Mika Paramita, putri seorang yang bangkrut akibat dibohongi oleh sahabatnya sendiri. Di hari ayah Mika akan dihukum, seseorang datang menawarkan bantuan dengan syarat Mika harus menikah dengannya.
Mika yang saat itu sudah memiliki kekasih terpaksa harus menikah demi menyelamatkan keluarganya dan pindah ke rumah mewah milik suaminya. Akankah Mika bisa kembali ke kehidupannya yang sebelumnya dengan sang kekasih atau dia harus menerima takdirnya yang seumur hidup harus menjadi tawanan suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jia.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Manusia Biasa
Mika sedang duduk di bangku depan rumahnya seorang diri. Matahari sudah tenggelam berjam-jam yang lalu tapi tidak ada tanda-tanda Pram akan datang dan menjemputnya untuk dia bawa pulang. Siang tadi, Mika sempat mendapatkan telepon dari Bunda yang bertanya kenapa dia tidak ada di rumahnya. Di sambungan telepon itu Bunda mewanti-wanti apabila bukan Pram yang menjemputnya jangan sekali-kalinya pulang sendirian. Bunda bahkan berpesan pada Mika agar gadis itu tidak pergi ke manapun dan hanya diperbolehkan berada di rumah saja.
"Mika, kamu ngapain di situ? Nunggu suamimu pulang ya?" tanya Mama yang mencari keberadaan putrinya.
"Nggak juga. Aku justru lebih senang kalau dia nggak usah jemput aku aja. Biar aku nggak perlu kembali ke rumah itu lagi," kata Mika sembari menggeser duduknya agar Mama bisa bergabung dengannya.
"Nak..., maafin Papa sama Mama ya. Kamu jadi harus mengalami ini semua, maaf ya sayang," kata Mama.
"Jangan minta maaf lagi Ma, lagian Mika melakukan ini bukan hanya demi Papa dan Mama tapi demi Mika sendiri juga. Karena Mika nggak mau pisah dari Papa dan Mama," kata Mika.
"Mika, anak Mama. Kalau boleh Mama sarankan padamu apapun yang terjadi nanti, jangan sampai kamu terlarut dalam masalah keluarganya Pramudya ya. Kalau Mama lihat di sinetron kok kayanya ngeri banget permasalahan di keluarga kaya tuh. Mama nggak mau gadis kecil Mama ini menderita karena ulah keluarga kaya kebanyakan drama," kata Mama.
"Mama kebanyakan nonton sinetron deh. Nggak akan, Mika nggak akan ikut campur dalam hal apapun yang berkaitan dengan Echo Abadi Group dan keluarga pemiliknya. Lagi pula Mika itu bukan siapa-siapa di sana. Suatu saat nanti ketika Pram menikah dengan yang sebenar-benarnya juga Mika akan dibuang. Ketika itulah Mika akan pulang ke rumah Papa dan Mama. Biar kita bisa kumpul-kumpul lagi bertiga. Menjalani hidup sederhana tapi bahagia seperti sebelumnya," kata Mika yang menyembunyikan cerita tentang keluarga Pram di depan ibunya.
Mendengar penuturan putrinya yang begitu dewasa membuat Mama meleleh. Dia tidak menduga jika gadis kecilnya itu kini sudah tumbuh menjadi seorang wanita yang kuat dan tangguh. Bahkan tanpa kedua orang tuanya meminta dia dengan senang hati membagi beban kedua orang tuanya dan ikut memikulnya bersama-sama agar semakin ringan.
...***...
Mika tengah berbahagia ketika jam di dinding menunjukkan pukul 10 dan tidak ditemukan tanda-tanda Pram akan datang. Mika sudah mengunci pintu depan dan memilih untuk rebahan di kasur lamanya. Kasur yang sudah lama tidak dia tempati. Papa yang baru menyelesaikan pekerjaannya lebih dulu berjalan ke arah depan rumahnya untuk memastikan jendela dan pintu sudah terkunci rapat. Baru Papa akan berjalan, dari arah depan klakson mobil Pram terdengar.
Mika langsung kalang kabut. Dia kenal suara klakson dan mesin mobil Pram. Mika langsung berlari meraih handphone dan tasnya kemudian berjalan keluar karena takut jika Pram akan memarahinya lagi apabila Mika membuat laki-laki itu menunggu terlalu lama.
