Wulan akhirnya terbebas dari pernikahan penuh luka setelah menceraikan Handi, suami yang kerap melakukan KDRT dan berselingkuh.
Demi menghidupi Delon dan Astrid, ia pergi ke kota dan menerima pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ART di sebuah rumah mewah.
Namun, Wulan tidak pernah menyangka pemilik rumah itu adalah Rian—lelaki yang pernah ia cintai saat kuliah, tetapi menolaknya karena menganggap Wulan bukan perempuan yang sesuai kriterianya.
Bertahun-tahun kemudian, keadaan justru berbalik. Rian mulai melihat ketulusan, ketegaran, dan kasih sayang Wulan kepada anak-anaknya. Di saat yang sama, Rian mulai menyesali pernikahannya dengan Nita, wanita karier yang lebih sibuk mengejar dunia model dan iklan daripada memperhatikan keluarga.
Rian yang dulu menolak Wulan kini perlahan jatuh cinta kepadanya. Tetapi Wulan bukan lagi gadis yang sama. Setelah melewati begitu banyak luka, mampukah ia membuka kembali hatinya untuk lelaki yang dulu pernah membuatnya merasa tidak cukup baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kayla Rane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 : IBU RIAN DATANG
...BAB 16...
...IBU RIAN DATANG...
Hari ini, perceraian Rian dan Nita resmi selesai.
Setelah semua urusan yang berkaitan dengan pernikahan mereka diselesaikan, Rian akhirnya benar-benar menyandang status sebagai seorang duda.
Berita itu ternyata tidak hanya diketahui oleh keluarga. Orang-orang di perusahaan Rian pun sudah mengetahui perceraian tersebut.
Tidak sedikit karyawan yang membicarakannya diam-diam.
Bukan karena mereka ingin ikut campur dalam kehidupan pribadi atasannya, tetapi karena Rian memang dikenal sebagai seorang pria yang tampan, mapan, dan masih muda.
Terlebih sekarang statusnya sudah berubah.
Beberapa karyawan wanita bahkan mulai lebih sering mencari alasan untuk datang ke ruangan Rian.
Ada yang tiba-tiba membawa dokumen yang sebenarnya bisa dikirim melalui sekretaris.
Ada yang sengaja bertanya tentang pekerjaan yang sebenarnya sudah mereka pahami.
Bahkan sekretaris Rian sendiri mulai lebih memperhatikan penampilannya.
Pagi itu, setelah seorang karyawan wanita keluar dari ruangannya, Rian hanya bisa menghela napas.
“Kenapa semua orang tiba-tiba jadi rajin sekali datang ke sini?” gumamnya.
Sekretarisnya yang sedang berdiri di depan meja hanya tersenyum. “Bukannya itu bagus, Pak? Berarti semua karyawan semakin bersemangat bekerja.”
Rian menatapnya datar. “Kalau semangatnya cuma karena saya sudah cerai, itu bukan semangat kerja.”
Sekretarisnya langsung terdiam.
Rian kembali memeriksa dokumen di depannya. Ia tidak tertarik untuk memikirkan siapa yang sedang mencoba mendekatinya.
Pikirannya justru tertuju pada rumah. Pada putrinya, Rana.
Dan entah kenapa juga, akhir-akhir ini pun selalu terpikir pada seorang perempuan sederhana yang sekarang menjadi pengasuh ketiga anak di rumahnya.
Wulan...
Di hari yang sama, sebuah mobil berhenti di depan rumah Rian.
Seorang wanita paruh baya turun dari dalam mobil. Usianya sudah tidak muda lagi, tetapi penampilannya masih terlihat anggun.
Pakaiannya rapi. Tas mahal tergantung di lengannya. Ia adalah ibu Rian. Nyonya Ranti.
Sudah beberapa hari terakhir ia mendengar kabar bahwa rumah tangga putranya berakhir.
