Hanya karena menolong seorang pria Zuraida difitnah sampai diusir dari desa dan dinikahkan dengan pria itu. Pria yang menjadikannya seorang ibu bagi kedua anak laki-laki.
Bagaimana Zuraida yang dari desa menjalani hidup di kota di tengah rasa tidak suka anak-anak tiri dan pihak keluarga suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Zuraida sudah menghilang di balik dinding sekolah namun ekor matanya menatap sesuatu yang mengganggu. Selangkah kakinya mundur, wajahnya menoleh gerombolan murid di mana terdapat putranya yang lain. Sena.
Beberapa detik saja Zuraida memperhatikannya setelahnya ia kembali melajukan langkahnya.
Menjadi orang tua apalagi orang tua sambung sepertinya sangatlah susah. Harus menghadapi anak-anak yang mulai berperilaku meniru teman, apa kata teman, tak enak pada teman, belum lagi perintah-perintah konyol yang tak bisa ditolak oleh mereka anak-anak lemah.
Zuraida sangat takut anak-anaknya menjadi palaku atau korban dari suatu perilaku buruk.
Zuraida sudah bersama Sean. Tak ingin menginterogasi putranya. Walau mulutnya terasa gatal ingin menanyainya.
"Aku nggak mau sekolah, Zuraida." Kata pertama yang keluar setelah kejadian itu.
"Karena takut kamu nggak mau sekolah?."
Mata mereka saling tatap secara intens.
"Iya, aku takut, Zuraida. Aku nggak bisa baca, tulis, belum semua huruf aku hafal. Aku takut ejek-ejekan mereka, aku takut mereka mengurungku lagi." Apa yang ada di hati Sean keluar juga. Menyampaikan semuanya pada Zuraida.
"Saya paham ketakutan kamu. Setiap harinya di sekolah pasti terasa berat karena rasa takut kamu. Tapi mau kah kamu percaya pada saya? Kita akan belajar sama-sama mengatasi rasa takutmu. Asal kamu punya kemauan pasti ada jalan." Begitu lembut, bijak dan sangat perhatian apa yang disampaikan Zuraida kepada anak tirinya itu.
Sembari ia juga belajar menjadi ibu yang baik untuk kedua anak tirinya.
"Tapi aku sangat takut, Zuraida." Rasa takut itu sudah melekat dalam diri Sean.
"Rasa takut itu harus dilawan bukan dihindari. Saya akan selalu menemani kamu, sama-sama kita akan melawan rasa takut itu. Kita akan belajar dari awal, mengenal huruf, menulisnya lalu merangkai menjadi kata. Jangan biarkan orang lain menyetir hidup kita. Kalau kamu mau saya akan cari guru les."
Sean terdiam. Tidak mengiyakan atau membantah. Hanya tak tahu apa yang harus dilakukannya.
"Ngomong-ngomong, Se. Siapa saja yang mengurungmu di toilet sekolah?. Bagaimana bisa?. Akhirnya tanya itu terlontar juga dari mulut Zuraida karena tadi Sean sendiri yang telah mengungkapnya.
Sean semakin diam. Ingat dengan kata-kata mereka yang melarangnya bicara pada siapa pun juga.
"Mereka melarangmu bicara?," tanya Zuraida seakan tahu. Zuraida mengambil buku tulis serta pena. Menyodorkannya pada Sean.
"Jika mereka melarangmu bicara, maka tulis saja nama-nama mereka di situ." Lanjut Zuraida.
Sean tampak ragu namun tak bisa mengelak dari Zuraida.
*
Zuraida sudah menghadap wali kelas dan kepala sekolah. Meminta nama-nama yang sudah Sean tulis ditindak lanjut atas buntut penyekapan Sean. Tak muluk-muluk, Zuraida hanya ingin keadilan untuk Sean. Dan hal serupa tak perlu terjadi pada siapa pun lagi. Cukup putranya saja yang menjadi korban.
Pihak sekolah berjanji secepatnya akan mengambil tindakan. Dan untuk Sean, Zuraida diminta ekstra mengajari Sean jika tak mau les. Diusahakan dalam waktu tiga sampai enam bulan Sean sudah bisa menulis dan membaca sehingga bisa lanjut sekolah.
Zuraida harus extra mengajari Sean. Sebelum pulang ia mampir ke toko buku. Membeli apa yang dibutuhkannya dan Sean. Zuraida mengantre bayar, di depan kasir ia dikejutkan dengan Susan yang melayaninya.
