Indonesia
NovelToon NovelToon
FAUZAN'S LIFE

FAUZAN'S LIFE

Status: sedang berlangsung
Genre:Kisah cinta masa kecil / Cintapertama / Teen School/College
Popularitas:419
Nilai: 5
Nama Author: ririariies

ー ARDANA SERIES
Part 1: Argaza Fauzan Putra

Cinta itu kayak gimana? Mungkin itu yang ada di benak seorang Argaza. Dari zaman masih anak pitik, dia tetap menyukai satu orang perempuan.

Tapi, namanya 'True Love but Wrong Person' cocok disematkan kepada beliau ini. Cinta nya gak salah, cinta nya tulus. Hanya saja, salah orang, atau salah takdir?

Apa bisa ia mencintai perempuan lain dibanding 'dia'?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririariies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ー What's Wrong?

Suasana ruang tamu di perumahan komplek Antariksa nomor E-48 terasa tenang. Walau ramai oleh anak anak SMK yang sedang belajar menuju babak penyisihan olimpiade, tapi mereka tidak ribut, tetap fokus pada soal latihan didepan mereka. Tidak lupa mencoba ikut tes try out yang sudah keluar.

Ada yang fokus membaca buku. Ada pula yang menonton video di youtube. Dan ada juga yang mencoret-coret kertas guna memecahkan rumus. Arsaka yang memperhatikan pemandangan didepannya mulai rileks, ia merogoh saku guna mengambil ponselnya, kemudian login untuk pushrank.

Arsaka: ga open mabar! Lo semua beban.

Namun keheningan tersebut pecah. Renandra sigap berdiri dan mulai membereskan barang barangnya kedalam tas. "Gue cabut duluan ya!"

Arkana yang sedang ikut mengerjakan skripsi diruang tamu menoleh, "Loh ga bisa lamaan, Ren?"

"Pengennya gitu Bang, tapi kasian Enin dirumah sendiri." Arkana ber oh ria mendengar jawaban Renandra.

Renandra sudah siap pergi, dia juga sudah tos yang khusus ia lakukan dengan Argaza. Ketika sudah di pintu, Arsaka bersuara.

"Ga mau dianter nih?"

"Nggak usah, Kak. Mau mampir ke makam Ibu dulu, beda arah soalnya dari rumah," jawab Renandra agak kikuk. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, memberikan senyum tipis yang terasa sedikit dipaksakan.

Arsaka hanya mengangguk pelan, matanya kembali fokus ke layar ponsel yang sedang menampilkan layar loading game. "Ya sudah, hati-hati di jalan. Jangan melamun."

"Siap, kapten!" Renandra melambaikan tangan singkat ke arah teman-temannya sebelum benar-benar menghilang di balik pintu.

Belum ada lima menit Renandra pergi, Andrean tiba-tiba menutup buku latihan-nya dengan suara debuman pelan. Ia mulai memasukkan alat tulisnya ke dalam tas dengan gerakan yang tampak terburu-buru.

"Gue balik juga ya," celetuk Andrean tanpa melihat ke arah yang lain.

Sagita mengerutkan kening, menghentikan kegiatannya mencatat materi. "Loh, Ndre? Kok duluan? Enggak bareng gue atau yang lain nanti?"

"Enggak bisa. Kalau kesorean, demo di arah rumah gue pasti makin banyak massa-nya. Kalau jalanan ditutup total, gue nggak bisa pulang," jawab Andrean datar. Ia menyampirkan tasnya di bahu, lalu berjalan keluar setelah berpamitan singkat pada Arkana dan Arsaka.

.

.

.

.

.

.

.

Di jalanan komplek.

Renandra berjalan santai di trotoar, tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket. Matanya menatap deretan rumah mewah dengan arsitektur modern yang berjejer rapi. Suasana komplek sore itu sangat tenang, hanya ada suara kicauan burung dan gesekan daun yang tertiup angin.

Bagus banget ya lingkungannya. Semoga suatu saat nanti gue bisa beli rumah di daerah sini buat Enin, batinnya sambil tersenyum kecil.

Namun, keheningan itu terbelah oleh raungan mesin motor yang mendekat dengan kecepatan tinggi.

Vroommm!

Sebuah motor vario tiba-tiba melesat dari arah belakang dan langsung memotong jalan di depan Renandra, memaksa cowok itu berhenti mendadak. Ban motor itu berdecit di aspal, meninggalkan aroma karet terbakar yang tipis.

Pengendaranya membuka helm full face-nya. Di balik kaca visor yang terangkat, muncul wajah Andrean dengan ekspresi yang sangat sinis.

Renandra terdiam di tempatnya. Matanya yang biasanya jenaka kini menatap datar ke arah Andrean. Di kepalanya hanya ada satu pertanyaan, Ini orang beneran nyamperin gue atau cuma mau pamer skill motor lagi?

