Akankah kisah cinta Rendra dan Amira bisa bersatu, saat status sosial mer
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asda Tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berkenalan Dengan Gadis Cantik
"Kamu kenapa tertawa, apa saya lucu?" ucap sang gadis dalam isak tangisnya.
"Kamu terlihat lucu saat menangis."
"Emang saya badut?"
"Kan yang lucu nggak cuma badut, boneka 'kan juga lucu."
"Tapi tetap saja kamu menertawakan aku!"
Dalam rengek dan isak tangisnya, sang gadis masih sempat menginjak kaki Rendra dengan high heels 7 cm yang ia kenakan.
"Aduh, sakit!"
Rendra mengaduh karena kesakitan.
"Makanya jangan nyebelin."
Sang gadis menengadahkan wajahnya menatap Rendra. Pada saat itu lampu lift menyala terang hingga dua pasang bola mata itu saling bertemu.
'Cantik sekali wanita ini,' ucap Rendra di dalam hati.
Rendra erasakan debaran jantung sang gadis cantik bergaun putih yang saat ini masih berada dalam pelukannya.
"Nona, Tuan, apa kalian berdua tidak apa-apa?"
Lift terbuka dengan beberapa orang petugas keamanan ada di depan lift datang menghapiri Rendra dan sang gadis.
Sontak dua orang yang berpelukan itu langsung melepaskan diri dan mengambil selangkah ke belakang untuk menjauh. Ya, mereka berdua saling salah tingkah dan malu-malu meong.
Dua wajah juga langsung menunduk dengan wajah yang sama-sama merona.
"Terima kasih, Pak, sa-saya tidak apa-apa!"
Dua insan itu mengucapkan kata-kata yang sama secara serentak dan gugup serta terbata-bata.
Mereka berdua bahkan berusaha keluar dari lift secara serentak juga hingga tubuh keduanya kembali bersentuhan.
Semua mata yang menyaksikan pemandangan itu, menatap dengan senyum-senyum tipis hingga keduanya menjadi malu-malu.
Ha ..., Ha ..., Ha ....
Keduanya akhirnya saling menatap dan sama-sama tertawa terbahak-bahak karena sadar dengan kelucuan dan keanehan sikap mereka berdua.
"Maaf!" lagi dan lagi mereka berdua berbicara serentak.
"Saya ...!"
"Aku ...!"
Rendra dan sang gadis beberapa kali berbicara serentak hingga keduanya kembali tertawa lepas dan terbahak-bahak.
Rendra kemudian menatap kepada gadis itu, senyumnya yang lepas terlihat sangat manis dan mempesona, terlihat sangat cantik sekali seperti seorang bidadari.
"Cantik!" ucap Rendra spontan hingga tawa sang gadis terhenti dan langsung menatap ke arah Rendra.
"Apa yang kamu katakan?"
Sang gadis menatap dengan tatapan berbinar, meminta Rendra mengulang kembali apa yang baru saja dikatakannya.
"Kamu terlihat sangat cantik," ujar Rendra lagi dan kali ini dengan nada lantang yang terdengar jelas di telinga gadis itu.
Sang gadis tersenyum malu dengan wajah memerah.
"Rendra, Tania, kalian disini?" sapa pak Haris atasan langsung Rendra dengan senyum semeringah.
Pak Haris berjalan menghampiri Rendra dan Tania, gadis cantik yang bertemu dengan Rendra di lift secara tidak sengaja.
Sebagai seorang sekretaris, langsung berjalan menghampiri pak Haris dengan sopan dan sedikit malu karena ia datang tidak dengan mengenakan pakaian kerjanya.
"Selamat pagi, Pak Haris," sapa Rendra ramah dengan senyum menawan dan terbaik yang ia berikan.
"Pagi, Rendra, ka-mu?"
Pak Haris memperhatikan Rendra dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Penampilan gagah layaknya artis Korea itu membuat pak Haris saja sebagai lelaki merasa pangling dan terpesona melihat ketampanan Rendra, apa lagi para wanita, tentu saja mereka akan klepek-klepek dengan Rendra.
"Maaf, maaf karena saya berpakaian santai seperti ini karena saya buru-buru berangkat ke kantor setelah mendapatkan telepon dari Haris," jelas Rendra.
"Apa kamu akan pergi jalan-jalan bersama keluargamu?"
