Indonesia
NovelToon NovelToon
Cahaya Tersembunyi

Cahaya Tersembunyi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Mengubah Takdir / Kaya Raya / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ssintia

Terbiasa hidup keras membuat seorang Naladhipa Basundari menjadi sosok yang tangguh. Dari kecil dia hanya hidup berdua dengan Sana, bahkan dia sendiri tidak tahu akan sosok yang namanya orang tua.

Yang Nala tahu dia ditemukan oleh Sana ketika bayi didalam sebuah boks dan setelah mendengar itu Nala tidak lagi ingin tahu akan kedua orang tuanya. Nala menganggap dirinya tidak diinginkan hingga mereka membuangnya.

Hingga kehadiran seorang laki-laki bernama Yvaine Buana Wyman membuat hidup Nala perlahan-lahan berubah. Satu persatu rahasia dalam hidupnya terungkap.

Keduanya bagaikan langit dan bumi, itu lah yang Nala pikirkan antara keduanya

Nala itu bagaikan cahaya yang tersembunyi yang harus dia jaga agar tidak ada orang lain yang melihatnya karena hanya dia yang bisa memilikinya, itu lah yang Yvaine tanamkan di pikirannya tentang Nala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ssintia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15 | Belanja

...•∆∆∆∆•...

.......

.......

.......

Nala terbangun ketika merasakan sesuatu mengalir dari tubuhnya. Ketika memastikan hal di pikirannya membuat Nala mengumpat. Dia belum membeli pembalut sedangkan dia hanya punya satu stok lagi itu pun yang kecil, pasti tidak akan bertahan dengan lama apalagi ini hari pertamanya.

Tanpa memperdulikan kakinya, Nala melangkah menuju kamar Sana siapa tahu saja di kamar kakaknya ada pembalut yang terselip.

Tapi pupus sudah harapannya karena dia tidak mendapati keberadaan benda itu dimanapun. Sedangkan di lingkungannya ini tidak ada warung yang dekat, yang paling dekat saja butuh waktu dua puluh menit untuk menempuhnya jika berjalan kaki. Ingin naik motor Nala sadar dengan kondisi kakinya.

Dengan terpaksa Nala menghubungi seseorang untuk dia mintai tolong. Setengah jam berlalu tidak ada tanda-tanda Yvaine akan membaca pesannya membuat Nala harap-harap cemas.

Apakah Nala harus nekat saja untuk keluar, sepertinya iya. Tapi saat akan membuka pintu rumahnya, ponselnya bergetar membuat Nala menghentikan langkahnya lalu mengucap syukur ketika Yvaine bersedia membantunya.

Nala memutuskan untuk menunggu Yvaine datang di ruang tamu seraya membaringkan tubuhnya di sofa. Untuk menghilangkan bosan, Nala memilih untuk membaca dari aplikasi online saja.

.

.

.

Dua jam berlalu, ketika membuka matanya Yvaine hanya mendapati keberadaan Kenzo yang tertidur di bawahnya, Yvaine meregangkan badannya lalu mengecek ponselnya.

Pesan dari Nala membuat Yvaine segera membukanya. Dia meringis ketika melihat pesan itu di kirimkan setengah jam yang lalu. Astaga, kenapa dia harus ketiduran.

Yvaine segera keluar dari rumah tanpa membangunkan Kenzo yang tertidur. Dia mengendarai mobilnya menuju tempat yang Nala maksud.

Tiba di supermarket, Yvaine mengambil keranjang lalu berjalan menuju rak dimana tempat pembalut biasanya ada. Karena tidak tahu yang mana Nala pakai, Yvaine mengambil satu dari semua merek.

Lalu langkah kakinya membawanya menuju lorong selanjutnya dan mengambil beberapa camilan, dirasa cukup Yvaine segera membayarnya karena tidak ingin Nala menunggunya terlalu lama.

Tiba di rumah Nala, Yvaine segera masuk kedalam karena gadis itu mengatakan padanya untuk langsung masuk. Dan Yvaine menemukan keberadaan Nala yang sedang berbaring di sofa dengan ponsel di tangannya.

"Eh, makasih." Nala menerima barang yang di sodorkan Yvaine padanya, "Sebentar ya gue mau ini dulu." Nala segera masuk kedalam kamarnya sambil membawa satu pak pembalut secara asal karena bagaimana pun dia sudah tidak nyaman dengan kondisinya.

Yvaine memilih untuk duduk di kursi tempat tadi Nala berbaring. Pandangannya mengedar melihat seisi rumah Nala yang terlihat sederhana tapi nyaman. Yvaine tidak mendapati satu pun foto di rumah ini, hanya ada beberapa lukisan abstrak yang menghiasi dinding.

Tapi mata Yvaine berhenti ketika melihat sebuah kalung yang tergeletak di meja, tangan Yvaine terulur mengambilnya. Keningnya mengernyit ketika merasa tidak asing dengan bentuk dari kalung yang ada di genggamannya ini.

