hanya cerita imajinasi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon |SagiriCwan|, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Ryan dan Ujian Kelas S
Ryan menemui Ricardo di ruangannya.
"Sudah kau putuskan?" tanya Ricardo.
Ryan menarik napas dalam. "Ricardo... izinkan aku untuk tetap tinggal lebih lama lagi."
Ricardo tersenyum mendengar jawaban itu.
"Aku ingin menjadi lebih kuat dan melindungi apa yang harus kulindungi," lanjut Ryan. "Maka dari itu, izinkan aku untuk tetap tinggal di kerajaanmu."
Ricardo bangkit dari singgasananya dan menatap Ryan dengan penuh keyakinan.
"Aku, Ricardo Xander, Raja Kerajaan DeathWish," katanya, "mengizinkanmu untuk tinggal di kerajaanku."
Ryan menundukkan kepalanya dengan hormat. "Terima kasih."
Saat Ryan hendak pergi, Ricardo memanggilnya sekali lagi.
"Ryan."
Ryan menoleh.
"Jangan buat aku kecewa."
Ryan tersenyum. "Ya... pasti."
Ricardo merasa puas dengan keputusan Ryan. Setelah itu, Ryan meninggalkan ruangan.
Di luar istana, Bryan sudah menunggunya.
"Ryan! Bagaimana hasilnya?"
"Aku sudah mendapatkan izin," kata Ryan dengan senyum lega.
"Syukurlah. Kemari, ikut aku."
"Kita mau ke mana?"
"Karena sekolah kita sedang libur, aku akan mengajarimu sesuatu."
Ryan tersenyum. "Terima kasih, Bryan."
Mereka pun pergi ke sebuah tempat.
Latihan dengan Bryan
Di tengah perjalanan, Bryan menoleh ke arah Ryan.
"Jangan sungkan," katanya. "Jika ada yang ingin kau tanyakan, katakan saja padaku."
Ryan tertawa kecil. "Hahaha."
Saat mereka sampai di tempat tujuan, Bryan duduk di atas rumput hijau sambil menikmati pemandangan.
"Kau tahu, Ryan?" tanyanya.
Ryan ikut duduk di sampingnya.
"Sebenarnya... aku bukan manusia seperti dirimu," ujar Bryan tiba-tiba.
Ryan menatapnya heran. "Apa maksudmu?"
"Hahaha... lupakan saja perkataanku tadi," kata Bryan sambil tersenyum, tapi ekspresinya menunjukkan sesuatu yang lebih dalam.
Ryan merasa penasaran, tapi ia memilih untuk tidak bertanya lebih jauh.
"Baiklah," kata Bryan, mengubah topik. "Aku akan mengajarimu sesuatu."
"Apa itu?"
"Coba ulurkan tanganmu, lalu kumpulkan energi di atasnya, seperti ini."
Bryan menunjukkan caranya. Perlahan, energi mulai berkumpul di tangannya, bersinar dan berputar dengan tenang.
Ryan terkesima melihatnya. Ia mencoba meniru, mengumpulkan energi di atas tangannya. Namun, saat energi itu mulai membesar, tiba-tiba semuanya lenyap, berhamburan tak terkendali.
"Ada apa, Bryan?" tanya Ryan, terkejut. "Kenapa energinya seperti menolak?"
Bryan menundukkan kepalanya, ekspresinya berubah muram.
"Sejak kecil, Master yang merawatku," katanya pelan. "Saat aku berusia tujuh tahun, aku mulai berlatih agar menjadi lebih kuat. Tapi..."
Mendadak, air mata menetes dari matanya.
"Master berkata bahwa aku berbeda dari yang lain."
Ryan menatapnya dengan penuh perhatian. "Apa maksudmu?"
Bryan menghapus air matanya dan tersenyum lemah. "Lupakan saja, Ryan. Sekarang, coba lagi."
Ryan mengangguk dan kembali berkonsentrasi. Kali ini, ia berhasil mengumpulkan energi di tangannya.
"Bryan! Aku bisa melakukannya!"
"Pertahankan itu, Ryan!" seru Bryan.
Namun, energi itu terus membesar hingga tidak terkendali.
"Ryan, lepaskan!" teriak Bryan panik.
"Bagaimana caranya?!" Ryan mulai panik juga.
"Buang ke mana saja!"
"Apa?!"
