Thalia La Sheridan adalah seorang putri dari Keluarga Duke Sheridan.
Alih-alih hidup dengan sendok berlian di mulutnya, hidupnya justru lebih buruk dari anjing jalanan sekalipun.
Akan tetapi...ada yang tidak biasa....
~
Dewi Alianora adalah seorang Dewi Perang haus darah yang dikutuk Surga.
Darah kering dan tangisan meronta-ronta selalu membasahi setiap jalan yang dilaluinya.
Akan tetapi...pada suatu saat, masa kejayaan yang berdarah itu harus pudar, dan Dewi Alianora pun jatuh tertidur dalam dunia bawah untuk selamanya...
~
Seribu tahun kemudian takdir keduanya akan bertemu. Apa yang akan terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celine Alexandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 15 : Kegagalan Pertama
Hujan sudah lama berhenti, menyisakan titik-titik air pada dedaunan, dan juga udara dingin yang segar.
Langit malam yang gelap tampak lebih jernih dengan bintang-bintang yang menggantung, berkelap-kelip di bawah sinar bulan purnama yang indah.
Cahaya keemasan lampu kamar sesekali berkedip, dan kain gorden putih disampingnya berkibar santai mengikuti arah angin malam yang sepoi-sepoi.
Kelopak mata Alianora bergoyang, kedua alisnya mengkerut, aliran nafas yang semula teratur kini berubah cepat, secepat degup jantungnya yang seakan menggema di telinganya.
Dug. Dug. Dug.
Rasa nyeri yang perlahan menikam di dadanya membuat Alianora tersentak, matanya segera terbuka menampakan manik biru perak yang memerah, kehilangan fokus.
Saat itu sudah awal musim gugur, udara yang berhembus sedikit lebih dingin dari biasa, tapi gaun tidur putih dikulitnya basah tak karuan tanpa ada satu bagian pun yang kering.
Alianora tidak menyadarinya, meremas dada sebelah kirinya dengan tangan bergetar hebat.
"Ugh...." Alianora menggigit bibirnya agar tidak berteriak lebih keras dari itu.
Setelah merasa kesesakan di dadanya mulai berkurang, barulah Alianora bisa bergerak sedikit, dan mencoba untuk meluruskan badannya.
"Hiss...sial...!"
Alianora ingin mengutuk keras, namun karena tenggorokannya kering, suara yang keluar terdengar lirih dan serak.
Beberapa menit berlalu, dan kali ini perasaan Alianora sudah jauh lebih baik, barulah dia bisa mengusap keringat di dahinya sambil menghembuskan nafas lega.
Pandangannya kembali jernih dan dia menatap telapak tangannya yang berkeringat dengan kening mengernyit, sementara umpatan keluar dari mulutnya.
"Ku kira aku hampir mati saja. Sial! Kalau bahkan mana ku sendiri saja tidak bisa digunakan, apa aku harus hidup tanpa menggunakan sihir?"
Mengangkat kutukan mematikan pada inti mana-nya tidak bisa dilakukan dalam semalam, dan Alianora tidak bisa menunggu lama. Jadi beberapa hari ini, Alianora berusaha mencari cara alternatif lain untuk bisa memulihkan kemampuan sihirnya sementara.
Meski hanya sedikit saja, Alianora ingin kembali bisa merasakan mana dalam tubuhnya. Hidup tanpa sihir sungguh aneh baginya.
Bagi seorang penyihir, kelima indra mereka sudah terbiasa lebih sensitif dari pada manusia biasa berkat adanya mana yang mengalir pada sistem mereka.
Itu karena jiwa mereka sedikit lebih 'dekat' dengan alam, membuat mereka bisa merasakan apa yang tidak bisa dirasakan manusia normal.
Makanya, sejak hidup sebagai manusia biasa tanpa kemampuan sihir, Alianora merasa sebagian dirinya 'buta'.
Tanpa mana yang mengalir dari sistemnya, Alianora merasa dirinya kehilangan kemampuan untuk merasakan sekelilingnya.
Dia merasa bagai orang cacat.
Untunglah Alianora masih bisa melihat jejak mana, meski itu sempat membuatnya bingung.
