Haaii Readers jangan lupa like dan rating bintang 5 yaa. Terima kasih semoga kebaikan kalian dibalas Tuhan.
Mengalami dua kali gagal menikah membuat Rasty begitu terpukul dan merasa dirinya adalah wanita pembawa sial. Namun Mimpi-mimpi aneh mulai menghampiri tidurnya saat neneknya telah tiada. Akankah ia bisa bebas dari jerat mimpinya itu?? dan Akankah ia bisa membuka hati untuk bersama Reno mengingat setiap lelaki yang akan bersamanya harus tiada??? Ikutin kisahnya yaa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zahnita Irsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Aku turun mengenakan busana muslim berwarna abu muda. Ku lihat reno tengah berbincang-bincang dengan beberapa tamu, sambil berdiri mengenakan baju koko lengan pendek berwarna hitam.
Beberapa tamu menyadari ku turun, lalu menatap ku. Aku sedikit tak nyaman dengan tatapan itu. Reno yang memperhatikan gerak gerik tatapan para tamu, yang memandang ke belakangnya pun langsung berbalik.
Ketika reno berbalik, dia pun sama terpaku nya seperti beberapa tamu yang melihat ku. Reno yang berjalan ke arah ku tersenyum manis, sementara aku masih terdiam di ujung anak tangga.
" Cantik, sangat cantik " ucap reno sedikit berbisik ke arah telinga ku.
" Benarkah? mereka semua menatap ku seolah aku salah busana " ucap ku memastikan kepada reno, karna memang aku jarang menggunakan busana muslim seperti ini.
" itu karena kau terlihat sangat bagus mengenakan nya " ucap reno lembut sambil tersenyum bahagia menatap ku.
Tak lama terdengar suara sambutan dari alif, sehingga semua orang mengarahkan mata nya ke sumber suara itu.
Alif memberikan kata sambutan kepada seluruh tamu yang hadir, lalu mulai memimpin pembacaan surah Yassin dan ditutup dengan doa.
Entah kenapa suasana rumah terasa begitu nyaman, sedari dilaksanakan nya pembacaan salah satu ayat luar biasa yang terdapat di dalam Al-Quran tersebut.
Seolah aku begitu merindukan suasana nyaman ini, seperti dahulu sebelum nenek meninggal. Kami menyalami tamu yang hendak pulang.
Setelah selesai, alif langsung permisi ke kamar nya karena merasa cukup lelah. Memang sedari tadi ia tidak ada istirahat wajar saja ia merasa sangat lelah. Di bawah hanya ada aku, reno dan bik inah yang sedang berkemas.
" Rasty, besok siang temenin aku makan di luar yuk" ucap reno sambil menatapku.
Aku mengerutkan dahi saat mendengar ajakan reno.
"ngapain makan diluar" ucap ku bertanya heran.
" ohh aku udah urus cuti dari perusahaan, jadi sementara semua urusan aku alihkan ke pak wijaya orang kepercayaan aku. Biar dia yang urus semuanya. Nanti aku tinggal urus sedikit saja jika ada hal yang benar-benar tidak bisa di wakil kan." ucap reno memberitahu rencana liburnya.
"Trus hubungan nya dengan makan siang apa?" ucap ku yang merasa belum puas dengan penjelasan nya itu.
" ohh, aku ingin merayakan hari pertama libur kerja sama kamu " ucapnya santai sambil tersenyum.
Aku merasa sedikit aneh, hanya saja aku tak ragu untuk pergi bersamanya.
" baiklah aku istirahat dulu ya, udah ngantuk" ucap ku yang terlihat sudah menguap.
Aku dan reno berjalan menuju kamar sambil berbincang kecil. Sesampainya di depan pintu kamar, aku membuka pintu namun kegiatan ku terhenti saat reno melingkarkan tangannya dì pinggang ku.
Aku merasakan pelukan lembut dari nya, seolah aku ingin sekali hanyut dalam pelukan itu. Dia membalikkan tubuh ku menghadapnya, memegang lembut wajahku dengan kedua tangannya.
Reno mengecup lama kening ku membuat mata ku terpejam.
" selamat malam " ucapnya tersenyum manis sambil mengusap pipi ku.
Aku hanya terdiam tanpa mambalas ucapan nya lalu segera masuk ke kamar. Di balik pintu ku sandarkan tubuh ku sambil tersenyum merasakan detak jantung ku.
"Sungguh aku benar-benar mencintainya tuhan, tolong bantu kami agar bisa bersama" ucapku dalam hati sambil memejamkan mata.
Aku bergegas ganti baju dan tidur karna benar-benar sudah merasa lelah. Aku merebahkan tubuh ku, tersenyum bahagia mengingat semua tentang reno dan perlakuan lembut nya padaku. Hingga mata ku terpejam....
...----------------...
Mentari pagi bersinar begitu indah, ini pertama kalinya setelah nenek meninggal aku tidak mengalami mimpi aneh mau pun kejadiaan aneh ketika tidur.
Aku begitu bahagia sambil merenggangkan tubuh ku. Ini pula pertama kalinya aku bangun tidur dalam keadaan waras.
Aku bergegas mandi dan turun, menikmati kondisi rumah yang begitu tentram dan nyaman. Tak lupa aku masih menggunakan baju model turtleneck.
" Bik, reno dan alif mana? kok sunyi? tanya ku pada bik inah sambil duduk menikmati roti untuk sarapan.
