Indonesia
NovelToon NovelToon
Marry (To) Me

Marry (To) Me

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Patahhati / Perjodohan / Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah / Tamat
Popularitas:60.3k
Nilai: 5
Nama Author: Far Choinice

Will you marry me, miss Marry?


'Sorry, No'

Sebuah pertanyaan dan jawaban yang mengubah segalanya. Marry menolak Sean tanpa jeda.

Hingga beberapa tahun kemudian, mereka dipertemukan di suatu RS. Perlahan, mereka menguraikan benang merah masalalu. Tapi, disisi lain, mereka juga harus menghadapi banyak kisah rumit yang membuat Marry berada di satu pertanyaan yang sama tentang pernikahan, apakah dia bisa menerima lamaran itu atau menolaknya. Lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Far Choinice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kisah Abu-Abu

          Ravendra tengah menilik berkas seorang pasien yang baru masuk IGD dengan serius. Setelah kejadian panjang semalam, dia akhirnya masih harus berakhir di IGD. Ya, dia harus menjalankan tugasnya meski pikirannya mungkin bercabang. Dan, dia bahkan belum sempat sarapan. Terakhir dia makan adalah kemarin malam. Bagus!

          Dia masih membaca berkas di tangannya seraya menghampiri sebuah ranjang. Terlihat, seorang anak perempuan berusia delapan tahun, mengalami kecelakaan sepeda dan mengalami patah tulang bagian lutut kanannya. Gadis kecil itu tampak menangis sambil memeluk lengan ibunya. Gadis kecil yang malang.

         Ravendra melihat kembali berkas di tangannya lalu memeriksa hasil X-Ray sesaat.

         “Seperti yang saya jelaskan tadi. Anak anda mengalami patah tulang. Jadi, kami harus segera mengoperasinya. Tulang anak, masih dalam proses pertumbuhan yang baik. Jadi, masa pemulihannya juga tidak akan memakan waktu lama. Semakin cepat keputusan anda, semakin baik."

         “Apa tidak ada cara lain, dok?” tanya sang ibu karena si anak terdengar menangis ketakutan.

         “Ibu... bisa ibu ikut dengan dokter Coky? Ini dokter penanggung jawab anak ibu. Jadi, dia akan menjelaskan semuanya.”

         “Benar. Saya dokter Coky. Mari kita ke tempat meja petugas. Saya jelaskan detailnya.”

         Ravendra meninggalkan tempat pasien sementara Coky dan sang ibu pasien tengah berbicara serius di meja petugas. Ravendra berdiri menghadap ke arah Kevin. Seorang perawat yang sedang menulis.

         “Kevin. Kamu hubungi pihak OK untuk pemesanan kamar operasi setelah wali pasien setuju prosedur operasinya. Aku akan konsul dengan dokter bedah yang sedang dinas. Lakukan cek laboratorium lengkap pada si pasien.”

          “Oke.”

         “Dokter, ini ada hasil CT Scan pasien yang mengalami hemiparese di bed empat,” ujar Suster Sandy.

         Ravendra terhenti sejenak lalu menerawang kecil pada hasil CT Scan yang disodorkan suster Sandy. Ia terdiam sejenak lalu menyerahkan hasil tersebut kepada suster Sandy kembali, “Serahkan pada Coky. Suruh dia sekalian konsul dengan dokter syaraf.”

         Suster Sandy mengangguk kecil, “Oke. Hmmm... dokter,” ujar Suster Sandy.

         Ravendra menoleh, “Ada apa?”

         “Di ruang kerja anda... ada seorang wanita. Dia sudah ada di sana sejak dokter melakukan heacting (Menjahit Luka) pada pasien kecelakaan tadi.”

         “Siapa?”

         “Hmm... seorang yang beberapa waktu lalu dikabarkan sebagai tunangan dokter Sean,” ujar Suster Sandy.

         “Tunangan dokter Sean?” Ravendra bergumam bingung.

         Suster Sandy hanya bisa menepuk jidatnya perlahan, “Susah deh kalau gibah ama dokter. Gak kekinian banget!”

         Ravendra melempar tatapan sinis yang sukses membuat suster Sandy terkekeh kecil. Ravendra mendengus kecil, masih melempar tatapan penasaran ke arah suster Sandy.

