"My Student is My First Love" mengisahkan tentang seorang guru perempuan muda bernama Mia, yang berusia 23 tahun dan bekerja di sebuah sekolah menengah. Mia memiliki seorang siswa laki-laki bernama Farhan, yang memiliki masa lalu yang penuh dengan trauma dan kesulitan. Meskipun usianya yang masih muda, Mia merasa terikat dengan Farhan karena kepribadiannya yang istimewa.
Namun, Mia merasa lebih dari sekadar rasa sayang terhadap Farhan. Perasaannya berkembang menjadi cinta yang mendalam. Ia mencoba mendekati Farhan dengan baik, menawarkan dukungan, dan bahkan mencoba menjelaskan perasaannya. Namun, Farhan tetap menutup diri dan enggan menerima perhatian Mia. Trauma masa lalunya telah membentuk tembok emosional di sekitar hatinya, yang membuatnya enggan untuk membuka diri kepada siapapun, terutama wanita.
Akankah Mia bisa bertahan dengan sikap traumanya Farhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cindy Serenita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Hubungan diatas Kertas
Pagi itu, seperti biasa, Mia bersiap-siap untuk pergi
mengajar. Namun, ada yang berbeda. Hari ini adalah hari Jumat, dan Mia tidak
memiliki kelas dengan Farhan. Sejak Farhan dan Nadia kembali bersama, kehidupan
Mia terasa agak asing ketika dia berada di antara mereka.
Mia mencoba untuk tidak memikirkannya terlalu banyak,
tetapi tidak bisa menghindari perasaan bahwa sesuatu telah berubah. Mia selalu
melihat bio media sosial Farhan, di mana sebelumnya selalu ada nama Nadia. Tapi
hari ini, tidak ada nama Nadia di sana. Pertanyaan mulai muncul di dalam
hatinya. Apakah ada sesuatu yang sedang terjadi di antara mereka? Apakah Mia
memiliki kesempatan untuk mendapatkan perhatian Farhan kembali di kelas?
Di sisi lain, nama Farhan masih ada di bio media
sosial Nadia, jadi Mia tidak yakin apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin mereka
hanya sedang mengalami pertengkaran kecil dan besok semuanya akan kembali
normal. Tapi Mia tetap penasaran. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di
antara mereka.
Namun, Mia telah belajar untuk tidak terlalu
terpengaruh oleh situasi ini. Dia telah belajar untuk tetap profesional dalam
pekerjaannya. Ketika dia berada di depan kelas, dia selalu menegur dan
tersenyum pada Farhan seolah dia adalah salah satu muridnya. Mia telah menerima
kenyataan bahwa dia hanya akan dianggap sebagai teman ketika mereka berkumpul
di luar sekolah.
Meskipun hatinya masih dipenuhi dengan pertanyaan dan
keraguan, Mia terus menjalani hidupnya. Dia tahu bahwa dia harus fokus pada
pekerjaannya dan membiarkan waktu yang akan menjawab semua pertanyaannya.
Bagaimanapun juga, Mia adalah seorang guru yang peduli pada murid-muridnya, dan
dia akan terus melakukan yang terbaik untuk mereka, termasuk Farhan.
Mia duduk di meja guru dengan senyum lembut di
wajahnya saat jam istirahat tiba. Hari itu adalah hari Jumat yang cerah, dan
semangatnya meningkat ketika ia tahu bahwa besok adalah ulang tahunnya yang
ke-24. Namun, dia telah memutuskan untuk tidak merayakan ulang tahunnya tahun
ini. Alih-alih, ia ingin menghabiskan waktu dengan anak-anak muridnya yang
sangat ia cintai.
Ketika lonceng istirahat berbunyi, Mia memutuskan
untuk mengunjungi kelas Farhan, salah satu murid kesayangannya. Dia tahu bahwa
Farhan dan teman-temannya selalu merasa nyaman bersamanya. Mia berjalan
melintasi koridor sekolah, dan ketika dia mencapai pintu kelas Farhan, dia
melihat murid-muridnya sedang duduk bersama di meja-meja mereka, tertawa dan
bercanda.
"Selamat siang, semua!" Mia menyapa mereka
dengan gembira saat masuk ke dalam kelas. Anak-anak itu langsung bersorak
menyambutnya. Mia melihat Farhan, Sachi, Cinta, Mawar, Bagus, Ajie, dan
anak-anak murid lainnya duduk bersama, dan ide untuk berkumpul besok tanpa
merayakan ulang tahunnya terus berkecamuk di pikirannya.
"Saya rasa kita bisa menghabiskan waktu yang
menyenangkan besok," Mia berkata sambil tersenyum misterius.
"Besok, bu?" Farhan bertanya dengan
penasaran.
Mia mengangguk, "Iya, besok. Aku hanya ingin kita
semua berkumpul seperti biasa di malam minggu. Bagaimana menurutmu?"
Anak-anak itu tampak senang dengan ide tersebut.
Mereka mulai merencanakan tempat dan waktu pertemuan. Setelah beberapa
percakapan cepat, mereka memutuskan untuk berkumpul di taman kota yang indah
pada sore hari. Taman itu memiliki sebuah kolam kecil dan banyak bunga yang
mekar, tempat yang sempurna untuk berkumpul dan berbicara.
"Kita bisa membawa makanan ringan dan
minuman," Sachi menyarankan.
"Dan mungkin kita bisa membawa beberapa
permainan," tambah Bagus.
Semua orang setuju dengan rencana tersebut, dan
semangat untuk berkumpul di malam minggu membuat mereka semua terkekeh dan
tertawa. Mia merasa bahagia melihat kebahagiaan di wajah anak-anak muridnya.
"Terima kasih, semuanya. Ini akan menjadi hari bahagia
bagi saya esok," ujar Mia dengan tulus.
Siang itu, ketika Mia pulang, dia merasa sangat
bersyukur atas kehadiran anak-anak muridnya dalam hidupnya. Meskipun mereka
tidak tahu bahwa besok adalah ulang tahunnya, mereka telah memberinya hadiah
yang tak ternilai: persahabatan dan cinta dari para murid kesayangannya.