Luna. Ia menentang Ayah untuk tidak menjadi atlet bulu tangkis yang disenangi ayahnya. Tetapi dia ingin menjadi model. Ayah tidak senang dengan dunia permodelan. Dan di sekolah dia juga bukan siswi yang fashionable. Semua teman-temannya menggunjing dirinya dengan penampilannya yang cupu dan tidak berharap ingin menjadi atlet. Lagi pula Luna tidak menyukai olahraga. Pertengkaran akan terjadi terutama dengan ayahnya yang menentang hal itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V a L L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
BAB 15
Suara Luna bergaung di lorong rumah keluarga Matera. “Kumohon,” pintanya. “Jangan sakiti aku.”
“Lepaskan semua itu!” Suara David menggema.
Di ujung lorong Elis tampak berjalan mundur dari kamar tidurnya dengan gemetar. Wajahnya penuh dengan kengerian.
“Ku mohon,” lirih Luna. Marie mendengar perkataan Luna lagi, “Aku hanya bermain-main.”
Elis berbalik dan melihat Marie berlari mendekatinya, namun matanya yang ketakutan kembali ke kamar tidur. Memandang kembali pemandangan mengerikan apa pun yang membuatnya takut.
Marie mengintip dari ambang pintu di depan Elis. Luna berdiri di depan cermin setinggi tubuh Elis, sedang melepaskan gaun berwarna maroon. Matanya menatap Marie dan mereka beradu pandang cukup lama sebelum dia menatap David.
David, yang berdiri dekat meja kecil di samping tempat tidurnya, memegang sebilah pisau daging, dan mengangkatnya.
“Jangan!” Ku mohon, jangan lakukan itu.” Marie menerobos masuk ke dalam kamar dan menghambur ke arah Luna. Dia terhuyung mundur. “Ini Luna. Dia kakakku. Kumohon! Dia hanya main-main.”
Mata David seolah menghanguskan tubuh Marie. “Kakak...mu?”
“Kumohon.” pinta Marie lagi. “Jangan sakiti dia.”
David mengulang, “Kakakmu?” Tidak percaya.
Memandangi Luna lamat-lamat. Pelan-pelan tangan David diturunkan.
Marie berbalik menghadap Luna, matanya menyipit, berteriak dalam hati padanya, tega-teganya lo!
Luna tidak bereaksi, atau tidak memahami ancaman non-verbal. Mungkin sedang berupaya untuk melepaskan gaun yang dikenakannya saat ini dari kepalanya.
Gaun itu tersangkut di bra* hitam milik Elis. Luna menarik sekali lagi dan merobek bagian depannya. “Maaf,” ujar Luna. “Aku akan membayarnya.” Dia melipat gaun berwarna maroon itu dan meletakkannya di tempat tidur. Lalu melepas bra*nya.
Marie berusaha untuk menutupinya, tapi Marie bisa merasakan Elis memandanginya dengan heran. Luna memandangi sekitarnya, lalu memakai kembali sweeter dan jeannya dengan gemetar. Luna memakaikan sepatunya dan terhuyung melewati Marie. Elis mencoba menghalangi langkahnya. “Anting-antingnya?”
Elis mengulurkan tangannya terhadap Luna.
Luna menarik anting-anting dari telinganya untuk melepaskan benda itu, lalu memberikannya kepada Elis, dengan jari yang gemetaran. Meletakkannya di telapak tangan Elis. Elis menutup kepalanya sambil memandang Luna dengan pandangan mata yang membunuh.
Luna menerobos keluar. Elis meloncat menghindar seolah-olah tubuh Luna penuh dengan kudis.
“Dia hanya main-main,” kata Marie sambil menutup kembali lipstik Elis. “Ada keadaan darurat dan aku harus pergi sebentar.” Kebohongan itu terdengar seperti hafalan, bahkan untuk Marie.
“Aku menelepon Luna untuk datang dan tinggal. Aku tidak pergi selama itu.”
Elis diam tidak menjawab. David memelototi di cermin. Rahangnya yang terlihat jelas mengeras membuat Marie ketakutan.
“M...Maafkan aku,” Marie tergagap, beranjak menjauh dari meja rias, mengitari tempat tidur, lalu menatap David dan berjalan menuju pintu.
“Ini tidak akan terjadi lagi.”
“Kamu benar tentang itu,” ujar David. Dia meletakkan pisau di meja dekat dengan tempat tidur dan menarik dompetnya keluar. David mengambil helaian uang kertas dengan jumlah dua puluh dollar, melemparnya ke arah Marie dan menambahkan, “Kamu tidak diterima di rumah kami lagi, Marie. Dan kakakmu... Astaga, dia butuh pertolongan.”
Sebilah pisau seolah menusuk isi perut Marie.
Marie menyaksikan uang itu melayang ke lantai, lalu tanpa pikir panjang Marie berbalik dan berlari.