Keduanya terkunci dalam aksi saling tatap yang intens. Andrean menatap Renandra seolah-olah cowok di depannya itu adalah benalu yang mengganggu pemandangan, sementara Renandra hanya berdiri tegak, menunggu apa yang akan keluar dari mulut si juara jurusan TJKT itu.

.

.

.

.

.

.

.

Kembali ke ruang tamu.

Arkana menyesap teh panasnya, matanya masih menatap pintu depan yang sudah tertutup. Ia menoleh ke arah Argaza yang sedang serius mencoba soal try out di laptop.

"Za, gue penasaran," ujar Arkana memecah kesunyian. "Kenapa si Renan nggak pernah mau dianter pulang? Padahal kalau dia mau ke makam dulu, kita kan bisa tungguin atau anterin sekalian."

Argaza menghentikan ketikannya, ia menghela napas panjang hingga bahunya ikut turun. "Nggak tahu, Bang. Dari awal kenal juga dia emang gitu."

"Masa nggak ada yang tahu rumahnya di mana?" tanya Arsaka yang rupanya ikut menyimak sambil jempolnya sibuk menekan layar HP.

"Nggak ada. Bahkan ke gue aja dia nggak pernah ngasih tahu titik koordinat pastinya," jawab Argaza jujur. "Dia selalu minta turun di halte atau di depan minimarket yang jaraknya masih jauh dari pemukiman. Kayaknya dia emang sengaja nutupin itu."

"Bahkan si Cina juga ga tau?" Arsaka mengerutkan alisnya.

"Heeh."

Arkana terdiam, dahi-nya berkerut. "Aneh ya. Padahal dia udah sedeket itu sama kita."

Argaza hanya terdiam, tatapannya beralih ke jendela, memikirkan sahabatnya yang selalu ceria itu tapi menyimpan rapat-rapat dunia di balik senyumnya.

.

.

.

.

.

.

.

Satu per satu anak olimpiade mulai berpamitan, menyisakan keheningan yang perlahan kembali merayap di ruang tamu rumah nomor E-48. Namun, Sagita masih bergeming di tempat duduknya. Ia seolah masih punya seribu satu alasan untuk tetap berada di sana, menatap Argaza yang masih sibuk mengompres pipinya.

"Sakit banget ya, Za?" tanya Sagita, membuka basa-basi yang sebenarnya jawabannya sudah jelas.

"Menurut lo?" jawab Argaza singkat, suaranya agak sengau karena luka di hidung.

"Terus nanti sekolah gimana? Muka lo... emm, agak susah ditutupin pake cushion kayaknya," lanjut Sagita lagi.

"Ya biarin aja. Paling nyisa lebam. Kalau ada guru nanya, tinggal bilang aja gue korban salah sasaran pas lewat kerumunan demonstran. Beres, kan?" Argaza menjawab dengan nada datar yang menjadi ciri khasnya.

Sagita hanya mangut-mangut, lalu matanya mulai berkeliling memperhatikan penghuni rumah yang lain. Ia menatap Arkana yang begitu tenang di balik layar laptopnya, jemarinya menari lincah mengetik draf skripsi.

"Abangnya Argaza ambil jurusan apa aja kalau boleh tahu?" tanya Sagita ke arah Arkana.

Arkana menoleh sedikit, memberikan senyum ramahnya yang menenangkan. "Aku di Psikologi, kalau yang itu," Arkana menunjuk Arsaka dengan dagunya, "dia di Ilmu Hukum."

Sagita melirik Arsaka yang masih asyik push rank dengan posisi kaki yang naik satu ke sofa, benar-benar tidak terlihat seperti mahasiswa tingkat akhir yang tertekan, bahkan tidak terlihat seperti seorang mahasiswa jurusan Ilmu Hukum yang penuh dengan wibawa. "Jurusan Hukum? Tapi... kok kayaknya Abang yang satu itu nggak sibuk sama sekali? Bukannya biasanya anak Hukum tugasnya numpuk ya?"

Arkana tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat adem di telinga Sagita. "Arsaka mah pengecualian. Dia dapet jalur Fast Track dan lulus tanpa skripsi lewat jalur publikasi jurnal internasional bereputasi. Makanya sekarang dia bisa santai kayak nggak punya beban hidup gitu."

Mendengar suara tawa Arkana, Sagita tiba-tiba tertegun. Ia merasa serangan dejavu yang hebat. Suara itu, nada bicaranya, bahkan cara Arkana tersenyum... rasanya sangat akrab. Seperti pernah mengobrol lama di suatu tempat, tapi Sagita tidak ingat kapan.