Awalnya ia tidak percaya. Namun setelah Rian sendiri mengabarkan bahwa perceraiannya dengan Nita telah selesai, ia memutuskan datang ke kota.
Ia ingin melihat keadaan putranya secara langsung. “Sudah lama sekali Rian tidak pulang,” gumamnya sambil melihat rumah besar di depannya.
Seorang sopir membantu membawa beberapa barang dari bagasi. Ibunya Rian masuk ke dalam rumah.
Mira yang sedang berada di ruang tengah langsung terkejut.
“Nyonya Ranti?” Wanita itu tersenyum.
“Iya Mira. Rian ada?”
“Pak Rian masih di kantor, Nyonya.”
“Tidak apa-apa. Saya ingin menunggunya.”
Mira mengangguk..“Silakan masuk, Nyah.”
Ibunya Rian duduk di sofa ruang tamu.
Namun baru beberapa menit, terdengar suara anak-anak kecil berteriak ramai dari arah ruang keluarga.
“Mama Wulan!” teriaknya.
Wanita itu langsung menoleh, dia kenal suara kecil itu, tak lain adalah cucunya.
Rana berlari kecil menghampiri Wulan. Perempuan itu sedang membawa pakaian anak-anak yang baru dilipat.
Begitu melihat Rana, Wulan tersenyum. “Iya, Sayang?”
“Rana mau minum.”
“Baik. Tunggu sebentar ya...”
Wulan meletakkan pakaian di atas meja. Ia kemudian mengambil gelas kecil dan membantu Rana minum.
Ibunya Rian memperhatikan semuanya. Ia berdiri, alisnya mulai berkerut. “Mama Wulan?” sentaknya terheran.
Mira yang berdiri tidak jauh darinya menoleh. “I-iya, Nyonya.”
“Siapa wanita itu?” tanyanya.
“Itu Bu Wulan. Pengasuh barunya Rana Nyonya.”
Tatapan ibunya Rian langsung kembali kepada Wulan. Ia memperhatikan pakaian perempuan itu. Sederhana. Tidak ada perhiasan berlebihan. Rambutnya juga hanya ditata biasa.
Wajahnya cantik, tetapi tidak menggunakan riasan yang mencolok.
“Pengasuh?”
“Iya, Nyonya.” angguk Mira.
Ibunya Rian tidak langsung menjawab. Ia justru melihat Rana yang kini memegang tangan Wulan.
“Sejak kapan Rana memanggil pengasuhnya, Mama?” tanyanya yang jelas raut wajahnya menampakan ketidaksukaan.
Mira terlihat sedikit canggung. “Em. Itu sudah beberapa waktu yang lalu, Nyonya.”
“Kenapa dibiarkan?” sentaknya.
Mira terdiam. Sebelum ia menjawab, Wulan yang mendengar percakapan itu mendekat.
“Maaf, Bu.”
Ibunya Rian menatapnya. “Kenapa cucu saya memanggil kamu Mama?” tanyanya.
Wulan langsung menundukkan kepala. “Awalnya Rana sendiri yang memanggil saya begitu. Saya sudah beberapa kali menjelaskan kepadanya kalau saya bukan ibunya.”
“Lalu?”
“Tapi Rana tetap memanggil saya Mama Wulan.” Wulan menjawab dengan suara lembut. “Saya tidak pernah bermaksud untuk menggantikan posisi ibunya.”
Jawaban itu sebenarnya terdengar sopan. Namun bagi ibunya Rian, tetap saja tidak menyenangkan. “Bagaimanapun juga, Rana masih punya ibu.”
Wulan mengangguk. “Saya tahu, Bu.”
“Jadi jangan sampai dia lupa pada ibunya.” tegasnya.
Wulan kembali mengangguk. “Saya tidak pernah meminta Rana melupakan ibunya.”
Mira yang mendengar percakapan itu hanya diam. Ia tahu Wulan tidak bermaksud apa-apa. Justru selama ini Wulan selalu mengingatkan Rana bahwa Nita tetap ibunya.
