Di jodohkan oleh sang kakek kepada putra sahabat kakek nya. bertemu dengan jodohnya namun sangat tidak menyukai sifat angkuh sang pria.
Berpendidikan namun malas belajar, itulah jalan yang di pilih oleh Anggun aswani. gadis belia itu sudah tahu mengenai perjodohannya dengan seorang pria putra dari sahabat kakeknya itu. Anggun lebih memilih untuk belajar di rumah daripada pergi ke sekolah, usianya 18 tahun. dia tidak ingin perjodohan yang dilakukan dan dibuat oleh sang kakek menghancurkan masa depannya, pertemuan pertama dengan pria yang dijodohkan sang kakek itu menyebalkan, pertemuan kedua sangat menyebalkan, pertemuan ketiga itu lebih menyebalkan.
Namanya adalah Damian, pria berusia 15 tahun lebih tua dari anggun. Hal itu membuat Damian pun lebih memilih untuk tidak menghiraukan permintaan sang ayah untuk dijodohkan dengan gadis ingusan yang dipilih oleh sang ayah. akankah mereka bersatu dengan perbedaan yang begitu luar biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shafrilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada hati
"Memangnya kamu apa?" tanya Damian.
"Jangan banyak tanya kemarin kan bolpoinnya." jawab Anggun.
Damian memberikan bolpoin yang tadi dia pakai.
"Diam, jika tidak akan ku sobek kertas-kertas yang ada di atas mejamu itu." ancam Anggun yang membuat Damian terdiam.
Dengan segera Anggun membalas Damian dengan cara menggambar wajah Damian dengan ballpoin yang dia minta, Muchtar yang melihat kejadian itu tentu saja dia hanya terdiam.
"Rnak aja ya melakukan hal itu padaku, kamu kira wajahku ini papan tulis atau buku tulis dicoret-coret gitu." gerutu Anggun yang sudah menggambar di wajah Damian.
Muchtar ingin sekali tertawa namun dia menahan tawanya karena tidak ingin damaian murka, sedangkan Damian sendiri terlihat pria itu ingin sekali marah tapi Anggun sudah membawa salah satu berkas yang sangat penting di tangannya. Anggun berdiri di atas sofa menggambar wajah Damian.
Tatapan mata Damian menetap Anggun yang sedang menggambar di wajahnya, Entah apa yang terjadi namun jantung Damian tiba-tiba saja berdebar begitu kencang saat Anggun menatap wajahnya, karena debaran jantung yang begitu kencang seketika Damian menarik tubuhnya.
"Sudah kan, kau sudah menggambar di wajahku kan jadi kita impas!!" seru Damian.
"Aku ke sini itu minta diajari mengenai perusahaan bukannya minta diajari cara menggambar." jawab Anggun yang kemudian meletakkan kertas di meja sang suami.
"Mas minta tisu basahnya dong." pinta Anggun.
"Buat apa." jawab Muchtar.
"Buat ngepel lantai kantor, Mas." jawab Anggun yang membuat Muchtar ingin tertawa.
"Ya jelas buat membersihkan muka, kamu kira buat apa teriak Damian langsung keluar dari kantor Damian. pria itu mencari tisu basah untuk diberikan kepada Damian dan Anggun, setelah beberapa saat kemudian pria itu membawa tisu basah.
"Mas cari psikiater untuk mengajak konsultasi bosmu ini." ucap Anggun.
"Buat apa?" tanya Muchtar.
"Mungkin gilanya lagi kambuh." jawab Anggun.
Seketika Damian secara spontan menarik tangan Anggun hingga membuat Gadis itu langsung terjatuh di atas pangkuan Damian. melihat pemandangan itu seketika Dia sangat terkejut, pandangan mata Damian nampak menatap Anggun sedangkan Anggun sendiri Gadis itu bersikap begitu normal.
"Jangan main tarik-tarik, kalau tarikannya tadi sangat keras hingga membuat aku langsung menciummu bisa berabe tahu!" seru Anggun yang membuat Damian langsung mengangkat kedua tangannya dan meminta Anggun untuk segera menjauh dari dirinya.
Muchtar menatap Anggun, Gadis itu benar-benar bersikap begitu santai tanpa memikirkan apapun, bahkan seharusnya pemandangan tadi membuat Gadis itu merasakan berdebar atau wajahnya memerah malah wajah Damian yang terlihat memerah karena kelakuan Anggun.
"Udah bersih belum, mas?" tanya Anggun.
"Sudah." jawab Muchtar.
"Awas ya Lain kali kalau sampai menarikku secara tiba-tiba..," ucap Anggun.
"Memangnya kau mau apa?!" seru Damian.
"Akan ku arahkan bibirku ini ke bibirmu Biar tahu rasa." jawab Anggun yang kemudian tertawa terbahak.
Seharusnya Damian yang mengatakan hal itu atau mengancam Anggun, Malang Anggun lah yang mengancam Damian dengan kata-kata seperti itu.
"Dunia ini benar-benar terbalik." ucap Muchtar yang membuat Anggun melotot kepada Muchtar.
Akhirnya Anggun sudah keluar dari kantor Damian, Gadis itu kembali ke kantor kakek Wiryawan.
