Pembunuhan misterius yang semakin marak terjadi di berbagai kota menjadi trending di media sosial. Tak sedikit netizen mulai mengaitkan teror pembunuhan ini dengan hal-hal gaib. Beberapa orang yang tidak percaya akan hal mistis juga ikut menebar teori dan rumor. Sebutan "Dot" muncul untuk memberi identitas pada penyebab dan pelaku pembunuhan ini yang diyakini sebagai entitas misterius yang tak kasat mata.
Alvan, seorang lulusan SMA, bertemu dengan Lumia, seorang gadis misterius yang memberitahukan bahwa ayahnya telah meninggal dunia. Alvan menyadari bahwa dia adalah seorang Focus dan memutuskan menjadi Pemburu Dot bersama Lumia untuk menumpas ancaman Dot serta mencari tahu misteri di balik kematian ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DaRezu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Red Girl
Di dalam sebuah ruangan yang dihiasi dengan berbagai unsur kain berwarna putih, seorang gadis berambut pendek terbangun dan duduk di tepi kasur yang tertata rapi. Aroma kimia khas obat dan cahaya lembut dari lampu langit-langit memberikan sentuhan misterius pada lingkungan tersebut.
Setelah diperhatikan ruangan ini semacam klinik dengan luas 3 x 6 meter, dengan ranjang putih berderet tiga melintang di sisi kiri ruangan. Meskipun begitu ruangan ini memiliki nuansa yang tidak biasa dengan bermacam objek dan perangkat yang tak lazim yang jarang terlihat. Seperti dibuat khusus untuk menangani sesuatu.
Seorang perempuan tengah baya dengan riasan wajah modis dan berkacamata, mengenakan jas medis putih yang profesional namun kontras dengan kaos ungu yang memberikan sentuhan sensual terlihat duduk di kursi meja kerjanya yang agak berantakan.
"Oke, pemeriksaan kali ini cukup sampai di sini." Sambil menutup catatannya, Dia berbicara dengan lembut meskipun ada perasaan cemas yang tidak bisa dia sembunyikan. "Meskipun sedikit, namun itu semakin menyebar."
Si gadis yang mengenakan tanktop hitam itu turun dari kasur, wajahnya diterpa sinar mentari yang masuk dan menunjukkan rambutnya yang berwarna merah gelap. Sesi check up ini memang agenda rutin dan menjadi bagian dari hidup gadis itu, dan wajahnya mencerminkan penuh kepasrahan sembari memegang erat lengan kirinya yang sekilas terdapat bercak hitam di pergelangannya.
Gadis berambut merah itu memberi senyuman kecil sebagai tanggapannya, seperti merasa berterima kasih karena pemeriksaannya. Dia berjalan menuju sisi ruangan untuk mengambil kemeja putih nya yang tergantung di gantungan dinding, bersamaan blazer kuning dan syal coklat tua nya.
Sementara memakai pakaiannya, perempuan dengan jas medis putih memutar kursinya dan menatapnya dengan intensi serius ke gadis itu. "Ingatlah untuk tidak terlalu sering menggunakan 'itu'." Ada kekhawatiran yang terpancar dari matanya, seperti dia tahu bahwa 'itu' adalah sesuatu yang penting dan mungkin juga berbahaya.
Gadis berambut merah hanya mengangguk dengan wajah yang memancarkan rasa pengertian. Dia melingkarkan syal merah di sekitar lehernya dan memastikan bahwa blazernya rapi.
"Te-terima kasih, aku pamit dulu Tante."
"Buru-buru banget, ada kuliah pagi Rynn?"
"Oh, enggak, ini...." Belum sempat gadis itu menyelesaikan ucapannya, pintu ruangan klinik tersebut terbuka dari luar.
"Ayok Rynn, kita harus berangkat persis jam segini biar ngga ada pihak yang nunggu kelamaan." Tukas sosok perempuan dari balik pintu. Dia berkacamata bulat, memakai sejenis jaket lab putih yang terlihat terlalu kebesaran untuk postur tubuhnya yang kecil.
"Kalian itu mau kemana sih?" Si tante dokter berdiri dari kursinya.
"Anu, mau jemput Lumia di stasiun, tante." Jawab si rambut merah.
"Aku pinjam mobil nya ya, Mom!" Pinta si gadis kacamata di depan pintu.