Namun ibunya Rian belum mengetahui hal tersebut.
Wanita itu menghela napas. “Dulu waktu Nita masih di rumah, Rana tidak seperti ini.”
Wulan memilih diam. Ia tidak ingin membantah. Tidak ingin membuat masalah dengan ibu dari majikannya.
Rana justru menarik tangan Wulan. “Mama Wulan ayo, sini.”
Ibunya Rian langsung menatap cucunya. “Rana.” panggilnya.
Rana berhenti.
“Nenek di sini.” ujarnya tersenyum.
Rana memandang neneknya beberapa detik. Kemudian bertanya polos. “Nenek siapa?”
Ibunya Rian langsung terdiam. Mira buru-buru menahan senyum.
“Rana, itu nenek kamu.” jawab Mira.
Rana mengangguk kecil. “Oh.”
Kemudian ia kembali menarik tangan Wulan. “Mama Wulan, ayo duduk sini.”
Ibunya Rian semakin tidak nyaman. Ia memandang Wulan dari atas sampai bawah.
“Sudah berapa lama kamu bekerja di sini?” tanyanya.
“Belum terlalu lama, Bu.”
“Sudah punya anak?”
Wulan mengangguk. “Iya, Bu. Saya punya dua anak.”
“Dua?”
“Iya.”
“Yang tadi ikut bermain dengan Rana?”
“Iya.”
Ibunya Rian semakin mengerutkan dahi. Ia tidak menyukai keadaan ini.
Menurutnya, setelah bercerai dengan Nita, Rian seharusnya mencari perempuan yang pantas menjadi istrinya.
Bukan membiarkan putrinya terlalu dekat dengan seorang pengasuh. Apalagi perempuan itu sudah memiliki dua anak.
Dalam pikirannya, sosok menantu ideal tetaplah seperti Nita. Dia cantik, terawat, berpendidikan dan berkarier. Dan bisa berdiri sejajar dengan keluarga mereka.
Nita memang memiliki banyak kesibukan, tetapi bagi ibunya Rian, itu bukan alasan untuk melupakan semua kelebihan mantan menantunya.
“Nita memang punya kekurangan,” gumamnya.
Wulan yang mendengar tidak memberikan tanggapan.
“Tapi dia tetap istri yang cocok untuk Rian.”
Mira menatap wanita itu. “Nyonya... Pak Rian sudah resmi bercerai.”
“Saya tahu.” Nada suaranya sedikit meninggi. “Justru karena itu saya datang ke sini.”
Ia memandang Wulan sekali lagi. “Saya ingin Rian kembali kepada Nita.”
Wulan pun terdiam. Entah mengapa, kalimat itu membuat dadanya terasa sedikit sesak.
Padahal ia tahu posisi dirinya. Ia hanya seorang pengasuh. Tidak ada hubungannya dengan perceraian Rian dan Nita.
Namun tetap saja, mendengar ibu Rian berharap mereka kembali bersama membuat Wulan sadar bahwa dirinya berada di tempat yang sangat berbeda dengan perempuan seperti Nita.
Wulan menundukkan kepala. “Kalau begitu, sebaiknya Ibu membicarakannya langsung dengan Pak Rian.”
Ibunya Rian menatapnya tajam. “Kamu tidak keberatan?”
Wulan menggeleng. “Itu urusan keluarga Bapak.”
Jawaban itu membuat wanita tersebut sedikit terdiam.
Wulan kemudian mengambil pakaian yang tadi ia letakkan. “Kalau begitu, saya permisi dulu, Bu. Saya harus menyiapkan makan siang untuk anak-anak.” Ia membawa pakaian tersebut dan berjalan pergi.
Rana hendak mengejar. “Mama Wulan!”
Wulan berhenti. “Rana, kamu di sini main dulu ya, Mama ke dapur dulu.”
Rana mengangguk.
