Ini tentang seorang cewe pendiam, dan cuek sama semua laki laki yang sedang berjuang untuk mewujudkan impiannya "My first boyfriend is my husband". Tapi siapa sangka Syaiqa justru terjerat sial. Semuanya dimulai saat ia bertemu Rays, cowo terkeren dikampus dengan sederetan mantan. Kasus risih dan nomor ponsel imbas dari "kontrak belajar" memulai takdir baru mereka.
Bagaimana ya kira-kira proses belajar Rays dan Syaiqa apakah berjalan mulus atau mungkin malah nambah kontrak "pacaran pura pura". Wah wahh wahh .. ada ada saja mereka.
Nona Muda Hasmana vs Tuan Muda Hariwijaya
Ck'! Model itu lagi... Sok jual mahal lagi! Ya Tuhan! Kapan ketemu cewe yang bener sih?
( Awas ya Rays kalau sampai bucin..^
Kenapa kamu seolah terus menggangguku Kak?
Apa seharusnya aku ikuti saja kemauanmu dulu?
Yukkk ikutin kisahnya! Semoga kalian suka ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Albatul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tugas
Beberapa hari telah berlalu. Rays meliburkan privat selama dua kali pertemuan dengan alasan sedang banyak kegiatan. Ia juga memberilan beberapa tugas untuk Syaiqa dan yang lainnya. Hari ini seusai mata kuliah terakhir Syaiqa mengajak teman-teman privatnya untuk makan siang bersama di kantin kampus. Seperti biasa tempat itu selalu ramai pada jam-jam tertentu. Ia memang cukup bijak dalam menata hatinya dengan baik, dan tidak lagi dibayang-bayangi prasangka tidak berdasar. Seiring berjalannya waktu kepanikan itu hilang begitu saja.
Derya dan Feira duduk bersebelahan sambil mengecek kembali tugas mereka. Syaiqa duduk di samping Naya yang sedang menikmati hidangan favoritnya di atas meja.
"Qa, menurut kamu udah betul belum sih punya aku?" Derya menunjukkan tugasnya pada Syaiqa.
"Eum ini bagus materinya. Yang ini di jelasin sedikit lagi biar lebih detail." Syaiqa dan Derya berdiskusi panjang lebar perihal tugas mereka.
"Emang ya kalau orang udah pro. Gak kayak kita?" Kata Naya pada Feira.
"Aku gak ya, Kak Naya saja. Aku kelihatan santai karena aku yakin tugas aku juga gak ada yang salah." Feira menatap Naya dengan penuh percaya diri.
"Alah...sok kamu, salah gak sih palingan di suruh buat ulang." Timpal Naya seolah penuh kemenangan. Feira menatap Naya antara kesal dan menahan senyumnya. Dan akhirnya......
"Hahaha" Tawa mereka berdua pun pecah. Mereka menertawakan diri mereka yang terkadang memang suka overdosis pada dirinya sendiri. Derya dan Syaiqa hanya tersenyum melihat kekocakan manusia di samping mereka.
Jam menunjukkan pukul dua siang. Mereka bersiap-siap menuju ruang privat.
"Kak, Kakak itu gak musuhan kan sama Kak Rays."
"Maksud kamu?"
"Soalnya ya Kakak itu selalu aja cari-cari kesalahan Kak Rays. Kayak gak sepemikiran gitu gak sih sama Kak Rays."
"Apaan sih Ra, emangnya maunya kamu gimana, Syaiqa jadi robot gitu. Nge iyain semua yang dibilang Kak Rays. Ntar kalau disuruh buka hati gimana?" Timpal Naya tanpa diperintah.
"Jehhhh, kok Kak Naya yang sewot sih. Saya itu lagi ngomong sama Nona Muda anda ya Kak Naya yang cerewet. Lagian itu so sweet tahu lihat pemandangan debat mereka berdua." Feira cekikikan sendiri membayangkan perdebatan mereka tempo hari. Sudah seperti minyak dan air. "No debat, no party."
"Cih, anak kecil tahu apa sih. Mendingan belajar yang rajin, biar cepat lulus."
"Ehhh, aku itu cuman beda satu setengah tahun sama kalian ya! Itu malah tandanya aku itu pinter. Gimana sih, makanya amalin nasehat Kak Rays bilang dong. Otak di pakai."
"Sama saja, pokoknya kamu di bawah umur. Gak boleh bahas yang di luar kapasitas titik." Feira pun menjadi tambah kesal. Ia mengambil ponsel dan menekan-nekannya guna mengalihkan perhatian. Syaiqa yang di sampingnya tidak menanggapi apapun ia hanya menatap keduanya dengan pasrah. Derya yang sedang fokus berjalanpun hanya bisa tersenyum. Padahal diam-diam dia juga mengakui yang dikatakan Feira. Hanya saja ia tidak punya keberanian seperti Feira yang blak-blakan. Lagi pula juga tidak baik membicarakan hal yang tidak berdasar dengan hanya mengandalkan pemikiran saja.
