Pada suatu ketika, terlihat seorang pemuda dengan pakaian yang tak layak pakai sedang berjalan. Pemuda tersebut terlihat keletihan, entah mengapa pemuda itu seperti seorang yang belum makan berhari-hari. Karena dari tubuhnya, sudah terlihat sangat kurus kering, membuat siapa saja yang melihatnya merasa kasihan.
"mah, pah. Aku telah dewasa, ternyata benar apa yang kalian katakan dulu. Dewasa sangat tidak menyenangkan, banyak masalah yang ku pendam sendiri, dan aku sangat kesepian sekarang, tak ada teman maupun keluarga yang mau membantuku disaat susah kini," ucap pemuda tersebut didalam hati.
Berjalan tidak tentu arah, pemuda bernama asli Rifki Edrea kini singgah sebentar, dia berhenti sejenak untuk melepaskan rasa lelah habis perjalanan jauh. Walaupun dia tidak memiliki uang sekarang, tetapi rifki masih memiliki persediaan air dikantung celana nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RST, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tomi Bebal.
"Kenapa bang?" tanya Rifki kebingungan.
"Ohh, ternyata itu yang membuat lu terdiam," ucap Fraswa sambil tersenyum dan melihat 3 wanita cantik datang memasuki restoran.
"Lu kenal mereka?" ucap Tomi penasaran.
"Ya, tentu kenal. Bukan mereka itu adalah primadona kampus tertinggi di kota ini? Dan memiliki gelar wanita tercantik di kota lotas?" ucap Fraswa bertanya.
"Benar sekali, ternyata lu update juga!" ucap Tomi sambil tersenyum.
"B........" ucap Rifki terpotong.
"Dari pada lu bertanya. Lebih baik mending di jelaskan saja rif, agar lu paham siapa mereka dan apa yang membuat Tomi terdiam," ucap Fraswa sambil tersenyum meledek Tomi.
"Sialan lu, enggak juga diam kali," ucap Tomi kesal dan malu.
Fraswa lalu menjelaskan siapa 3 wanita yang baru memasuki restoran. Apalagi sejak tadi mereka datang, Tomi menjadi tidak fokus untuk berbicara, dan sedikit mengganggu kebersamaan mereka.
Setelah menjelaskan dengan detail, akhirnya mereka kemudian melanjutkan makan siang mereka sembari mengobrol.
Makan siang tersebut berjalan dengan lancar, apalagi ketika melihat beberapa wanita yang berada di meja paling ujung, kini sedang lagi menambah kursi untuk teman-temannya yang baru saja datang.
"Sudah belum, kalau sudah mending kita kembali ke rumah kost. Lagi pula, hari ini tidak memiliki kepentingan apapun," ucap Fraswa.
"Nanti aja dulu bro, mereka masih berada di restoran ini," ucap Tomi menolak untuk kembali ke rumah kost.
"Huhh, nanti pasti akan ketemu lagi bro, lagi aneh-aneh aja segala menunggu yang tidak penting!" ucap Fraswa kesal.
"Ya, bang Fraswa benar! Mari kembali bang," ucap Rifki mendukung Fraswa.
"Aduh, bagaimana iya?" ucap Tomi sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Jangan menyusahkan tom, tadi tujuan kita itu kemari cuma untuk makan siang, lagi pula enggak ada obrolan nongkrong!" ucap Fraswa tegas.
"Huhh, baiklah. Yaudah, mari kita pulang!" ucap Tomi kesal.
Mereka bertiga lalu pergi keluar dari tempat makan milik Fraswa. Kala semua sudah ada di dalam mobil, Fraswa lantas melajukan itu mobil sport miliknya keluar dari parkiran di restoran.
"Mau nongkrong bro?" ucap Tomi bertanya.
"Bebas," ucap Fraswa.
"Bagaimana rif? Enggak sibuk lagi bukan?" tanya Tomi.
"Lumayan senggang bang! Kenapa memang?" ucap Rifki sambil tersenyum.
"Tentu, yaudah lanjut keluar aja Fras. Agar tidak lanjut kembali ke rumah kost," ucap Tomi.
"Gak, nanti saja. Lagi pula lebih baik ganti pakaian dulu jika mau keluar bro," ucap Fraswa sembari mengemudi.
"Yailah, yaudah terserah lu saja!" ucap Tomi.
Rifki kini duduk di kursi belakang. Ia duduk sambil bermain ponsel melihat akun trading miliknya, kala melihat portofolio miliknya itu berwarna hijau, Rifki pun mencoba menatap layar ponsel berisi candle.
"Akhir dari trading hari ini di saham lokal," ucap rifki di dalam hati sambil tersenyum samar.