Sembari menghembus nafas cemas si dokter berjalan menghampiri gadis berambut merah dan menyerahkan kunci kontak dengan gantungan dompet hitam bergambar kartu as wajik.
"Hati-hati ya, dan bilang ke Lumia suruh dia kesini, udah berminggu-minggu dia ngilang nggak check up."
"O-okey, makasih tante." Sahut si gadis berambut merah melangkah menuju pintu.
"Jangan ngebut, Stella! STNK ada di dalam gantungan dompet!"
Pintu sudah terlanjur tertutup.
09.10 SENIN - SEMARANG
Sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan, KA Jawa Utara itu tiba dengan tepat waktu di peron stasiun kota. Stasiun ini adalah bangunan peninggalan dari masa kolonial, menjulang tinggi dengan kemegahan arsitektural yang mencerminkan gaya klasik dari era tersebut.
Setelah kereta berhenti dan pintu gerbong terbuka, Alvan, Lumia, dan Nino turun dengan hati berdebar-debar. Mereka menginjakkan kaki di peron yang lebar, merasakan getaran dari rel kereta yang baru saja berhenti. Dengan mata terbelalak, Alvan tak kuasa untuk tidak terkesima oleh kemegahan stasiun yang begitu mencengangkan.
Setelah beberapa saat mengagumi, mereka melanjutkan perjalanan mereka ke pintu keluar stasiun. Melewati area tiket, gerai makanan, dan bermacam toko oleh-oleh dan suvenir yang telah dipenuhi oleh riuh manusia yang berlalu-lalang. Pengumuman kedatangan kereta dari pengeras suara mengalun tenang, memberikan suasana yang dinamis dan hidup.
Matahari pagi menerpa mereka ketika mereka melangkah keluar dari stasiun, Area teras open space yang luas membentang di depan mereka.
Alvan dan Lumia berdiri bersebelahan dengan suasana yang canggung, mereka menyadari bahwa saat ini adalah waktu untuk berpisah setelah semua hal yang terjadi dua hari terakhir. Alvan merasa kikuk, ingin membuka percakapan untuk mengatasi kecanggungan itu.
"Ja-jadi, kita mulai berpisah dari sini," ujar Alvan dengan senyum kecil, mencoba memecah keheningan.
Lumia mengangguk, wajahnya datar namun matanya memancarkan sedikit kecemasan. Dia tahu bahwa saat ini adalah momen yang diantisipasi sejak awal perjalanan, tetapi rasa canggung tetap ada di antara mereka.
"Te-terima kasih, Lumia." kata Alvan tulus dan langsung membuat Lumia menatapnya. "Untuk semuanya, tentang ayahku dan juga..., umm, kamu telah..., menyelamatkan nyawaku."
...menyelamatkan nyawa Alvan? Nino yang tak sengaja mendengar terheran.
Lumia hanya mengangguk, tetap mempertahankan ekspresi datarnya. Jauh di dalam hatinya, dia merasa senang bisa membantu Alvan, meskipun saat ini adalah waktu yang sulit.
"Dan maaf juga atas semua kekacauan yang terjadi," lanjut Alvan.
Sejenak keduanya tampak terlarut dalam kenangan-kenangan yang telah mereka lalui bersama dalam beberapa hari terakhir.
Mereka mengingat bagaimana segalanya dimulai, di saat Lumia datang membawa kabar duka tentang ayah Alvan. Kemudian disaat Lumia tanpa sengaja membanting Alvan. Kegelisahan mereka yang akhirnya mempertemukan mereka malam itu di perlintasan kereta. Lumia teringat bagaimana dia memutuskan untuk tidak menaiki kereta pulangnya. Dan juga saat serangan Dot pertama terjadi, ingatan Alvan tentang ketakutan dan kengerian yang dia rasakan di bawah teror makhluk hitam tersebut. Mereka saling melindungi dan bekerja sama. Hingga momen kebersamaan menikmati semangkuk bubur buatan Alvan bersama.
"Jadi, sampai kapan kamu berada di kota ini?" Celetuk Lumia.
Saat itu, Nino bergabung dalam percakapan, "Mungkin sekitar 3 hari sih rencananya."
"...Ohh." Respon Lumia singkat. Tampak sedikit raut kecewa, namun dia menyembunyikannya dengan baik di balik ekspresi datarnya.
