Indonesia
NovelToon NovelToon
Dinikahi Paksa Sang Bos Mafia

Dinikahi Paksa Sang Bos Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Balas Dendam / CEO / Penikahan Kontrak / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lorena Carapia

Sepuluh tahun diasingkan ke sekolah asrama di negeri seberang, Elisa akhirnya pulang ke New York—bukan untuk disambut, melainkan untuk menghadiri misa arwah mendiang ibunya. Di rumah megah yang dulu miliknya, ia justru diperlakukan bagai orang asing: kamarnya dirampas, foto ibunya disingkirkan, dan ibu tiri beserta saudari tirinya sudah menyiapkan satu rencana keji—menjual Elisa lewat pernikahan pada seorang pria bengis dua kali lipat usianya.

Namun malam itu, sepasang mata dingin sudah lebih dulu mengunci punggungnya.

Mario Adikara—taipan sekaligus pemimpin mafia yang tak pernah kalah dan tak pernah ditolak. Kecuali oleh satu gadis, di sebuah restoran di Italia, yang berani menampar harga dirinya. Kini ia datang untuk menagih. Dengan akta nikah palsu dan satu ancaman yang membuat sang ayah bertekuk lutut, Mario menyeret Elisa ke dalam pernikahan yang tak pernah ia minta.

Yang tak Elisa duga: di balik dinginnya pria itu tersembunyi obsesi yang membara. Dan di balik masa lalunya sendiri tersembunyi rahasia yang bisa meruntuhkan dua keluarga sekaligus—tentang siapa ibunya sesungguhnya, siapa ayahnya yang sebenarnya, dan mengapa ada begitu banyak orang yang menginginkannya lenyap.

Balas dendam, tipu daya keluarga, cinta yang posesif, dan kebenaran yang berdarah. Ketika si gadis yang dibuang kembali untuk merebut haknya, tak ada satu pun yang berani lagi memandangnya sebelah mata.

Dinikahi paksa oleh sang bos mafia... atau justru inilah pertemuan yang telah lama ditakdirkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lorena Carapia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabur

Elisa butuh waktu sejenak untuk bereaksi, ia tak tahu harus berkata apa. Wanita tua di hadapannya itu bisa membuat siapa pun ciut. Ia sangat mirip dengan Mario.

"Saya akan memanggil Anda Nenek, kalau memang itu yang Anda inginkan. Bagi saya tak masalah," jawab Elisa.

"Kau seharusnya berbaring di ranjang. Edwin sebentar lagi tiba."

"Saya merasa baik-baik saja. Hanya kepala saya sedikit sakit, dengan obat pereda nyeri pasti hilang," ucap Elisa.

"Kepalamu terbentur cukup keras. Ini bukan sekadar sakit kepala yang bisa hilang dengan obat pereda nyeri."

"Ayo, kembali ke ranjang... Akan kupanggil Edwin dan ia akan segera datang," desak Maharani.

"Sungguh, ini tak seburuk itu." Elisa tak mau kembali ke ranjang. Ia justru ingin mandi dan membaca sedikit. Dengan begitu pikirannya yang kalut bisa jernih kembali.

"Kau belajar kedokteran?" Maharani meletakkan nampan di atas meja di samping ranjang Elisa.

"Tidak."

"Saya belajar manajemen perusahaan, tapi harus berhenti sejenak dan datang ke kota ini."

"Besok sore akan ada misa peringatan untuk mendiang ibu saya," jawab Elisa dengan tulus.

Maharani duduk dan mengamati gadis itu dengan penuh rasa ingin tahu.

"Kau sangat cantik. Kau akan memberi cucuku anak-anak yang rupawan. Tapi kau terlalu keras kepala, selalu ingin melakukan segalanya sendiri."

"Dengan sikap seperti itu, kau hanya akan menyeret Mario ke dalam masalah," ujar Maharani.

Elisa mengangkat bahu, sebab ia sama sekali tak peduli menyeret Mario ke dalam masalah. Tak ada yang memintanya menaruh mata pada dirinya.

"Nenek, Mario dan saya tidak menikah. Saya tak tahu kenapa dia mengarang cerita ini..."

"Saya akan pulih lalu pergi dari rumah ini. Juga dari hidupnya," ucap Elisa penuh keyakinan.

Maharani menyipitkan mata. Ia sendiri sudah melihat akta nikah itu; Mario tidak berbohong. Ia dan Elisa memang suami istri...

Benturan itu jelas telah memengaruhi otak Elisa. Buktinya ia tak ingat pernikahannya sendiri.

"Edwin harus memeriksa kepalamu baik-baik. Akan kuminta ia melakukan beberapa pemeriksaan yang lebih mendalam. Tak wajar kau tak mengingat pernikahanmu dengan cucuku..."

