Indonesia
NovelToon NovelToon
Masuk Novel Pikiran Ku Di Baca Pangeran

Masuk Novel Pikiran Ku Di Baca Pangeran

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Terjebak dalam novel yang pernah dibacanya, Lina terbangun sebagai pelayan istana di Kerajaan Valdoria sebuah dunia modern yang dipenuhi teknologi canggih namun tetap dikuasai oleh sistem monarki absolut. Sebagai wanita yang sangat mata duitan, tujuan Lina sederhana: kumpulkan uang sebanyak mungkin lalu kabur untuk hidup bebas. Sayangnya, rencana kabur itu terhambat ketika ia terus terseret intrik istana dan berhadapan langsung dengan Putra Mahkota Lucien. Pangeran dingin dan disegani itu secara misterius hanya bisa mendengar isi hati Lina sebuah keanehan khusus yang tidak berlaku pada orang lain. Di saat Lina berakting sopan dan penurut di luar, batinnya terus menggerutu, sibuk menghitung uang, dan merencanakan kabur. Lucien yang lelah dengan kebohongan orang-orang di sekitarnya justru merasa terhibur dengan suara hati Lina yang jujur dan serakah, membuat sang pangeran sengaja mengikat Lina di sisinya agar tak bisa pergi ke mana-mana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16

Keesokan paginya, tatkala pendar keemasan fajar baru saja menerobos celah sempit ventilasi kamar pelayan, suara kasak-kusuk dari koridor luar sudah terdengar riuh. Eliana, yang memang terbiasa bangun cepat, perlahan membuka matanya. Ia merenggangkan otot-ototnya yang pegal akibat tidur di lantai batu, lalu mengintip sedikit lewat celah pintu yang terbuka tipis.

Di luar, dua orang pelayan senior sedang berbisik-bisik dengan wajah tegang berbaur iri.

"Kau tahu tidak? Pelayan Mary dari lantai dua mendadak dipulangkan pagi ini!" bisik pelayan pertama.

"Lho, kenapa? Bukannya masa kontraknya masih sisa dua tahun?" sahut yang kedua.

"Dia ketahuan hamil! Peraturan istana kan ketat sekali. Siapa pun pelayan tingkat bawah yang hamil entah karena menikah atau masalah lain harus segera mengundurkan diri dan langsung diberi surat izin keluar dari area istana hari itu juga tanpa dipersulit!"

DEG!

Mata Eliana seketika berbinar terang. Sebuah ide liar namun cemerlang mendadak meledak di dalam kepalanya.

"GILA! Ini dia kesempatan emas gue!" jerit batin Eliana panik bercampur gembira, yang tentu saja langsung meluncur mulus ke dalam kesadaran Lucien yang baru saja terbangun di atas kasur. "Gue kan statusnya udah punya 'suami'! Gue tinggal pura-pura hamil, minta surat pengunduran diri dari Kepala Pelayan, terus bisa bebas keluar dari sarang serigala ini tanpa dicurigai sama sekali! Bebas! Gue bebas!"

Lucien mendadak melempar selimutnya, lalu duduk di tepi kasur. Masker hitam dan wig kusamnya belum sempat terpasang penuh, namun matanya sudah menatap Eliana dengan kilatan bahaya yang pekat.

Eliana berbalik, menghampiri Lucien dengan senyum mengembang lebar. "Pangeran! Saya punya berita bagus banget!" bisik Eliana antusias dengan suara amat rendah. "Saya mau ajukan pengunduran diri pagi ini juga! Kita bisa keluar dari istana ini sekarang!"

"Tidak," sahut Lucien dingin, singkat, dan mutlak.

Senyum Eliana seketika membeku. "Hah? Kenapa 'tidak'?"

"Aku tidak akan melangkah keluar dari istana ini sebelum seluruh pengkhianatan Oberon, Ibu Suri, dan Rosalie terselesaikan sampai ke akar-akarnya," tegas Lucien, menyilangkan dadanya sambil menatap Eliana dari bawah. "Dan kau... tidak boleh ke mana-mana."

"Lho! Kok gitu sih, Pangeran?!" protes Eliana mulai emosi, ia berkacak pinggang menatap Pangeran Mahkota yang keras kepala itu. "Istana ini tuh udah gak aman! Oberon sama Rosalie pikir Pangeran udah mati. Kalau mereka nemuin petunjuk dikit aja kalau penyamaran kita cuma akting, kita berdua bakal dipotong-potong di sini! Peluang keluar terbaik ya sekarang ini!"

"Kalau aku keluar sekarang tanpa bukti hukum dan strategi yang matang, kekuasaan Valdoria bakal jatuh sepenuhnya ke tangan Oberon," potong Lucien dengan nada suara yang meninggi namun tertahan. "Aku butuh akses ke dokumen rahasia di ruang kerja Raja dan pergerakan Rosalie. Aku tidak bisa bergerak bebas jika keluar sekarang!"

