Setelah dua kali mengalami keguguran membuat Vivienne Laurent rela mempertaruhkan segalanya demi satu harapan terakhir. Atas permintaan suaminya, Dominic Ashcroft, ia menjalani program bayi tabung.
Namun, kebahagiaan itu runtuh seketika ketika sebuah pesan datang dari Killian Prescott, pria yang selama ini menjadi musuh abadinya.
"Bayi yang kau kandung bukan berasal dari sel telurmu. Dominic telah menukarnya dengan sel telur Giselle Moreau—selingkuhannya."
Vivienne menolak mempercayainya. Hingga satu demi satu bukti mengungkap kenyataan yang jauh lebih kejam: rahimnya telah dijadikan alat untuk mengandung anak hasil pengkhianatan suaminya.
Akankah Vivienne mempertahankan bayi yang tumbuh di dalam rahimnya atau menggugurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Apartemen Estelle terasa jauh lebih tenang dibandingkan biasanya. Cahaya matahari masuk melalui jendela besar dan jatuh di atas meja yang dipenuhi dokumen. Suasana yang seharusnya terasa berat karena pembicaraan tentang perceraian justru menjadi lebih santai karena hanya ada dua sahabat yang sudah saling mengenal sejak lama.
Vivienne duduk di sofa sambil memegang sebuah map cokelat. Sesekali tangannya bergerak mengusap perutnya yang semakin besar. Gerakannya lembut dan hati-hati, seolah ingin memastikan bayi di dalam kandungannya tetap nyaman.
Di hadapannya, Estelle sedang memeriksa beberapa dokumen perceraian. Jemarinya membalik halaman demi halaman dengan teliti sebelum berhenti pada salah satu lembar.
"Kalau kamu benar-benar ingin mengajukan gugatan cerai, jangan terburu-buru," ujar Estelle sambil menunjuk beberapa bagian dokumen dengan ujung jarinya. "Pastikan semua bukti sudah lengkap. Jangan sampai ada celah yang bisa dimanfaatkan Dominic."
Vivienne mengangguk pelan. Tatapannya tetap tertuju pada dokumen di tangannya.
"Aku tidak akan terburu-buru. Aku ingin semuanya selesai dengan cara yang benar," jawab Vivienne dengan suara tenang.
Estelle menutup map tersebut, kemudian menyandarkan tubuhnya ke sofa. Ia mengambil cangkir teh yang berada di atas meja dan menyeruputnya perlahan.
"Aku belajar banyak dari perceraian kemarin," ujar Estelle sambil tersenyum santai.
Vivienne mengangkat wajah dan menatap sahabatnya. "Kamu memang pintar memanfaatkan kesempatan," katanya sambil tersenyum tipis.
Estelle langsung mengangkat alis. "Jangan bilang begitu. Kedengarannya aku seperti perempuan licik," kilahnya sambil menunjuk Vivienne dengan wajah pura-pura tersinggung.
"Kamu memang licik," jawab Vivienne datar.
Estelle langsung meraih bantal kecil di sampingnya dan melemparkannya ke arah Vivienne.
"HeI!" seru Estelle sambil tertawa.
Vivienne menangkap bantal itu tepat sebelum mengenai wajahnya. Ia pun tertawa kecil. "Baiklah, aku bercanda," ujar wanita hamil itu sambil mengembalikan bantal tersebut.
Estelle mendengus, lalu mengambil kembali bantal itu dan memeluknya. "Begitu, dong. Jangan terlalu serius."
Beberapa saat kemudian, senyum Estelle berubah lebih tenang. Ia kembali memainkan cangkir di tangannya. Tidak ada kesedihan di wajahnya ketika membicarakan perceraian dengan Justin. Justru sorot matanya terlihat lega, seolah sebuah beban besar telah diangkat dari pundaknya.
"Aku dan Justin memang tidak pernah saling mencintai," ujar Estelle dengan tenang. "Pernikahan kami hanya hasil kesepakatan keluarga."
Vivienne menatap sahabatnya dengan penuh perhatian. "Lalu, kenapa kamu baru menceraikannya sekarang?" tanya istri dari Dominic, penasaran.
Estelle mengangkat bahu sambil tersenyum tipis. "Karena aku sudah menghitung semuanya dengan matang."
Vivienne mengernyitkan kening. "Menghitung?"
"Iya," jawab Estelle sambil terkekeh kecil. "Umur pernikahan, pembagian harta, kewajiban masing-masing pihak, sampai alasan perceraian yang paling aman untuk keluargaku."
Vivienne menggeleng pelan melihat ketenangan sahabatnya. "Kamu benar-benar sudah merencanakannya sejak awal."
"Daripada menikah tanpa cinta, lalu bercerai tanpa persiapan," balas Estelle sambil mengangkat alis. "Aku lebih suka memastikan diriku tidak menjadi pihak yang dirugikan."
Estelle tersenyum puas. "Dan sekarang semuanya sudah selesai."
"Jadi kamu tidak sedih?" tanya Vivienne sekali lagi.
Estelle justru tertawa kecil. "Sedih untuk apa?" jawabnya sambil mengangkat bahu. "Aku malah senang."
Estelle menyandarkan tubuhnya dengan nyaman. "Setelah bertahun-tahun tinggal di luar negeri, akhirnya aku bisa kembali ke negara ini. Aku bisa berkumpul lagi denganmu."
Estelle kemudian meraih tangan Vivienne dan menggenggamnya erat. "Aku benar-benar merindukanmu."
Senyum hangat muncul di wajah Vivienne. "Aku juga senang kamu pulang. Rasanya seperti kembali punya teman untuk melakukan banyak hal."
"Dan ada satu hal lagi," ujar Estelle sambil menyipitkan mata.