Di tengah perjalanan mereka melewati beberapa kakak kelas yang sedang nongkrong di area taman belakang. Salah satunya Kak Vero. Kak Vero melihat ke arah mereka dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Syaiqa yang memang selalu tampil cuek justru tidak menyadarinya. Hanya Derya yang begitu jeli dan dapat merasakan tatapan aneh mereka.
"Cepat sedikit jalannya dong." Kata Derya sesekali mencuri lihat ke arah samping.
"Apaan sih Kak De." Feira mencebik kesal karna ia sedang memainkan ponsel di tangannya.
"Iya, ni nanti keburu Kak Rays duluan yang datang." Akhirnya Syaiqa menganggukkan kepala dengan polos mengikuti langkah Derya, Feira dan Naya pun menyusul.
Sampai di kelas mereka membersihkan ruangan terlebih dahulu. Kelas itu memang sudah menjadi tanggung jawab mereka, termasuk menjaga kebersihan ruangannya. Tidak banyak yang perlu di bersihkan hanya menyapu lantai dan membersihkan debu di meja. Lima belas menit kemudian Kak Rays datang. Suasana kelas yang hangat sudah menjadi kebiasaan mereka, lima belas menit pertama selalu diisi dengan tema bebas. Mereka harus cukup hati-hati dengan Feira, jika tidak bocah itu bisa membocorkan apapun yang tidak mereka ingin kan. Memang susah ya kalau anak di bawah umur. Tetapi Syaiqa tidak pernah mempermasalahkannya. Lagi pula pintar-pintar mereka menghadapi bocah yang sudah mereka anggap adik mereka itu. Selama ini hubungan mereka memang bertambah dekat. Syaiqa yang semula tidak memiliki teman akrab kecuali Naya. Sekarang bertambah Derya dan Feira.
🌺🌺🌺
Rays berjalan menuju ruangannya. Di tangan kanannya ia membawa sebuah berkas. Saat masih berada di luar ia sudah bertetiak memanggil zain.
"Zain!"
"Iya Bos." Dengan cepat Zain menyambut kedatangan Rays yang baru saja tiba di pintu masuk. Ia juga mengambil alih berkas-berkas dan bahan ajar dari tangan Rays.
"Coba lihat berkas itu!" Ia beranjak menuju sofa.
"Apa ini bos, karya anak-anak privat?"
"Karya Syaiqa." Katanya dengan penuh antusias sambil memainkan bolpoin di tangannya. Wajahnya yang cerah mengundang tanda tanya di pikiran Zain.
"Wah, keren ya Bos. Ini bisa jadi karya ilmiah." Benar kan jawabanku. Bibirmu saja langsung merekah mendengar jawabanku.
"Iya dong. Coba periksa lagi baguskan?"
Iya, iya bagus. Tanpa harus di periksa lagi memang sebatas itu saja kan penilaianku. Zain mulai membuka lembaran demi lembaran kertas yang dimaksud. Apa ini. Seharusnya kan tidak begini. Bagus sih. Tetapi masih terlalu banyak yang harus di perbaiki, agar benar-benar bisa di terbitkan menjadi sebuah karya. Ahh susah memang kalau lagi jatuh cinta. Yang salah pun tampak benar. Hehe.
"Udah keren kok Bos."
Matamu memang masih bagus Zain. Rapikan berkas-berkas itu, dan salin semuanya."
"Baik Bos."
Aku pastikan aku tidak akan begitu bila jatuh cinta. Menggelikan. Zain hanya bisa menggerutu dalam diam. Mana mungkin ia berani mengutarakan persaannya. Bisa-bisa lembur satu bulan. Rays yang duduk manis di atas sofa kembali mengingat kejadian di ruang privat tadi.
"Oke, semua tugasnya bagus hanya sedikit yang perlu di koreksi. Sebelum kelas berakhir, ada yang ingin ditanyakan lagi?"
"Kak, saya sedang menyusun beberapa tulisan. Tapi ini ada yang sudah selesai." Kata Syaiqa menyerahkan sebuah berkas kepada Rays.
Rays mulai membuka dan melihat-lihat isinya. "Bagus kok, kamu kerjakan sendiri?"
"Iya Kak, coba di koreksi Kak. Mungkin masih banyak yang perlu diperbaiki."
"Baik, nanti akan Kakak koreksi ya. Berarti berkasnya Kakak bawa dulu ya."
"Iya kak."
Rays pun keluar dengan bibir yang melengkung tersenyum penuh arti.
Menarik. Bisa-bisanya anak semester baru mau buat karya. Anak Pak Hasmana memang luar biasa.
Rays pun membawa berkas-berkas itu dengan bangga.
Zain yang melihat Rays senyum-senyum sendiri hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Sepertinya hari-hariku ke depan tidak akan setenang dulu lagi. Bagi Zain lebih mudah menghadapi cewe-cewe yang mendekati Rays dibandingkan yang ingin didekati Rays. Huhft!
Selamat tinggal hari bahagia ku.... Zain
lanjut