Keberadaan mu selalu menjadi pusat perhatian ku, bahkan dikejauhan dirimu terlihat jelas olehku. Aku tak berani berharap lebih, dirimu laksana cahaya terang sedangkan cahaya ku cukup redam. Aku mengagumimu dengan senang dan berdebar namun jika bukan diriku nantinya yang kau pilih aku tak masalah. Mengagumi saja sudah membuat ku bahagia bagaimana bisa aku mengharapkan lebih ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alley125, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eipsode 15 : Panti Asuhan Part 2
...“Apa yang aku harapkan ?”...
Ke saltingan ku masih berlanjut di episode ini, setelah mengirimkan pesan padanya bahwa aku menyukai minuman yang dia berikan padaku dan mengucapkan terimakasih. Aku pun meminum minuman tersebut sembari masih mempertahankan senyuman ini. Namun tiba-tiba aku tersadar.
“Ini bukan aku jadi bahan taruhan kan ya ? Atau untuk dare semata ?” Pikirku mulai mengembalikan diriku ke akal sehatku walau lebih seperti berburuk sangka pada orang lain.
Dulu ketika awal aku masuk SMA aku dan temanku pernah dijadikan bahan taruhan oleh kakak-kakak kelas 12 dimana jika mereka berhasil menjadikan kami pacar mereka maka mereka akan mendapatkan rokok. Sebenarnya aku tidak mengetahuinya jika saja teman ku yang juga menjadi korban yang berhasil dipacari oleh kakak kelas itu bercerita padaku. Pantas saja pernah suatu ketika saat pulang sekolah salah satu kakak kelas 12 menjahili ku dan mulai sering melihat kepadaku teman-temannya juga iseng men-cie-ciekan dirinya bila mereka lewat didepan kelas ku dan saat itu ada diriku namun aku tidak ambil pusing saat itu karena aku menganggap tujuannya bukan untukku. Beruntungnya juga kakak kelas tersebut tidak menjalankan taruhan tersebut, mungkin karena sudah memiliki pacar atau aku kurang menarik. Tapi aku tetap bersyukur karena sudahlah banyak yang membenciku ditambah harus menjadi bahan taruhan sungguh mengesalkan.
Sekarang aku jadi bingung, mau salting takut tahunya hanya permainan tapi mau kesal takutnya hanya berburuk sangka semata.Tapi entah kenapa aku lebih yakin ini bukanlah sebuah permainan atau taruhan namun memang dia tulus memberikan entah karena kasihan melihat ku seperti orang yang sangat kehausan atau memang peduli padaku. Tak lama balasan pesan dari Bang Husein pun masuk.
“Alhamdulillah kalau suka. Sama-sama. Tapi jangan senyum-senyum terus bahaya.” Isi balasan pesannya yang aku liat melalui pop-up saja tidak langsung membukanya.
Ha ? Bahaya ? Bahaya kenapa juga ? Udah deh masih bingung mau bereaksi seperti apa. Ga mau baper secepat ini karena takut ternyata hanya dare semata walaupun lebih yakin bukan main-main.
Untunglah acara sudah selesai selanjutnya kami hanya tinggal membereskan hal-hal yang perlu kami bawa kembali kekampus seperti peralatan-peralatan yang digunakan untuk selama acara tadi. Aku dan Zena langsung turun kebawah karena peralatan-peralatan yang harus dibawa cukup berat sehingga para lelaki yang mengambil alih semuanya.
“Beli roti yuk Jas. Laper banget.” Ajak Zena padaku.
“Perasaan deket adik-adik panti tadi banyak gorengan kenapa ngga dimakan ?” Tanyaku heran karena sebenarnya memang banyak gorengan yang telah kami siapkan untuk konsumsi selama acara berlangsung.
“Ngga sempat tadi tuh. Fokus banget main sama adik-adiknya.” Jawab Zena.
“Dasar. Ya sudah ayok.” Ucapku.
Saat kami hendak menuju warung dekat panti tidak sengaja berpapasan dengan Bang Husein dan Darma yang baru turun kebawah sambil membawa beberapa peralatan yang akan dibawa kembali kekampus.
“Minggir-minggir lagi sibuk ini.” Canda Darma pada aku dan Zena. Kami bertiga satu kelas jadi cukup akrab terlebih Darma saat ini menjabat sebagai ketua dalam kelas kami.
“Hihh ini juga masih jauh jaraknya Dar.” Jawab Zena. Aku diam saja karena ada Bang Husein walaupun sempat saling bertatapan sejenak karena berpapasan tadi. Darma dan Bang Husein pun pergi menuju angkot tempat barang-barang sedangkan aku dan Zena kembali jalan menuju warung terdekat.