Vivienne mengangkat alis. "Apa?"
Estelle tersenyum penuh arti. "Aku akhirnya bisa bertemu kembali dengan Arthur."
Mata Vivienne langsung berbinar.
"Arthur?" tanya Vivienne sambil menahan senyum karena sekarang tahu alasannya memilih tinggal di apartemen seorang diri, dibandingkan di rumahnya.
"Jangan pura-pura tidak tahu. Kamu tahu sendiri siapa Arthur," kata Estelle sambil mencubit ringan lengan sahabatnya.
Vivienne tertawa kecil. "Bodyguard sekaligus sopir pribadimu yang badannya seperti dewa-dewa Yunani itu?"
"Benar," jawab Estelle sambil tersenyum malu-malu.
Senyum Estelle kali ini berbeda. Ada kelembutan yang tidak pernah muncul ketika ia membicarakan Justin. Tatapannya bahkan berubah sedikit malu ketika nama Arthur disebut.
"Arthur sudah menemaniku selama bertahun-tahun," ujar Estelle pelan. "Dia selalu ada ketika aku membutuhkannya."
Estelle menundukkan wajah sebentar sebelum kembali tersenyum. "Jadi sekarang aku sudah tidak punya alasan untuk terus menjauh darinya."
Vivienne menatap sahabatnya dengan senyum hangat. "Semoga keluargamu tidak membuat masalah lagi."
Senyum Estelle perlahan memudar. Ia menghela napas panjang sebelum menyandarkan punggungnya ke sofa.
"Itulah satu-satunya masalah," jawab Estelle lirih. "Keluargaku masih menganggap Arthur tidak pantas untukku."
Vivienne menggenggam tangan Estelle lebih erat. "Kalau begitu, kita hadapi bersama," ujar Vivienne dengan tegas.
Estelle menoleh, lalu tertawa kecil. Ia menatap Vivienne penuh arti.
"Itu sebabnya aku senang sudah kembali. Aku tidak sendirian lagi."
Vivienne tersenyum. Untuk beberapa saat, suasana di antara keduanya terasa hangat.
Namun, tiba-tiba Estelle seperti teringat sesuatu. Senyum di wajahnya perlahan menghilang. "Oh, iya, Vivi," ujar Estelle.
Vivienne menoleh. "Apa?" tanyanya.
"Semalam aku sempat bertukar pikiran dengan Killian."
Mendengar nama itu, Vivienne langsung mengernyit. "Apa yang kalian bicarakan?"
Estelle mengangguk. "Dia membicarakan tentang bayi yang sedang kamu kandung."
Senyum Vivienne perlahan menghilang. Tangannya refleks bergerak mengusap perutnya.
"Kenapa?" tanya Vivienne dengan suara lebih serius.
Estelle menatapnya beberapa saat sebelum menjawab. "Killian punya satu cara."
Vivienne terdiam. "Cara apa?" tanyanya penasaran.
Estelle menarik napas panjang. "Menurut Killian, kamu tidak perlu terus hidup dalam ketakutan mengenai asal sel telur bayi ini."
Vivienne menatap sahabatnya lekat-lekat. "Bagaimana caranya?" tanya Vivienne.
Estelle sedikit merendahkan suaranya. "Dokter Malcom bisa memberikan keterangan bahwa sel telur yang digunakan dalam proses bayi tabung itu adalah milikmu."
Tubuh Vivienne langsung menegang. Matanya melebar. "Apa?" tanyanya dengan suara nyaris berbisik.
"Killian bilang, kalau Dokter Malcom bersedia memberikan pengakuan tersebut, posisi kamu sebagai ibu akan jauh lebih kuat," jelas Estelle sambil menggenggam tangan Vivienne. "Setidaknya, kamu tidak perlu terus khawatir ada orang yang suatu hari nanti mencoba mengambil bayi ini darimu."
Vivienne tidak langsung menjawab. Tangannya masih berada di atas perutnya. Tatapannya turun perlahan, menatap perut yang semakin besar itu. Ada keterkejutan di wajahnya. Di balik keterkejutan tersebut, perlahan muncul sesuatu yang lain, harapan.
Vivienne sudah tahu siapa pemilik sel telur bayi itu. Killian telah memberitahunya sejak awal. Ia tidak pernah mempersoalkan hal tersebut karena baginya, bayi itu tetap anak yang tumbuh di dalam tubuhnya.
Namun, ada satu ketakutan yang diam-diam selalu menghantui pikirannya. Bagaimana jika suatu hari nanti Giselle atau keluarga Dominic menggunakan fakta tersebut untuk mencoba merebut bayinya? Pikiran itu saja sudah membuat dadanya sesak.
Estelle menggenggam tangannya lebih erat. "Killian bilang kamu tidak perlu takut," ujar Estelle meyakinkan.
Vivienne menelan ludah. "Dan Dokter Malcom mau melakukan itu?" tanya Vivienne.
Estelle tersenyum tipis. "Kalau Killian sudah turun tangan, kurasa dia akan membuat dokter itu mengatakan kebenaran yang kita butuhkan."
Vivienne kembali menatap perutnya. Jemarinya bergerak perlahan, mengusap permukaan perut dengan penuh kasih.
Estelle memperhatikan sahabatnya tanpa berkata-kata.
Tangan Vivienne terus mengusap perutnya. Namun kali ini, senyum di wajahnya bukan lagi senyum seorang perempuan yang sedang menenangkan dirinya sendiri. Itu adalah senyum seorang ibu yang sudah mengambil keputusan.
Jauh di dalam hatinya, Vivienne tahu satu hal. Setelah urusan Dokter Malcom selesai, tidak akan ada lagi alasan baginya untuk mundur.
Ara pasti sangat menggemaskan pakai baju princess