Elisa membuka bibirnya. Melawan Maharani tak ada gunanya. Ia menarik napas dalam-dalam lalu naik ke ranjang.

"Saya ingin tidur sebentar lagi. Bisakah Nenek meninggalkan saya sendiri?" pinta Elisa.

"Nanti aku akan kembali menengokmu. Irma yang akan bertugas mengantar Edwin ke sini dan membawakanmu pakaian. Aku akan berada di taman merawat mawar-mawarku. Kalau kau butuh sesuatu, cukup tekan angka dua."

Elisa hanya menganggukkan kepala sedikit. Lalu ia berbaring di ranjang dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

Tak lama kemudian Edwin tiba. Ia masuk ke kamar, tapi tak melihat Elisa di mana pun.

"Coba lihat apakah ia ada di kamar mandi..." perintahnya kepada Irma.

Wanita itu memeriksa kamar mandi, tapi tak ada jejak Elisa sama sekali. Piama yang tadi dipakainya tergeletak di dekat lemari pakaian Mario. Dari cara kemeja-kemeja Mario tergeser-geser, tak sulit membayangkan apa yang telah terjadi.

"Dia kabur!" pekik Irma.

Edwin berlari ke jendela. Tirai tersibak dan jendela terbuka lebar. Jantung lelaki tua itu berdegup hebat di dalam dada.

Ia tak mungkin keluar lewat jendela, terlalu berbahaya. Jatuh dari ketinggian ini bisa membunuhnya...

"Ayo kita turun! Elisa pasti belum jauh." Edwin memutar tubuhnya, berlari keluar dari kamar.

Dengan cepat ia menuruni tangga dan tiba di lobi mansion. Sementara mereka mencari Elisa, mobil yang tadi membawa Mario telah terparkir di sebuah klub di pinggiran kota.

Mario memasuki tempat itu dengan punggung tegak, tatapan dinginnya terpaku pada pria di hadapannya. Di samping salah satu pria itu berdiri seorang wanita cantik nan menggoda berambut hitam. Dialah Kejora, putri tunggal salah satu mafia paling ditakuti di New York.

"Selamat pagi, Tuan-tuan," sapa Mario datar.

"Selamat pagi, Tuan Adikara," balas semua pria lainnya.

"Pak Wijaya..." Mario menyapa pria berjas di samping wanita cantik berambut hitam itu.

"Selamat datang di kota ini, Tuan Adikara. Saya sudah banyak mendengar tentang Anda, dan karena itulah saya ingin berbisnis dengan Mario Adikara..."

"Ini akan menguntungkan kita berdua."

"Saya belum pernah mendengar tentang Anda sampai beberapa hari lalu. Orang-orang bilang Anda yang terbaik, dan saya ingin membuktikannya sendiri," jawab Mario.

"Saya selalu bergerak diam-diam. Sehebat apa pun dirimu, demi kebaikan keluarga, kau harus bermain di bawah permukaan. Anda mengerti maksud saya?"

"Tentu," jawab Mario.

"Papa, kau tak akan mengenalkanku?"

Cesar menoleh pada putrinya. Dari sorot matanya, ia tahu Mario telah memikat hati gadis itu.

"Ini putriku, Kejora Wijaya," ucap Cesar dengan bangga.

Mario mengulurkan tangan, menjabat tangan Kejora. Gadis itu mendekatkan bibirnya ke bibir Mario dan mengecupnya sekilas.

Kejora adalah wanita yang berpengalaman di dunia, terbiasa selalu mendapatkan apa pun yang diinginkannya. Mario tak diragukan lagi seorang pria yang memikatnya sejak saat pertama ia melihatnya melangkah masuk.

"Mari kita duduk," ucap rekan yang lain.

Para pelayan cantik menghampiri meja, membawa aneka botol minuman. Kehadiran para wanita membuat suasana semakin semarak.

Mario dan Cesar membicarakan bisnis untuk waktu yang lama. Sementara itu, Kejora hanya bisa memusatkan perhatian pada pria di hadapannya.

"Menurut saya syarat-syarat kesepakatan ini sudah baik. Anda dan saya sama-sama akan diuntungkan," ucap Mario sambil menjabat tangan Cesar.

"Untuk pria semuda Anda, Anda punya banyak pengalaman dalam hal ini. Itu yang saya suka," balas Cesar.

Mario menyunggingkan senyum tipis...

"Saya harus pergi. Sebuah kehormatan bisa berbisnis dengan Anda."

"Nona Wijaya, senang bertemu dengan Anda," ucap Mario.

"Kehormatan ini sepenuhnya milik saya, Pak Mario. Saya ingin suatu hari nanti kita berdua keluar untuk minum bersama."

"Maaf, saya pria yang sudah beristri," jawab Mario sambil memperlihatkan cincin kawin di jarinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!