Jessica Kyle, gadis yang akrab disapa Cassie, harus tegar menghadapi kenyataan hidup tanpa kehadiran sosok Eksel Kyle, sang Ayah.
Gadis itu menjalin kedekatan dengan seorang perwira pelaut bernama, Clee, yang adalah kakak dari teman dekatnya, Prilla.
Tiba-tiba dia dipinang oleh Ignas Wijaya, pengusaha muda yang tampan dan perhatian, namun lebih mendengarkan Lilian, ibunya.
Bagaimana kelanjutannya? Check it out ➡️
⚓
Cerita ini murni hasil pemikiran author setelah bersemedi di rawa-rawa selama berabad-abad.
Jika ada kesamaan nama, waktu, dan tempat itu hanya kebetulan semata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cephalgia
Memasuki tahun kedua pernikahan Cassie dan Ignas, belum juga ada tanda-tanda kehamilan. Cassie merasa terpuruk, melihat semua teman-temannya sudah naik level menjadi seorang ibu. Itu membuatnya enggan pulang ke Bandung karena merasa minder.
"Kita coba periksa ke dokter kandungan yuk, mas." Kata Cassie, saat di kamar bersama Ignas.
"Kapan-kapan yah, aku masih sibuk." Jawab Ignas, sekenanya.
"Kita udah hampir dua tahun loh, mas."
"Sabar dulu yah, nanti aku cari waktu yang pas."
Cassie berdecak kesal, Ignas selalu saja menunda-nunda sesuatu. Itu kebiasaannya sejak dulu. Kebiasaan itu jadi nestapa saat bertemu Cassie yang tidak sabaran. Wanita itu jadi terlihat ambisius di mata sang suami.
"Terserah."
Setetes butiran bening lolos dari sudut matanya. Cassie bukannya cengeng, dia hanya sedang marah. Sangat marah.
"Aku ke kantor dulu." Kata Ignas dengan cueknya.
Cassie menyeka air matanya lalu menuju ke dapur. Mood-nya sangat berantakan dan yang Cassie lakukan untuk memperbaiki mood adalah dengan bersibuk ria. Itu adalah kebiasaannya sejak dulu. Jika sibuk, dia akan melupakan kesedihannya.
"Sarapan dulu." Kata Enzi saat masuk ke dapur.
"Nanti aja, habis ini."
Setelah selesai mencuci piring, Cassie malah mencuci baju. Enzi sedang menikmati sarapannya sambil menggonta-ganti channel tv, saat Lilian ikut duduk di beranda belakang.
"Wah, si AT sudah hamil? Kan baru bulan lalu menikah." Lilian mengomentari salah satu acara infotaimen yang sedang mereka tonton.
"Tapi dia di tinggal suaminya." Timpal Enzi.
"Lah, kok gitu. Jahat banget suaminya."
"Memang gak punya hati."
"Gak usah nonton yang ginian, ganti aja channelnya. Ibu hamil tuh, gak boleh nonton ginian, gak bagus buat anak kamu, nanti jadi tukang gosip."
"Tapi neneknya suka nonton." Enzi terkekeh. Hening sejenak. Lalu Enzi mengganti channel.
"Ya ampun, lucu sekali baby nya."
"Anaknya siapa? Beruntung sekali." Lilian ikut berkomentar.
"Semoga nanti pas lahir, kamu selucu baby yang di tv yah, nak." Enzi mengusap-usap perutnya yang semakin membuncit.
Cassie menghela nafas panjang. Dia merasa sangat iri. Rasanya nasib baik tidak berpihak padanya. Dia juga ingin merasakan menjadi seorang ibu, tapi Tuhan belum mendapat kepercayaan.
...###...
Beberapa bulan kemudian, Damar di rujuk ke Surabaya karena terkena serangan jantung. Ignas dan Cassie ikut ke Surabaya menemani mami mendampingi papi.
"Bagaimana? Dada kamu masih sakit?" Tanya Widya saat datang membesuk. Widya adalah kakak ipar Damar yang juga tinggal di Surabaya.
"Sudah mendingan, mbak." Kata Damar sambil memegang dadanya.
"Tiba-tiba aja dadanya sakit terus jatuh pingsan. Satu minggu di rawat di rumah sakit Lombok, kita minta di rujuk ke sini aja." Jelas Lilian panjang lebar.
"Iya, memang bagusnya begitu. Peralatan medis di sini lebih memadai." Timpal Rahayu, kakak Damar yang datang bersama Widya. Mereka datang bertiga dengan suami Rahayu.
"Ignas apa kabar?" Tanya Widya.
"Baik, bude." Jawab Ignas.
"Jadi anak kamu sudah berapa?"
Cess!
Pertanyaan Widya barusan terasa sangat menohok bagi Cassie. Padahal Widya masih ada hubungan keluarga dengan Orin, ibu Cassie.
Tok tok
Kemudian pintu terbuka. Wina bersama Orin datang menjenguk di rumah sakit. Waktu Orin sedang ada urusan di Surabaya, sedangkan Wina memang bekerja di rumah sakit tersebut. Wina adalah keponakan Orin dari pihak ibunya dan juga keponakan Lilian dari pihak ayahnya.