"Aku ngga harus pulang bareng kamu juga kan No?" Alvan memastikan. "Sepertinya ada banyak hal yang harus aku lakukan di kota ini."
Alvan merasakan bahwa ada banyak hal yang ingin dia katakan pada Lumia, tetapi dia merasa masih terlalu awam dalam merangkai kata-kata dengan tepat. Dia mengingat tekadnya untuk menjadi Pemburu Dot, untuk mencari tahu lebih jauh tentang ayahnya, dan juga untuk mengenal Lumia lebih dalam.
"Terserah Lo sih."
"Tenang aja, aku punya celengan, tiket pulangku biar aku beli sendiri aja."
"Te-terima kasih." Celetuk Lumia tiba-tiba dan langsung membuat Alvan dan Nino teralihkan. "Soal tiket, dan aku..., aku udah banyak ngerepotin." Lumia membungkukkan tubuhnya ke depan sedikit.
"Santai aje Lum, kita kan Prens!"
"Prens?"
"Teman maksudnya." Alvan menjelaskan.
Te-teman.... Lumia tersentak dan tampak bingung mau merespons apa.
"Bagi nomor lu dong Lum." Nino mengeluarkan gawai nya.
"LUMIAAA~!"
Teriak suara nyaring mengundang perhatian mereka. Seorang melambaikan tangan mendekat dari arah area parkir. Sosok gadis itu begitu mencolok dengan rambut berwarna merah yang semakin berkilau terkena sinar matahari.
"Kak Rynn." Seru Lumia sembari maju satu langkah membalas lambaian tangan nya.
Alvan dan Nino terpana dengan sosok dan penampilan si gadis berambut merah yang begitu atraktif mengenakan blazer kuning.
"Njirrr, Van, doi tipe gua banget!" Bisik Nino antusias.
"Ca-cakep sih emang...." Timpal Alvan.
Lumia menatap kedua cowok itu dengan sinis dan agak jijik.
Perempuan yang dipanggil Rynn itu dengan penuh emosi melangkah mendekati Lumia. Dengan tangan terbuka, dia memeluk Lumia dengan penuh kerinduan dan kekhawatiran yang jelas terlihat di matanya. "Lumia! Kamu benar-benar membuatku khawatir! Kenapa tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa kabar?"
Lumia merasa sedikit terkejut oleh pelukan tiba-tiba ini, dia juga merasa bersalah, "Ma-maaf...."
Rynn akhirnya melepaskan pelukannya, namun masih memegang pundak Lumia dengan tangan penuh perhatian. "Fyuh, yang penting kamu baik-baik saja..., hmm, mereka berdua siapa?"
"Ka-kami teman nya Lumia." Alvan menjelaskan dan masih merasa sedikit gugup.
"Heee, beneran Lum!" Rynn terlihat senang sedikit agak tidak percaya.
Lumia hanya terdiam mengalihkan pandangannya.
"Na-nama gu-saya, Antonino Marcelino, panggil aja Nino." Nino tampak begitu salting sambil membuka tangannya mengajak Rynn berkenalan.
Pfft, ngga cocok si Nino ngomong "saya".... Komentar Alvan sambil nyengir dalam hati.
Gadis itu menyambut jabat tangannya sambil tersenyum begitu manis. "Aku Everynn, kakak kelas nya Lumia!"
Yesss, perempuan yang lebih tua +100 poin! Nino semakin mengada-ada dengan pikirannya. Tangannya entah bagaimana tak ingin melepaskan genggaman Rynn.
Alvan yang melihat si gadis yang sepertinya menyembunyikan kecanggungannya dibalik senyum segera menepuk keras lengan Nino, memberi isyarat agar segera sadar dengan kelakuannya. Nino pun melepas jabatan tangannya sembari nyengir canggung.
"Maaf, semuanya gara-gara saya, Lumia jadi lama pulangnya." Giliran Alvan membuka telapak tangannya untuk bersalaman. " Namaku Alvan."
"Ooh, gapapa mas Alvan, makasih udah jagain Lumia."
Ketika keduanya bersalaman Alvan seketika merasakan gelombang aneh dan aura yang terasa berat, membuat tubuhnya seakan terkunci sesaat. Dia mengernyitkan dahi, penuh heran merasakan sensasi yang tidak biasa.
lanjut baca bab selanjutnya..