Ibunya Rian memperhatikan pemandangan itu dengan wajah tidak senang. Dalam hati ia semakin yakin bahwa kedekatan Rana dengan Wulan harus segera dibatasi.
Menjelang sore, suara mobil Rian terdengar memasuki halaman. Ia baru pulang dari kantor. Begitu masuk, ia langsung melihat ibunya duduk di ruang tengah.
Rian terkejut. “Bunda?” Wanita itu berdiri. “Kenapa tidak bilang Bunda akan datang kemari?” tanya Rian.
“Kalau Bunda bilang, kamu pasti menyuruh Bunda menunggu.”
Rian tersenyum kecil. “Kapan datang?”
“Siang tadi.”
Rian kemudian melihat sekeliling. “Rana mana?”
“Dengan pengasuhnya.”
Rian mengangguk. Namun ia langsung menangkap ekspresi ibunya yang berbeda.
“Ada apa Bun?” tanyanya.
Ibunya Rian menatap putranya cukup lama. “Kamu masih dekat kan dengan Nita?”
Rian langsung menghela napas. “Bunda datang jauh-jauh hanya untuk membahas Nita?”
“Bunda hanya ingin kalian kembali.”
Rian terdiam. “Tidak bisa, Bun.”
“Kalian baru saja bercerai.”
“Justru karena itu.”
“Kamu punya anak Rian.”
“Aku tahu.”
“Dan Rana masih butuh ibunya.”
Rian menatap ibunya.
“Rana memang butuh ibunya. Tapi bukan berarti aku harus kembali kepada Nita.”
Ibunya Rian tidak menyerah. “Kamu sudah pikirkan itu baik-baik?”
“Sudah.” angguk Rian yakin.
“Lalu perempuan yang sekarang mengurus anak-anak itu?”
Rian terdiam sejenak. “Maksud Bunda, Wulan?”
“Iya.” Ibunya langsung berkata, “Bunda tidak suka Rana memanggil dia Mama.”
Rian menghela napas. “Itu bukan Wulan yang mengajarkan.”
“Bunda juga tidak suka melihatnya terlalu dekat dengan Rana.” selanya lagi.
Rian menatap ibunya dengan serius. “Bun, Wulan hanya menjalankan pekerjaannya.”
“Kalau begitu, kenapa Rana begitu dekat dengannya?”
Rian tidak langsung menjawab. Karena ia sendiri tahu jawabannya. Wulan memang berbeda. Perempuan itu memberikan perhatian kepada anak-anak tanpa dibuat-buat.
Namun Rian tidak ingin membicarakan hal tersebut sekarang.
“Bunda baru saja datang. Jadi jangan langsung menilai Wulan.”
Ibunya terdiam. “Rian, Bunda hanya ingin yang terbaik untukmu Nak.”
Rian tersenyum tipis. “Aku tahu.” Ia kemudian berjalan menuju tangga. Namun sebelum naik, Rian berhenti. “Dan soal Nita... keputusan itu sudah aku ambil.”
Ia menatap ibunya lagi. “Aku tetap tidak akan kembali kepadanya.” jelasnya, membuat Ibunya Rian jadi terdiam.
Sementara dari lantai atas, tanpa sengaja Wulan yang baru keluar dari kamar Rana bersama anak-anaknya mendengar sebagian percakapan itu.
Ia segera berhenti. Jantungnya berdetak lebih cepat. Bukan karena senang.
Justru karena ia sadar, kehadirannya di rumah itu mungkin akan membuat hubungan Rian dan Ibunya semakin rumit.
Wulan segera berbalik dan kembali masuk ke dalam kamar.
Namun tanpa disadarinya, Rian melihat gerakannya dari ujung tangga.
Tatapan mereka bertemu. Wulan langsung menundukkan kepala. Dan Rian hanya bisa menghela napas pelan.
Sepertinya sejak ibunya datang, rumah itu tidak akan setenang sebelumnya.
Bersambung...