        “Itu lho dok... beberapa waktu lalu, ada model cantik yang bikin heboh karena datengin ruang kerja dokter Sean. Kalau gak salah waktu itu, dokter Marry juga langsung nyamperin kesana.”

          “Model?” Ravendra sudah tahu jawabannya. Siapa lagi model yang dimaksud jika bukan Zara. Tapi, dikenal sebagai tunangan Sean? Ini cukup menarik.  “Dia di ruanganku?”

         Suster Sandy mengangguk kecil. “Ada hubungan apa nih antara kalian? Dokter Sean, Zara, dokter Marry dan anda. Kayaknya ada sesuatu... ,” ujar Suster Sandy sambil memasang ekspresi menebak-nebak ala detektif. Oh, terlalu bagus. Ala tukang gosip!

         “Tadi saya minta hasil hasil tes urine pasien bed tujuh. Sudah ada hasil? Trus, gula darah pasien bed tiga, berapa? Lalu... –.”

         “Cukup! Saya paham,” ujar Suster Sandy sembari menggerakkan tangan seolah menjahit mulutnya.

         Dasar tukang gosip. Dia punya mata dan telinga yang tajam. Pantas saja, Marry sering mengomel-ngomel jika harus bertemu dengan suster Sandy. Ravendra hanya bisa menggeleng kecil menghadapi sikap anak buahnya itu.

 

-oOo-

 

          Zara duduk si sofa ruang kerja Ravendra. Aroma mint cukup kuat tercium. Ruangannya juga cukup rapi. Sedikit lebih luas daripada ruang kerja Sean. Ada rak buku berjejer rapi di sudut ruangan, sebelah lemari pakaian. Ravendra tidak memiliki foto yang terpasang sama sekali. Hanya ada satu lukisan dan satu tanaman hijau. Suasana ruangan Ravendra juga tidak terlalu ramai dan terkesan monoton.

          Klik. Pintu terbuka, membuat Zara menelengkan kepala dan menemukan Ravendra yang melenggang memasuki ruang kerjanya. Dia melepas jas putih, menggantungkan ya di rak tinggi sebelah pintu lalu mencuci tangan di wastafel dekat kamar mandi. Setelah selesai, ia duduk di kursinya dalam diam. Benar-benar laki-laki yang membosankan. Dia bahkan tidak basa-basi menyapa. Hanya melirik sekali.

          “Membosankan,” lirih Zara.

          “Tidak ada yang minta pendapatmu,” sergah Ravendra. “Ada apa?”

         “Marry sudah sadar pagi tadi.”

         Zara melirik ekspresi Ravendra dengan penasaran. Meski bersikap sedang membaca sesuatu di mejanya, terlihat dia menguras sebuah senyum tipis. Zara meringis kecil. Jadi, laki-laki ini tertarik pada Marry, huh? Sementara dia dan aku dalam satu perjodohan. Takdir yang rumit.

          “Jangan berharap lo menemuinya sekarang. Ada hal penting yang harus kita bicarakan terlebih dahulu,” Ucap Zara saat ia menemukan Ravendra nampak mulai bangkit dari kursinya. Laki-laki itu terhenti sembari melempar tatapan bingung ke arah Zara.

          “Aku hanya harus mengecek pasienku,” dalih Ravendra yang menuai tawa Zara.

         “Lo mencoba buat nipu seorang yang sudah berakting sepanjang hidupnya, huh?” ujar Zara dengan tatapan meremehkan. Yah, hidupnya banyak drama. Dia banyak berakting untuk melalui drama hidupnya yang... menyedihkan.

          Ravendra mendesah pendek, “ Jadi, apa maumu?”

          Zara menggedik bahu sejenak lalu bangkit dari sofa seraya memamerkan tubuhnya, “Gue belum mandi.”

          “Hah?”

 

-oOo-

 

           Marry menelan bubur hambatan dengan tanpa minat. Dia mendesah, melirik bubur putih yang tidak menarik di depannya itu. Sementara Acha justru dengan semangat terus menyuapkan bubur hambar itu pada Marry. Dia sama sekali tidak peduli dengan ekspresi Marry yang judes.

          Marry melirik ayam goreng yang ada di meja penunggu pasien. Menu makan siang Acha. Bahkan meski itu hanya ayam goreng biasa, di mata Marry saat ini, itu adalah menu mewah yang menggoda, “Ayam goreng... ,” lirihnya sambil menggigit jadinya gemas.

