### KARIR MINGGUAN
Reyhan hanyalah pria biasa dengan kehidupan yang stagnan. Sampai suatu malam, sebuah sistem misterius muncul dan mengubah hidupnya.
**[SISTEM KARIR MINGGUAN TELAH AKTIF.]**
Setiap minggu, Reyhan akan mendapatkan profesi yang berbeda—kurir, guru, pedagang, mekanik, programmer, hingga pekerjaan yang tak pernah ia bayangkan.
Setiap profesi memiliki misi dan batas waktu tujuh hari.
Jika berhasil, **reward luar biasa** menantinya.
Awalnya Reyhan mengira semua ini hanya keberuntungan.
Namun semakin banyak profesi yang ia jalani, semakin ia menyadari bahwa semuanya saling terhubung.
**Sistem itu tidak sedang memberinya pekerjaan.**
Sistem sedang mempersiapkannya untuk menjadi seseorang yang jauh lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reward Kedua
Reyhan berjalan cepat menuju kelas XI-C, kertas jawaban Bimo masih dia genggam erat di tangannya. Di sepanjang koridor, dia menyusun kata-kata yang akan dia sampaikan, mencoba mencari cara paling tepat untuk menawarkan kesempatan kedua tanpa membuat Bimo merasa dikasihani sesuatu yang Reyhan yakin akan langsung ditolak mentah-mentah oleh anak yang selama ini menjaga image "tidak butuh siapa-siapa" itu.
Begitu sampai di depan kelas, Reyhan melihat Bimo sedang duduk santai di bangkunya, mengobrol dengan beberapa teman sambil menunggu jam pelajaran berikutnya. Reyhan memanggilnya pelan dari pintu.
"Bimo, boleh minta waktu sebentar?"
Bimo menoleh, sedikit heran, tapi tetap berjalan keluar kelas mengikuti Reyhan ke lorong yang lebih sepi.
"Ada apa, Pak? Saya nggak salah, kan?" tanyanya, setengah bercanda setengah waspada.
"Nggak ada yang salah," jawab Reyhan, menunjukkan kertas jawaban ujian. "Saya baru periksa hasil ujian kamu. Nilai kamu delapan puluh."
Bimo mengangkat alis, sedikit kaget mendengar angka itu jauh lebih tinggi dari nilai-nilai ujiannya sebelumnya yang biasa berkutat di angka lima puluhan. "Lumayan lah, Pak," katanya, mencoba terdengar biasa saja meski raut wajahnya tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan rasa bangganya sendiri.
"Lumayan itu understatement," kata Reyhan sambil tersenyum. "Kamu naik delapan belas poin dari nilai sebelumnya. Itu peningkatan yang gede banget, Bimo. Tapi..." Reyhan menghela napas sebentar, "saya butuh kamu naik dua poin lagi. Saya tahu ini kedengerannya aneh, tapi ada alasannya."
Reyhan memutuskan untuk jujur, meski tidak sepenuhnya menjelaskan soal sistem holografik yang selama ini menjadi rahasianya sendiri. Ia hanya mengatakan bahwa dirinya punya semacam "target pribadi" untuk membuktikan metode belajarnya benar-benar efektif, dan kalau minimal lima murid di kelas berhasil naik dua puluh poin, itu akan jadi bukti kuat bahwa caranya mengajar layak dipertahankan untuk murid-murid berikutnya, bukan cuma sekadar gimmick viral semata.
"Empat murid lain udah lolos target. Tinggal satu lagi. Dan saya percaya, kamu yang paling berpotensi buat jadi yang kelima, Bimo," kata Reyhan, menatap mata Bimo lurus-lurus.
Bimo terdiam sejenak, memandang ke arah lain, seperti sedang menimbang sesuatu dalam pikirannya. "Saya udah coba maksimal, Pak. Tapi soal esai belakang emang saya buru-buru banget waktu itu."
"Makanya saya mau tawarin sesuatu. Saya masih punya waktu tiga jam sebelum hari ini resmi berakhir. Kalau kamu mau, saya bisa kasih kamu kesempatan ngerjain ulang khusus bagian esai itu dengan soal yang beda tapi setara dan saya nilai langsung di tempat."
Bimo menatap Reyhan dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara ragu dan tergoda. "Kenapa cuma saya yang ditawarin gini, Pak? Yang lain nggak?"
"Karena yang lain udah lolos duluan," jawab Reyhan jujur. "Dan karena saya lihat sendiri, sepanjang minggu ini kamu berubah paling banyak dibanding image awal kamu ke saya. Saya nggak mau usaha itu keliatan sia-sia cuma gara-gara dua poin doang."
Bimo terdiam cukup lama, memikirkan tawaran itu. Bagi anak yang selama ini terbiasa menjaga reputasi sebagai sosok yang cuek dan tidak butuh validasi siapa pun, menerima kesempatan kedua seperti ini terasa seperti mengakui bahwa dia memang butuh bantuan sesuatu yang selama ini dia hindari mati-matian.
