Cinta kadang menempati ruang yang tak seharusnya.
Namun bagai mana bisa melewatkan cinta itu jika cinta itu sendiri sudah menjadi takdir.
Apakah terlarang, atau di benci?.
Walau terkadang cinta yang datang setelah cinta sebelumnya adalah terlarang, namun bagai mana jika itu malah menjadi semangat hidup buat seseorang?.
Begitu pula cinta Emilliano, seorang artis papan atas yang tidak sengaja jatuh cinta kepada perempuan yang menolongnya dari rencana bunuh diri yang pernah di lakukan olehnya, perempuan itu adalah Aliliana yang tak lain adalah istri pamannya sendiri.
Ditengah terpaan desas desus buruk yang menimpanya, Emiliano juga harus terjebak cinta segitiga dengan istri dari pamannya sendiri, lalu dapatkah Emiliano keluar dari masalah yang ia hadapi, dan bagai mana ia melanjutkan jebakan kisah asamaranya?.
Ikuti cerita singkatnya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaniH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa mereka begitu berarti.
Setelah puas membiarkan Lili menangis, Emilio membawa perempuan itu ke Penthosenya.
Aliliana duduk termenung di ruang tamu dengan tatapan kosong, sementara otaknya kini masih di penuhi dengan kelebatan memori tiga tahun ia menjalin rumah tangga dengan Zian.
Beberapa kenangan pahit dan manis membuat Aliliana kembali menitikan air mata.
"Apa begitu menyakitkan di khianati oleh orang tidak bermutu seperti mereka?" Tanya Emilio, berjalan ke dekat Aliliana dengan membawa dua kaleng susu. Aliliana menyambut Emilio dengan tatapan dingin, sudut matanya yang masih memerah karena tangis malah dibuat kesal dengan ejek kan dari Emilio.
Memang susah untuk di akui, tapi apa boleh di kata dirinya memang pernah di kelabui dengan rasa cinta yang tulus kepada Zian dan Feronika. Sebegitu tulusnya perasan yang Aliliana berikan sampai sampai sebuah pengkhianatan amat tidak pantas buat dirinya.
Emilio hanya tersenyum kecil saat menangkap tatapan kesal dari Aliliana, sambil mengasongkan sekaleng susu hangat kepada Aliliana.
"Minumlah selagi masih hangat!." Suruhnya.
Aliliana yang patah hati sempat enggan melakukan apapun, termasuk untuk menerima sekaleng susu dari Emilio.
"Mil. Apa kau pernah merasakan kecewa?. Menurutmu apa yang salah atau kurang dalam tindakan mu?" tanya Aliliana terdengar sedang menyalahkan dirinya, Emiliio menggeleng.
"Kau sudah dibuat begini apa masih mau menyiksa diri dengan berfikir macam macam?. Apa orang orang itu begitu berarti sehingga pantas kau tangisi sebegitu hebat?. Kau menyiksa diri dengan menangis dan berfikir apa yang salah dari mu, apa yang kurang darimu? padahal bukan kau yang salah melainkan mereka. Jika kau bertanya padaku maka kesalahanmu hanya satu, kau salah karena sudah berusaha tinggal di tempat yang salah" Cemooh Emilio dengan senyum ketir yang mengejek, meneguk susu hangat yang sama seperti yang ia berikan kepada Aliliana.
Aliliana merasa tertampar dengan ucapan Emilio.
Emilio mengedik penuh paksa masih berusaha mengasongkan susu kepada Aliliana.
Aliliana menerima susu yang di asongkan Emilio namun wajahnya begitu keberatan "Kejadian ini mengingatkan aku pada seseorang yang hampir bunuh diri karena bermasalah" Balik mencemooh Emilio karena kesal sudah menyalahkannya.
Emilio tertawa kecil mendengar rutukan Aliliana yang membandingkan tentang dirinya.
"Hhha baiklah aku mengaku," Duduk di kursi tak jauh dari Aliliana "Tapi kau harus tau. Saat itu masalahku terlalu banyak, di tipu teman sendiri, di fitnah, dan di tuduh menggelapkan aset, dan pelecehan seksual." Raut wajah Emilio berubah sendu. "Orang orang disekitarku tampak begitu kecewa, banyak fans yang menghujat ku bahkan menyumpahi ku. Tapi semuanya masih baik baik saja sampai tiba tiba Film ku di larang tayang dan semua Investor menarik investasi mereka dan malah balik mengajukan somasi yang tidak sedikit.
Bayangkan saja berapa ratus orang yang sudah bekerja keras bersama ku untuk film tersebut?. Kami semua hampir bersenang-senang karena syuting film sebentar lagi berakhir dan kami siap menerima upah dari kerja keras kami tapi tiba tiba aku terseret kasus dan mereka terpaksa harus ikut terjebak dengan masalah yang menimpaku. Syuting film dipaksa di hentikan dan jadwal tayang terpaksa di undur dengan waktu yang belum jelas."