Ia mencoba mengalihkan pikirannya dengan melihat ke arah rak buku besar di pojok ruangan. Sebagai pecinta literasi, matanya langsung berbinar melihat deretan novel di sana. Ada banyak karya dari penulis favoritnya. Namun, ada satu buku yang menarik perhatiannya. Sebuah novel bersampul biru tua dengan judul yang sangat ia kenali.

"Loh?" Sagita berdiri, mendekati rak itu. "Ini... bukannya novel terbaru dari penulis favorit aku? Tapi informasinya baru akan rilis dua bulan lagi, kan? Kok di sini udah ada?"

Argaza menoleh ke arah yang ditunjuk Sagita. "Oh, itu? Punya Bang Aka."

"Punya Bang Arkana?" Sagita makin bingung. Ia menatap Arkana dengan tatapan menuntut penjelasan.

Sadar akan reaksi Sagita yang kaget setengah mati, Arkana menutup laptopnya. Ia tersenyum tipis, lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Sebenarnya..." Arkana menjeda kalimatnya, "Aku yang tulis itu. Yang nama pena nya sendiri itu, Radevoo kan."

DEG.

Sagita merasa jantungnya hampir copot. Radevoo adalah penulis misterius yang karyanya selalu menjadi best seller, penulis yang tidak pernah melakukan face reveal. Sagita teringat beberapa hari lalu ia sempat datang ke acara face greeting terbatas. Penulis itu duduk di depannya, mengenakan topi dan masker hitam, tapi suara lembutnya saat menyapa Sagita benar-benar membekas.

"Jadi... penulis yang waktu itu pake masker dan topi... itu Bang Arkana?" tanya Sagita dengan suara bergetar karena tidak percaya.

Arkana mengangguk pelan. "Maaf ya, waktu itu memang harus pakai masker buat privasi,"

"Jadi koneksi yang lo maksud itu ini, Za?" Kini Sagita menerjang pertanyaan kepada Argaza.

Argaza hanya menengok sekilas, kemudian kembali fokus dengan pipinya yang ia kompres, "Ya bisa dibilang sih, shhh..."

"Aza sering cerita kalau kamu suka banget tentang literasi, jadi ku sekalian bikin kutipan khusus buat kamu di novel yang kamu bawa waktu itu."

Kalimat Arkana barusan seperti kaset rusak yang berputar berulang-ulang di otak Sagita. Jantungnya yang tadi berdegup karena kagum, mendadak mencelos karena rasa janggal yang merayap. Argaza sering cerita tentang gue? Mata Sagita beralih ke Argaza yang masih sibuk membenarkan posisi kompresannya. Selama ini, interaksinya dengan Argaza terasa seperti tembok yang tebal. Cowok itu irit bicara dan nyaris tidak pernah menunjukkan ketertarikan pada kehidupan Sagita.

Kapan Argaza punya waktu buat cerita tentang gue ke abangnya? Dan kenapa? Pikiran itu membuat wajah Sagita memanas, tapi ada secercah keraguan yang menusuk. Benarkah Argaza menceritakannya karena peduli, atau hanya sekadar menyebut nama tanpa arti?

Keheningan canggung itu pecah saat langkah kaki terdengar menuruni tangga. Allinda turun dengan rambut sedikit berantakan sehabis bangun tidur, wajahnya terlihat jauh lebih segar meski tangannya masih terbungkus gips.

"Bang Aka, ada makanan yang layak dikonsumsi nggak? Cacing di perut gue udah mulai demo nih," tanya Allinda tanpa dosa, yang memang sudah menganggap ini rumahnya sendiri.

Arkana terkekeh, ia berdiri dari kursi kerjanya. "Ada kok makanan yang tinggal angetin pake microwave. Tunggu sebentar ya, Abang ke dapur dulu."

Allinda mengangguk ceria lalu menghempaskan tubuhnya di sofa, tepat di samping Argaza. Ia melirik Sagita yang masih berdiri mematung di dekat rak buku. "Loh, Gi? Belum pulang? Gue kira lo udah dijemput."

Sagita hanya menoleh sekilas, matanya menatap Allinda dengan tatapan yang sulit diartikan—dingin dan penuh sinyal permusuhan yang tidak terucapkan. Padahal mereka sudah bersahabat sejak SMP. "Bentar lagi," jawab Sagita seadanya, singkat dan tanpa nada.

Allinda mengerutkan kening. Dih, kenapa nih anak? Kesambet? batin Allinda heran. Namun, ia tidak mau ambil pusing, mengira mungkin Sagita hanya sedang kelelahan karena soal olimpiade yang menguras otak. Karena sudah bersahabat dari SMP, bukan hal baru lagi bagi Allinda melihat perubahan mood Sagita yang naik turun drastis. Ia sudah hafal.

"Za, lo tau si Pak Satpam komplek depan yang kumisnya mirip sikat WC itu kan? Masa pas malem selasa gue lewat dia lagi asik joget TokTak di posnya. Mana gerakannya luwes banget lagi, gue ampe istigfar liatnya," celetuk Allinda sambil menahan tawa.

