadis itu menahan tubuhnya dengan memeluk tiang tangga.
“Nanti kak.” Lily menggelengkan kepalanya ribut.
“Lily.”
“Kak Pau.” Lily memasang wajah melasnya berharap Paulina luluh.
“Oke.” Paulina melepaskan tangan Lily lalu berjalan menuju arah dapur meninggalkannya, Lily yang melihatnya segera menyusul Paulina yang baru dia sadari membawa sebuah tote bag.
“Kaya martabak telur.” Gumam Lily setelah melihat makanan yang Paulina keluarkan dari tote bag di meja pantry.
“Kakak itu apa.” Tanya Lily penasaran seraya menunjuk tangan Paulina.
“Spanakopita, mau?” Lily segera menganggukkan kepalanya lalu Paulina memberikan sepotong makanan itu langsung di depan mulut Lily.
“Isinya apa kak.” Tanya Lily setelah menelan makanan di mulutnya.
“Telur di campur sayuran.” Lily menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Paulina lalu mengambil satu potong makanan itu lagi.
“Kakak yang buat?”
“Iya.”
“Enak kak, boleh aku makan lagi.”
“Tentu, memang sengaja buat kamu.”
“Wah makasih kak Pau.” Dalam sekejap isi toples itu berpindah ke dalam perut Lily, lalu dia menempelkan pipinya di meja setelah perutnya kenyang.
“Kak aku belum liat lagi Giza dia kemana?” Lily menegakkan kembali badannya ketika dia teringat hal yang dari tadi ingin dia tanyakan.
“Dia ambil cuti.”
“Oh.” Lily kembali menempelkan pipinya di meja.
Melihat cuaca di luar yang cerah membuat Lily tersenyum lalu segera berdiri dan berjalan ke arah belakang mansion. Dia berencana untuk berenang. Tiba di depan kolam Lily langsung menceburkan dirinya tanpa mengganti bajunya dulu karena malas untuk naik lagi ke atas.
Sedangkan Paulina hanya mengawasi Lily dari teras takut terjadi sesuatu pada gadis itu. Lily bolak-balik di kolam sepanjang dua puluh lima meter itu sebanyak sepuluh kali.
Setelah di rasa cukup, Lily naik ke atas dan Paulina langsung membalut tubuhnya dengan handuk.
“Makasih kak.” Lily mengencangkan lilitan handuknya.
“Ayo segera ganti bajumu.”
“Iya kak.”
Setelah selesai mandi Lily sudah tidak mendapati keberadaan Paulina di kamarnya. Karena bingung harus apa lagi, jadi dia putuskan untuk tidur saja meskipun jam masih menunjukkan pukul tujuh malam.
Kay sudah berada di negaranya kembali setelah tiga hari berada di New York dan saat ini dia berada di bandara menunggu Aebi yang akan menjemputnya.
“Kau telat lima menit.” Ujar Kay pada Aebi yang baru tiba seraya melihat jam ditangannya.
“Maaf tuan tadi di jalan sedikit macet.” Jelas Aebi seraya membungkukkan badannya.
“Ke kantor dulu.”
“Baik tuan.” Kay masuk kedalam mobil setelah Aebi membukakan pintu mobil.
“Bagaimana keadaan istrimu.”
“Sudah lebih baik tuan.”
“Bagus.” Kay memijat hidungnya seraya menyandarkan kepalanya ke kursi.
“Kau menyimpannya di tempat biasa kan.”
“Iya tuan saya mengurungnya di tempat yang tuan perintahkan.”
“Senang mendengarnya.” Kay menyeringai membuat Aebi yang melihatnya bergidik. Tuannya sedang kumat.
Tiba dikantornya Kay segera keluar dari mobil setelah Aebi membukakan pintu disampingnya. Laki-laki itu membuka kemeja bagian atasnya seraya melangkah masuk kedalam kantor.
“Kau kembali ke mansion.” Perintah Kay pada Aebi yang langsung di turuti sang bawahan.
Tiba di ruangannya Kay mendapati Elger yang menyambutnya. Lalu Kay segera menjatuhkan badannya di sofa. Selama Kay pergi semua urusan kantor Elger yang mengambil alih.
“Jangan tanya apa-apa dulu.” Ujar Kay ketika Elger akan membuka mulutnya.
