Alea hidup dalam realitas kemiskinan mulai dari tagihan listrik dan kontrakan yang menunggak memaksanya berjuang keras banting tulang demi memenuhi kebutuhannya sendri.
Di sisi lain, Arka Adiwangsa hidup dalam kemewahan namun dibayangi darah, pengkhianatan, dan rahasia gelap keluarganya.
Hingga pertemuan tak terduga di tepi jembatan malam itu menjadi titik balik yang mengubah segalanya.
Dua dunia yang bertolak belakang pun berbenturan: Alea perlahan terseret ke dalam pusaran bahaya dunia mafia, sementara logika absurd gadis itu tanpa sadar menundukkan sisi gelap di dalam diri Arka.
Ketika nyawa dan uang receh dipertaruhkan di meja yang sama, akankah sang pewaris takhta akhirnya luluh dan menaklukkan hati Alea? Atau justru mereka harus kembali melangkah di jalan masing-masing?
Kisah mereka lebih dari sekadar pertemuan dua dunia yang tak seharusnya bersentuhan. Penasaran? Langsung baca saja ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Di balik kaca SUV yang gelap, Alea duduk bersila di jok penumpang depan dengan napas yang masih sedikit memburu. Namun, tatapan matanya sama sekali tidak tertuju pada tumpukan manusia berjas hitam yang terkapar di aspal gang.
Gadis itu justru sedang memelototi layar ponsel Android-nya yang retak di ujung kiri, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk layar dengan ritme penuh amarah.
Di luar sana, Arka hanya butuh waktu kurang dari dua menit. Dengan satu jentikan jari, dua sosok berpakaian serba hitam melompat turun dari atap pabrik garmen bak hantu kelaparan.
"Bereskan sampah-sampah ini," perintah Arka dengan suara bariton yang terlampau tenang, matanya menatap dingin para pembunuh bayaran ayahnya yang kini tak sadarkan diri.
"Dan potong dasi mereka. Kirimkan ke atas meja kerja Hartawan Adiwangsa malam ini juga, beserta pesan tertulis: 'Langkah berikutnya, lehermu yang akan kuberikan pada gadis itu.'"
"Dimengerti, Tuan Muda," desis sang regu bayangan, langsung bergerak cepat menyeret tubuh-tubuh besar itu menjauh dari pandangan.
Arka merapikan kerah kemejanya, membuang hawa membunuhnya ke udara, lalu membuka pintu SUV dan duduk di balik kemudi. Ia menoleh ke arah Alea, berekspektasi gadis itu akan menuntut penjelasan tentang siapa orang-orang berjas tadi, atau mungkin meminta jaminan keamanan tambahan.
Namun, Alea justru menoleh dengan wajah memelas yang luar biasa tragis.
"Bos," panggil Alea, suaranya bergetar menahan emosi.
"Lo tahu nggak apa kejahatan paling kejam dan tidak bisa dimaafkan sore ini?"
Arka mengernyit. "Fakta bahwa Papa gue ngirim pembunuh bayaran untuk melenyapkan lo?"
"Bukan!" seru Alea frustrasi sambil menepuk dahinya.
"Paket COD gue muter balik ke hub pengiriman! Lo tahu nggak, di dalam paket itu ada sabun pencerah sama cleanser kolagen yang gue war mati-matian pas flash sale tengah malam?! Kalau besok kurirnya cancel pesanan gue gara-gara dikira pembeli fiktif, gue bakal tuntut keluarga Adiwangsa ke pengadilan niaga!"
Arka terdiam mematung. Otaknya yang terbiasa mengalkulasi strategi perang antar klan mendadak mengalami error sistem. Di saat Arka sedang memikirkan pertumpahan darah dan balas dendam kepada sang ayah, gadis di sebelahnya ini justru sedang berduka atas gagalnya pengiriman sabun cuci muka.
"Hanya karena... sabun?" gumam Arka, nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Bukan cuma sabun! Itu investasi aset wajah!" sembur Alea ngegas.