"Eh, Jeng Orin juga datang?" Kata Lilian.
"Iya, Jeng. Kebetulan ada urusan di Surabaya." Jawab Orin.
"Kita lagi tanya Ignas dan Cassie, anaknya sudah berapa. Tapi yang di tanya gak sanggup menjawab." Ejek Widya.
Cassie diam mematung. Dia sangat mengharapkan support seseorang, entah Orin, Ignas, Lilian, atau Damar. Tapi mereka juga sama, diam saja.
"Kalian ini loh, sudah lama nikah tapi gak hamil-hamil. Kalian sengaja nunda apa emang gak mau punya anak?" Tuding Rahayu pada Cassie dan Wina.
"Iya, mbak, Wina juga belum ada anak. Padahal sudah hampir sepuluh tahun menikah. Sayang banget, padahal masih muda." Widya semakin mengintimidasi.
"Kalian bikin grup perkumpulan infertilitas, aja. Masukin juga tuh si A, si B, sama si C. Nanti tinggal pilih siapa adminnya." Rahayu tertawa penuh kemenangan.
"Iya cocok tuh, buruan bikin grup infertilitas." Widya tidak kalah senangnya menindas kaum muda yang belum beruntung itu.
Mata Cassie memanas. Dia sangat ingin memberontak, tapi dia berusaha mengendalikan diri agar tidak menyesal di kemudian hari. Lagi pula Wina yang lebih senior juga diam saja. Mungkin karena alasan kesopanan.
Cassie menjerit dalam hati. Dia hanya bisa menunduk menahan tangis, dia tidak ingin tangisnya pecah. Seandainya yang ada di ruangan itu Eksel, sudah pasti ayahnya itu akan membela Cassie mati-matian.
Seperti inikah rasanya di tindas? Oleh keluarga sendiri pula. Mana yang menindas sudah sesepuh, mana mungkin di lawan. Cassie menghela nafas panjang, mencoba menguatkan dirinya sendiri.
...###...
Dua minggu kemudian, keluarga Damar Wijaya kembali ke Lombok. Selain karena ingin istirahat di rumah, Enzi juga akan segera melakukan persalinan. Tentu Lilian harus mendampingi anaknya.
"Kamu kenapa?" Tanya Ignas pada istrinya. Sejak pulang, dia hanya berdiam di kamar dan memejamkan matanya sambil duduk.
"Aku pusing, mas. Rasanya kepalaku mau pecah."
"Aku ambilkan makanan yah, terus minum obat habis itu istirahat."
"Gak usah, mas. Rasanya mual lihat makanan."
"Tapi kamu harus makan, biar bisa minum obat."
"Nanti aja."
"Kalau gitu baringan aja, biar enak tidurnya."
"Kalau baring rasanya mau muntah. Kalau berdiri juga pusing banget. Lebih enak gini, mas."
"Kita ke dokter?"
"Nanti aja kalau udah mendingan. Pusing banget soalnya, mas."
Keesokan harinya, Ignas mengantar Cassie ke dokter praktek terdekat.
"Sepertinya ibu mengalami cephalgia." Kata dokter.
"Bukan vertigo, dok?" Sebelumnya Cassie sudah googling, dan dia merasa gejalanya sama dengan vertigo.
"Bukan, bu. Tapi kalau dibiarkan bisa berkembang menjadi vertigo." Ucapnya lagi. "Hindari stres dan perbanyak olahraga."
Jelas sekali, ini karena Cassie terlalu memikirkan perkataan kerabat ibunya. Lagi pula, siapa yang tidak sakit hati di sebut kalangan infertilitas? Bukannya di support biar kuat menjalani ikhtiar, malah di bully habis-habisan. Tega sekali, apalagi Cassie seorang anak yatim.
...###...
Di sudut ruangan yang cukup besar itu, Cassie menangis tersedu. Hatinya terasa ngilu, tercabik-cabik. Perasaannya sungguh terluka.
"Kalian bikin grup perkumpulan infertilitas, aja. Masukin juga tuh si A, si B, sama si C. Nanti tinggal pilih siapa adminnya."
"Iya cocok tuh, buruan bikin grup infertilitas."
Kalimat itu terus saja terngiang-ngiang di telinganya. Cassie merasa kepalanya akan segera meledak.
Dalam tangisnya, tak henti-henti dia memanggil ayahnya. Dari dulu, ayahnya sangat tidak terima jika Cassie sampai meneteskan air mata. Siapa pun tahu, bagaimana Eksel Kyle jika sedang marah, benar-benar merasa terbakar. Karena itu tidak ada yang berani menyulut api amarahnya.
Sayangnya, sosok yang selalu membela dan melindunginya sudah menghadap sang Khalik.
"Ayah... bawa aku bersamamu." Lirih Cassie tak henti.
Seandainya Eksel Kyle masih ada, tentu dia tidak akan membiarkan semua ini. Putrinya yang berharga bagai butiran debu sejak kepergiannya.
..
komplik nya ngga kelar"
Bener banget, thor. Keren 👍
Rasanya kyak datang jg ke tempat wisata yg di bahas, author.
Keren bgt pokoknya. Lanjutkan, thor