Indonesia
NovelToon NovelToon
Rindu Terhalang

Rindu Terhalang

Status: tamat
Genre:Pelakor / Tamat
Popularitas:40.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lia Andriani

Tentang rindu yang terhalang oleh masing-masing pasangan. Ya, Jiwananta juga Diratama Angkasa sudah memiliki ikatan suci pernikahan dengan pilihan mereka masing-masing. Namun, cinta lama yang belum kelar membuat mereka kehilangan akal sehat hingga melakukan dosa. Juga, perasaan mereka yang kian lama justru semakin tumbuh subur di relung hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Andriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sakit Dulu, Baru Perhatian

Satria keluar setelah mendengar penjelasanku. Aku kecewa dengan semuanya.

Aku berbaring membungkuk dengan menarik selimut. Bulir bening menetes perlahan. Aku kehilangan sandaran untuk berkeluh kesah.

Satria, raganya saja tidak bisa berada di dekatku. Sekarang, aku harus mengandalkan dia. Heh, lucu sekali. Dia saja tidak bisa menghargai keberadaanku.

Pintu berderit, Satria kembali masuk. Tangannya masih berada di knop pintu. "Aku akan pulang ambil bajumu."

Aku hanya meliriknya sekilas, tidak ada jawaban yang keluar. Satria kembali menutup pintu dan berlalu.

Aku mengambil ponsel di nakas. Tama mengirim banyak pesan. Aku sepertinya enggan membalas, tapi takut menimbulkan kehancuran antara aku dan Satria nanti.

"Tama, aku lagi di rumah sakit. Dua atau tiga hari lagi baru bisa pulang. Jangan hubungi aku dulu, Satria akan menemani aku di sini."

Setelah pesan itu kukirim, Tama langsung menelepon.

"Ta, kamu baik-baik aja? Aku jenguk kamu sekarang, ya."

"Jangan, Tama. Satria dan kamu saling mengenal. Please, ngerti, ya."

"Oke. Bahkan, ketika kamu sakit aku tidak bisa menjengukmu."

Aku mengakhiri panggilan itu. Biarlah semua berhenti untuk sejenak. Jika memungkinkan, aku ingin bercerai saja dengan Satria. Bukan karena kehadiran Tama, hanya saja aku sudah tidak mengenal pria yang hidup denganku.

Perawat datang memastikan kondisiku dengan membawa nampan berisi obat beberapa buah. "Kita lakukan tensi dulu ya, Bu. Sebentar lagi dokter datang akan memeriksa kondisi ibu."

"Terima kasih, Sus."

Sebuah pil berwarna putih ia tinggalkan di nakas. "Ini obatnya diminum sebelum makan, ya, Bu."

Aku mengangguk paham. Perawat pun berlalu pergi setelah melakukan tugasnya. Kuambil pil tadi lalu menelannya. Pahit, lidahku terasa sangat tidak enak.

Dengan cepat mengambil sebotol air mineral yang ada di sekitar. Bu Afifah dan yang lainnya mungkin sudah pulang karena kehadiran Satria sudah cukup untuk menjagaku.

"Bu, maaf kami pulang tanpa pamit. Karena menurut kami, Anda sudah ada yang menjaga. Cepat sembuh, ya, Bu."

"Ya, Bu. Terima kasih banyak. Sampaikan salam saya untuk yang lain juga. Maaf sudah merepotkan," balasku pada pesan yang baru saja masuk ke gawaiku.

Mataku mulai didera rasa kantuk. Mungkin efek obat tadi yang menyuruhku untuk istirahat total. Penuh dengan mimpi saat tengah asyik di pulau kapuk.

Salah satu mimpinya adalah almarhum kakekku yang datang dengan memakiku. Entah apa aku tengah diingatkan olehnya atau itu hanya bunga tidur saja.

"Kamu mau cari yang apa lagi? Laki-laki tukang judi itu yang kamu pilih, ya!" aku tersentak dan langsung terkesiap bangun. Menyandarkan diri di kepala brankar.

Napasku tersengal, peluh sudah membanjiri tubuhku. Tidak pernah aku melihat kakek semarah itu kala ia masih hidup dulu. Ah, Tuhan. Memang jalan yang kupilih salah dan berdosa.