" oh, tuan reno dan nak alif tadi pergi keluar sebentar non katanya " ucap bik inah sambil meletakkan jus jeruk milik ku.
" oh iya bik " ucapku dengan santai.
Dalam hati ada sedikit rasa kesal pada reno yang cuti kerja tapi tetap saja kelayapan meninggalkan ku sendirian.
Memang aku bangun terlambat sekitar pukul 9 , karna begitu lelapnya tidurku malam ini. Jam sudah menunjukkan pukul 11.30am, aku naik ke atas untuk bersiap-siap.
Aku bingung memilih baju apa untuk mensiasati leher ku yang merah ini, agar tidak ketahuan oleh reno dan yang lainnya.
Akhirnya aku memutuskan untuk memakai syal untuk menutupi leherku. Aku yang telah selesai, menunggu reno di kamar sambil bermain ponsel. Tiba-tiba pintu kamar ku terbuka
" Reno " ucapku senang.
Aku melihatnya masuk dengan cepat dan segera menutup kembali pintu itu rapat-rapat.
" sayang kau sudah sangat cantik " ucap reno berjalan dengan cepat menghampiri ku yang telah berdiri begitu melihatnya.
"Ren, kamu " aku melotot saat reno tiba-tiba mencium bibirbku dengan sangat berhasrat membuat ku susah bernafas.
Setelah puas menciumku, dia menolak ku ke ranjang dan langsung menindih tubuhku. Aku memberontak perlakuan nya yang begitu kasar dan cukup memaksa.
" Ren jangan, aku gak mau ren, berhenti " ucap ku menolak badan nya dengan kuat.
Reno menatap ku dengan tatapan lapar, seolah aku ini makanan lezat. Dia kembali mendekati tubuh ku namun tiba-tiba pintu ku di ketuk oleh seseorang.
Tok...tok..tok..
Aku kembali menolak Reno yang terdiam karna mendengar ketukan pintu.
" Bentar bik " teriak ku sambil merapikan rambutku yang sedikit berantakan.
Dalam hati ku sangat malu, jika bik inah melihat reno di kamar ku. Aku bergegas berjalan membuka pintu.
Aku terdiam, saat buket mawar merah yang sangat indah menutupi wajah seseorang yang berdiri di balik pintu itu.
" Hei, ini untuk kamu " Ucap reno menurun kan buket bunga itu dari wajahnya.
Aku langsung membuka lebar pintu kamar ku melihat ke arah tempat tidurku.
" Ras, kenapa? kamu gak suka ya? " ucap reno merubah ekspresinya sedikit sedih.
" Ren, tadi kamu sama aku kan? " tanya ku yang mulai merasa badan ku bergetar menanti jawaban reno.
" sama kamu gimana maksud nya? tanya reno yang mulai panik melihat ku yang sedari tadi bolak balik melihat ke arah ranjangku dan melihat wajah nya.
" Kamu barusan sama aku ren, tadi kamu disini sama aku " ucap ku berjalan mendekati ranjang sambil menunjuk bahwa tadi reno ada disini bersamaku.
" Hei, aku baru aja datang bawain kamu bunga" ucap reno sambil meletakkan bunga itu di atas meja hias milik ku.
" tadi kamu di sini, lalu ada yang mengetuk pintu dan tiba-tiba kamu ada di depan pintu " ucapku menujuk ranjang yang ku duduki.
Aku menagis karna sudah merasa tak karuan dengan apa yang telah terjadi. Fikiran ku sudah benar-benar kalut.
Rasanya baru sebentar aku merasakan ketenangan namun lagi-lagi aku harus dihadapkan dengan kejadian-kejadian tak masuk akal. Reno memeluk ku lembut...
" Ren, aku udah capek. Aku udah gak sanggup " ucap ku menangis sambil mengungkapkan bagian terkecil dari apa yang sudah ku alami.
" Bersabarlah, kita akan lalui ini sama-sama" ucap reno dengan nada yang mulai bergetar.
" kita hanya perlu bersabar dan jujur untuk menyelesaikannya " ucap reno lagi sambil menenangkan ku.
Reno
Aku dan Alif pergi membeli alat penyadap suara dan membeli apa-apa yang kami perlu kan. Aku singgah di toko buket bunga dan membeli beberapa tangkai mawar merah.
" Dasar bucin " ejek alif kepada ku sambil sedikit tertawa.
Aku hanya membalasnya dengan senyum bahagia. Aku melajukan kendaraan ku menuju rumah.
Sesampai nya di rumah, alif bergegas masuk ke kamar nya agar tidak ketahuan oleh rasty. Aku langsung berjalan menuju kamar rasty untuk memberikannya bunga, lalu mengajak nya makan siang.
Aku mengetuk pintu kamarnya sambil menutupi wajahku dengan buket bunga tersebut. Dari dalam dia berteriak, mengira aku adalah bik inah.
Aku tersenyum dan berfikir akan mengejutkan nya. Ketika dia membuka pintu ekspresi nya berubah ketakutan, bercampur aduk dengan raut bingung di wajahnya.
Berkali-kali dia berkata, bahwa aku baru saja di kamar bersama dirinya. Aku terheran dan semakin yakin, memang benar ada yang tidak beres di sini sambil memandangi sekeliling kamar rasty.
Aku menenangkan rasty yang sedang takut. Aku harus menyelesaikan permainan setan sialan ini " upatku dalam hati.
Berharap semoga setelah malam ini, akan mulai terungkap rahasia apa yang dimiliki keluarga Herlambang ini.