"Tenang saja sayang, dia akan buta selama-lamanya..." Arga membiarkan kekasihnya bermain main di pangkuannya. Dalam nafsu yang terbakar suara erangan terdengar.
Kiara yang sudah bisa melihat. Ia mendengar segalanya, meraba bagian bawah matanya sendiri. Wanita yang tidak dapat melihat karena ulah suaminya.
Air matanya mengalir, pria manipulatif yang ingin menguasai hartanya.
Tapi tidak, dalam tangisannya dirinya berucap pelan.
"Aku dapat membuatmu bergelimang harta, maka aku juga dapat menyeretmu ke neraka..."
Sebuah pembalasan dendam dimulai. Semua bagaikan papan catur yang dimainkan oleh sang wanita yang dibuat buta untuk membalas suaminya.
"Satu persatu hutangmu akan aku tagih..." Senyuman menyeringai mengerikan. Perlahan tertawa dibalik tangisannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB — 16
Ceklek!
Arga melihat tidak ada siapa-siapa di sana.
"Apa tadi itu kamu Kirana?" lirihnya pelan menebak-nebak.
Pria itu kembali ke dalam kamar. Dimana kekasihnya itu sedang menunggu dirinya.
Sementara itu, Kirana yang sudah bisa melihat berada di dalam kamar mandi. Tubuhnya gemetar hebat dengan perasaan bercampur aduk dan penuh dengan kehancuran dan pengkhianatan.
Huekkk ... huekkk ...
Rasa mual membuatnya muntah-muntah di dalam kamar mandi.
"Hiks ... suamiku! Apa itu perbuatannya? Di yang menyiksa Bi Titin? Hiks ..." Kirana ketakutan dengan suara berat dan terisak-isak.
Wajahnya panik. Apa yang harus ia lakukan sekarang. "Polisi? Aku harus menghubungi polisi," ujarnya panik.
"Iya! Aku harus menghubungi polisi dan meminta bantuan," suara Kirana penuh tekad.
Ia meragap pakaian—mencari ponsel miliknya. "Dimana ponsel ku? Aku harus segera meminta bantuan."
Namun ponselnya tertinggal di dalam kamar. Tepat dimana suaminya dan wanita selingkuhannya sedang bercumbu mesra di dalam sana.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Kirana mengigit ujung kuku jari-jarinya.
Semakin lama tubuhnya semakin lemas. Begitu cemas apakah yang akan di lakukan oleh suaminya jika tahu ia bisa melihat.
"Tidak bisa! Jika dia mampu melakukan itu terhadap orang lain ... apa dia juga yang merencanakan semuanya? Dia yang membuat ku buta?" Kirana menerka-nerka semua yang terjadi dan yang baru saja ia lihat.
Kirana kemudian membuka pintu kamar mandi.
Ceklek.
Pintu itu terbuka perlahan. Sekilas ia menengok sekeliling apa situasinya memungkinkan untuk dirinya tetap aman.
Aku harus segera keluar dari sini!
Ia berjalan tergesa-gesa sambil waspada ada anak buah suaminya yang melihat. Wanita itu sekarang tahu bahwa semua orang di dalam rumah itu adalah orang suruhan suaminya untuk mengawasi dirinya.
Kirana segera pergi ke ruang tengah. Dimana ada sebuah telepon rumah yang bisa ia pakai untuk menghubungi seseorang.
Itu dia!
Kirana mengawasi sekeliling. Ia kemudian menekan tombol dan menghubungi Tasya terlebih dahulu.
Tut!
Namun sayang. Telepon rumah tidak berfungsi.
"Kenapa tidak bisa?" bisiknya pelan.
Saat itu salah satu anak buah suaminya melihat sosok dirinya yang berdiri sambil memegang gagang telepon.
"Bu Kirana?"
Ia kemudian masuk ke dalam.
Kirana mendengar suara langkah kaki dari luar yang berjalan masuk ke dalam rumah.
Tak ...
Tak ...
Tak ...
Suara langkah kaki itu semakin lama semakin mendekat.
Kirana menoleh. "Hhh—" suara terpotong. Ia melihat anak buah suaminya berjalan ke arahnya.
Kirana segera menaruh kembali gagang telepon yang ada di genggaman tangannya.
Kemudian berjalan normal—seolah-olah dirinya masih buta.
Apa yang harus aku lakukan? Pengawal itu mengikuti ku dari belakang.
Kirana begitu panik saat orang itu terus memperhatikan dan mengikuti dirinya dari belakang.
Wanita itu kembali menelusuri jalan. Tangannya meraba-raba udara, agar orang itu tidak curiga.
Bagaimana ini? Dia terus mengikuti ku! Sepertinya tidak ada cara lain.
Kirana terus berpura-pura buta. Ia berjalan menaiki tangga dengan sangat pelan dan berhati.