           Bugh! Sebuah pukulan rendah mendarat di bahunya. Acha melotot kecil, “Makan ini,” ujar Acha menyodorkan bubur. Lagi.

         “Gak mau!” pekik Marry.

         “Makan!”

         “Yyyyaaaak!” Marry menendang Acha hingga terhubung, untung mangkuk bibirnya tidak terjatuh.

         “Dasar gila!”

         “Gue bukan lagi sakit parah. Gue mau ayam!” omel Marry. “Dan, bisa-bisanya lo mukul Gue! Issssshhh!”

         Acha menatap datar ke arah Marry yang merajuk seperti balita tantrum. Acha tidak benar-benar yakin apakah Marry sungguh baru saja dalam kondisi kritis? Karena yang terjadi di depan Acha, Marry sehat. Kuat. Menyebalkan. Menyusahkan.

        “Bodo amat!” omel Acha sambil meletakkan mangkuk bubur dengan kasar. Acha berderap duduk ke sofa sambil menyilangkan tangan kesal. Ia menatap Marry dan mereka beradu pandang. Namun, dalam beberapa detik mereka saling melengos seraya mendengus.

         Marry melakukan gerakan merajuk dan membuat ranjang berdecit, membuat Acha menoleh ke arahnya.  Acha mendesah panjang, “Ya udah... gue beliin roti coklat di kantin.”

         “Coklat panas. Satu.” Ucap Marry.

         “Ngelunjak!” Acha memicingkan mata sesaat, “Tunggu di sini. Jangan sentuh ayam gue,” Ucap Acha sembari melangkah pergi meninggalkan Marry yang tersenyum puas.

         Marry membenarkan letak selang oksigen di hidungnya. Dia masih memakai nassal kanul oksigen (selang oksigen dengan dosis paling rendah), dan rasanya hidungnya jadi memendek beberapa senti. Ah, dia merasa semakin pesek saja. Tapi, bagaimana lagi, dia masih harus memakainya untuk observasi lanjutan. Gadis itu menatap baju pasien yang ia kenakan. Sebuah baju berwarna hijau pucat  polos. Benar-benar warna yang jelek. Tidak membuat semangat malah bikin malas. Ia bahkan sedikit merasa gatal karena belum mandi sejak kemarin. Dia menunggu Zara untuk mengambil beberapa keperluannya.

         Marry mendesah pendek seraya memegang dadanya. Dia masih ingat rasa sesak yang ia rasakan kemarin. Rupanya, masih sama seperti dulu. Sesak dan menyakitkan. Dia belum benar-benar pulih, rupanya. Dia tersenyum getir.

          Klek. Suara pintu terbuka membuatnya sedikit tersentak. Cepat juga si Acha sudah kembali. Sebuah langkah kaki terdengar mendekatinya. Marry menoleh dan hendak mengatakan sesuatu tapi urung. Ia melihat seseorang sedang membawa buket bunga cukup besar berdiri di depannya. Dia tidak bisa melihat orang tersebut karena tertutup buket bunga itu.

          “Siapa?” tanya Marry penasaran.

          “Surprise!” pekik orang tersebut sambil memunculkan wajahnya dari balik buket bunga.

           Seketika ekspresi Marry berubah sedikit kaku, “Ah... suster Sandy,” sapanya lemah. Cukup mengejutkan juga melihat suster Sandy datang menjenguknya. Bahkan, ia membawa buket bunga yang cukup besar. Marry menggosok kecil telinganya. Canggung.

          “Ah, ya ampun... dokter Marry kelihatan makin kurus aja,” ujar Suster Sandy sambil meletakkan buket bunga di meja lalu duduk di bangku sebelah ranjang Marry. Suster Sandy menggenggam tangan Marry dengan lembut, “Sebenernya, dokter Marry sakit apa? Apa separah itu?” tanyanya dengan suara lembut yang jarang Marry dengar.

         Marry melepas genggam tangannya sambil tersenyum garing, “Ah, Cuma sedikit syok. Tapi sudah mendingan.  Makasih atas perhatiannya.”