"Kalau saya gagal lagi gimana, Pak? Malu dong kalau udah dikasih kesempatan tapi tetep aja nggak lolos," katanya akhirnya, suaranya lebih pelan dari biasanya, jauh dari nada sok cuek yang biasa dia pakai di depan teman-temannya.
Reyhan menggeleng pelan. "Nggak ada yang bakal tahu soal ini selain kita berdua. Ini bukan soal gengsi ke orang lain, Bimo. Ini soal kamu buktiin ke diri kamu sendiri, kamu bisa atau nggak."
Kalimat itu sepertinya menyentuh sesuatu dalam diri Bimo. Ia mengangguk pelan, akhirnya menyetujui tawaran itu.
Mereka berdua kembali ke ruang guru yang masih sepi. Reyhan menyiapkan lembar soal esai baru dengan tema serupa tapi konteks berbeda dari ujian sebelumnya, kali ini mengambil contoh dari cerita warung Dimas yang sudah familiar bagi seluruh kelas berkat pelajaran beberapa hari terakhir. Bimo duduk di salah satu meja, mengambil napas dalam-dalam sebelum mulai menulis.
Kali ini, tanpa tekanan waktu ujian resmi yang serba terburu-buru, Bimo menulis dengan lebih tenang. Reyhan duduk di seberangnya, membiarkan Bimo bekerja tanpa gangguan, sesekali melirik jam dinding yang terus berdetak, mengingatkannya betapa sempitnya waktu yang tersisa untuk menyelesaikan seluruh misi ini.
Empat puluh lima menit kemudian, Bimo menyerahkan lembar jawabannya. Reyhan segera memeriksa, membandingkan dengan rubrik penilaian yang sama seperti ujian resmi sebelumnya. Kali ini, jawaban Bimo jauh lebih terstruktur analisis persentase untung-rugi ditulis dengan detail, disertai penjelasan logis yang menunjukkan pemahaman konsep yang solid, bukan sekadar hafalan rumus.
Reyhan menjumlahkan nilai akhir dengan tangan sedikit gemetar. Hasilnya: **83**. Kenaikan dua puluh tiga poin dari nilai awal melampaui target minimal dua puluh poin yang ditetapkan sistem.
"Bimo," kata Reyhan, mengangkat wajahnya dari kertas dengan senyum lebar yang sulit disembunyikan, "kamu lolos. Dua puluh tiga poin."
Bimo, yang sedari tadi duduk tegang menunggu hasil, tiba-tiba tersenyum lebar senyum tulus pertama yang pernah Reyhan lihat sepanjang minggu ini, jauh berbeda dari senyum sinis yang biasa dia tunjukkan di kelas.
"Serius, Pak?" tanyanya, seperti tidak percaya dengan pencapaiannya sendiri.
"Serius. Selamat, Bimo."
Bimo mengangguk berkali-kali, terlihat berusaha keras menahan rasa harunya sendiri agar tidak terlalu kentara. "Makasih, Pak. Nggak ada yang pernah kasih saya kesempatan kedua kayak gini sebelumnya."
Reyhan membuka layar holografik sistem begitu Bimo sudah meninggalkan ruangan, jantungnya berdegup kencang menunggu konfirmasi resmi.
> [Progres Misi: 5/5 murid mencapai target kenaikan nilai. SYARAT TERPENUHI.]
> [Misi Karier Guru: SELESAI.]
> [Reward diberikan: Skill Komunikasi Lv.1 diperoleh.]
> [Bonus performa: Rp35.000.000 (melebihi target dasar).]
Reyhan menatap layar itu lama-lama, dadanya dipenuhi perasaan lega yang jauh lebih besar dibanding saat dia menyelesaikan misi kurir minggu lalu.
Bukan cuma karena reward yang dia dapatkan, tapi karena dia tahu, di balik angka-angka itu ada perubahan nyata yang sudah dia saksikan sendiri sepanjang minggu ini Dimas yang mulai menemukan semangat belajarnya lewat warung sendiri, Nadia yang berani menulis dan bicara lagi, Wulan yang diam-diam ternyata punya potensi besar, Rizky yang menemukan kepercayaan dirinya lewat diskusi kelompok, dan Bimo yang akhirnya membuka diri untuk menerima bantuan orang lain.
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, memandangi langit sore yang mulai berubah warna dari jendela ruang guru. Skill Komunikasi Lv.1 yang baru dia dapatkan terasa jauh lebih berharga dibanding sekadar angka di layar holografik dia tahu, kemampuan itu sudah terbukti nyata lewat cara dia mendekati setiap muridnya minggu ini, dengan pendekatan yang berbeda-beda sesuai kebutuhan masing-masing.
Namun di tengah kelegaan itu, ada satu hal yang mengganjal pikirannya besok adalah hari Senin, dan itu berarti karier barunya akan segera dimulai lagi, meninggalkan kelas XI-C dan murid-murid yang baru saja mulai dia kenal lebih dalam.
Reyhan menutup layar holografik itu perlahan, menatap ke luar jendela dengan perasaan campur aduk antara bangga dan sedih. Ia tahu, perpisahan ini tidak akan mudah baik untuknya, maupun untuk murid-murid yang baru saja menemukan alasan baru untuk percaya pada diri mereka sendiri.