Energi itu kini berbentuk bola besar. Ryan tidak punya pilihan lain. Ia mengangkat tangannya ke atas, melempar energi itu ke langit.
Mereka berdua menghela napas lega.
"Syukurlah," kata mereka bersamaan.
Namun, tanpa mereka sadari, bola energi itu melesat ke arah istana...
Ledakan di Istana
Di singgasananya, Ricardo duduk sambil memikirkan sesuatu. Tiba-tiba, firasat buruk menghampirinya.
"Aku tidak tahu kenapa," gumamnya. "Tapi aku merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi..."
Tepat saat itu, bola energi yang dilempar Ryan menembus atap istana dan jatuh tepat di atas Ricardo!
BOOOM!!!
Ledakan besar mengguncang ruangan singgasana.
Sementara itu, di tempat latihan, Ryan dan Bryan melihat ke kejauhan.
"Ryan, kau dengar suara ledakan itu?" tanya Bryan.
"Lupakan saja," kata Ryan santai. "Nikmati saja pemandangannya."
"Baiklah..."
Malam harinya, di kamar mereka, Ryan bersiap untuk keluar.
"Kau mau ke mana?" tanya Bryan.
"Aku ingin mencari tempat yang bagus untuk latihan."
"Semangat, Ryan."
"Terima kasih, Bryan."
Lili dan Monster Lebah
Di tempat lain, Lili sedang mengeksplorasi sebuah area gelap.
"Tempat ini menjijikkan," gumamnya. "Aku ingin cepat pergi dari sini."
Tiba-tiba, beberapa lebah raksasa muncul di hadapannya.
"Baiklah, mumpung aku sedang bosan," katanya sambil tersenyum. "Aku akan menghabisi kalian semua."
Lili melompat dan mulai menyerang lebah-lebah monster itu satu per satu.
Setelah semua lebah pertama dikalahkan, tiba-tiba sekelompok besar lebah lain muncul.
"Oh... ternyata kalian masih banyak, ya?" katanya santai. "Baiklah, maju semua sekaligus!"
Ryan dan Latihan Malam
Di tempat lain, Ryan terus melatih fisiknya.
"Aku tidak boleh membuang waktuku," gumamnya. "Aku harus menjadi lebih kuat."
Ia berhenti sejenak dan menatap tangannya.
"Bisakah aku menjadi seperti mereka?"
Ryan mengingat pertarungan yang ia jalani di akademi. Ia mengepalkan tangannya dengan tekad yang baru.
"Aku pasti bisa. Bahkan, aku bisa melampaui mereka."
Dari kejauhan, Charles mengamati Ryan dengan penuh perhatian.
"Anak itu berkembang dengan cepat," gumamnya. "Aku harus segera melaksanakan rencanaku."
Ia menyeringai sebelum menghilang ke dalam kegelapan.
Di sebuah gua, Charles bertemu dengan seorang kakek tua.
"Bagaimana perkembangannya?" tanya sang kakek.
"Dia sudah menemukan kekuatannya," jawab Charles.
Kakek itu tersenyum. "Baiklah... Sabarlah sebentar lagi."
Ujian Dadakan
Keesokan paginya, Bryan mengguncang tubuh Ryan yang masih tertidur pulas.
"Hei, cepat bangun!" katanya. "Hari ini kita akan menjalani ujian dadakan!"
Ryan menggumam malas. "Hnn... iya, sebentar lagi, Bryan..."
Tiba-tiba, Master masuk ke kamar mereka. Tanpa peringatan, ia memukul kepala Ryan dengan tongkatnya.
DUG!
"Sakit!" teriak Ryan, langsung bangun. Ia menatap Master dengan ekspresi kaget.
Master hanya berkata singkat, "Cepat bersiap. Ujian akan segera dimulai."
Setelah tiba di kelas, guru mereka menjelaskan ujian:
"Kalian harus mengumpulkan lencana. Setiap siswa memiliki satu lencana. Kalian bisa merebutnya dengan cara apa pun, dan kalian hanya lulus jika memiliki minimal tiga lencana. Ujian berlangsung selama tiga hari."
Bryan mengangkat tangan.
"Pak, bolehkah kita mencuri lencana saat mereka tidur?" tanyanya polos.
Seluruh kelas tertawa.
Guru itu tersenyum. "Kalian bebas menggunakan strategi apa pun."
Dengan itu, ujian bertahan hidup pun dimulai.
ga ada ujung pangkalnya, ga ada awal dan akhir.