Indonesia
NovelToon NovelToon
Poor Girl

Poor Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Romansa / Guru Jahat
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: melciballu

Khayla adalah gadis dengan reputasi buruk di masa sekolahnya. Bar-bar, keras kepala, pembuat masalah, itulah yang orang-orang ingat tentangnya. Namun di balik sikapnya yang liar, ia hanyalah remaja yang sepi dan haus akan kejujuran, kasih sayang, dan pengakuan.

Hidupnya berubah drastis setelah dikhianati oleh orang yang ia percayai sepenuh hati, dijebak oleh orang-orang yang membencinya, dan kehilangan semua arah dalam satu peristiwa yang nyaris merenggut jiwanya. Sejak hari itu, Khayla memilih diam. Tak lagi membalas, tak lagi melawan. Ia menyimpan semuanya dalam-dalam, termasuk rasa sakit yang tak pernah selesai.

Setelah lulus, ia meninggalkan masa lalu dan memulai hidup baru di kota lain. Ia memilih bekerja di rumah keluarga kaya yang penuh misteri, Khayla berusaha tetap tak terlihat. Namun hidup membawanya kembali pada jejak yang tak pernah benar-benar hilang.

Satu kamar, satu nama yang dikenalnya, dan satu wajah yang tak asing, membuka kembali pintu-pintu luka yang telah ia kunci rapat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon melciballu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

part 16

Desas-desus soal kondisi Khayla tersebar begitu cepat. Beberapa siswa mulai membicarakan peristiwa aneh di sekolah, terutama tentang Khayla. Si gadis pembuat onar yang ditemukan pingsan dengan luka di gudang belakang. Tak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi, apalagi karena semua rekaman CCTV di sekitar area itu tiba-tiba menghilang dari sistem.

Sementara itu, di salah satu sudut rumah megah bergaya kolonial, Sila duduk gelisah di kamarnya. Tangannya bergetar saat membuka layar ponselnya dan membaca ulang pesan dari Riva.

“Khayla udah sadar, katanya sempat nyebut nama lo waktu ditanya guru-guru.”

Wajah Sila memucat. Ia menatap bayangannya di cermin, lalu bergumam penuh kekhawatiran. “Kalau Ayah tahu… habis aku.”

Ketakutan itu bukan tanpa alasan. Sila tahu siapa Khayla sebenarnya. Bukan hanya musuh bebuyutan di sekolah, bukan sekadar cewek yang mendekati Keno. Khayla… adalah anak dari rahasia besar masa lalu ayahnya sendiri.

Pak Darmawan, ayah kandung Sila sekaligus pemilik SMA Garuda pernah terlibat hubungan gelap dengan seorang wanita saat masih menjabat sebagai kepala yayasan di masa mudanya. Wanita itu adalah ibu Khayla. Hubungan itu tak pernah diketahui publik.

Sila menemukan kebenaran itu saat mendengar percakapan antara ayah dan ibunya bertahun lalu. Sejak saat itu, rasa benci dan dendam tumbuh dalam dirinya. Mengetahui dirinya harus berbagi darah dengan gadis seperti Khayla, membuatnya merasa jijik. Ia merasa direndahkan. Khayla adalah aib yang berjalan di bawah satu atap sekolah milik ayahnya.

Dan sekarang… semuanya bisa terbongkar jika Khayla bicara.

“Sil, kamu harus tenang,” ucap Bunda Sila dari ambang pintu.

Sila menoleh cepat, “Bu… aku takut. Kalau Ayah tahu semuanya, dia pasti…"

“Ssst…” Bunda Sila mendekat, menaruh telunjuk di bibir Sila. “Ibu sudah urus semuanya. CCTV sudah dihapus dari server sekolah. Kepala sekolah dan guru piket sudah diberi peringatan agar tidak ikut campur.”

Sila memandang ibunya dengan bingung. “Ibu… serius?”

“Tentu saja. Ibu tidak akan membiarkan anak hasil dari perempuan murahan itu menghancurkan keluarga kita,” ucapnya dingin.

Sila menggigit bibir bawahnya. Wajahnya tampak masih bimbang. “Tapi… dia tahu, Bu. Dia tahu aku yang mukul dia… dan sekarang semua orang sudah bicara…”

“Ibu yang akan atur semua ini. Kamu cukup diam dan jangan bertingkah aneh di sekolah. Kalau perlu, pura-pura sedih. Tunjukkan bahwa kamu juga merasa kehilangan,” perintah ibunya tegas.

Sila mengangguk perlahan, masih dengan wajah pucat.

Berita soal kondisi Khayla mengalir cepat pagi ini. Aula belakang, kantin, lorong-lorong kelas, bahkan di grup chat angkatan semuanya penuh spekulasi. Tak sedikit yang bersimpati, banyak pula yang hanya menjadikan kejadian itu sebagai bahan gosip.

“Lo dengar nggak? Si Khayla tuh katanya diserang,” ujar seorang siswa di kantin.

“Di gudang belakang. Yang bikin serem, CCTV-nya tiba-tiba hilang semua. Gila, kayak drama Korea,” timpal yang lain.

Meski tidak ada bukti konkret, satu nama yang paling sering disebut dalam bisik-bisik itu: Sila.

Namun karena tidak ada pengakuan dari Khayla sendiri, dan pihak sekolah seakan bungkam, tuduhan itu menggantung di udara tak pernah menyentuh permukaan.

**

Di sisi lain, Khayla masih belum kembali ke sekolah. Ia sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, namun dokter menyarankan untuk istirahat total hingga kondisinya pulih.