Elger yang mendengarnya hanya menganggukkan kepalanya lalu berjalan menuju sudut ruangan berniat membuat kopi untuk atasannya tersebut.
“Semoga cepat menghilangkan rasa pusing yang sedang tuan rasakan.”
“Hm.” Kay segera meminum kopinya. Elger duduk di hadapan Kay seraya membawa sebuah berkas membuat Kay bedecak.
“Ayolah aku baru saja tiba.” Kay memasang raut enggan membuat Elger rasanya ingin mendengus tapi dia tidak seberani itu untuk melakukannya.
“Tuan hanya perlu menandatanganinya.” Elger menyimpan berkas itu di hadapan Kay.
Waktu makan siang Kay baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan dia ingin segera berada di rumahnya untuk bertemu dengan Jillian. Tidak sabar untuk melihat wajahnya. Meskipun selama dia pergi tetap mengawasi pergerakannya, tapi tetap saja Kay belum puas sebelum melihatnya langsung.
“Dux.”
“Selamat datang kembali Mr.Cyrano, membutuhkan sesuatu?”
“Segera siapkan mobil.”
“Baik Mr.Cyrano.”
Tiba di depan mansionnya Kay mengerutkan keningnya karena tidak mendapati seorang pun di depan rumahnya yang biasanya selalu berjaga. Sesuatu telah terjadi.
“Dux apa yang terjadi.”
“Seseorang telah menjebol keamanan, maaf baru menyadarinya tuan.” Mendengar itu membuat Kay segera keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam.
Begitu membuka pintu Kay mendapati para pengawalnya tergeletak dengan luka tembakan di tubuhnya. Satu nama yang ada di pikiran Kay membuatnya segera berlari untuk mengeceknya.
Begitu membuka pintu kamar Lily, Kay melihat seisi kamar itu berantakan dan tidak mendapati keberadaan gadis itu di mana pun. Apalagi ketika melihat ada tetesan darah di lantai membuat Kay semakin resah.
“Dux, DUX.” Kay berteriak ketika keluar dari kamar Lily menuju ruang kerjanya.
“Ya Mr.Cyrano.”
“Segera lacak keberadaan Jillian.”
“Perintah di laksanakan.” Kay memang sengaja menaruh GPS di kalung yang selalu Lily kenakan.
“Mr.Cyrano, nona Jillian berada di Pireas.”
“Cepat siapkan mobil.”
Kay berlari menuju bawah dan bertepatan dengan itu Elger datang dengan beberapa orang di belakangnya.
“Tuan apa yang terjadi.”
“Bereskan dulu kekacauan di sini dan cari di mana Aebi.” Kay tidak menghentikan langkahnya membuat Elger segera mengikuti perintah tuannya.
“Kalian ikuti tuan.” Perintah Elger pada sepuluh orang di belakangnya yang kompak menganggukkan kepalanya lalu segera menyusul Kay yang sudah keluar dari Mansion dengan mobilnya.
Kay melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal hingga dia hanya memerlukan waktu sepuluh menit hanya untuk sampai di pelabuhan ini. Sebelum keluar dari mobil Kay mengambil sebuah raging bull 454 dan menyelipkannya di dalam bajunya.
“Dux di mana lokasinya.”
“Di sebuah kontainer berwarna biru yang berada paling ujung barat.”
Setelah mendengar di mana keberadaan gadisnya, Kay segera keluar dari mobil dan berjalan kearah dimana tempat itu berada.
Kay sudah menemukan tempat yang di maksud tapi dia berhenti dan bersembunyi di depan sebuah kontainer ketika jaraknya tinggal lima puluh meter lagi. Dia tidak bodoh meskipun tidak mendapati seorang pun di tempat ini pastinya ada sesuatu yang menunggunya.
Kay mengintip dan dengan mata elangnya dia melihat ada seseorang di balik kapal yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Melihat orang itu lengah membuat Kay memanfaatkannya dan segera menembak orang itu hingga badannya jatuh ke laut bersamaan dengan itu serangan peluru bertubi-tubi menyerang ke arahnya.
+
+
...°B e y o n d T h e S e a °...
..."if my girl hurts even a little, i will kill you"...
sukses otor, dan semangat 💪😘