Argaza mendengus geli, sudut bibirnya terangkat. "Emang. Lo telat tau, dia emang influencer komplek. Pengikutnya udah ribuan gara-gara konten edukasi cara ngunci pager yang estetik.".

"Sumpah?! Gue kira dia lagi kesurupan!" Allinda tertawa lepas, menyikut lengan Argaza.

"Tadi gue sempet liat hp lo dapet notif dari si 'Anu', itu cewek yang waktu itu minta nomor whatsup lo di kantin bukan? Kok masih berani nge-chat? Belum kapok lo cuekin?"

"Udah gue blok," jawab Argaza santai. "Berisik banget, nanya udah makan apa belum setiap lima menit. Emangnya gue pasien busung lapar apa."

Interaksi mereka mengalir begitu saja. Obrolan mereka meloncat ke debat random soal kenapa rasa susu cokelat lebih enak daripada susu stroberi, lalu berlanjut membahas betapa konyolnya ekspresi Renandra saat tersedak milo tadi pagi. Mereka saling nyambung, seolah punya frekuensi khusus yang tidak bisa dimasuki orang luar. Argaza yang biasanya bodo amatan, kini terlihat jauh lebih hidup saat menanggapi ocehan Allinda.

Sagita yang memperhatikan dari kejauhan merasa hatinya makin panas. Pemandangan itu lebih menyakitkan daripada soal olimpiade mana pun. Tanpa sepatah kata pun, Sagita menyambar tasnya dan berjalan cepat menuju pintu keluar. Ia bahkan tidak berpamitan.

BRAK!

Pintu depan tertutup dengan suara dentuman keras.

Arsaka yang tadi asyik push rank langsung menurunkan handphone-nya. Ia menatap pintu dengan wajah datar yang sarkasnya minta ampun. "Wah, keren. Tamu zaman sekarang kalau pulang emang harus pake efek sound system meledak ya? Sekalian aja itu engsel pintunya dia bawa pulang buat kenang-kenangan."

Argaza dan Allinda saling tatap. Allinda menaikkan alisnya, mencoba melakukan 'telepati'. Kenapa dia? Argaza hanya mengangkat bahu, Mana gue tahu.

Arkana keluar dari dapur membawa piring yang mengepul. Ia mengedarkan pandangan ke ruang tamu yang kini terasa kosong. "Loh? Sagita mana? Tadi perasaan masih di sini."

Arsaka mendengus sinis. "Udah terbang, Ka. Kayaknya dia baru sadar kalau dia punya bakat jadi atlet lempar pintu profesional. Pulang tanpa pamit, dapet poin seratus buat sopan santun tingkat dewa."

"Mungkin dia kebelet, Bang," celetuk Allinda mencoba mencairkan suasana.

"Kebelet apa? Kebelet jadi antagonis di sinetron?" sahut Arsaka lagi, makin memperkeruh suasana dengan sarkasmenya.

Arkana menghela napas, menaruh piring di depan Allinda. "Ya udah, mungkin ada urusan mendadak. Dimakan dulu Lin."

Mereka akhirnya tidak ambil pusing, kembali ke zona nyaman mereka tanpa tahu ada hati yang baru saja hancur di luar sana.

.

.

.

.

.

.

.

"Za," panggil Allinda sambil mengunyah camilannya.

"Hm?"

"Lo ngerasa nggak sih, hari ini hawanya aneh banget? Kayak... semua orang lagi nyimpen rahasia masing-masing."

Argaza melirik Allinda, lalu menatap jendela yang menampilkan langit Bandung yang makin gelap. "Emang kapan kita nggak punya rahasia, Lin?"

Arsaka yang masih push rank cuma nyeletuk pendek tanpa nengok. "Dunia emang panggung sandiwara, yang jujur cuma skor kill gue di game ini. Intinya, lo pada berisik, belajar sana."

Kak Aca kenapa sensi banget? Allinda menengok ke arah Arkana. Ya siapa tau sepupunya itu bisa meramal kapan kembarannya berhenti melontarkan kalimat kalimat sarkasme yang kadang nyelekit.

Arkana sendiri hanya tersenyum simpul, jika sudah seperti ini dia lah yang harus waras. Begitupun jika Arkana sedang tantrum, maka Arsaka lah yang menjadi waras. Bahaya sekali jika mereka tantrum bersamaan, takutnya si bungsu mereka langsung minggat dari rumah.

.

.

.

.

.

.

.

~ Bersambung

1
ー『 It's Ariri !¡ 』
jir kok covernya berubah 😭😭
Arsyan Khoirul
telur pecah jir
Arsyan Khoirul
semangat kaks😼
ー『 It's Ariri !¡ 』: ape enih😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!