Benarkah pernikahan karena perjodohan akan menemui kebahagiaan? Atau justru sebaliknya, berakhir dengan kepedihan? Novel ini mengisahkan tentang perjodohan antara perempuan berusia 31 tahun bersama Gifta dan laki-laki berusia 35 tahun bernama Biondi. Dalam perjalanan pernikahan itu, banyak hal yang tidak diketahui Gifta hingga membuatnya terjebak dalam pilihan apakah tetap bertahan dalam pernikahan, ataukah menghentikan semuanya. Benarkah cinta akan tumbuh karena terbiasa? Temukan jawabannya di cerita ini! Jangan lupa subscribe ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissJuju, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: KETAKUTAN TERBESAR DALAM HIDUP
“Thank you very much,” laki- laki itu mengakhiri presentasinya dengan mengucapkan terima kasih lantas diiringi suara tepuk tangan dari beberapa orang yang duduk menghadapnya. Penyajian rencana proyek pembangunan gedung agensi yang telah ia siapkan beberapa hari sebelumnya, berjalan lancar tanpa kendala. Hampir semua yang ada di ruang rapat itu mengangguk puas atas apa yang telah dipaparkan oleh Biondi, termasuk klien utamanya, dua orang dengan perawakan khas negeri ginseng. Dua laki- laki itu kemudian dihampiri oleh Pak Willy, atasan yang mempercayakan Biondi untuk mengerjakan proyek besarnya kali ini. Ketiga laki- laki itu tampak berdiskusi beberapa saat hingga akhirnya Pak Willy mengisyaratkan Biondi untuk tergabung dalam diskusi mereka. Dengan sopan kedua klien tersebut membungkukkan badan yang seketika diikuti oleh Biondi sebagai tanda penghormatan. Pak Willy lantas berbicara dengan kedua klien tersebut dengan Bahasa Korea yang cukup fasih.
“Jadi Biondi, Tuan Kim dan Tuan Kang ini adalah perwakilan dari klien utama kita, Tuan Park. Beliau baru saja tiba dan telah menunggu di ruangan saya,” jelas Pak Willy menterjemahkan apa yang baru saja ia bicarakan dengan kedua klien bisnisnya itu. “Tapi jangan khawatir, Tuan Park sudah menyaksikan presentasimu dengan baik melalui daring selama di perjalanan dan beliau menyetujui kontrak dengan kita,” lanjutnya dengan raut wajah yang begitu puas. “Beliau ingin bertemu empat mata denganmu sebelum menandatangani kontrak ini. Mari saya antar ke ruangan saya,” kata laki- laki itu sembari mengantarkan Biondi ke ruang kerjanya. Pak Willy mengantarkan Biondi menemui seseorang yang tengah menunggu di ruangannya. Perlahan Pak Willy membuka pintu ruangan itu, namun seketika itu juga Biondi tercengang mendapati sosok laki- laki yang telah duduk di sana. Laki- laki perawakan Korea dengan tubuhnya yang tinggi, namun sedikit membunguk karena usia. Matanya menatap Biondi dengan tatapan yang berbeda. Tatapan seseorang yang sudah lama menunggu untuk berjumpa. Sementara Biondi, ia merasakan tiba- tiba tubuhnya bergetar manakala mendapati sosok itu. Napasnya seakan terhenti sesaat, tercekat di tenggorokan. Kepalanya terasa pening manakala bayangan mengerikan itu kembali berkelebat dalam angannya, kali ini lebih cepat. Suara kaleng yang dibanting, pukulan, tamparan, berputar secara berulang- ulang hingga terhenti pada rasa sakit yang teramat sangat ia rasakan pada lengan kirinya. Keringat dingin bercucuran dan pandangannya mulai berkunang- kunang. Laki- laki itu memegangi punggung kursi untuk menahan tubuhnya yang terasa lemas agar tak terjatuh.
“Bi, apa kamu baik- baik saja?”tanya Pak Willy yang seketika mengejutkan Biondi yang masih terlihat cemas. Laki- laki paruh baya yang sedari tadi menatapnya itu tidak mengeluarkan sepatah katapun, hanya tertegun memandang Biondi.