"Itu kalung gue." Suara di belakangnya membuat Yvaine segera memberikan benda itu pada si empunya.

.

.

.

Di sepanjang jalan, Yvaine terus memikirkan tentang kalung Nala yang dia lihat. Dia tidak merasa asing, seperti pernah melihat simbol itu, tapi dimana. Menggali ingatannya pun nihil, tidak ada yang dia temukan.

Memasuki gerbang rumahnya yang telah di buka oleh satpam, Yvaine segera menyimpan mobilnya ke garasi. Dia melangkah kedalam rumahnya dengan sesekali bersiul, kunci mobil yang dia putar-putar di jari telunjuknya. Didalam sangat sepi, tidak ada seorang pun orang yang dia temukan. Ayahnya, entah dia pun tidak tahu dimana keberadaanya apakah sudah pulang atau belum. Mungkin jika sudah saat ini pasti berada di ruang kerjaannya.

Memasuki kamarnya, Yvaine segera melepaskan hoodie yang dikenakannya lalu melemparnya ke keranjang pakaian kotor. Yvaine berjalan menuju meja belajarnya dan berniat untuk mengerjakan tugas kuliahnya, meskipun tugas ini masih lama untuk di kumpulkan tapi Yvaine terbiasa mengerjakannya lebih awal.

Dua jam berlalu Yvaine akhirnya menyelesaikan pekerjaannya. Dia meregangkan tangannya yang kaku lalu melihat jam ternyata sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Yvaine beranjak untuk mandi lalu setelahnya dia akan mengistirahatkan badannya yang letih.

.

.

.

Yvaine menggeram ketika tidurnya terganggu oleh suara gedoran dari balik pintu kamarnya. Yvaine berteriak agar orang kurang kerjaan itu berhenti tapi tidak berhasil. Alhasil dia terbangun dengan perasaan kesal lalu segera membuka pintunya. Dan terlihatlah tiga orang yang memasang wajah tidak bersalah membuat Yvaine ingin sekali menendangnya.

"Lah bos baru bangun lo?" Bastian bertanya sambil menyerobot masuk kedalam kamar Yvaine lalu merebahkan badannya di sofa.

"Emangnya kenapa?" Yvaine menggaruk kepalanya yang gatal lalu menguap membuat Bastian bergidik melihatnya.

"Kita kan mau beli perlengkapan Vin." Kenzo mendudukkan dirinya di samping Bastian diikuti Al.

"Jam berapa sekarang?" Yvaine kembali menguap lalu menyandarkan punggungnya ke lemari.

"Sembilan." Jawab Kenzo seraya menyenggol lengan Al yang sudah anteng dengan ponsel miringnya.

"Setan!" Yvaine spontan mengumpat dengan keras membuat ketiganya kaget. "Kenapa gak nanti siang, gue baru tidur jam satu tadi." Jelasnya.

"Ya udah atuh kalau mau dilanjut tidur mah, kita tungguin." Bastian memasang wajah bersalahnya membuat Yvaine benar-benar ingin menendangnya.

"Telat!" Yvaine berlalu menuju kamar mandi.

.

.

.

Saat ini mereka berempat sedang berada di tempat yang menjual berbagai macam peralatan untuk mendaki gunung. Ya, besok rencanannya mereka akan kembali mendaki gunung sesuai jadwal yang telah disepakati yaitu tiga bulan sekali.

Karena saat ini sudah memasuki musim dingin, jadi membeli jaket adalah hal yang paling utama. Satu jam mereka habiskan hanya untuk sebuah jaket dan juga sepatu. Berbeda dengan Al yang cukup banyak berbelanja kali ini karena dia sedang malas mengambil perlengkapannya yang sebenarnya masih ada di rumahnya. Karena jaraknya cukup jauh, jadi selama kuliah Al tinggal di sebuah apartemen.

Dan saat ini mereka berada di apartemen Al karena laki-laki itu mengatakan malas mebawa belanjaannya kemana-mana dan langsung ingin pulang membuat ketiga temannya mengikuti kemauannya.

"AL!" Teriak Kenzo dari dapur membuat Bastian menutup kedua telinganya akibat suara Kenzo yang menggelegar.

"Apa?" Al menghampiri Kenzo yang tengah membuka kulkasnya.

"Ini, kenapa kaga ada apa-apa di dalamnya." Tanya Kenzo seraya membukakan pintu kulkas lebih lebar membuat Yvaine yang menyusul mengerti.

"Oh, gue belum belanja."

"Kalau tau gitu tadi gue ke supermarket dulu." Gerutu Kenzo seraya menutup pintu kulkas.

"Gue belanja dulu." Al keluar dari dapur lalu berjalan menuju pintu membuat Bastian yang sedang rebahan sontak berdiri menghadangnya.

"Mau kemana?"

"Bawah."

"Gue ikut." Bastian kembali untuk mengambil ponselnya lalu berlari untuk menyusul Al yang sudah keluar.

.......

.......

.......

...•∆∆∆∆•...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!