Rania POV
Entah kenapa lesung pipit milik Harry sangat mencuri atensinya sejak pandangan pertama, seperti sangat pas untuk melengkapi wajah tampannya, belum lagi iris mata berwarna hijaunya yang selalu membuat meleleh jika tengah menatapku. apa aku jatuh cinta ataukah hanya sekedar suka?"
Harry POV
"Aku bertambah yakin dengan perasaan ini, dia yang ku cari selama ini, dia yang ku mau. Tunggu aku ya cantik, aku akan memperbaiki diriku terlebih dahulu sebelum menjadi pendamping yang layak untukmu. Seperti kata Brayan jodoh itu cerminan diri, jika ingin mendapat jodoh yang baik maka perbaiki diri kita terlebih dahulu."
Saat hati mereka mulai bertaut, kerikil-kerikil itu terus berdatangan. Mulai dari munculnya kembali Davin, ditambah kedatangan Kylie untuk melanjutkan lagi ambisinya mendapatkan Harry.
Akankah hati mereka terus bertaut? Akankah cinta mereka bersatu dalam sebuah ikatan pernikahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwita Intan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamar Hotel
Pikiran Rania sudah sangat kalut dan buntu saat menawarkan hal gila tersebut kepada Harry. Ia berfikir lebih baik menyerahkan keperawanannya kepada orang yang telah mencuri hatinya daripada harus menikah dan menyerahkan mahkota yang telah ia jaga mati-matian seumur hidupnya kepada orang licik seperti Mirza.
Rania tau tindakan ini tidaklah benar, dosa yang akan ia tanggung tentu sangat besar dan sudah pasti akan membuat Sang Maha Pencipta-Nya murka, namun ia tidak memiliki pilihan lain, hatinya berkata Harry adalah orang yang paling tepat untuk mendapatkannya.
Reaksi Harry tentu sangat terkejut mendengar penawaran konyol Rania, karena ia yakin Rania adalah gadis baik-baik yang tidak mungkin menawarkan keperawanannya terhadap sembarang lelaki. Harry bingung bagaimana menyikapinya, bagaimana mungkin ia membeli keperawanan seorang gadis jika nyatanya ia sendiri juga masih perjaka. Harry berusaha menjaga sekuat tenaga aset berharganya itu untuk perempuan spesial pendamping hidupnya kelak.
"Why Rania?" Tanya Harry masih tak dapat menutupi keterkejutannya.
"Aku terpaksa Harry, aku terpaksa!" Jawab Rania sambil tertunduk, setitik air mata lolos dari pelupuk matanya.
"Baiklah kalau begitu, ayo ikut aku!" Ajak Harry beranjak dari kursinya lalu menarik lembut lengan Rania.
"Tunggu sebentar!" Pinta Rania melepas genggaman tangan Harry lalu mengeluarkan selembar uang seratus ribuan dari dompetnya dan meletakkannya di atas meja.
Rania mengangguk sambil tersenyum lemah kepada Harry mengisyaratkan bahwa ia telah siap untuk pergi dengan pria itu. Ia mengikuti langkah Harry yang berada sedikit di depannya. Mereka menuju parkiran dan memasuki mobil.
Setengah jam berlalu, Harry membelokkan mobilnya ke pelataran sebuah hotel yang tak asing lagi bagi Rania, roof top di hotel ini yang menjadi saksi bisu tumbuhnya benih-benih cinta di dalam hatinya kepada pria yang saat ini tengah menggenggam tangannya, pria yang mungkin akan mendapatkan mahkotanya yang paling berharga di malam ini.
Sang resepsionis hanya menyapa Harry dengan ramah dan membiarkannya melenggang masuk tanpa harus check in terlebih dahulu. Rania menatap ke arah Harry dengan penuh tanda tanya, Harry menjawab dengan mengedikkan bahu sambil tersenyum.
Harry membawa Rania ke lantai 17, tepat satu lantai di bawah roof top. Lantai ini nampak berbeda dari lantai yang lain di hotel ini, karena hanya ada 4 pintu yang masing-masing saling berhadapan, selebihnya hanya ada kolam renang, jacuzzi dan arena gym dengan fasilitas yang sangat lengkap.
Harry mengeluarkan kartu akses dan membuka salah satu dari keempat pintu itu, nuansa mewah terasa sangat kental saat memasuki kamar ini. Kamar ini luasnya berkali-kali lipat dari kamar hotel biasanya, warna black and gold masih tetap mendominasi nuansa kamar ini.
"Yuk masuk!" Ajak Harry tersenyum sambil membuka pintu kamar hotelnya lebar-lebar.
Rania melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar hotel itu dengan perasaan tak menentu. Dulu ia berharap masuk ke dalam kamar hotel seperti ini bersama pasangan halalnya saat honeymoon. Namun kenyataannya ia malah harus melepas kehormatannya sebelum menjadi halal.
Harry terlihat melepas kemeja dan celana formalnya menyisakan kaos putih berlengan pendek juga celana pendek berwarna senada. Badan Rania mendadak panas dingin menyaksikan itu semua, Harry terlihat semakin menawan dengan kaos fit body yang mencetak sedikit roti sobeknya dan menonjolkan otot lengannya yang lumayan kekar membuat Rania terpana hingga beberapa saat.