“Maafkan saya, Pak. Tiba- tiba saya merasa kurang sehat. Bisakah saya mohon diri sekarang?” Biondi benar- benar mulai tak bisa mengendalikan dirinya. Tangannya mengepal, namun tubunya terasa lemah. Melihat perubahan kondisinya yang secara tiba- tiba, Pak Willy mencoba menjelaskan kepada kliennya dan menyarankan Biondi untuk tinggal sebentar menandatangani proyek itu, namun laki- laki paruh baya itu tampak sangat memahami kondisi Biondi hingga ia memutuskan untuk menunda kesepakatan dan melakukannya beberapa hari ke depan. Kliennya akan menginap beberapa hari di Jakarta hingga proses penandatanganan itu selesai. Tanpa pikir panjang Biondi meninggalkan ruangan itu dan bergegas pulang. Laki- laki itu, adalah orang yang tak pernah ia harapkan untuk berjumpa kembali. Laki- laki yang telah menghancurkan dia dan ibunya dulu. Seseorang yang menjadi sumber kebencian dan ketakutan terbesar dalam hidupnya hingga saat ini.
...***...
Perpaduan aroma mentega, susu, dan keju yang harum memenuhi dapur dengan dominasi furnitur warna hitam itu. Penanda waktu pada alat pemanggang kue elektronik itu berjalan mundur, sebelum akhirnya mengeluarkan denting suara nyaring mengisyaratkan adonan kental yang terpanggang di dalamnya telah berubah wujud menjadi cheese cake yang mengembang sempurna dengan warna kekuningan yang sangat cantik. Gifta bergegas membuka tutup mesin pemanggang itu lantas mengeluarkan isinya. Hidungnya mengempis menghirup aroma wangi asap yang keluar dari setiap celah kue keju yang seakan tak sabar untuk segera dihabiskan. Dibaliknya loyang itu di atas tatakan kue yang telah ia siapkan di atas meja, diketuk- ketuknya beberapa sisi loyang itu, lantas diangkatnya perlahan hingga tampak kue itu telah terlepas dari tempatnya. Kue keju yang sempurna. Perlahan Gifta merapikan setiap sisi tepi dan bagian atas kue itu dengan sebilah pisau panjang. Dipotongnya dengan hati- hati, lantas dibaginya menjadi delapan bagian. Dipindahkannya beberapa potongan kue itu di atas meja makan, sisanya ia masukkan ke dalam lemari penyimpanan. Semakin lengkap ketika berdampingan dengan secangkir kopi yang telah ia siapkan. Seperti permintaan Biondi, hari ini laki- laki itu melarangnya untuk memasak makan malam karena ia dan beberapa rekan arsiteknya akan melakukan presentasi untuk persetujuan kontrak kerja proyek barunya.
Suara deru mesin mobil terhenti di area parkir. Rupanya Biondi sudah pulang. Gifta menunggu kehadiran laki- laki itu sembari meminum secangkir teh. Tak lama kemudian derap kaki itu terdengar melangkah semakin dekat, dan Gifta telah bersiap untuk menawarkan kue keju yang dibuatnya. Namun, ia urungkan niatnya manakala mendapati Biondi yang berjalan dengan langkah yang lebar. Tatapan matanya dingin, raut mukanya tampak menyimpan amarah dan kepanikan bercampur jadi satu. Raut muka yang sama seperti ketika ia tak bisa mengendalikan dirinya beberapa waktu lalu. Biondi bahkan berjalan melintasi dapur begitu saja tanpa sedikitpun menghiraukan Gifta yang sedari tadi menunggunya. Menyaksikan hal itu, jantung Gifta kembali berdegup kencang. Kekhawatiran kembali membuncah dalam dadanya. 'Ada apa lagi ini, Ya Tuhan?' Pikirnya dalam hati. Gifta kembali meneguk teh nya, namun hatinya tetap tak tenang. Benar saja, tak berapa lama ia mendengar lentingan pecahan kaca yang amat keras, seperti dihantam oleh sesuatu. Gifta seketika terhenyak. Jantungnya berdegup kencang karena ia yakin ada yang tidak beres pada Biondi hari ini. Dilemparnya apron yang sedari tadi masih menggantung di leher dan ia bergegas berlari menuju sumber suara itu. Pintu ruang kerja di lantai dua itu terbuka lebar. Perasaannya semakin tak karuan karena kini ia mendengar suara gaduh tumpukan buku yang dilempar ke lantai. Gifta berlari memasuki ruangan itu dan seketika matanya terbelalak menyaksikan apa yang ada di hadapannya.
“Astaga, Biondi!”
...***...