Setelah membeli roti kami duduk di teras Mushollah panti sembari melihat senior-senior dan beberapa teman-temanku yang masih berlalu lalang, berfoto-foto ataupun sama seperti aku dan Zena duduk-duduk sambil mengobrol. Tak lama Darma menghampiri kami setelah selesai sholat disana juga ada Bang Husein dan Bang Arbi.
“Makan sendiri-sendiri. Pelit banget ngga dibeliin sekalian.” Ucap Darma kepada kami. Saat itu aku dan Zena tidak menyadari adanya Bang Husein dan Bang Arbi sehingga kami santai saja bicara dengan Darma seperti biasa.
“Dihh kami mah belum makan. Dirimu tuh gorengan dua piring habis sendiri.” Ucapku pada Darma sambil memeletkan lidah.
“Iya Jas ? Dia makan dua piring ?” Tanya Zena karena terkejut mengetahui fakta tersebut.
“Iya tahu. Dia tadi hampir ketiduran terus makan pelan-pelan eh sampai dua piring. Pas dipergoki sama Bang Husein terus diketawain Bang Arbi dia mukanya langsung jelek banget terus Cuma nyengir doang. Hahhaha.” Ucapku membuka aib Darma.
“Parah. Buka-buka kartu. Ngga ada kan bang tadi gitu. Emang di piring tinggal sikit.” Ucap Darma sembari meminta dukungan dari Bang Husein dan Bang Arbi yang dari tadi mendengarkan di belakang kami. Begitu aku mendengar ucapan Darma, aku pun melihat kebelakang dan baru mengetahui ada Bang Husein disitu juga. Aku cukup kaget dan hampir melotot setelahnya aku memalingkan wajah menahan malu karena ucapanku tadi yang mengata-ngatai Darma.
“Engga. Masih banyak tadi yang satu piring lagi tadi pun belum ada kami sentuh sudah dihabiskan Darma.” Ucap Bang Arbi yang ikut meledek Darma dan tertawa yang diikuti juga oleh Zena dan cengengesan dari Darma. Bang Husein sendiri memang tidak terlalu banyak memberikan reaksi dan aku hanya tertawa kikuk.
Selanjutnya kami pun diajak untuk foto bersama anak-anak panti dan pengurus panti. Setelah berfoto kami pamit untuk kembali kekampus. Aku pulang dengan menebeng pada Wati karena kepala sudah cukup pusing mengingat cuaca cukup terik dan panas. Aku memang mudah sakit kepala sejak akhir SMA apalagi bila cuaca panas. Saat hendak bersiap-siap pulang aku teringat belum membalas pesan Bang Husein, walaupun aku masih bimbang namun aku memilih untuk segera membalas saja agar tidak dikatain tidak sopan apalagi bila nantinya aku masih harus menghubungi dirinya duluan. Aku juga tidak menyukai ketika pesanku diabaikan oranglain maka dari itu aku tidak boleh mengabaikan pesan orang lain juga.
“Hhahaha. Kelihatan kah senyum-senyumnya ? Bahaya kesurupan ya ? Soalnya tadi juga ditegur sama Zena susah nanti yang ruqyah satu RT.” Balasku atas pesan Bang Husein sebelumnya.
Setelah membalas aku mencari dimana dia dan ketika melihatnya aku tersenyum melihat dia tertawa bermain dengan anak-anak panti. Aku pun mengalihkan pandangan dan menghampiri teman-temanku yang lain untuk berfoto khusus angkatan kami saja.
Tak lama terdengar notif pesan di handphone ku, aku pun langsung membukanya ternyata dari Bang Husein.
“Tahu saja. Hati-hati nanti diangkotnya.” Isi balasannya.
“Ngga naik angkot jadinya sama Wati soalnya kepala pusing.” Balas ku langsung.
“Kenapa ? Sakit ?” Balasnya kemudian.
“Biasa kalau cuaca panas banget gini emang gampang pusing juga karena belum makan nasi dari pagi.” Jawabku. Jika melihat isi pesanku seakan-akan aku sedang mencari perhatiannya.
“Jangan lupa makan dan minum obat nanti.” Balasnya tak lama. Baru hendak membalas kami sudah disuruh naik kekendaraan masing-masing karena akan segera berangkat. Sembari berjalan menuju motor Wati aku pun membalas pesan Bang Husein.
“Baik.” Balasku. Kemudian aku dan Wati serta lainnya melaju pulang. Ada yang kekampus dulu ada pula yang langsung pulang ke kost atau rumahnya masing-masing seperti diriku dan Wati.