...****************...
Amarah menambah kecepatan langkah Marie untuk menuruni anak tangga ke lantai dasar. Pintu kamar Luna tertutup. Marie menerobos masuk. Suara musik bergema di kamar Luna, Marie mengambil remot dan melemparkannya ke dinding yang penuh noda dan lubang.
“Terima kasih banyak!” Marie menerakinya. “Lo baru saja membuat gue kehilangan pekerjaan.”
Luna mengerjap dari posisi meringkuknya di tempat tidur, tangannya terlipat di bawah pipi. Masih ada sisa lipstik merah Elis di bibirnya yang pecah-pecah.
“Menurut lo, dia akan menelepon ke sini?” tanya Luna pelan.
“Bagaimana gue tahu? Emangnya itu yang lo mau? Sudah untung mereka gak menelepon polisi dan memenjarakan lo.” Atau mengirimkan lo ke rumah sakit jiwa, batin Marie.
Rasa murka mengelegar dalam perut Marie. Luna begitu tidak berguna. Begitu menyedihkan. Marie berputar, “Lo menyedihkan,” cela Marie. “Gue benar-benar benci sama lo!”
Marie belum sampai di kamar ketika Luna mengejarnya. Luna menepuk pundak Marie.
“Apa lo sungguh berpikir kalau mereka telepon polisi?”
“Luna!” Marie berputar. “Gue gak peduli! Gue butuh pekerjaan itu. Gue suka dengan keluarga Matera. Mereka sudah seperti keluarga sendiri bagi gue. Gue suka pekerjaannya. Itu satu-satunya yang bisa gue kerjakan saat ini.”
Marie menepuk dadanya. “Milik gue!”
Suara Marie pecah. “Itu satu-satunya tempat yang bisa gue datangi untuk lari dari lo.”
Air mata Marie menggenang di pelupuk matanya. Luna tidak mengerti akan keadaaan ini.
Marie memukul untuk mendorong Luna pergi dan beranjak menjauh dari dirinya. Tapi Luna menggenggam tangan Marie erat-erat. “Lo penuh dengan lumpur dan sepatu lo hilang sebelah,” kata Luna.
“Menyingkir dari gue!” Perintah Marie. Amarah kembali meledak dalam diri Marie. “Menyingkirlah dari hidup gue. Gue benci keadaan lo. Gue harap lo gak pernah lahir.”
Luna menurunkan tangannya seperti tersambar api dan melangkah mundur dari Marie. Tatapan di wajahnya ...
Marie membanting pintu kamar di depan wajah Luna.
...****************...
Minggu pagi, Marie merasa begitu sakit badan sehingga tidak dapat bangun dari tempat tidurnya. Marie berbaring saja di sana, memandang kekejauhan untuk menunggu telepon. Pintu lantai bawah akan terbuka, dan Mami atau Ayah akan mengakhiri semua kepura-puraan ini. Permainan ini. Bagaimana mungkin hal ini terjadi pada gue? Ini seperti acara drama di televisi yang penuh dengan bencana.
Marie kalah dalam setiap tantangan yang ada. Marie mempermalukan James dengan membuatnya terjatuh di teras. Marie merusak jendela mobilnya. Marie membuatnya kepergok di rumah oleh calon ayah tirinya_David. Marie membuang dan menghancurkan koleksi CD nya. Marie menyebabkannya kena tilang. Marie melukai perasaan James. Setiap kali mereka bersama, hanya itu yang Marie lakukan. Melukainya.
Tuhan. Marie memejamkan matanya kuat-kuat. ‘Pasti dia membenciku’ batin Marie.
Marie ingin masa kecilnya diingat dan di kenang dengan perasaan suka, setidaknya bahagia. Sukacita. Marie hanya ingin kenangannya sendiri. Semua yang dia ingat tentang dirinya, selalu melibatkan Luna. Hidupnya. Perjuangan Luna. Di mana kenanganku? Di mana hidup ku? Gumam Marie dalam hati.
Marie tidak bisa percaya dia kehilangan pekerjaan gara-gara kakak satu-satunya, Luna. ‘Ok, harusnya aku tidak keluar dengan James, harusnya aku lebih bertanggung jawab, semuanya ini kesalahanku,’ gumam Marie.
Tidak, tidak, bukan! Marie menolak menanggung rasa bersalah ini. Luna yang melepaskan kendalinya sendiri. Luna memanfaatkan Marie. Dia juga mempermalukan Marie. Dia menaruh hidup Marie dalam risiko. Untuk apa? Untuk kesenangannya sendiri, hasratt tololl nya untuk berdandan.
“Gue gak akan pernah memaafkan lo,” Marie bersumpah dengan lantang berharap Luna mendengarkan lewat dinding yang membatasi kamar tidur mereka.
“Gak akan pernah.”
...****************...
tbc