Hanya orang yang bisa menggunakan sihir saja yang bisa melihat jejak mana, sedangkan orang seperti Alianora yang tidak bisa menggunakan sihir harusnya sama sekali tidak bisa melihat apapun.
Itu sebabnya Alianora terkejut ketika dia dapat melihat untaian aura warna-warni yang melayang berbentuk bunga salju dari jendela kamarnya suatu hari.
Awalnya dia pikir dia salah lihat, namun setelah menggosok matanya tiga kali, Alianora tahu kalau itu benar adalah jejak mana liar.
Alianora jadi memiliki harapan baru, kalau dirinya masih bisa melihat jejak mana, maka tidak menutup kemungkinan suatu hari nanti dia bisa menggunakan sihir kecil-kecilan.
Jadi seharian tadi Alianora sudah berusaha untuk memikirkan jalan alternatif agar dia bisa mengakses mana dari dalam inti mananya, tapi dia masih saja bertemu jalan buntu.
Pada akhirnya, sebelum waktu makan malam tadi, Alianora menemukan ide yang menurutnya sedikit gila.
Seumur hidupnya Alianora belum pernah mencoba sesuatu yang di luar nalar seperti ini, dan itu membuatnya bersemangat sekaligus takut.
Pada dasarnya inti mana adalah tempat dimana mana seseorang berasal. Sudah pasti sangat krusial sekali bagi setiap penyihir.
Inti mana dan jiwa saling terhubung.
Sejak Alianora statusnya adalah merasuki tubuh Thalia, dan kedua jiwa mereka telah bergabung sempurna, inti mana Thalia juga otomatis terhubung dengan Alianora, mengakibatkan mana asli Alianora juga ikut tertampung di sana.
Makanya, sekarang Alianora juga tidak bisa menggunakan mana-nya.
Akan tetapi, lain halnya jika jiwa mereka terpisah.
Jiwa yang terpisah berarti dalam satu tubuh terdapat dua jiwa dan dua jenis mana yang berbeda.
Rencana Alianora adalah untuk memanfaatkan keadaan ini.
Pertama dia berniat untuk memisahkan jiwanya dari jiwa Thalia untuk beberapa saat saja. Lalu dalam kurun waktu singkat ini, dia akan mencoba mengontrol mana asli miliknya untuk membentuk inti mana kedua.
Nah, inti mana yang sudah dibuat ini tidak akan hancur meski kedua jiwa bersatu kembali, yang ada nantinya mana asli Alianora akan bersemayam di dua tempat yang berbeda, satu dalam inti mana Thalia dan satunya lagi dalam inti mana baru itu.
Dengan ini, mungkin saja...mungkin saja dia bisa menggunakan sihir.
Namun disisi lain, Alianora juga menyangkal keberhasilan ide ini karena untuk memisahkan jiwa yang sudah lebur menjadi satu itu sangat susah.
Dalam seumur hidupnya menjadi dewi, dia baru satu kali melakukan pemisahan jiwa, dan itu hampir gagal.
Jika salah sedikit saja, maka konsekuensinya akan sangat berat, entah itu salah satu jiwa bisa hancur, atau cacat.
Cacat jiwa bisa membuat orang menjadi gila, hilang ingatan, kehilangan fungsi panca indra, atau hidupnya tidak panjang.
Apalagi sekarang, jiwanya dan jiwa Thalia itu sudah benar-benar menyatu.
Dia pertama kali menyadarinya ketika di hari pertama dia merasuki tubuh Thalia.
Tidak ada tanda-tanda berat, susah dikontrol, semuanya pas seperti tubuh Thalia ini dibuat khusus untuknya. Ini menunjukan jiwa Thalia dan jiwa Alianora betul-betul cocok sampai tubuh Thalia saja tidak bisa menyadari kalau kesadaran pemilik asli sudah diambil alih oleh Alianora.
Sekarang, melihat jiwa yang menyatu ini membuat Alianora bingung bagaimana cara memisahkannya.
Akan tetapi, mau tidak mau dia harus mencoba. Demi bisa menggunakan sihir lagi, apapun harus dia tes. Setidaknya jika dipertengahan jalan dia menemukan ada yang janggal, dia janji akan langsung berhenti.