"Tapi kenapa kau sedih?. Apa mereka (Teman Kerja) menyalahkan mu?" Tanya Lili yang begitu cermat mendengarkan cerita Emilio
"Justru karena mereka tidak menyalahkan ku, tekanan batin ku semakin terasa sesak"
"Masalah itu sudah berlalu cukup lama, apa kau belum menemukan jalan keluarnya, Mil.? Seorang artis sangat wajar terkena skandal tapi mereka selalu punya cara untuk menyelesaikan masalah" Aliliana kembali bertanya untuk menuntaskan pertanyaan yang selama ini menggelayuti fikirannya.
"Kau benar tapi saat ini masih belum. Terlalu banyak masalah yang hidup di otak ku sehingga untuk jalan keluar dari masalah ini belum begitu terfikirkan. Tapi seharusnya masalah ini cepat selesai, andai kamera pengawas di kamar hotel itu tidak rusak"
Aliliana mendelik sesaat seperti mendapat kejanggalan.
"Menurut kabar yang aku dengar kau habis mabuk di sebuah Club. Apa kau benar benar kehilangan kesadaran, Mil?"
Emilio tampak mengurut kening, mungkin terheran dengan kabar simpang yang ia dengar dari Aliliana "Aku memang sedang minum, tapi...
Fikiran Emilio mulai terbuka, mengenai masalah pelecehan malam itu ia 1000% yakin tidak dalam keadaan terpengaruh oleh minum alkohol tetapi tiba tiba ia hilang kesadaran dan berakhir di kamar hotel dengan seorang gadis belia yang sama sekali tidak ia kenali.
"Mil. Mil. Emilio!" Terakhir Aliliana membentak sebab Emilio tampak melamun.
"Ah. Maaf! Apa yang kau ceritakan? Maaf aku tidak mendengarkan mu, bisa kau ulangi? Kali ini aku akan mendengarkan mu lebih baik" Ucap Emilio saat meminta maaf karena merasa telah mengabaikan Aliliana.
Mendengar runtutan kalimat yang keluar Aliliana merasa ingin tertawa, belum pernah ia bertemu dengan lelaki yang tampak menyesal hanya karena tidak menjadi pendengar yang baik.
"Hahaha, Mil. Apa kau selalu begini saat sedang berbicara dengan orang lain?. Kau begitu kaku"
Emilio terkaku tidak paham mengapa Aliliana tiba tiba tertawa, padahal ia tidak sedang membuat lelucon.
Melihat ekspresi Emilio, Lili cepat menjelaskan "Hei. Aku belum berbicara apapun untuk apa kau meminta maaf?"
"Oh. Hhe" Tersenyum bingung
"Hmmm.. Tampaknya masalah mu cukup mengerikan. Lihat, masalah itu sudah mempengaruhi mental dan jiwamu, apa harusnya malam itu aku tidak menolong mu ya, Mil.? Apa kau menyesal hidup kembali?. Harusnya sekarang kau bisa beristirahat dengan tenang, bukan?. Apa kau marah padaku karena ku selamatkan hidupmu?" Aliliana mencoba bercanda.
"Hei ucapan macam apa ini?. Kau terdengar menyesal telah menolongku, Lili. "
"Bukan aku, tapi kau Mil. Kau tampak begitu menyesal aku selamatkan. Wajah mu begitu kusut dan kurang semangat"
Emilio menggeleng "Tidak. Aku tidak menyesal, Lili. Justru aku.."
Aliliana memotong "Tapi aku lihat kau mengangguk, Mil. Itu tandanya kau menyesal"
Emilo kembali menggeleng, kali ini lebih jelas "Apa ini terlihat seperti mengangguk?." Menunjuk kepalanya yang sedang menggeleng.
"Ya. Kau mengangguk untuk yang kedua kalinya, Mil" Aliliana menahan tawa.
"Tidak, Lili. Aku tidak mengangguk!"
"Kau mengangguk, Mil"
Emilio mendecak bingung bagai mana menjelaskan, menggaruk tengkuknya yang tak gatal lalu merebahkan pundaknya kesadaran kursi, wajah muram tampak kesal oleh candaan Aliliana.
Aliliana mengatup kan bibirnya, merasa salah karena telah mengganggu Emilio dan memutuskan berhenti bercanda "Baiklah, kau menggeleng" Alilina berhenti mengatai Emilio. "Kau tak perlu kesal aku hanya menggodamu"
Emilio tertawa "Hahhaa.. Tampaknya akting ku masih lumayan, terlihat kau terpengaruh dengan mimik wajah ku. Tanpa berkata apapun kau sudah merasa bersalah."
Kesal karena telah tertipu dengan raut wajah Emilio barusan membuat Aliliana tidak bisa menahan diri untuk memukulnya dengan bantal.
"Emil. Kau mengerjai ku?" Aliliana menghujani tubuh Emilio dengan pukulan.
"Aw. Aw, Aw" Rintih Emilio di selingi tawa kecil.
"Menyesal, menyesal. Aku menyesal telah menyelamatkan mu aktor kurang ajar" Meski sudah terkapar di atas kursi, nyatanya Aliliana belum puas memukuli Emilio.
"Tunggu!" Emilio memegang tangan Aliliana, spontan Aliliana terkejut dan sempat mematung terkejut karena Emilio memegang tangannya, yang paling membuat Aliliana terkaku ternyata ia secara tidak sengaja sedang menindih tubuh Emilio.
Saking asiknya melumpuhkan Emilio, Aliliana sampai tidak menyadari apa yang sedang terjadi.