Di rumah, Khayla lebih banyak diam. Matanya sering kosong, pikirannya melayang. Tak ada yang datang bahkan hanya sekedar menjenguknya. Hatinya mengecil seketika, sangat ridak enak hidup sebagai sebatang kara bahkan dari pihak sekolah yang jelas-jelas tahu keadaannya tidak peenah menjenguknya, beruntung biaya rumah sakit ditanggung pijak sekolah. Dirinya yang semenjak kenal Keno mulai malas malasan peegi bekerja ditambah lagi dengan keadaannya yang sekarang membuatnya mendapatkan pesan untuk tidak bekerja lagi tadi pagi.

Pak Bara, Khayla belum melihatnya semenjak hari itu, hari dimana Khayla menginap diapartemennya. Guru itu hilang begitu saja. Kedekatannya dengan Keno membuatnya tidak menyadari banyak hal yang telah berubah. Ah mengingat nama itu membuat hati Khayla kembali nyeri.

Tidak pernah merasa didekati oleh lawan jenis, apalagi sudah tunbuh perasaan lebih membuatnya merasakan sakit seperti itu untuk pertama kalinya.

**

Sementara itu, di luar kota, Pak Darmawan sibuk dengan urusan bisnis yayasan di cabang sekolah lain. Ia tidak tahu menahu tentang kondisi Khayla. Tidak ada laporan resmi yang masuk ke meja kerjanya, tidak ada surat, tidak ada kabar.

Itu semua adalah hasil kerja diam-diam dari istrinya, Retno.

Wanita itu sudah lebih dulu menyusun rencana agar tak satu pun informasi tentang kejadian itu sampai ke telinga suaminya. Ia tidak ingin lelaki itu kembali lembek dan mengasihani darah dari wanita lain.

Retno menyuruh staf IT untuk menghapus data CCTV, menyuap penjaga gudang, dan memberi “pesan tegas” kepada kepala sekolah agar tidak membuat laporan formal.

“Biarkan gadis itu diam dengan luka dan rahasianya,” ucap Retno kepada dirinya sendiri di dalam mobil saat kembali dari sekolah.

**

Dan memang benar. Khayla bungkam.

Retno datang ke rumah sakit pada hari kedua Khayla dirawat. Ia menyamar sebagai kerabat pihak sekolah, datang hanya bersama sopirnya. Dira saat itu sedang membeli makan di luar.

“Aku tahu kamu tahu siapa aku,” ujar Retno langsung, tatapannya menusuk.

Khayla hanya menatapnya dengan wajah kosong.

“Kamu pikir dengan mengaku, semuanya akan berubah? Kamu pikir ayahmu akan menyambutmu dengan pelukan?”

Khayla menggertakkan rahang. “Aku nggak butuh pelukan siapa pun.”

“Bagus,” jawab Retno cepat. “Karena kamu nggak akan pernah dapat itu.”

Wanita itu mendekat, lalu menyisipkan sebuah surat ke bawah bantal. “Bacalah. Tapi tahu satu hal… Jika kamu buka mulut, kamu bukan hanya akan menghancurkan dirimu sendiri, tapi juga satu-satunya orang yang masih menganggapmu bagian dari hidupnya. Pak Darmawan.”

Khayla terdiam. Retno berdiri, membenarkan kerah jasnya, lalu pergi tanpa kata lain.

Saat membuka surat itu, Khayla hanya membaca dua kalimat:

“Diam adalah kekuatanmu. Kebenaran tidak selalu membawa keadilan.”

**

Hari ke tujuh, Khayla kembali ke sekolah.

Langkahnya pelan, tubuhnya masih belum seratus persen pulih. Tapi matanya… matanya berbeda. Tak ada lagi kilat bar-bar yang dulu sering muncul. Hanya tatapan dingin, tenang, nyaris datar.

Siswa-siswa menatapnya dengan bisik-bisik. Beberapa berani menyapa dengan ragu, tapi Khayla hanya membalas dengan anggukan singkat, tanpa senyum.

Sila memperhatikannya dari kejauhan, duduk di bangku dekat taman sekolah bersama Riva dan Ela. Wajahnya tegang. Saat mata mereka bertemu, Khayla hanya menatap balik sebentar, lalu berjalan melewatinya tanpa ekspresi.

Tak ada tuduhan. Tak ada pengakuan. Hanya keheningan yang menyiksa.

Itulah hukuman sebenarnya.

**

Di kelas, Khayla menatap bangku kosong di deretan depan. Bangku yang biasanya diisi oleh Pak Bara saat pagi hari.

Sudah beberapa minggu. Tidak ada pemberitahuan resmi dari pihak sekolah. Tidak ada kabar.

Seperti tenggelam. Seperti ingin menghapus jejak.

Khylah meremas pena di tangannya.

**

Bel tanda pulang berbunyi. Khayla berkemas perlahan.

Saat keluar dari gerbang sekolah, ia melihat sosok Keno berdiri di seberang jalan. Wajahnya cemas, menyesal.

Tapi Khayla tidak menghampiri.

Dia hanya menatap sebentar, lalu berjalan menjauh.

Keno tak mengejar. Dia tahu… semua sudah terlambat.

1
Fidiya Ratu
lanjut thorrr...
falea sezi
krja donk bodoh
falea sezi
q kira kaya raya taunya miskin tp nakal
Tata Hayuningtyas
cerita nya bagus dan plot twist bgt
Tata Hayuningtyas
satu kata buat author....emejing...kata2 nya beraturan dan cerita nya plot twist bgt...bintang 5 buat authornya
Chimm: makasih kakak🥰
total 1 replies
Fidiya Ratu
bikin deg" an thorrr..../Smirk//Pray/
Chimm: ditunggu lanjutannya yah kak🥰
total 1 replies
Fidiya Ratu
lanjut thorrr...
Bunda Fariz
bagus lo crita ya lanjut doonggg
Chimm: ditunggu yah😊
akan aku usahakan buat update tiap hari😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!