Disebuah kerajaan bulan yang dihuni ribuan manusia Srigala. Disaat gerhana bulan merah, permaisuri Lira baru saja melahirkan seorang anak perempuan yang cantik namun tidak memiliki aura Srigala yang membuat sang Raja Argan harus membunuh anak kandungnya sendiri karena dianggap aib.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 016 : Jejak Kejahatan dan Goa Penyembuh
Angin dingin menyapu dedaunan di jalan setapak terjal dan curam. Seraphina melangkah waspada, mengawasi setiap celah batu. Di sampingnya, Rian berjalan hati-hati di tanah licin.
"Hati-hati. Perhatikan langkahmu dan sekitarmu," peringat Seraphina pelan namun tegas.
Rian mengangguk. "Baik." Sesaat kemudian ia kembali bersuara, memecah keheningan hutan. "Oh iya, dari tadi kita berjalan namun aku belum memperkenalkan diri. Namaku Rian, Nona."
Seraphina menoleh sekilas. "Namaku Seraphina." Jawabannya singkat, namun nada suaranya menyiratkan kehangatan yang tak berlebihan.
Keduanya kembali hening, menumpukan perhatian pada medan yang semakin sulit dilalui. Kabut tipis mulai turun, menyelimuti hutan larangan itu dengan suasana yang mencekam.
Tak jauh dari perbatasan Klan De Luna, bayangan hitam melayang di pepohonan. Elara berdiri di tanah gersang, dikelilingi dua puluh tubuh Srigala liar yang tak bernyawa. Dengan senyum sinis, ia meremas benda berkilau keemasan yang berdenyut hangat di tangannya Inti Kehidupan, sumber kekuatan dan keabadian yang menjadi nyawa setiap Srigala.
"Hahaha... Dengan ini kekuatanku akan semakin membumbung tinggi, dan ilmu sihirku tak akan tertandingi oleh siapa pun!" seru Elara penuh kemenangan. Matanya menyala merah memandang mayat-mayat di bawah kakinya. "Kalian hanyalah Srigala tak berguna. Pantas mati."
Seketika tubuhnya lenyap ditelan kepulan asap hitam pekat, meninggalkan tempat itu sunyi dan suram.
Tak lama kemudian, Boras melesat tiba di lokasi tersebut. Napasnya tertahan melihat pemandangan yang mengerikan itu. Ia berjongkok menyentuh tanah yang masih terasa hangat, lalu mengepalkan tangannya erat hingga buku jarinya memutih.
"Siapa yang begitu tega membunuh mereka dengan kejam?" gumamnya marah sekaligus sedih. "Ini tak bisa dibiarkan. Aku harus segera melaporkannya kepada Tuan Alaric."
Boras melesat kembali secepat kilat menuju Kerajaan Bulan Perak. Sesampainya di sana, ia menjumpai Kaelan di halaman istana.
"Kaelan! Di mana Tuan Alaric?" tanyanya tergesa-gesa.
"Di ruang pengobatan, sedang beristirahat. Ada apa?" tanya Kaelan ikut merasa cemas melihat wajah Boras yang pucat dan penuh amarah.
"Aku membawa informasi sangat penting, dan menyangkut keseluruhan kaum kita," jawab Boras serius.
"Maksudmu?"
"Tadi aku melewati hutan perbatasan Klan De Luna. Puluhan Srigala liar tewas. Inti Kehidupan mereka telah dirampas," lapor Boras.
Kaelan mengerutkan kening, tangannya mengepal kuat. "Aku tahu siapa pelakunya. Kamu tenang dulu, nanti aku sampaikan ini kepada Tuan Alaric."
Di tempat lain, Seraphina dan Rian masih terus menelusuri hutan larangan hingga akhirnya mereka berdiri di depan sebuah goa besar yang pintunya tertutup akar pohon tebal yang menjuntai ke bawah. Ajaibnya, begitu Seraphina melangkah mendekat, akar-akar itu perlahan terbuka seolah menyambut kedatangannya.
"Nazar..." panggil Seraphina lembut.
Tak lama, muncul sesosok pria tua berjubah putih dari dalam kegelapan goa. Matanya yang berbinar lembut menatap Seraphina. "Ada apa, Tuan Putri, sampai-sampai Anda datang jauh-jauh ke tempat tersembunyi ini?"
Seraphina menoleh ke arah Rian yang kini tampak semakin pucat dan tak sanggup lagi berdiri tegak. "Aku ingin kau mengobatinya."
Nazar segera melangkah mendekat. Matanya membelalak kaget melihat kondisi Rian yang napasnya tersengal-sengal. "Astaga... Siapa yang begitu kejam hingga melukaimu separah ini.?"
Rian berusaha tersenyum lemah. "Seorang penyihir muda... merampas sebagian Inti Kehidupan dari tubuhku untuk menambah kekuatan sihirnya."
Wajah Nazar berubah tegas. "Itu pasti ulah Elara."
"Kita harus segera menghentikannya," sahut Seraphina dengan nada berwibawa. "Sebelum semakin banyak korban berjatuhan."
Belum sempat Nazar menjawab, tubuh Rian terhuyung dan hampir jatuh. Dengan sigap Seraphina menangkap tubuhnya agar tidak terjerembap ke tanah.
"Baringkan dia di atas batu itu, Tuan Putri," perintah Nazar sambil menunjuk sebuah batu datar berwarna putih bersih yang memancarkan cahaya lembut.
Seraphina membaringkan Rian di atas batu. Cahaya keemasan memancar, mengisi kekosongan yang ditinggalkan Inti Kehidupannya. Nazar meletakkan tangan di dada Rian, menyalurkan tenaga yang menyembuhkan segala luka dalamnya.
Di dalam goa itu, ketiganya diam membiarkan kekuatan alam bekerja memulihkan diri Rian, sementara di luar sana, bayangan ancaman semakin nyata dan mengancam seluruh kaum Srigala.