Bukan tentang pengkhianatan ataupun perselingkuhan, tapi tentang obsesi cinta yang menjadi luka dan dosa.
Nisa harus menerima hatinya terluka saat suaminya, Rangga secara terang terangan pergi berkencan dengan kekasihnya, Tiwi. Tapi itu adalah harga yang harus diterimanya atas dosa yang dilakukannya sendiri.
Lalu bagaimana kisah selanjutnya saat cahaya lain hadir dalam hidup Nisa. Akankah semuanya berakhir bahagia atau sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farhati fara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saudara
Ali memandang sendu Nisa yang kini sudah tinggal di rumah masa kecil mereka. Setelah mereka pulang dari rumah sakit, Ali tak lagi mengantar sang adik ke rumah suaminya. Dia hanya datang dan mengambil barang-barang Nisa, barang yang tidaklah seberapa. Adiknya benar-benar terlihat menyedihkan, apalagi kini kegelapan akan mengikutinya seumur hidup.
"Kenapa masih di luar? Ini sudah malam. Ayo masuk! Nanti kamu masuk angin jika kelamaan di luar dan kedinginan," ujar Ali sambil menyampirkan sebuah mantel di bahu sang adik yang hanya berdiri diatas balkon kamarnya menikmati udara malam yang menusuk kulit. Namun, rasa dingin itu jugalah yang membuat Nisa tetap sadar kalau semuanya akan tetap dingin meski Nisa mencoba sekuat tenaga menghangatkannya, seperti perasaan Rangga padanya.
"Kakak kapan datang?" tanya Nisa yang berusaha cepat menghapus air mata yang tadi meluncur di pipinya.
"Tunggu! Apa kamu menangis? Apa ada yang sakit? Katakan pada kakak dimana kamu merasa sakit!" seru Ali yang jelas merasa khawatir akan keadaan adiknya.
"Tidak kak Ali, ini aku... Hanya kelilipan akibat terkena angin terlalu lama," kata Nisa lembut. Air mata Ali turun mendadak tanpa perintah saat melihat adiknya tersenyum kearahnya. Dia tahu adiknya berbohong, Nisa pasti menangisi pria yang menjadi suaminya sekaligus pria yang begitu dicintai oleh adiknya itu.
"Itulah, kenapa tidak masuk ke dalam. Jika kamu bisa kelilipan karena angin, bukan tidak mungkin kamu akan sakit karena angin. Ayo masuk! Kakak sudah siapkan makan malam. Mari kita makan malam bersama." ajak Ali setelah memperingati sang adik.
"Ayo, kak! Aku sudah lama tidak mencoba masakan kakak" Nisa berucap antusias, penuh semangat.
"Iya ya! Seharusnya kamu yang masak bukan kakak, tapi faktanya masakan kakak lebih enak dari masakanmu, kan?" goda Ali sambil menuntun sang adik menuruni tangga menuju meja makan dimana mereka akan menyantap makan malam mereka.
Nisa yang mendengar godaan garing sang kakak hanya bisa memanyunkan bibirnya, pura-pura kesal.
"Terserah kak Ali sajalah. Oh ya, kak! Bagaimana kabarnya Nita di Belanda?" tanya Nisa tiba-tiba, penasaran dengan keadaan adiknya di Belanda. Sejak Nisa ketahuan melakukan kesalahan besar, adiknya, Nita sangat kecewa padanya dan tidak mau bertemu dengannya lagi. Nisa bahkan tidak tahu bagaimana kabar adiknya itu setelah dia menikah dengan Rangga.
"Kemarin Nita sempat kabarin kakak. Katanya dia lagi libur sekarang dan berencana akan kembali ke Indonesia untuk beberapa bulan." Ali memberitahu apa yang diketahuinya tentang adik mereka.
"Benarkah? Lalu, kapan Nita kembali? Aku sangat merindukannya." binar mata Nisa berkilau walau dia sekarang buta. Ali tahu kalau adiknya Nisa tulus menyayangi adik kecil mereka, Anita.
"Kakak tidak tahu, Nita hanya bilang akan kembali tapi tidak bilang kapan pastinya. Kakak lihat, kamu sepertinya sangat rindu sama adik nakal kita itu?"
"Tentu saja aku merindukannya kak Ali. Walau Nita sekarang sangat membenciku dan tidak ingin menganggapku sebagai kakaknya, tapi aku tidak akan pernah melupakan bahwa dia masih adik kecilku."
"Sabarlah! Anita pasti akan segera menyadari betapa berharganya saudarinya ini. Mungkin sekarang dia belum cukup dewasa untuk paham akan apa yang terjadi. Tapi percayalah, suatu saat nanti kita akan kembali seperti dulu. Saat dimana masalah belum menghantam, dan selama masalah itu ada kakak akan tetap di sisimu, menjagamu serta melindungimu dari apapun yang mungkin terjadi." hibur Ali memandang dalam mata Annisa yang hanya terlihat pandangan kosong. Ali lupa bahwa adiknya kini buta. Perlahan air asin di matanya kembali turun membayangkan penderitaan yang dialami Annisa selama ini.
Ali tidak perlu lagi repot- repot menghapus air matanya saat berhadapan dengan adiknya itu, karena air matanya kini tidak akan lagi terlihat oleh adiknya itu.
.
.
.
dasar Tiwi ulet bulu
ah couple baru dong😍
semangat kak fara💪lanjut LG yg byk ya😄
apakah Nita punya peran besar jg di novel ini JD penasaran
ngebayangin JD Nisa psti sakit bgt deh/Cry/
cerai aja GX sih klean