"Kenapa tak sabar lagi untuk melihatnya hmm?" Goda Harry berjalan mendekati Rania sambil mengulum senyum lalu ia menyingkap sedikit kaosnya ke atas.
"Ih apa sih kamu!" Ucap Rania malu sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Tunggu setelah aku mandi ya!" Goda Harry lagi sambil menyentuh dagu Rania dan segera berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Ya Allah bisa-bisa gue kena serangan jantung kalau deket-deket dia terus!" Gumam Rania sambil memegangi bagian luar dari jantungnya yang berdetak qwtak beraturan.
Rania dikejutkan oleh suara ringtone dari handphone di dalam tasnya. Terlihat My Soulmate calling... dari layar handphone tersebut.
"Aduh Bunda telepon lagi? Gue harus bilang apa? Bunda pasti khawatir gue belum pulang ke rumah jam segini. Aduh gimana angkat gak ya?" Oceh Rania bingung sambil mondar mandir tak jelas.
Akhirnya Rania memilih mendiamkan panggilan bunda, ia bingung harus menjawab apa kepada bundanya karena ia tidak terbiasa untuk berbohong, sedangkan untuk jujur rasanya mustahil juga, bisa-bisa bunda mendadak kena serangan jantung saat itu juga.
Telepon berhenti berdering digantikan oleh suara notifikasi pesan. Rania mengintip tanpa membuka aplikasi chatnya.
My Soulmate
Nak kamu dimana? Bunda sangat khawatir, perasaan bunda juga gak enak. Mudah-mudahan Allah selalu menjaga dan meridhai setiap langkahmu. Bunda cuma pesan jaga diri dan kehormatanmu. Segera kabari bunda ya sayang!
Rania merasa tertampar mengintip pesan yang dikirim bunda barusan, feeling seorang ibu pada anaknya memang tidak main-main. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, matanya tak dapat membendung lagi hingga membuat tetesan-tetesan kecil yang lama-lama menjadi kian deras. Rania terduduk di atas lantai marmer yang dingin sambil memeluk kakinya.
"Andai aku punya pilihan bun, kehormatan ini akan ku jaga hingga mati sekalipun. Tapi aku minta maaf sepertinya aku gak bisa menjaganya lagi bun, ada yang lebih menakutkan daripada mati ataupun kehilangan kehormatan, yakni mengabdikan sisa hidup di neraka yang akan Mirza dan Maminya ciptakan jika aku tak memilih melepas kehormatan ini. Aku harap bunda masih bisa terima aku saat aku pulang nanti walau dalam keadaan ternoda!" Gumam Rania dalam hati sambil menangis sesenggukan.
Harry yang baru saja keluar dari kamar mandi merasa terkejut saat mendapati Rania yang tengah duduk di lantai sambil menangis hebat.
"Kenapa cantik? Bangun yuk jangan duduk di lantai, dingin!" Pinta Harry seraya mengangkat dan mendudukkan tubuh Rania di tepi ranjang.
Harry berjalan ke arah kulkas lalu mengeluarkan dua botol air mineral dari dalamnya dan menyodorkan salah satunya ke hadapan Rania yang tengah memalingkan wajahnya.
Tanpa bersuara Rania hanya mengambil botol minum itu dari tangan Harry tanpa berniat membuka atau meminum isinya, ia hanya menggenggam erat botol itu.
"Rania, look at me. Tell me what happened?" Tanya Harry sambil memegang dagu Rania lalu mengarahkan dengan lembut menghadap tepat ke arahnya.
"Aaaarrrggghhhtttt!" Rania tiba-tiba berteriak sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan saat pandangannya membentur sesuatu yang janggal pada Harry.
"Kenapa lagi Rania?" Tanya Harry mengernyit bingung.
"Lihat aja sendiri ke arah bawah!" Jawab Rania tanpa sedikitpun membuka celah di telapak tangannya.
"Oh ****!" Ujar Harry saat menyadari ia hanya memakai ****** ***** lalu setengah berlari mengambil handuknya yang terlepas di depan pintu kamar mandi.
"****!! Apa sekarang Rania sedang berfikir bahwa saya betul-betul seorang yang mesum? Sangat memalukan sekali Harry bodoh!" Rutuk Harry dalam hati sambil memukul pelan kepalanya. Terlihat Rania masih dengan posisi menutupi wajahnya.
Harry buru-buru mengambil celana pendek dan kaos dari lemari yang disediakan di kamar hotel itu lalu segera memakainya dengan tergesa.
"Ran, aku sudah berpakaian. Aku benar-benar minta maaf ya, aku panik saat lihat kamu menangis sampai gak sadar handuk aku terlepas! Pinta Harry sambil duduk di samping Rania.
Rania membuka sedikit celah di telapak tangannya untuk memastikan Harry telah mengenakan pakaian yang lengkap, ia bernafas lega lalu melepas telapak tangan dari pandangan matanya saat melihat Harry tengah berdiri di depan matanya dengan pakaian yang lengkap bonus senyumnya yang menawan.
"Sudah siap?" Tanya Harry tiba-tiba senyumnya berubah menjadi senyum jahil sembari menunjuk ke atas kasur.
alur cerita ya jadi lupa sangkin lama up ya
apa authornya msh hidup???
Ditunggu feedback nya...
Mampir, juga yuk ke novel aku. Mari, kita saling mendukung ❤️