Setelah memastikan bahwa para pelayan sedang sibuk mengurus Duke Sheridan yang pingsan, Alianora dengan cepat kembali ke kamar, mengunci pintu dan duduk bersemedi.
Pertama dia membentuk kesadarannya menjadi versi kecil dan transparan dari tubuhnya, lalu pergi menjelajahi alam bawah sadarnya seperti yang pernah dia lakukan sebelumnya.
Kali ini dia tidak pergi menuju inti mana, tapi langsung ke pusat jiwanya berada yang terletak tidak jauh dari inti mana.
Alianora dengan cepat beranjak ke sana, dan tidak perlu menunggu lama, dia sudah tiba di sebuah ruangan kecil yang gelap dan kosong.
Dia menengadah ke atas dan langsung berhadapan dengan sebuah gumpalan cahaya ungu terang yang berkobar seperti api.
Gumpalan api itu menyala dengan terang, dan sesekali ada dua lidah api kecil berwarna merah dan biru muda, mengitarinya.
Merah itu jiwanya, biru muda itu jiwa Thalia.
Alianora memandangi gabungan jiwa itu dengan serius, berpikir bagaimana caranya dia memisahkan kedua jiwa ini sebentar untuk membentuk inti mana yang baru.
Termenung sebentar, lalu tiba-tiba dia kepikiran sebuah cara. Dia mendekati kobaran api itu, menunggu sampai cahaya merah muncul. Cahaya merah itu adalah bagian dari aura jiwanya, dan saat cahaya itu muncul, Alianora dengan cepat menyentuhnya.
Seketika kobaran api itu beriak, dan Alianora menyipitkan kedua matanya sambil meringis. Meski dia menyentuh jiwanya sendiri, dia tetap merasa tidak nyaman, seperti tidak memakai pakaian.
Rasa risih dan sedikit nyeri bergabung jadi satu, membuatnya ingin menarik kembali tangannya.
Alianora menggelengkan kepalanya, mencoba fokus untuk merasakan aliran jiwanya.
Di luar, tubuh Alianora sedikit bergetar, dan keringat mulai muncul di keningnya, kedua matanya tertutup rapat sambil mengernyit.
Beberapa saat kemudian, merasa seluruh jiwanya sudah terkumpul, dia akhirnya menemukan saat yang tepat lalu menarik jiwanya keluar.
Jika jiwanya terpisah, maka mana aslinya yang berada di inti mana yang tersegel itu juga akan keluar, Alianora memanfaatkan waktu itu untuk segera membentuk inti mana baru, sebelum menyatukan kembali jiwanya.
Setelah itu dia akan bisa menggunakan sihir kembali.
Mengingat keberhasilan yang manis itu membuat Alianora semakin bersemangat, dan memisahkan jiwanya dengan kekuatan lebih.
Semuanya berjalan mulus yang mungkin membuat Alianora tidak menyangka juga, dan itu membuatnya tambah percaya diri dan bangga sampai mau nangis.
Tinggal sedikit lagi, maka dia akan berhasil.
Akan tetapi.
Siapa sangka.
.
.
.
Alianora membenamkan sebagian wajahnya dalam tangannya yang terlipat, menggeram dengan kesal.
Nyeri di bagian dadanya sudah lama hilang, menyisakan gaun tidur yang perlahan mengering di badannya.
Sisa-sisa penderitaannya tadi hampir sirna sepenuhnya, tapi Alianora masih mengingatnya dengan jelas dan itu membuatnya menggertakkan gigi.
Dia tidak tahu harus marah atau apa, sebab kegagalan seperti ini memang harusnya sudah bisa dia tebak.
Tapi yang membuatnya tidak terima adalah karena itu tinggal sedikit lagi!
Jika tidak ada satu hal pengganggu yang tiba-tiba menghadang, maka dia sudah bisa main lempar-lemparan bola api sekarang.
Alianora tidak tahu harus kesal pada siapa. Pada hal pengganggu itu atau pada dirinya sendiri karena melupakan keberadaan 'hal' itu.