Satria masuk dengan membawa tas. Ia menatapku nanar. Tas sedang itu susun di lemari samping nakas.

"Kamu kenapa?"

Aku menggeleng, ia meletakkan bungkusan di atas nakas.

"Aku beli bubur ayam untukmu. Kata dokter, kamu sebaiknya makan bubur. Lambungmu tengah bermasalah, jadi harus makan yang mudah dicerna untuk sementara."

Satria duduk di kursi samping brankar. Aku masih saja enggan melihatnya. Pandanganku terus beralih darinya.

Satria mengusap lembut pucuk kepalaku. Mengecupnya sangat lama. Berlinang air mataku, entah rasa yang bagaimana saat ini. Butiran cinta memang masih sangat besar padanya. Hanya saja, sikapnya yang dingin dan misterius membuatku lelah bersama dengannya.

Lelah untuk melanjutkan hidup hingga tua dengannya. Lagi, ibu jarinya mengusap punggung tanganku.

"Jangan sakit lagi," ucapnya yang sedetik kemudian mencium punggung tanganku.

Aku menoleh ke arahnya. Rasa bersalah kini sudah bersarang di hatiku. Teringat kejadian di wisma bersama dengan Tama kemarin. Benar, apa pun kata yang keluar dari mulutku untuk melakukan pembenaran, tetap saja salah.

"Bang," ucapku menatapnya sendu. Ia terkesiap di depanku, menatap diri ini intens dan sangat dalam.

"Bang, seandainya aku buat kesalahan. Kamu akan memaafkan aku?"

"Aku maafkan, apapun kesalahan kamu. Tapi tidak untuk satu hal."

"Apa?"

"Tidur dengan orang lain."

Deg!

Jantungku berhenti sejenak. Awalnya aku berniat mengatakannya. Namun, mendengarnya berkata begitu aku mengurungkan niatku.

Lebih baik disimpan dan dikubur dalam-dalam daripada harus dibuka menjadi perkara besar.

"Kenapa?"

"Seorang wanita, jika sudah memberi tubuhnya untuk pria lain, buat apa lagi bertahan denganku. Sungguh, aku jijik dengan itu."

Demi Tuhan, aku tidak akan pernah membongkar apa yang pernah aku lakuin kemarin. Meski harus mati, aku akan menutup mulutku.

Aku diam tanpa melanjutkan pembicaraan lagi. Satria mengambil bubur ayam yang ia bawa tadi.

"Kamu makan, ya. Mumpung ini masih hangat."

Aku mengangguk dan perlahan bangkit, Satria membantu hingga aku terduduk. Ia menyuapiku. Perlahan membuka mulut sesuai arahannya.

Ada rasa bersalah yang menjalar memenuhi rongga hati. Entah mengapa sikapnya jadi begitu hangat. Apa perkataanku tadi pagi menamparnya untuk sadar.

Padahal, sering kali dia tidak takut jika harus kehilangan aku. Tapi hari ini justru berbanding terbalik dengan ucapannya.

"Bang, kalau aku minta sesuatu. Apa kamu akan kabulin?"

"Makan dulu. Nanti kita bicarakan tentang hari ini."

Ribuan pertanyaan bersarang di otakku melihat sikapnya hari ini. Apa aku harus sakit dan dirawat di sini dulu untuk dapat perhatiannya. Dulu, saat aku demam dan dititipkan obat berharap ia akan segera pulang, tapi pada kenyataannya, habis isya dia baru tiba di rumah. Ah, entahlah.

Bubur dalam genggamannya sudah habis. Satria beranjak keluar. Aku masih saja belum bisa menata hati dari rasa bersalah. Semakin ia berbuat baik, semakin aku terpenjara oleh rasa sesalku sendiri.

Entah ke mana perginya Satria. Hingga sore menjelang, ia masih belum kembali sejak pergi terakhir kali. Aku turun menapaki ubin dengan kaki telanjang.

Berjalan menatap langit sore dari balkon rumah sakit. Matahari terbenam, memancarkan sinar jingga di ufuk barat. Indah sekali. Aku duduk di kursi yang berjejer di dekat pintu kamarku.

Tiang infus setia menemani. Entah siapa yang ada di sebelahku yang berjarak tidak terlalu jauh. Mengenakan jaket hoodie berwarna abu, lengkap dengan maskernya.