Susan tersenyum sinis saat mengscan buku-buku yang dibeli Zuraida.
"Kamu nggak akan bisa mengajari Sean," katanya meremehkan.
"Kita lihat saja nanti," balas Zuraida.
"Kamu nggak tahu apa-apa, Zuraida. Sean itu anak yang sangat bodoh. Sulit sekali mengingat huruf yang sudah dipelajari. Wilona saja sudah angkat tangan, makanya Sean tak sekolah formal."
Zuraida tersenyum, seolah tak terpengaruh oleh kata-kata Susan. Iya percaya tak ada anak yang bodoh di dunia ini, hanya malas saja.
"Aku dan Wilona saja yang berpendidikan tak bisa mengajarinya apalagi kamu si upik abu dari kampung." Hina Susan di akhir transaksi menyerahkan buku-buku pada Zuraida.
Zuraida tak merespon, berlalu pergi saja dari sana dengan pikiran yang berkecamuk. Cukup terganggu dengan kata-kata Susan.
Kring Kring
Sambil duduk di kemudi Zuraida menjawab telepon dari suaminya.
"Kamu di mana sayang?. Kata Sean kamu belum pulang."
"Iya, Mas, saya mampir ke toko buku. Takutnya Sean bosan di rumah jadi aku beli beberapa buku."
"Baiknya istriku ini, terima kasih sayang sudah sangat perhatian pada Sean."
"Sama-sama, Mas."
"Kamu hati-hati berkendaranya."
"Baik, Mas.
"Mas kerja lagi."
"Iya, Mas."
Zuraida menyalakan mesin, mengendarai mobilnya dengan pelan. Ia hanya lulusan SMA. Tidak pernah masuk sepuluh besar. Apa bisa membantu Sean?. Apa mencari guru les?.
Mobil sudah terparkir di garasi. Zuraida ke kamar Sean. Menyerahkan buku-buku itu.
"Saya carikan guru..."
"Kamu saja yang ajari." Potong Sean. Sean tak mau guru lain.
"Tapi..." Zuraida mendadak tidak yakin dengan dirinya sendiri.
"Kamu takut gagal kaya mommy dan Miss Susan?," tanya Sean sendu.
"Se..." Zuraida tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
"Katamu kita sama-sama belajar, masa belum mulai aja udah nyerah." Kata Sean yang seketika saat itu menjadikan Zuraida kembali percaya diri.
Bersemangat memulai hari belajar bersama Sean.
Walau bingung harus dimulai dari mana. Tapi ada buku panduan yang bisa dimanfaatkannya dengan baik. Mereka berdua mulai belajar dari yang paling dasar, mengenal huruf vokal.
Beralih ke sekolah. Sena mendapatkan tempat di antara teman-temannya karena selalu mengikuti apa kata mereka. Belum ada yang ditolaknya. Mulai dari menjauhi Sean, bungkam ketika pulang tanpa Sean. Mengerjakan semua PR teman-temannya dan yang terbaru memberikan semua uang jajan kepada teman-temannya. Termasuk bekalnya juga.
Sena hanya gigit jari saat teman-temannya jajan ini dan itu di kantin yang serba ada. Sena yang dari rumah belum makan pun hanya bisa menelan ludah.
Dari teman-temannya tak ada yang peduli pada Sena. Semua mementingkan diri mereka sendiri. Sena masuk ke dalam kelas, mencari uang di sana siapa ada simpanannya namun tak ada. Sena duduk di bangku. Menatap teman yang lain makan bekalnya.
Kembali lagi ke rumah. Hampir satu jam belajar bersama Sean. Memang seperti kata Susan, Sean kesulitan menghafal. Dari kelima huruf itu ada saja yang tak dihafalnya. Terus berulang. Kini mereka istirahat, Sean minum susu yang dibawa pelayan.
"Kenapa aku dan Sena terlahir berbeda, Zuraida?. Kami kan kembar. Sena sangat pintar, sedangkan aku nggak." Kata Sean sendu.
"Jangan khawatir, Se. Memang ada yang seperti itu, satunya sudah pintar karena bawaan tapi ada juga pintar karena harus sering diasah. Tapi sebenarnya sama aja. Cuma cara belajar mereka aja yang beda."
"Kamu nggak akan nyerah kan bantu aku, Zuraida?." Tatapnya penuh permohonan.
"Nggak, Se, kita akan pintar sama-sama. Saya akan cari cara lagi supaya kamu bisa menghafal dan tidak cepat lupa." Senyum Zuraida menenangkan kekhawatiran Sean.
Bersambung