"Muka gue ini aset buat senyum nyambut pelanggan kafe! Dan sekarang gue jadi telat masuk siff sore dan itu artinya saldo dana gue harus siap-siap di potong untuk bayar denda ke manager!"
Arka membuang napas pelan, menyandarkan kepalanya ke kursi kemudi. Untuk pertama kalinya di hari yang penuh dengan intrik dan ancaman pembunuhan, pemuda itu justru merasakan beban di pundaknya terangkat.
Dunia remajanya yang selama ini hanya berisi warna merah darah dan hitam kelam, mendadak ditabrak oleh warna-warni konyol dari realitas kehidupan Alea yang begitu sederhana namun sangat hidup.
Seringai tipis terukir di bibir Arka. Ia menekan pedal gas, melajukan mobilnya menjauh dari gang tersebut.
"Katakan pada manajer lo, gue yang nyewa seluruh waktu lo sore ini. Jika dia berani memotong saldo lo satu rupiah pun, gue akan beli kafenya trus memecatnya besok pagi."
Alea mendengus, meski dalam hati ia bersorak kegirangan mendengar jaminan finansial tersebut.
"Gaya lo, Bos. Mentang-mentang bawa Black Card."
_______________
Keesokan paginya, langit Jakarta tampak cerah, kontras dengan kekacauan yang terjadi di dalam kamar petak Alea.
"Mati gue! Telat telat telat!" jerit Alea panik. Ia berlari mondar-mandir mengigit selembar roti tawar polos sambil memasukkan buku sejarah ke dalam tas punggungnya, tas yang sama yang ia gunakan untuk membuat hidung pembunuh bayaran patah kemarin sore.
Ia melirik jam dinding plastik di kamarnya. Pukul 06.40 WIB. Angkot langganannya yang berharga tiga ribu rupiah pasti sudah lewat sejak dua puluh menit yang lalu. Jika ia nekat menunggu angkot berikutnya, ia dipastikan akan berakhir mencium pagar besi SMA Harapan Warga dan yang lebih gila lagi harus memberi hormat pada bendera jika ketahuan manjat pagar sama Pak Heri.
Dengan berat hati dan perhitungan akuntansi yang menangis pilu, Alea menyalakan ponselnya. Jari-jarinya dengan cepat melakukan top-up saldo dari rekening bank recehnya ke aplikasi DANA. Setelah saldonya masuk, ia langsung membuka aplikasi Grab.
"Sumpah, tarif GrabBike jam segini harganya bikin ginjal gue bergetar, jor!" ratap Alea sambil menekan tombol pesan, melihat nominal belasan ribu rupiah yang harus melayang pagi ini demi selembar absensi sekolah.
Tiga menit kemudian, seorang driver GrabBike dengan jaket hijau kebanggaan merapat di depan gang kontrakannya. Alea langsung melompat naik, memakai helm SNI yang sedikit longgar, dan menepuk bahu si bapak driver.
"Pak, tolong mode Fast and Furious, ya! Nyawa nilai sejarah gue ada di tangan bapak pagi ini!" seru Alea.
Motor matic itu pun melesat membelah kemacetan ibu kota, menyisakan Alea yang harus pasrah rambutnya diacak-acak oleh angin pagi karena helmnya tidak memiliki kaca penutup.
Sementara itu, di kelas XII-IPS 2.
Arka duduk di bangkunya dengan ketenangan seorang pangeran es. Seragam putihnya tersetrika sempurna tanpa satu pun lipatan yang salah tempat. Rambut hitam pekatnya tersisir rapi, memancarkan pesona aristokrat yang membuat siswi-siswi dari kelas lain rela pura-pura lewat hanya untuk mencuri pandang.
Tadi malam, kediaman Adiwangsa sempat gempar. Hartawan murka besar saat menerima kotak berisi potongan dasi para pembunuh bayarannya. Namun, Arka tak peduli. Pagi ini, ia datang ke sekolah seolah tak terjadi apa-apa, sekadar menikmati rutinitas barunya sebagai murid SMA biasa sambil menunggu anomali favoritnya tiba.
Tepat lima menit sebelum bel masuk berbunyi, pintu kelas didorong kasar.
