Rey adalah manusia yang diubah menjadi anomali-monster kanibal yang sengaja dijadikan tameng oleh para penjajah halus di Paradise. Menganggap nasibnya sebagai hukuman atas dosa masa lalu, ia menemukan sosok yang ia anggap sebagai ibu keduanya. Namun, kasih sayang Dwi ternyata hanyalah manipulasi. Perlahan, jati diri dan kewarasan Rey dihancurkan hingga melahirkan The Luna, seorang psikopat yang rela mempertaruhkan sisa kemanusiaannya demi melindungi Dwi dari hukuman mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon likaa0_0, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 14
Keesokan paginya, matahari bersinar cerah. Di sebuah rumah sederhana yang di tempati Eva sedang sibuk menyiapkan sayur sop di dapur.
tak..tak...tak...
Suara pisau yang beradu dengan talenan terdengar berulang kali. Eva memotong berbagai bahan sayuran, mulai dari kentang, wortel, kubis, seledri, hingga buncis. Setelah semuanya selesai dipotong, ia memasukkannya satu per satu ke dalam panci berisi air yang sedang mendidih.
Kemudian, Eva mengambil dada ayam dan beberapa potong sosis. Ia memotongnya menjadi bagian-bagian kecil sebelum memasukkannya ke dalam panci yang sama.
Setelah itu, ia menambahkan bumbu, lalu mengaduknya hingga merata. Aroma gurih mulai memenuhi dapur. Eva kemudian menutup panci dan membiarkannya beberapa saat namun, belum lama ia kembali melanjutkan pekerjaannya, terdengar ketukan dari arah pintu depan.
tok....tok....tok...
Eva menoleh ke arah suara itu muncul
Mendengar seseorang mengetuk pintu, ia segera mengecilkan api kompor. Setelah memastikan masakannya aman, Eva berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang datang Begitu pintu dibuka, ternyata orang yang berdiri di hadapannya adalah Eveline.
“Selamat pagi, Eva.” ujar Eveline menyapanya dengan ramah sambil tersenyum.
“Pagi juga, Eveline...Hmm... ada apa? Kamu datang ke sini?”
“Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu, Eva.”
“Membicarakan soal apa?”
Eveline tidak langsung menjawab. Ia justru sedikit memiringkan kepalanya sambil melirik ke dalam rumah Eva.
“Apakah kita bisa membicarakannya di dalam saja?”
“Bisa.”
Eva memiringkan tubuhnya untuk mempersilakan Eveline masuk. Eveline pun masuk kedalam kemudian duduk di sofa ruang tamu. Sementara itu, Eva justru kembali berjalan menuju dapur tanpa mengatakan apa-apa.
“Eumm... Eva?”
Eveline memperhatikan Eva yang bukannya duduk di sampingnya, malah langsung menghilang ke dapur. Tak lama kemudian, Eva kembali dengan sebuah nampan. Di atasnya terdapat segelas air putih dan semangkuk sayur sop hangat yang baru saja dibuatnya.
Eva meletakkan nampan tersebut di atas meja di depan Eveline. Eveline yang sejak tadi menunggu sambil melamun sedikit terkejut.
“Eva... kenapa? Kamu tidak perlu memberikan semua ini. Jadi merepotkan saja, hehehe.”
“Tidak usah malu-malu. Aku tahu pembicaraan ini mungkin akan berlangsung cukup lama.”
“Peka banget, deh...”
Eveline tersenyum kecil.
Ia kemudian mengangkat mangkuk berisi sayur sop hangat tersebut. Dengan sendok, ia mengambil sedikit kuah dan meniupnya sebentar sebelum mencicipinya.
"sruppp....."
Eveline terkejut saat mengsruput sekali kuah yang ada di sendok tersebut begitu lezat
“Eva, ini enak banget! Kamu yang masak?”
“Iya.”
Eva tersenyum melihat reaksinya.
“Serius, ini enak banget, Eva. Kamu cocok sekali jadi seorang istri yang setiap hari memasakkan makanan lezat untuk suamimu.”
Senyum di wajah Eva seketika menghilang, Wajahnya berubah datar.
Eveline yang menyadari perubahan ekspresi itu langsung merasa tidak enak hati. Ia buru-buru menjelaskan.
“Eva... aku tidak bermaksud mengingatkanmu pada Nathan.”
“Tidak apa-apa, Eveline.” Suara Eva terdengar tenang. “Itu memang sudah takdirnya. Kita harus berpisah di dunia yang berbeda.”
Namun, tiba-tiba Eva tertawa ketika melihat ekspresi bersalah di wajah Eveline.
“Hahahaha... Eveline, kenapa ekspresi wajahmu seperti itu?”
Eva menunjuk wajah Eveline sambil terkekeh.
“Walaupun kepergian Nathan memang membangkitkan dendam dan amarahku kepada The Luna.”
Mendengar tawa Eva, Eveline perlahan merasa lebih tenang.
“Eveline... katanya kamu ingin membicarakan sesuatu?”
“Oh, iya.”
Eveline segera meletakkan mangkuk sayur sop di atas meja.
“Aku ingin memberitahumu sesuatu. Eva, semalam telah terjadi aksi bom bunuh diri di Jalan Reranti, tepatnya di sebuah hotel. Pelakunya adalah salah satu anggota Revor yang sebelumnya diculik oleh orang-orang Athena.”
“Iya, aku tahu soal itu, Eveline.”
“Baguslah kalau begitu.” Eveline menarik napas sejenak. “Mereka mengetahui bahwa kami, Revor, telah berhasil mencuri sebuah dokumen penting.”
“Dokumen penting?”
“Ya. Dokumen itu berisi data-data mengenai penjarahan hasil alam serta eksploitasi di Strate yang ditujukan kepada para petinggi. Sayangnya, kami gagal mendapatkan rekaman suara mereka.”
“Lalu bagaimana kondisi dokumen itu sekarang?”
“Dokumennya berada di tangan Rahul.” Nada suara Eveline berubah serius. “Tapi, Eva... aku tidak bisa menjamin Rahul aman atau tidak. Sekarang, dia menjadi target Athena selanjutnya.”
Eveline menatap Eva dengan serius.
“Kamu tahu sendiri apa yang terjadi jika seseorang sudah menjadi target mereka.”
“Ya...” Eva mengangguk pelan. “Riwayat hidupnya akan segera berakhir. Athena akan mengirim anomali mereka yang begitu kuat dan kejam untuk membunuh siapa pun yang menghalangi mereka.”
“Benar sekali.” Eveline menghela napas. “Kini aku bisa merasakan bahwa para anomali mulai bergerak.”
“Memangnya apa yang akan terjadi jika dokumen itu sampai jatuh kembali ke tangan mereka?”
“Paradise bisa saja diambil alih sedikit demi sedikit oleh Athena. Jika itu terjadi, Paradise perlahan-lahan akan menghilang dari peta dunia.”
Eva langsung berdiri.
“Eveline, kita harus pergi menemui Rahul sebelum semuanya terlambat.”
Eveline tampak terkejut mendengar keputusan Eva yang begitu tiba-tiba.
“Wow... Eva, tiba-tiba sekali kamu mengambil keputusan seperti itu.”
Eva tidak menjawab. Ia justru mengulurkan tangan kanannya kepada Eveline.
“Jangan sia-siakan waktu kita. Ingat, kita adalah harapan bagi Paradise, meskipun sebagian besar warganya belum menyadarinya.”
Eveline menatap tangan Eva selama beberapa saat.
Kemudian, ia menganggukkan kepalanya dan segera meraih tangan tersebut.
“Baiklah...”