         Suster Sandy tersenyum lebar. Ia lalu memasang wajah serius bercampur ekspresi sedikit lesu, “Semua benar-benar cemas waktu itu. Saturasi oksigen dokter Marry benar-benar mengkhawatirkan. Semua benar-benar terjadi begitu cepat. Bahkan teman dokter Marry yang model itu, datang buru-buru. Dia terlihat cemas sekali, berlarian dengan dokter Ravendra yang gak kalah cemasnya.”

         Marry sedikit tidak berminat dengan cerita suster Sandy. Tapi, nama Ravendra membuat dia sedikit tertarik. Ravendra mencemaskannya. Marry menahan senyumannya. Dia kembali teringat dengan pernyataan Ravendra beberapa waktu lalu yang ingin dia jadi pacarnya. Apa Ravendra seterusnya itu?

         “Tunggu. Kalau diingat-ingat, si model itu... hmmm si Zara,”suster Sandy seperti mengingat sesuatu, “Dia juga keluar dari mobil dokter Ravendra.  Tunggu, hari ini juga mereka terlihat pergi bersama.”

         Marry mengernyi kecil, “Maksudnya?”

        “Waktu dokter Marry pingsan di IGD, dokter Ravendra datang buru-buru dengan cemas. Tapi, waktu itu saya juga lihat Zara, keluar dari mobil dokter Ravendra.”

         “Kok bisa? Salah lihat kali.”

         “Duh, saya ini punya mata setajam elang, lho... . Gak mungkin salah lihat. Lagian, Zara cantik banget malam itu. Model terkenal yang cantik. Dokter Ravendra juga waktu itu terlihat rapiiiiii banget. Pake jas formal gitu. Mereka kayak abis dari acara formal apa gitu.”

         Marry terdiam. Zara pagi tadi sebelum pamit pulang, dia tidak cerita apapun soal acara formal kemarin malam. Kecuali, satu acara. Marry teringat dengan jadwal penting Zara yang harusnya terjadi kemarin. Dia melakukan pertemuan pertama dengan calon pasangan yang sudah dijodohkan oleh papanya. Benar, Zara harusnya berkencan saat itu.

          Tunggu. Mereka datang bersama. Zara dan Ravendra. Itu artinya... Ravendra adalah laki-laki yang dijodohkan dengan Zara. Marry membekap mulutnya tak percaya. Hubungan abu-abu apalagi yang harus ia hadapi?

 

-oOo-

1
🥑⃟Rɪᷤᴀͣɴᷠᴀ
haha... serius deh,ngakak abis😂😂
Dayu Fabi
penggunaan tanda baca yang cukup bagus, keren banget
Dayu Fabi
penggunaan kata-kata yang bagus! keren! lebih bagus novel Kakak, dibandingkan aku deh kayanya...
Aris Pujiono
terima kasih kak sudah memberi kan koin ... minal aidzin Ealah fa idzin
Aris Pujiono
terima kasih atas tipsnya kakak
Radiah Ayarin
baru mampir nih
❥␠⃝ ͭ🍁💃Katrin📙📖📚❣️
Mampir ya😊
༺❥ⁿᵃᵃ​ꨄ۵​᭄
eemm halo kak salam kenal dri aq...
yg mempir kecerita author menari...
Aris Pujiono
yuk lanjut
ZaaraItsMe
terimakasih buat karya yang bagus ini kak... love it
ZaaraItsMe
Hiks... dah tamaaatttt... seru banget. bagus banget ceritanya. beda... gak ngebosenin. mantap thoorr
Aris Pujiono
next kak
Aris Pujiono
bikin bergetar
🐰⃞⃟° ̥۪͙۪◌ yujin
udah mampir feedback yah
CumaAku
terimakasih untuk novel yg epik kak..... gk mbulet. seru. keren... sukses karya2nya kakkk
CumaAku
udah tamaattt hikes
ZaaraItsMe
astagaaaah dua episode terakhir baca ini bikin emosi lho. kemarin pergi, sekarang udah ada anak aja.
🐰Far Choinice🐰: sabar ya kaaaak ^^
total 1 replies
ZaaraItsMe
Heeee lhooo heeee lhooo.. kok tiba2 pergi. heeeee lhooo apa2an ini thoorrrrrrrr
ZaaraItsMe
Ya ampuunnn semua hal di novel ini berkaitan dan penuh kejutannn.. serruu aslii
🐰Far Choinice🐰: Yuhuuuuuu
total 1 replies
CumaAku
heeeee thooorrr itu gimana ada anak ajaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!