Tahun 1467. Sebuah kota kecil di Eropa Timur hidup dalam bayang-bayang teror. Setiap malam, jeritan terdengar dari rumah-rumah warga. Pagi harinya, tubuh tak bernyawa ditemukan dengan bekas gigitan di leher. Semua orang tahu siapa pelakunya… Drakula.
Drakula bukan sekadar legenda. Ia adalah penguasa kegelapan yang menjadikan manusia sebagai mangsa. Tak ada yang berani melawan. Tak ada yang selamat jika ia sudah memilih targetnya.
Namun, ketakutan yang terlalu lama dipendam berubah menjadi kemarahan.
Lima orang biasa—seorang pandai besi, pemburu hutan, tabib desa, mantan prajurit, dan seorang pemuda yang kehilangan keluarganya—bersatu karena satu alasan: mereka sudah muak hidup dalam ketakutan. Mereka sadar, jika tidak ada yang melawan, kota itu akan musnah perlahan.
Bermodal keberanian dan tekad, mereka mulai menyusun rencana untuk membunuh makhluk abadi itu. Mereka mempelajari kelemahannya, menyiapkan senjata, dan berlatih menghadapi sesuatu yang bahkan tidak sepenuhnya manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR. IRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Surat dari Jonathan
Kegelapan malam telah tergantikan dengan cahaya matahari yang sangat indah dan sangat hangat, cahaya itu menembus pepohonan, celah-celah diantara genteng rumah para warga, dan jalanan dipenuh dengan orang-orang yang berlalu lalang dari satu tempat ke tempat lainnya.
Walaupun di dalam kota cahaya matahari dapat dilihat tanpa membutuhkan usaha yang berarti, di dalam pelosok hutan yang sangat lebat, cahaya matahari sangat sulit untuk bisa menembus rindangnya dedaunan yang ada di pohon-pohon. Cahaya yang masuk ke dalam hutan itu benar-benar sedikit, bahkan beberapa area tidak bisa mendapatkan cahaya matahari sedikitpun.
Jauh di dalam hutan, jauh dari pusat kota Kuwera. Di pinggir tebing yang menjuntai tinggi ke langit, sebuah kastil megah dengan terbuat dari bebatuan alami, arsitektur kuno, dan didominasi oleh warna abu-abu yang mencolok.
Di pintu masuk kastilnya, pintu itu dibuat sangat besar, terbuat dari kayu alami yang terlihat masih segar seperti baru pertama kali dipasang dan digunakan. Saat membuka pintu kasti sebesar itu, pertama kali mata akan langsung disambut oleh karpet merah sebagai jalan menuju beberapa area, suasananya gelap bagaikan berada di malam hari, namun masih beruntung ada beberapa penerangan dari obor yang telah dipasang di beberapa titik kastil.
Di sebuah ruangan, di dalam kastil itu. Sebuah peti mati bercorak hitam yang elegan, peti mati itu adalah satu-satunya benda yang ada di dalam ruangan itu selain obor yang ada di dinding. Ditambah, peti matinya terletak di tengah-tengah ruangan yang cukup besar.
Penutup peti mati itu secara perlahan-lahan terbuka dengan sendirinya, kemudian dari arah luar ruangan, Drakula melayang santai masuk dan langsung menuju ke peti mati dengan tutup yang sudah terbuka itu.
Saat berada di depan peti matinya, Drakula tiba-tiba berhenti, dengan cepat ia memutar kepalanya ke belakang. Matanya menyorot berwarna merah, dan dengan jelas dari matanya, ia melihat seekor domba yang tengah dimangsa oleh serigala di luar kastilnya. Penglihatannya itu membuatnya bisa melihat hal apapun tanpa bisa dihalangi apapun termasuk tembok sekalipun.
Drakula kembali memutar kepalanya ke posisi normal, ia tersenyum kecil, "Ahh... Domba itu adalah engkau, Ethan!!! Aku akan membalasmu atas rasa sakit yang kau berikan!!!" ucapnya dengan pelan, santai, dan tanpa emosi yang berlebihan.
Dengan perlahan-lahan, Drakula masuk ke dalam peti matinya, saat tubuhnya sepenuhnya sudah berada di dalam peti mati. Penutup peti matinya mulai menutup, ia menutup tubuh Drakula yang berada di dalam peti mati itu.
Sementara di dalam kota Kuwera, suara teriakan-teriakan ceria masih tidak bisa membuat telinga Ethan mendengar. Bukan tidak bisa mendengar secara jelas, namun ia tidak bisa mendengar rasa ceria, senang, dan suka cita yang berada di suara itu.
