Liana Mikha Smith
Ibarat jatuh tertimpa tangga lagi, mengalami buta dan harus menerima pernikahan yang tak berdasar pada cinta.
Arsen Christoper Miller
Dengan dalil menjaga nama baik keluarga harus bersedia menikah tapi dengan mengajukan satu syarat. cerai setelah pulih kembali.
Ikuti kisahnya AB&C...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eflin Manopo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14.
Tak terlalu lama Arsen basa-basi yang tentu hanya dengan Natalie sang Mama, bukan istrinya, dia segera beranjak masuk kedalam dengan alasan mau be bersih karena gerah seharian dengan aktifitas.
Natalie juga tak ingin berlama-lama disana karena dia juga sudah sangat lelah apalagi baru dari perjalanan jauh. Beliau Pun segera pamit pulang. Tapi sebelumnya dia juga mengajak Liana masuk, sebab sore semakin beranjak gelap.
"Mama pulang dulu ya sayang." Kata sang mertua.
"Mama tidak tunggu makan malam dulu?" Balas Liana.
"Tidak usah. Biar nanti di rumah saja. Oh iya kamu dan Arsen besok makan malam dirumah mama yah? Mama ingin kita kumpul keluarga. Soalnya Sebastian adik Arsen akan datang besok." Kata Natalie mengajak makan malam Liana dan Arsen.
"Baik Ma. Kami pasti datang." Liana menjawab.
Arsen tampak sedang menuruni anak tangga sudah dengan pakaian rumahan yang semakin membuatnya tambah tampan dan terlihat segar.
"Mama sudah mau pulang? Kenapa tidak sekalian makan malam saja disini." Arsen tau Mamanya akan pulang. karena pas turun dia sempat melihat Natalie cium pipi istrinya. Pasti untuk pamit. karena kalau kangen gak mungkin. Sebab sejak dia tiba tadi kan mereka sudah berada di taman belakang.
"Iya kasian Papa kamu juga kecapean, malah ditinggal sendirian." Kata Natalie yang selalu perhatian sama suami tercintanya. Dia tak ingin berlama-lama di luar rumah jika ada suaminya di rumah, apalagi dia tau suaminya pasti capek dengan rutinitasnya ditambah mereka habis dari luar negri.
Seorang istri memang harusnya begitu. Jangan suka membiarkan suami sendirian apalagi dalam keadaan capek atau sedang sakit. Kan mereka juga banting tulang demi memenuhi kebutuhan keluarga, tentu juga memenuhi keinginan istri yang kodratnya mempercantik diri serta shoping.
Makanya Arsen meniru cara hidup Mamanya yang selalu sayang dan perhatian pada Papanya Leonardo. Mama Natalie tak suka keluyuran tak jelas. Kalau toh keluar rumah pasti untuk alasan yang tepat dan tidak sampai berlama-lama. Harus tau apa itu tugas seorang istri dan Mama.
"Ya sudah Mama pergi dulu. Jangan lupa besok ya sayang." Natalie segera beranjak pergi sambil melambai pada keduanya.
"Ada apa besok Ma?" Teriak Arsen saat Mamanya sudah berada di depan pintu.
"Tanya saja istrimu !" Natalie tak mau lagi menjawab teriakan putranya. Toh ada Liana. Kan bisa dia cari tau sama istrinya ada apa besok?
"Rosa bilang pada tuanmu besok Mama Natalie mengajak makan malam keluarga. karena adiknya Sebastian akan datang." Liana bukan langsung mengatakan itu pada Arsen, tapi pada Rosa yang saat ini sedang menuntunnya hendak ke kamar Liana.
"Kenapa tidak bicara langsung pada saya hmm?" Kata Arsen sedikit tersinggung dengan sikap Liana.
"Saya tak bisa melihat. Jadi saya mana tau anda ada di sini tuan?" Balas Liana tak mau disalahkan. Toh alasan tepat memang.
"Tapi anda bisa tanya Rosa apa saya masih disini atau tidak." Kata Arsen menatap Liana, sedikit menyelidik.
Penampilan Liana memang tampak bercahaya dimatanya. Padahal sederhana saja untuk Rosa. Make up dia tidak pakai tapi karena cara dan sikap apa adanya, tanpa terpaksa atau malu, minder, apalagi takut.
Tapi dengan begini Liana justru terlihat seperti bayi yang menatap polos saja kedepan tanpa dosa. Sungguh sangat menggemaskan mata bulat dengan bulu lentiknya, bibir merah mudanya, bahkan rambut kecoklatan sebatas dada, kulitnya putih porselen. Pasti karena seminggu tak jumpa.