Langit malam yang dipenuhi bintang-bintang semakin cantik, Alianora menengadahkan kepalanya melihat pemandangan indah itu dengan ekspresi tidak tertarik sama sekali. Lehernya terasa kering, meski begitu dia masih bisa-bisanya mencibir dengan suara serak, "Dasar batasan dunia sial!"
...----------------...
Batasan dunia manusia sangat sensitif. Jika terdapat sedikit saja kekuatan asing , batasan ini akan aktif dan langsung menekan kekuatan itu hingga lenyap tak bersisa.
Hal ini tentu sangat bagus supaya makhluk dari alam lain tidak seenaknya masuk dan berbuat macam-macam yang nantinya dapat merusak keseimbangan dalam dunia manusia.
Sebenarnya makhluk dari dunia lain bisa saja masuk ke dalam dunia manusia, asalkan identitas mereka tersamarkan.
Dengan kata lain, mereka perlu menjelma menjadi penduduk lokal (atau hewan juga boleh yang penting hewan dari dunia manusia, jangan pernah berubah jadi Hell Hound atau kuda poni terbang, sebab mereka bukan dari dunia manusia. Sangat tidak direkomendasi!).
Menjelma itu bukan semata-mata berubah bentuk saja. Perubahan bentuk fisik itu termasuk, tapi yang lebih penting itu penyamaran jiwa dan, pastinya, mana.
Contohnya seperti Dewi Alianora dulu, harus membawa dan menyiapkan segala tetek bengek untuk sekedar berpartisipasi dalam tawuran berdarah yang diselenggarakan secara masal di dunia manusia.
Dia harus menyiapkan wadah tubuh manusia asli, lalu menyamarkan bau jiwa dan mana-nya menggunakan ramuan, serta menekan kemampuan sihirnya menjadi sebatas manusia biasa.
Kantong tasnya harus penuh dengan barang-barang penyamaran ini kalau ingin hidup aman selama 50/100/500 tahun kedepan.
Akan tetapi kali ini agak sedikit berbeda.
Mantra Kontrak jiwa menggabungkan jiwa dan mana milik Alianora dengan milik Thalia, sehingga menyamarkan aura keilahian Alianora secara sempurna, membuat batasan dunia berpikir kalau Alianora merupakan seorang manusia.
Nah, letak kesalahan Alianora tadi, ada disini.
Karena saking bersemangatnya untuk bisa menggunakan sihir kembali, Alianora jadi bertindak bodoh seperti memisahkan jiwanya sendiri dari jiwa Thalia.
Bukankah itu sama halnya dengan mengatakan, 'hei aku ada di sini, mari tangkap aku!' pada batasan dunia?
Alianora mengira kalau dia sempat gila beberapa menit lalu.
Harusnya dia tidak pernah seceroboh ini, mungkin karena terlalu lama tertidur, otaknya agak konslet.
Bunyi dentingan jam terdengar seperti tetesan air, hampir seirama dengan lampu kamar yang berkedip-kedip.
Alianora duduk dengan lengan menutupi keningnya, dan pandangan lurus menatap lautan bintang yang berkelap-kelip di angkasa.
Barangkali mencoba menerawang rasi bintang kesialannya akhir-akhir ini.
Diam-diam begini, dia jadi merindukan barang-barang magis miliknya yang dulu berperan penting untuk menyembunyikan identitasnya.
Kalau dia punya beberapa sekarang, mungkin ada yang bisa dia gunakan untuk membentuk inti mana baru dengan selamat. Ah sialnya.
Kalau memang ada di dunia ini, kira-kira benda-benda yang dapat menyamarkan identitas dewata layak diberi harga berapa?
"Mungkin sekitar 2.4 juta GD. Dua kali lipat harga surga, karena pasti sangat langka....Ah bukan GD lagi ya, aku selalu melupakan ini. Apa nama mata uang disini? Agrisent? Agrion?"
Tok. Tok. Tok.
"Permisi, Nona. Apakah Anda ada di dalam?"
don't forget to feedback ❤❤❤✨
mampir juga di karyaku ya thor
mampir di karyaku juga