"Kok ada ya Gadis seperti itu Bos." ucap Muchtar.
"Tuh ada." jawab Damian.
"Gadis itu kalau ngomong gak di pikir banget Bos." ucap Muchtar.
"Dia itu gadis sinting, otaknya setengah miring makanya seperti itu." jawab Damian.
"Sinting sinting gitu istrimu loh Bos." ucap Muchtar yang membuat Damian melempar Muchtar dengan tisu basah.
"Jangan banyak bicara, cepat kau kumpulkan berkas-berkas itu karena kita harus segera rapat!" seru Damian.
Sore itu semuanya sudah selesai, Anggun terlihat sudah keluar dari perusahaan dengan mengenakan jaket kulit dan celana panjang. tatapan mata seorang pria nampak menatap Anggun dengan tatapan mata yang begitu terpesona. Siapa lagi kalau bukan Erik, pria itu begitu mengagumi sosok gadis muda yang bekerja satu naungan dengannya.
"Gadis ini benar-benar sangat luar biasa, bahkan dia adalah wanita yang tangguh." ucap Erik.
"Anggun!!" seru Erik.
"Iya Mas." jawab Anggun.
"Kau mau pulang sama aku nggak?" tanya Erik.
"Nggak Mas, aku mau pulang naik kendaraanku saja tadi Aku membawa motor kok." jawab Anggun
"Benarkah?" tanya Erik.
"Iya, aku pulang dulu ya Mas aku harus segera menyelesaikan beberapa pekerjaanku. kalau tidak selesai nanti aku dimarahi." jawab Anggun yang kemudian keluar dari perusahaan.
Tatapan mata seorang pria nampak menatap Anggun yang sudah bersiap-siap dengan kendaraan roda dua yang sudah dia pakai di area parkir.
"Lihatlah Muchtar Kenapa ada wanita seperti dia, apa mungkin waktu dia lahir itu salah tempat ya." ucap Damian yang sekarang pria itu seolah menjadi pria cerewet yang selalu bertanya kepada Muchtar.
"Memangnya ada apa bos?" tanya Muchtar.
"Dia itu kan wanita kenapa suka dengan sesuatu yang berbahaya." jawab Damian.
"Kurang tahu bos." jawab Muchtar.
Motor besar itu sudah dikendarai Anggun meninggalkan perusahaan yang super megah itu, tatapan mata Damian terus menetap Anggun yang sudah melaju dengan begitu kencang.
"Mungkin waktu dia lahir itu dia salah kelamin." ucap Damian yang membuat Muchtar begitu terkejut.
"Maksud Bos apa?" tanya Muchtar.
"Seharusnya dia itu lahir sebagai seorang pria bukannya wanita, kelakuannya aja seperti pria gitu." jawab Damian yang membuat Muchtar menggelengkan kepalanya.
Tak berselang lama terlihat sekitar satu atau dua jam kemudian Anggun sampai di rumah kakek Wiryawan, sedangkan Damian sudah 1 jam yang lalu sudah berada di rumah itu.
"Kau dari mana saja kenapa terlambat?" tanya Damian.
"Habis beli sesuatu, Tuan galak." jawab Anggun.
"Pasti kamu jalan-jalan ya, janjian sama cowok ya?" tanya Damian.
Anggun tersenyum wanita itu mendekati Damian yang dari tadi nyerocos panjang lebar tanpa ada hentinya.
"Tuan galak, Aku tadi dari supermarket membeli pembalut Apa kau mau ini? aku kasih satu." jawab Anggun yang membuat Damian langsung melengos dan pergi meninggalkan gadis itu.
Sesaat kemudian salah satu pelayan nampak mendekati Damian. "Tuan Damian!" seru pelayan pria.
"Ada apa." jawab Damian.
"Ada tamu, Tuan Damian." jawab si pelayan.
"Siapa?" tanya Anggun.
"Seorang wanita cantik Tuan Damian." jawab si pelayan.
"Siapa?" tanya Damian.
"Namanya Kalau tidak salah Nyonya Lucia." jawab si pelayan.
Seketika Damian terhenti pria itu meminta si pelayan untuk mengusir wanita itu. "Bilang pada wanita itu aku tidak ada di rumah." perintah Damian.
"Kenapa?" tanya Anggun.
"Memangnya kenapa." Jawab Damian.
"Dia kan tamu, dia ke sini untuk bertamu Kenapa harus diusir?" tanya Anggun.
"Itu urusanku." jawab Damian yang kemudian pergi ke kamarnya.
Terlihat Anggun menatap Damian yang berlalu pergi, raut wajahnya terlihat begitu kesal saat menyebut nama Lucia.
"Bilang aja sama wanita itu, kalau tuan muda tidak ingin diganggu." ucap Anggun yang membuat si pelayan langsung pergi.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- Black Rose
- Mommy
- Mantan terindah
- Suami keduaku cinta pertamaku
- Dewa perang dan Ratu sihir
- Permaisuri sang kaisar
- ijinkan aku bahagia bersamamu
- jangan sakiti aku
- pembalasan dendam Dahlia
- Permaisuri kesayangan kaisar
- my little wife