Ethan duduk di ruang depan, menghela napasnya selama beberapa kali, di hadapannya sebuah cangkir berisi teh masih tersisa setengah tegukan lebih. Kantung mata Ethan seperti menunjukkan bahwasanya Ethan tidak tidur semalaman ini.
Ethan memejamkan matanya, dia coba untuk mengingat lagi suara-suara indah milik bibi Margaret. Dia mencobanya, namun tidak bisa.
"Semuanya pergi, semuanya menghilang, semua yang mencintaimu, semuanya, semuanya lenyap..." ujar Ethan yang penuh dengan kesedihan.
Di saat yang bersamaan, Jonathan sang sahabat Ethan masuk ke dalam rumah Ethan. Dia mendengar ucapan Ethan itu dan langsung membalasnya.
"Nggak," ucap Jonathan yang baru saja datang.
Ethan langsung menoleh ke Jonathan yang baru saja datang, Jonathan kemudian duduk di depan Ethan, "Apa maksudnya?!" tanya Ethan soal jawaban Jonathan tadi.
Jonathan tersenyum tipis, "Ya, sekarang kamu punya kami..." ujarnya singkat.
Ethan sedikit memiringkan kepalanya karena bingung, "Kami, siapa?!" tanya Ethan.
"Aku, dan Liona..." ujar Jonathan untuk menyemangati Ethan yang tengah terpuruk.
Ethan tersenyum sedikit, "Benar juga, aku punya kalian berdua. Kenapa aku harus sedih ya!!" ujar Ethan untuk kembali membuat dirinya sendiri menjadi ceria.
"Omong-omong, kenapa kamu kesini?!" tanya Ethan karena Jonathan sangat jarang berkunjung ke rumahnya.
Jonathan menghela napas sebentar, dari saku bajunya, dia mengeluarkan sebuah surat yang kemudian diberikan kepada Ethan.
Ethan mengerutkan dahinya sambil memandang ke surat yang ada di tangannya, "Surat apa ini?!" tanya Ethan.
Ethan kemudian membukanya, dan dengan perlahan membaca isi surat yang diberikan Jonathan.
"Ethan, dengan terpaksa kami harus menggantikanmu di proyek... Salam, pimpinan proyek!!" isi surat yang dibaca Ethan.
Mata Ethan menatap ke Jonathan yang duduk di depannya, pandangnya kosong, tangan kanannya menjatuhkan surat yang ia pegang.
Jonathan tersenyum lalu menaikkan kedua pundaknya, "Yeah, maaf. Sepertinya pimpinan proyek harus terpaksa pecat kamu!!" ucap Jonathan.
Ethan menghela napas yang cukup panjang, "Mau gimana lagi, aku terima aja!!" ujar Ethan yang mau tidak mau harus menerima kenyataan.
Jonathan berdiri, menepuk pundak Ethan, tersenyum lagi, "Semangat," ucapnya kemudian pergi.
Ethan hanya diam, dia harus memaklumi keadaan, dia harus sabar dengan apa yang dia alami sekarang. Tangan kanannya kembali meraih surat yang ada di lantai, dengan kedua tangannya dia merobek surat itu sampai menjadi serpihan-serpihan kecil.
Dengan sedikit kesal, Ethan menghentak tangannya ke meja, yang sampai-sampai membuat teh yang ada di atas meja tumpah.
Setelah kejadian pemecatan itu, selama dua hari lebih Ethan harus berkelana dari satu tempat kerja ke tempat kerja lainnya untuk mendapatkan pekerjaan. Tak lupa, dia juga dibantu dan disemangati oleh Liona yang terus berada di sisinya.
Tiga hari telah berlalu, Ethan dengan pakaian rapinya, ia berdiri di depan sebuah tempat penempaan senjata. Di tempat itu, sebuah papan nama bertuliskan "Pembuatan besi Ervan!!" terpajang di luar.
Ethan mengambil napas dalam-dalam, walaupun di luar, dia bisa mencium aroma besi yang khas. Matanya kemudian melihat sekilas ke papan namanya.
"Ervan Fiorentina, baiklah. Aku harus mendapat pekerjaan di sini, walaupun itu harus menjadi pandai besi!!" ujarnya deng penuh tekad.
Dengan keyakinan yang sudah dia bulatkan, kaki kanannya mulai melangkah untuk masuk ke dalam tempat Ervan. Dengan perlahan, dia akan masuk kedalam dunia kerja pandai besi yang sangat berat.
Bersambung...