Sungguh indah hari ini, 1 juta dollar saat ini telah berubah angka menjadi 2,5 dollar saja dalam waktu kurang dari 4 jam. Rifki lantas menjual semua saham miliknya, kemudian mencoba melihat saldo di akun trading.
"Asik, kini bertambah dong pemasukan?" ucap Fraswa meledek sambil melihat Rifki dari spion.
"Tidak bang! Hanya cuma receh," ucap Rifki sembari tersenyum malu di tatap melalui kaca di dalam mobil.
"Bagaimana bro? Udah berapa saldo lu yang sudah terisi?" ucap Tomi penasaran.
"Sedikit bro, itu belum seberapa dari uang di akun bank milik bang Fraswa," ucap Rifki malu.
"Memang belum rif, tapi belum tentu tidak bisa melewatinya di waktu masa depan bukan?" ucap Fraswa bertanya dengan beri semangat pada Rifki.
"Hehe, enggak mungkin bang. Anda pemilik segala tempat-tempat bagus, bagaimana bisa pemasukan saya di sandingkan oleh semua pemasukan bang Fraswa?" ucap Rifki sambil tersenyum miris.
"Terserah kau saja rif. Lagi pula, tadi ucapan saya memang benar adanya," ucap Fraswa serius.
"Trading bukanlah hal sulit dalam mencari keuntungan, lagi pula dari sana pun terlahir banyak miliarder-miliarder muda," ucap Fraswa lanjutnya.
Tidak ingin menjawab, Rifki hanya dapat tersenyum. Benar adanya, apalagi saat ini trading di gemari oleh pemuda-pemudi di kalangan dunia.
Hampir di setiap negara, mereka masyarakat kota menggunakan peruntungan hidup di dalam trading. Tentu trading yang aman, dan tidak terlalu mengambil resiko.
"Huhh, kita sampai bro. Turun tom," ucap Fraswa sembari membuka pintu mobilnya.
Kala sudah turun, mereka kemudian masuk ke dalam rumah kost. Rumah kost yang kini menampung tempat tinggal mereka, dan saat sudah berada di dalam kamar.
Rifki kemudian membuat analisa sebentar, ia akan turun kembali ke lantai dasar untuk ikut nongkrong di teras rumah kost.
Setelah analisa satu saham, kini Rifki bersiap untuk turun. Ia akan membeli saham tersebut ketika waktu yang di tentukan sampai, dan ia akan membelinya melalui ponsel.
"Clek!"
"Waduh, rapi aja sudah!" ucap Fraswa sambil tersenyum.
"Hehe, lumayan bang! Apa kita akan turun nongkrong di teras?" tanya Rifki.
"Ya, disana saja dulu. Jika nanti ada ide, baru keluar dari rumah ini," ucap Fraswa.
"Ayo bro," ucap Tomi sambil memakai topi dengan gaya ke belakang.
Mereka bertiga kemudian pergi ke teras rumah kost. Tentu untuk sekedar mengobrol dan bercanda, memang hidup jangan selalu terlalu di buat serius, agar nanti tidak stres.
......................
"Sudah siap guys?" ucap Tasya sambil benarkan celana panjangnya.
"Yaudah, ayo jalan!" ucap felista.
"Hari ini, mending felista aja yang membawa mobilnya!" ucap Sabrena.
"Oke! Biarkan pembalap ini yang membawa kendaraan itu," ucap felista.
Mereka lantas menaiki mobil bersama, tentu dengan mobil sport tersebut, mereka memiliki tujuan yang tidak biasa.
Sesampainya di tempat tujuan, Tasya dan 2 orang sahabatnya keluar dari mobil. Mereka lalu menghirup udara segar malam hari, dan kemudian melangkah jalan menuju pintu masuk.
"Hallo, guys!" ucap Tasya pada 3 orang pria di altar bar.
"Astaga! Kalian begitu cantik malam ini, ada apa guys?" ucap pemuda tampan dan gagah bertanya, bernama Frans.
"Tidak, kami hanya ingin bersenang-senang saja disini," ucap Tasya sambil tersenyum.
"Yaudah, mari kita duduk disana saja," ucap Frans sambil menunjuk meja kosong.
"Oke! Traktir Frans!" ucap felista bercanda.
"Enak aja, kalian Cinderela dari keluarga atas masa ingin di traktir," ucap Frans meledek.
"Hehe, satu kali tidak apalah," ucap Sabrena sambil tersenyum.
"Gak bisa, kalian yang perlu bayar segala nanti pesanan kami," ucap pemuda lain, bernama Jafar.
"Ohh, tidak bro. Mending split bill," ucap Tasya menolak.
Kala sudah duduk dengan tenang. Mereka itu semua kemudian memesan banyak minuman di meja mereka.
Tentu bukan minuman alkohol mahal, tetapi minuman biasa dengan kadar alkohol sedikit untuk berasa memabukkan diri.
lanjut thor