"Tapi Pangeran kan bisa mengintai dari luar!" bentak Eliana gemas, suaranya naik satu oktav sebelum ia buru-burung membekap mulutnya sendiri. Ia merendahkan suaranya kembali, menatap Lucien dengan mata membelalak penuh penekanan. "Dengar ya, Yang Mulia Pangeran yang terhormat... Saya ini cuma rakyat biasa yang kepengen hidup tenang! Saya udah nyelamatin nyawa Pangeran dari tusukan belati beracun semalam, masa sekarang saya disuruh numpang mati di sini?!"

Lucien mematung sejenak, tatapannya meredup saat menyadari ketakutan jujur dari gadis di hadapannya.

"Gue bukannya gak mau bantu..." keluh batin Eliana yang bergetar pelan, menyusup hangat ke dalam pikiran Lucien. "Gue kasihan sama Lucien... Gue mau dia menang lawan monster-monster itu. Tapi kalau terus-terusan di dalam sini sebagai pelayan, ruang gerak kita terbatas banget! Gue pasti ketahuan!"

Eliana menghela napas panjang, menatap Lucien lurus ke dalam iris mata birunya dengan binar keseriusan yang jarang ia perlihatkan.

"Pangeran... percayalah sama saya," tutur Eliana pelan namun mantap. "Saya janji... Saya janji bakal bantu Pangeran menyelesaikan masalah pengkhianat-pengkhianat itu sampai tuntas. Tapi... kita jangan bantu dari dalam istana yang sudah dikuasai mereka."

Lucien menaikkan sebelah alisnya. "Maksudmu?"

"Kalau saya di luar istana, saya bisa jadi jalur informasi rahasia buat Kenneth dan Pangeran," jelas Eliana cepat, otaknya berputar menyusun strategi. "Saya bisa sewa rumah kecil di pinggiran kota sebagai markas rahasia kita. Di luar, Pangeran bisa bergerak bebas tanpa diawasi oleh mata-mata Ibu Suri di setiap sudut lorong! Kita serang balik mereka dari bayangan luar istana, bukan dari dalam perangkap mereka sendiri!"

Lucien menatap Eliana dalam-dalam. Keheningan menyelimuti kamar sempit itu selama beberapa saat. Lucien mempertimbangkan setiap patah kata dan rasa tanggung jawab yang terpancar dari mata gadis itu. Strategi Eliana... harus ia akui, jauh lebih aman dan tak terduga daripada tetap bersembunyi di kamar pelayan yang rawan penggeledahan.

"Baik," ucap Lucien akhirnya, suaranya melunak tipis. "Kita keluar dari istana ini bersama."

Setelah kesepakatan rahasia itu disetujui, Eliana langsung mengarahkan jalannya operasi drama besar-besaran pagi ini. Bak aktris peraih penghargaan ternama, Eliana memulai aktingnya tepat di tengah lorong area pelayanan saat para pelayan senior dan Kepala Pelayan sedang melakukan inspeksi rutin.

"Ugh... hoeekk!"

Eliana mendadak membungkuk, memegang perutnya dengan raut wajah pucat pasi yang dibuat-buat, memicu suara mual yang cukup keras hingga membuat Kepala Pelayan menghentikan langkahnya.

"Eliana! Ada apa denganmu? Mengapa berisik sekali pagi-pagi begini?" tegur Kepala Pelayan dengan dahi berkerut tajam.

"M-Maafkan saya, Nyonya... hoeek!" Eliana memegangi dinding stone dengan jemarinya yang gemetar, tubuhnya diolah sedemikian rupa hingga tampak lunglai dan tak bertenaga. "Dua hari ini kepala saya pusing sekali... terus tiap pagi selalu mual muntah..."

Di sebelahnya, Lucien yang masih mengenakan wig cokelat kusam dan kacamata tebalnya langsung sigap mengambil peran pendukung. Ia merangkul pinggang Eliana dengan canggung namun kentara protektif, memasang raut pria lugu yang panik setengah mati.

"N-Nyonya Kepala Pelayan..." cicit Lucien dengan suara yang dibuat agak sengau dan terbata-bata. "Mohon maafkan istri saya... Sepertinya... sepertinya buah hati kami sudah hadir di dalam perutnya..."

Kepala Pelayan menatap mereka berdua dari atas ke bawah dengan pandangan jijik berbaur acuh tak acuh. Menyaksikan pelayan tingkat bawah yang mendadak hamil adalah hal terakhir yang ingin diselesaikannya di tengah suasana istana yang sedang berduka atas kematian Pangeran Mahkota.