"Ta, aku sengaja jenguk kamu. Aku khawatir, Ta."

Aku memperatajam pandangan, dari bentuk matanya, aku yakin itu Tama. Aku menoleh ke sekeliling.

"Kamu gila, Tama. Kalau Satria lihat kamu gimana?"

"Aku nggak peduli, Ta. Aku kangen kamu, aku khawatir sama kamu."

Kedua bahu dicengkeram Tama, aku membuangnya pelan.

"Please, Tama. Tolong, jangan kayak gini."

"Aku beneran khawatir sama kamu, Ta!"

"Oke, aku paham. Kamu harusnya lebih khawatir dengan anak dan istrimu, bukan aku."

"Ananta?"

Sontak kami mematung, tidak berani menoleh ke asal suara yang berada di belakang punggungku.

1
ᴾᴿᴼ❥Ӄᴎ͟͞ɪ͟͞ԍ͟͞ʜ͟͞ᴛ
4no sekali
Rianti
kisah seperti ini umum dimasyarakat.
tapi .. pengemasan di dalam novel ini tuh yg buat jatuh cinta pembacanya. sukses buat outhor nya 😊
Lia Andriani: mkasih, mbak
btw ada season 2 nya loh
total 1 replies
Rianti
mie Aceh Titi bobrok ini
Lia Andriani: ya, syg.
slam kenal dari medan
total 1 replies
꧁༒☬Sa̶d̶B∆Y☬༒꧂
Baru kali ini baca karya yang bikin lupa waktu. Sumpah! Sampe enggak nyadar udah jam berapa!
Lia Andriani: makasih 🥰🥰
total 1 replies
sunshinegyspy
Semangat kak..., ditunggu lagi up terbarunya😊💪🙏
angels_basket
aku nangis nih kalau lama lanjutannya
༺Leͥgeͣnͫd༻ᴳᵒᵈ
Makin seru nihh!! Aku pun kepo!!
Lia Andriani: hehe
makanya, ikuti terus ya.
biar nggak penasaran 😉
total 1 replies
Enik Susianah
sy suka cerita, lanjut terus sampai akhir, jng berhenti.
Semangat......
Lia Andriani: Terima kasih
ikuti terus ya
total 1 replies
Enik Susianah
lanjut.....
Lia Andriani
ya, insya Allah di up ya
maaf, Allah lgi syg sma aku.
musibah dtg brtubi2, prtma aku khilangan ibu, skrg adik spupu
🙏🙏
Enik Susianah
jng lama2 mikirny.....
Enik Susianah
lanjut dong.....
Lia Andriani: sabar, ya sayang
insya Allah, ntar mlm d up ya
total 1 replies
Cakrabirawa Tarihoran
jangan lama-lama up nya thor 😭
Lia Andriani: maaf, lama
aku baru aja kehilangan bidadari tak bersayap ku☹️😥
total 1 replies
Rini Mustika
semangat kak
Lia Andriani: semangat💪💪💪
total 1 replies
SugarplumChum
Semoga author selalu diberi kemudahan buat update.. aamiin
Lia Andriani: aamin ya rabbalamin.
total 1 replies
floufrouu
Thor, kamu tahu artinya setia kan? Iya, aku dan kamu. Makanya tetap lanjut ya ceritanya:)
Lia Andriani: hehe, ntar d up lg ya😊
aku ttp lanjutkan cintaku padamu😍😍😍😘😘😘
total 1 replies
monsoonblooms
Seru Thor!! Lanjut ya ya! Plis Thor!
Lia Andriani: pasti aku lanjut, ikuti terus ya😊
total 1 replies
SecretFruity
Dimohon kepada author, cukup! Jangan bikin aku baper lebih parah daripada ini huhu
Lia Andriani: hehe
maafin kehaluan mbak author yang buat para readers baper😁
tunggu kebaperan lainnya ya😄
terima kasih sudah singgah😍
total 1 replies
Mrextinct Hashtag
lanjut semngat menulis karya karya mu thorr sehat sll😍😘
Lia Andriani: terima kasih sudah singgah
ikuti terus ya, maaf kalau kadang authornya suka lambat up
mohon maklum, ya😊
😍😍😍
total 1 replies
Shake Bastian
mana ini lanjutan ceritanya
Lia Andriani: insya Allah malam ini😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!