Alea masuk dengan napas ngos-ngosan. Penampilannya sangat kontras dengan Arka.
Gadis itu tampak seperti baru saja selamat dari badai topan tropis.
Arka menopang dagunya dengan tangan kiri, menatap Alea yang berjalan gontai menuju mejanya dengan kilat geli di matanya.
"Lo terlihat seperti habis bertarung melawan angin puting beliung," komentar Arka saat Alea melempar tasnya ke kursi dan menghempaskan tubuhnya ke meja.
"Diem lo, Tuan Muda," sungut Alea sambil mengeluarkan sisir plastik dari sakunya dan mulai merapikan rambutnya yang sekusut benang layangan.
"Gue habis sedekah dadakan bayar GrabBike gara-gara semalam lo bikin gue begadang ngehitung kerugian finansial akibat insiden di gang. Terus, hari ini gue harus presentasi tugas sejarah, dan klien freelance gue yang pesen jasa desain presentasi malah minta revisi pagi ini!"
Alea tidak membuang waktu sedetik pun. Ia langsung mengeluarkan laptop jadulnya yang tebalnya nyaris menyamai batu bata, menyalakannya, dan langsung membuka situs web Canva. Mata gadis itu menyipit serius menatap layar, jari-jarinya bergerak lincah mengatur tata letak, mengganti palet warna, dan memasukkan teks sejarah perlawanan rakyat ke dalam slide-slide presentasi yang estetik.
"Revisi detik terakhir itu penyakit klien paling menyebalkan sedunia," omel Alea sambil menekan mouse pad-nya.
"Udah tahu harganya harga pelajar, malah minta layout sekelas desainer agensi multinasional. Bos, geser dikit dong! Badan lo nutupin sinyal tethering WiFi dari HP gue nih!"
Arka menuruti perintah itu tanpa protes, menggeser bahunya sedikit.
Alih-alih merasa terganggu dengan kerepotan Alea, sang pewaris justru menyandarkan punggungnya dan memperhatikan layar laptop Alea dengan saksama.
Melihat bagaimana Alea membagi fokus antara bertahan hidup di jalanan, melayani pelanggan kafe, menaklukkan preman bayaran, hingga menyusun tata letak font di Canva demi uang saku tambahan, membuat Arka menyadari satu hal yang fundamental.
Dunia remaja Alea begitu berwarna. Penuh dengan keluhan receh, tawar-menawar harga, jerih payah yang jujur, dan kemarahan yang nyata namun transparan. Di dunia Alea, tidak ada manipulasi berdarah atau pengkhianatan senyap; yang ada hanyalah perjuangan mengejar saldo e-wallet dan diskon gratis ongkir.
"Geser ke kiri sedikit elemen grafis petanya," ucap Arka tiba-tiba, menunjuk layar laptop Alea.
"Komposisinya tidak seimbang jika teksnya terlalu menjorok ke kanan. Klien lo akan komplain lagi soal ruang kosongnya."
Alea menghentikan ketikannya, menoleh perlahan menatap Arka dengan pandangan horor.
"Eh! Tunggu dulu, lo bisa desain juga?!"
"Gue dididik untuk membaca cetak biru tata letak pertahanan dan strategi militer sejak usia tujuh tahun," balas Arka datar.
"Menyeimbangkan visual sebuah slide Canva adalah hal yang terlalu primitif untuk dipertanyakan."
Alea berkedip dua kali, lalu seringai kapitalisnya perlahan merekah lebar. Ia menggeser laptop beratnya ke hadapan Arka.
"Wah! Kalau gitu, silakan eksekusi ini, Bos!" titah Alea santai, menyodorkan mouse-nya.
"Berhubung argo bayaran lo sebagai bodyguard udah lunas, mari kita buka lembaran baru. Lo beresin revisi gue, dan sebagai gantinya, gue bakal lindungi lo dari omelan Bu Siska kalau lo ketahuan tidur di kelas nanti. Deal?"
Bersambung...
udh lah jngan suka mancing2 Alea yg bar2 ini, bisa kena bogem loh buru**nya nnt 😂😂😂