Keringat dingin perlahan menetes dari dahinya. Sesekali ia menelan ludahnya untuk mengatasi rasa takut, gugup dan panik. I menyemangati semua itu di balik wajahnya yang terlihat sangat tenang.
"Sayang ... sayang ... apa kamu sudah pulang?" sahut Kirana.
Seketika anak buah suaminya berhenti berjalan.
Saat itu Kirana terus berjalan naik ke atas. Namun tepat di bawah tangga adalah gudang dimana ia melihat jasad wanita tua yang menjadi korban dari kekejaman suaminya.
Kakinya kembali gemetar, membuatnya sedikit tersandung.
"Awww!" refleks nya berteriak.
Anak buah kembali saat mendengar suara Kirana.
Kirana segera berdiri lagi. Kali ini dia berlari menaiki anak tangga. Sebelum orang itu melihatnya.
Napasnya tersengal-sengal penuh ketakutan dan suasana malam hari menjadi sangat mencekam.
Sampai akhirnya dia berada tepat di depan pintu kamarnya.
Tidak bisa! Aku harus mencari cara lain ... Apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin aku masuk ke dalam!
Kirana kemudian berjalan ke lorong ujung tangga. Ia melihat apakah pria itu masih menunggu dirinya di bawah.
Dan sesuai perkiraan Kirana. Anak buah suaminya masih menunggu di bawah sana.
Pria itu hampir melihat Kirana yang berdiri di atas tangga.
"Bu Kirana?" gumamnya pelan. "Apa tadi aku tidak salah lihat? Dia melihatku?" Ia berjalan menaiki anak tangga.
Kirana kembali panik. Tidak ada tempat untuk bersembunyi lagi.
Tidak! Aku tidak boleh sampai ketahuan?
Wanita itu segera berlari menuju kamarnya. "Tidak bisa! Hanya ada satu cara agar dia bisa curiga." ia terus berjalan sambil berpura-pura buta.
Kirana berjalan meraba dinding tembok. Perlahan namun pasti ia sampai di depan pintu kamar.
Kini pengawal itu telah mengikuti dirinya sampai ke atas.
Tenang! Aku harus tenang ... Kirana terengah-engah.
Sementara itu di dalam kamar.
Mereka berdua sedang bercumbu mesra. Ke dua kulit mereka bersentuhan dan menyatu dengan sempurna di iringi dengan desahan dan erangan penuh nafsu dan gairah.
"Tenang saja sayang, dia akan buta selama-lamanya ..." Arga membiarkan kekasihnya bermain main di pelukannya. Dalam nafsu yang terbakar suara erangan terdengar.
"Sst ... Ahhh ..." suara erangan begitu membakar nafsu birahi.
Di balik pintu.
Kiara yang sudah bisa melihat. Ia mendengar segalanya, meraba bagian bawah matanya sendiri. Wanita yang tidak dapat melihat karena ulah suaminya.
Air matanya mengalir, pria manipulatif yang ingin menguasai hartanya.
Tapi tidak, dalam tangisannya dirinya berucap pelan.
"Aku dapat membuatmu bergelimang harta, maka aku juga dapat menyeret mu ke neraka ..."
"Satu persatu hutangmu akan aku tagih..." Senyuman menyeringai mengerikan. Perlahan tertawa dibalik tangisannya. Walaupun tubuhnya gemetar hebat.
Sementara Pria itu semakin mendekat. Mau tidak mau, Kirana harus masuk ke dalam kamar.
Ceklek!
Pintu terbuka kencang. Wajah Kirana tampak syok melihat pemandangan yang begitu menjijikkan di depan matanya sekali.
"Sayang—" suara Kirana tertahan. Ia harus bersandiwara namun itu membuatnya berada dalam ancaman yang sangat serius.
Sementara itu Rena dan Arga yang sedang dalam keadaan tanpa busana — wajah keduanya mendongak ke atas.
Tanpa Kirana sadari ke dua bola matanya tertangkap oleh suaminya. Ke empat mata itu saling melakukan kontak mata.
Napasnya tersekat. Tubuhnya membeku. Saat ia melakukan kontak mata dengan suaminya.
Sementara itu Rena langsung menutupi tubuhnya dengan selimut. Sementara Arga menaikkan celananya ke atas.
"Kirana ..." suara Rena nyaris tak terdengar.
"Sst ... Kamu diam!" Arga menyentuh bibir mungil wanita yang sedang bercumbu mesra bersama dengannya.
Kirana langsung memanggil suaminya sambil meraba-raba udara. "Sayang ... Sayang ... Apa kamu ada di dalam?"
Sebuah senyuman tipis namun menakutkan terukir di bibir laki-laki itu.
Sayang ... Apakah kamu dapat melihatnya, sekarang?
🤭🤭
udh kirana tuk sekarang km mending pura2 buta aj ,,
sambil mencari bukti kejahatan si agar2 ,,