"Ck! Mengganggu saja!" desis Kepala Pelayan gusar. Ia mengambil lembaran surat izin dari berkasnya, lalu menandatanganinya dengan kasar. "Peraturan istana tetap peraturan! Pelayan hamil dilarang bekerja di area kerajaan. Ini surat izin keluar milikmu. Kemasi barang-barangmu dan angkat kaki dari istana hari ini juga!"

"T-Terima kasih banyak, Nyonya!" sahut Lucien sambil membungkuk berulang kali bak pria udik yang sangat bersyukur.

Dengan akting penuh dedikasi, Lucien membopong tubuh Eliana yang berpura-pura lemas tak berdaya menyusuri koridor panjang hingga melewati gerbang besi raksasa Istana Valdoria. Sepanjang jalan, Eliana terus menyandarkan kepalanya di dada Lucien, menyembunyikan senyum kemenangan yang tertahan di balik bahu sang Pangeran.

Begitu melangkah keluar beberapa ratus meter dari area pengawasan gerbang utama dan tiba di belokan jalan yang sepi, Eliana langsung menegakkan tubuhnya secepat kilat.

"Huuuaaaahh! Bebas jugaa akhirnya!" seru Eliana girang setengah mati, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar menghirup udara luar istana yang terasa seribu kali lebih segar. "Bebas dari sarang serigala! Da-dadah Istana Valdoria yang penuh drama!" jerit batinnya riang yang disambut tatapan datar namun lega dari Lucien yang melepas kacamata tebalnya.

Tak lama kemudian, sebuah mobil sedan hitam bermerek mewah dengan kaca gelap berhenti perlahan di tepi jalan. Pintu kemudi terbuka, dan Kenneth melangkah keluar kali ini mengenakan setelan jas kasual tanpa seragam militer.

"Yang Mulia, Eliana," panggil Kenneth dengan nada rendah penuh penghormatan, membukakan pintu penumpang bagian belakang.

Eliana dan Lucien segera masuk dan duduk di kursi belakang. Mobil melaju mulus meninggalkan kawasan istana menuju pusat kota yang modern. Eliana menyandarkan punggungnya di jok kulit yang empuk, menyimak percakapan di dalam mobil.

Semula, Eliana mengira mereka akan menyewa rumah kontrakan kecil atau kontrakan kumuh di daerah kumuh demi penyamaran markas rahasia, namun kalimat Kenneth selanjutnya sukses membuat Eliana melongo.

"Kita akan menuju apartemen pribadi Anda di kawasan penthouse distrik pusat, Yang Mulia," lapor Kenneth sambil memperhatikan spion tengah. "Properti itu terdaftar atas nama identitas samaran Anda yang dibuat sebelum penyerangan, jadi tidak ada satu pun mata-mata dari pihak Perdana Menteri Oberon maupun Ibu Suri yang melacak keberadaan tempat ini."

Eliana membelalak kaget. "Buset... markas rahasia macam apa ini?! Ternyata beneran apartemen pribadi sultan!" batin Eliana heboh, menyadarkan dirinya bahwa sosok yang dibantunya tetaplah seorang Pangeran Mahkota yang kaya raya.

Kenneth melirik Eliana lewat spion. "Sementara waktu, Eliana akan tinggal di sana bersama Anda, Yang Mulia. Tempat itu memiliki sistem keamanan tingkat tinggi dan perlengkapan utuh, sehingga Eliana bisa aman mengurus kebutuhan Anda sembari kita menyusun strategi penyerangan balik."

Eliana menoleh pelan ke arah Lucien yang duduk di sebelahnya. Pangeran Mahkota itu hanya diam menatap keluar jendela mobil, namun di dalam kepalanya, suara batin Eliana yang heboh campur aduk antara kagum dan canggung kembali bergema amat jernih.

1
Uthie
Lanjut menyimak 👍😁
Uthie
Pas.. lagi seneng cerita yg soal bisa membaca Pikiran 😁👍👍👍
Noveni Lawasti Munte
kurang jeli nih si pangeran mahkota masa ga da pengawal bayangan untuk eliana🙄
Inez Putri
gmn nasibnya alianaa... smga slmat
JasmineA
mereka keluar istana terus adik nya Lucien si Althea gi mana? masa ditinggal sm predator sih...kasian pasti dia depresi gara2 kakak nya meninggoy
Nyai mardianti
ka aku Suka bangat sama novel kaka yg satu ini apakah ini masih on going
Retno Isma
ini kerjaan modern kan. kenapa ga pake lampu aja. masih pake obor Kya jaman purba.
Retno Isma
🌹🌹🌹🌹
Talita Rafifah artanti
ceritanya bagus, menarik untuk dibaca.
Anita Rahayu
Yg banyak dan panjang thor buat cerita👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Wahyuningsih
q mampir thor dpt bonus ruang dimensi gk thor biar makin sru n buat eliana badaz abiz
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!