Gila dia cantik juga.
Arsen tak ingin berlama-lama disana, lebih baik dia menghindar saja. Rosa juga sudah menatapnya aneh karena tatapan Arsen jadi lain pada Liana. Padahal Rosa lagi was-was kalau tuannya akan marah dengan sikap nyonya mudanya itu.
Arsen segera kembali naik ke atas sedikit bergegas menuju kamarnya. Liana pun tak perlu menjawab kata-kata arsen.
Saat hendak masuk kedalam, ponsel Arsen berdering. Dengan nomor tak terdaftar. Pria tampan itu segera menekan ikon hijau.
Aneh juga sikap Arsen yang langsung menerima telpon dari nomor tidak dikenal. Apa karna wajah Liana yang menghipnotisnya ya?
"Halo?" Arsen.
"Arsen...." Suara diseberang, seorang yang selama ini dia hindari.
Jedah beberapa detik. Keduanya masih diam.
"Ada apa Rebecca?" Akhirnya Arsen memulai.
"Mengapa kamu selalu menghindar? Padahal aku sering telpon, aku ke kantor kamu beberapa kali...mengapa Arsen?" Suara Rebecca mulai terdengar parau.
"Kamu sendiri yang ingin seperti ini kan? Dan aku hanya mengikuti keinginan kamu Re." Jawab Arsen datar.
"Tapi...biasanya tidak seperti ini sayang..!" Rebecca terdengar seperti sedang menangis. "Apa memang..aku salah besar ya..? Maafkan aku ya sayang.." Rebecca akhirnya tak bisa lagi menahan, tangisnya pecah. Dia sungguh menyesal dan itu dapat ditangkap jelas ditelinga Arsen. "Aku masih sangat mencintaimu Arsen. Tolong jangan diam lagi...aku minta maaf Arsen." Ini memang sudah tiga Minggu Arsen seperti ini, selalu menghindar.
Rebecca masih melanjutkan acara menangisnya. Sementara Arsen masih menyimak secara seksama.
Sambungan telpon masih terpasang. Dan hanya terdengar helaan hidung berair dari Rebecca, begitupun dengan tarikan nafas Arsen yang teratur. Beberapa detik berlalu Arsen membiarkan Rebecca tenang.
"Rebecca, kali ini hubungan kita belum bisa dilanjutkan...Dan aku tidak tau sampai kapan kita harus seperti ini...Maaf...hubungan kita tak seperti dulu lagi...aku..." perkataan Arsen langsung disela.
"Tidak..tidak boleh..kamu jangan bilang begitu. Aku kan sudah minta maaf...please Arsen. Jangan marah lagi..." kali ini Rebecca tak bisa melanjutkan kalimatnya. Dia pasti terpukul. Arsen nya memang sudah berubah. Mau bagaimana lagi keadaannya sudah mengubah semuanya!? Arsen pun tak tau harus berkata apa. Jika dipikir-pikir memang ribet juga. Dia ingin bilang Rebecca bersabar dulu, tunggu Arsen bercerai. Tapi bagaimana kalau Liana sembuhnya bisa setahun, dua tahun atau lebih dari itu?
"Kamu kenapa Arsen? Apa kamu sudah punya wanita lain?" Rebecca berusaha untuk tenang. Terdengar seperti itu suaranya.
"Maaf Re. Aku sudah pernah bilang kan ke kamu waktu itu kalau....aku akan menikah? Dan kamu bilang kita putus saja !?" Jawab Arsen mengingatkan perkataannya tempo hari. Padahal jika Rebecca tidak bilang kata ajaib itu lagi, Arsen pasti akan menolak keinginan ayahnya meski apapun resikonya.
Mungkinkah karena Rebecca masih ngambek karna Arsen tidak hadir saat Renata sahabat Rebecca mengundang keduanya waktu itu.
"Apa? Jadi benar yang kamu bilang waktu itu, akan menikah? Tapi kenapa? Siapa wanita itu Arsen. Kamu mengkhianati ku? Oh tidak Arsen. Kamu pasti bercanda kan?" Rebecca terdengar semakin frustasi. Ini memang bukan gurauan. Arsen selalu serius. Arsen memang bukan dia lagi. Arsen sudah milik orang lain.
Ceritanya keren kak.
5 like mendarat buatmu thor. semangat ya.