Mika berlari ke luar dari kamarnya untuk menemui Pram karena dia pikir Pram akan segera membawanya pulang. Tapi bukannya memutarbalikkan mobilnya, Pram malah memarkir mobilnya di halaman depan kemudian berjalan masuk mendekati Papa, Mama, dan Mika yang tengah mematung di ambang pintu.
Pram berjalan mendekati Mika dan ketika sampai persis di hadapan Mika yang masih mematung Pram berkata, "Aku lelah...."
"Ya sudah kalau begitu ayo kita segera pulang agar kau bisa segera istirahat," kata Mika berusaha memaklumi berhubung Pram memang benar-benar terlihat lelah.
"Tidak. Aku sudah tidak sanggup menyetir. Kita pulang besok pagi saja."
Kedatangan Pram yang tiba-tiba jelas membuat Papa dan Mama panik. Mereka langsung heboh membersihkan kamar Mika, menyiapkan handuk kering, pakaian yang terbaik yang ada untuk Pram berganti pakaian dan buru-buru menyiapkan makanan bila saja Pram ingin makan.
"Mama dan Papa tidak usah melakukan apapun. Aku akan langsung tidur saja," kata Pram mencegah kedua orang tua Mika melakukan sesuatu.
"Hey, di mana kamarmu?" tanya Pram kali ini pada Mika yang lagi-lagi hanya mematung di tempat.
"Ya? Itu kamarku," jawab Mika dengan wajah kebingungan tapi tetap menunjukkan arah menuju ke kamarnya.
"Eh tunggu. Kau mau tidur di sini lalu aku tidur di mana?" tanya Mika yang akhirnya menyusul Pram yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar.
"Di sini juga. Jangan bilang kau bercerita pada kedua orang tuamu kalau kita berbeda kamar. Kau ingin merusak nama baikku atau bagaimana? Kau tidur denganku malam ini. Tanpa alasan. Cepat tidur aku sudah lelah."
"Kalau kau sudah lelah ya tidur sendiri saja sana. Untuk apa mengajakku juga?!"
"Aku harus memastikan kau tidak tidur di sofa. Jadi kau harus lebih dulu tidur sebelum aku," kata Pram yang seakan bisa membaca pikiran Mika yang memang berencana untuk diam-diam keluar dari kamar dan tidur di sofa depan televisi.
"Kau begitu menyebalkan."
"Memang."
Pram langsung menarik Mika dan memaksa gadis itu merebahkan dirinya di samping Pram. Untuk mencegahnya pergi, dengan posesif Pramudya melingkarkan tangannya di pinggang Mika dan memeluknya dengan erat.
"Kau betulan menyebalkan," kata Mika berusaha melepaskan diri.
"Kita bahas besok saja. Aku tidak bohong, aku betulan lelah," kata Pram.
Malam itu akhirnya Mika terpaksa tidur di sebelah Pram. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu dan sejak pernikahan konyol itu dilakukan. Untuk pertama kalinya juga akhirnya Mika tahu bagaimana Pram jika sedang dalam tidurnya. Laki-laki itu terus bergerak gusar. Dia bahkan beberapa kali menggumamkan sesuatu yang tidak dia ketahui. Dia hanya terus menyebut kata "Kak", "Maaf", dan "Jangan pergi" dalam tidurnya.
Mika bisa melihat keringat dingin mulai membasahi dahi Pramudya juga membuat rambut laki-laki itu basah. Sekejap dia lupakan tentang seberapa menyebalkan dan bencinya Mika pada sosok laki-laki yang berstatus sebagai suaminya ini. Tangan Mika tergerak untuk menyeka keringat dingin itu kemudian menepuk-nepuk bahu Pram pelan membuat satu butir air mata lolos begitu saja dari pelupuk mata seorang Pramudya Hafsya.
Mika baru menyadari, jika ternyata orang semenyebalkan dan sedingin Pram ternyata juga menyimpan luka di dalam hatinya. Ditambah lagi dengan fakta yang Mika tahu tentang keluarga besar Pram yang persis seperti Mama bilang sore tadi, penuh drama. Hal itu membuat Mika tidak tega, jadi dia terus menepuk bahu Pram hingga beberapa waktu kemudian Pram kembali tenang dan kembali terlelap.
"Ternyata kamu juga hanya manusia biasa," batin Mika sembari menatap lekat wajah Pram yang masih seperti orang ketakutan.