"Tidak, Pak, kami hanya ingin liburan ke kampung untuk mengingat kenangan indah semasa kami tinggal disana bersama keluarga utuh seperti Ibu dan Ayah. Ibu saya hanya ingin mengenang Ayah saya."
Pak Haris tersenyum dan mengangguk-anguk, pertanda beliau paham dengan apa yang diungkapkan Rendra.
Pak Haris juga tidak mempermasalahkan penampilan Rendra yang terlihat cool dan tampan dengan baju yang ia kenakan.
Ya, sejak menjadi orang kepercayaan pak Haris, Rendra memang bekerja maksimal, setia dan bertanggung jawab atas beban pekerjaan yang diberikan kepadanya.
"Oh iya, Rendra kamu sudah kenal dengan Tania?"
Pak Haris menatap kepada gadis cantik yang saat ini ada di samping Rendra.
"Om Haris," ucap Tania dengan senyum termanis yang ia berikan kepada pak Haris.
'Om? Jadi Pak Haris adalah Om dari gadis cantik yang bernama Tania itu?' ucap Rendra di dalam hati.
Rendra penasaran dengan Tania dan ingin tahu banyak tentang gadis cantik itu, termasuk kedatangannya ke kantor ini.
"Rendra,Tania adalah salah satu model yang akan memperagakan busana trand terbaru dari perusahaan kita untuk bulan depan. Jadi saya berharap kamu bisa bekerjasama dengan baik dengan Tania termasuk memenuhi segala macam kebutuhan dan hal-hal yang berkaitan dengan fashion show kita nanti," ujar pak Haris menjelaskan.
"Baik, Pak."
Rendra bersemangat dan termotivasi sekali untuk mengadakan kegiatan fashion show itu. Ya, pekerjaan pertamanya sebagai seorang sekretaris dan terlebih lagi ia dipertemukan dengan seorang gadis cantik yang menarik hati dan perhatiannya.
"Kalau begitu kita bicara di dalam saja untuk persiapan dan segala macam hal yang perlu disiapkan. Kasihan anak gadis berdiri saja, apalagi sepetunya rusak."
Pak Haris berjalan duluan memasuki ruang kerjanya, sementara aku merasa terusik dengan kata-kata terakhir beliau.
Mata Rendra tertuju pada Tania, Rendra menatap Tania dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ternyata benar, high heels yang Tania kenakan rusak, hingga gadis itu kesulitan untuk berjalan.
Tanpa berkata apa-apa, Rendra segera berlari ke ruang kerjanya yang bersebelahan dengan ruangan pak Haris.
Rendra membuka laci kerjanya dan mencari sendal atau sepatu yang bisa ia berikan kepada Tania.
'Dimana ya sepatu itu?' batin Rendra.
Rendra terus memeriksa lemarinya, ia ingat pernah membelikan sepatu untuk Amira sebagai ucapan terima kasihnya atas kebaikan hati gadis cantik itu, namun sampai saat ini Rendra lupa nemberikan kado itu kepada Amira.
"Akhirnya ketemu!"
Rendra terlihat kegurangan, senyumnya mengembang ketika menemukan sebuah tote bag yang berisikan sebuah sepatu.
'Sepertinya ukuran kaki Amira sama dengan gadis itu, aku berikan saja sepatu ini untuknya nanti aku belikan lagi sepatu yang lebih bagus untuk Amira,' ucap Rendra di dalam hati.
Rendra segera berlari keluar ruang kerjanya dan menatap ke arah Tania yang saat ini tengah berdiri dengan kaki ayam sembari memegang sepatunya yang rusak sebelah.
"Tania,"
Sapaan lembut yang terdengar sangat manis, membuat siapa saja akan langsung menatap kepada suara itu, apalagi pemilik suara itu adalah lelaki yang sangat tampan layaknya artis Korea.
"Tania, apakah kamu mau memakai sepatu ini?"
Rendra mengulurkan tote bag itu kepada Tania. Namun Tania terlihat ragu menerimanya dengan sorot mata yang terlihat berbeda.
Tanpa meminta persetujuan Tania, Rendra berlutut, kemudian memasangkan sepatu kulit berwarna coklat dengan pita yang membuat sepatu itu terlihat cantik dan manis jika dipakai di kaki mulus Tania.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Tania.