Indonesia
NovelToon NovelToon
Melawan Semesta

Melawan Semesta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Awan Biru

cinta yang tidak seharusnya
cinta yang dipandangan semua orang adalah hal yang begitu tabu, salah dan bahkan tidak seharusnya. namun sayangnya perasaan itu semakin hari semakin besar dan menggunung.

cinta terlarang....
perasaan bahagia terasa menggelitik namun bersamaan dengan itu, perasaan takut lebih mendominasi. takut semua orang tau, takut dipandang rendah dan begitu takut untuk kehilangan.

bukankah tidak ada yang salah dalam mencintai...?
bahkan cinta itu banyak orang mengatakan kalau cinta itu adalah anugerah.
lalu apakah mempunyai perasaan padanya adalah sebuah anugerah...?

semesta pun mungkin akan menentang, tapi... bisakah kisah cinta itu melawan semesta...?

garis takdir Tuhan tidak yang tau

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melawan semesta 17

Jenan tersenyum sumringah ketika kedua netranya melihat Julian. Ia bahkan melambai semangat kepada laki-laki cantik itu dan Julian membalas melambaikan tangan juga. Laki-laki manis itu bahkan tanpa segan mengambil langkah untuk berjalan ke arah Julian namun sebuah tangan menahan lengannya hingga kepalanya memutar ke samping.

"Mau kemana...?" Suara lembut Genta terdengar di telinga Jenan. Ia dapat melihat kalau saat ini Genta menatapnya dengan pandangan sulit untuk ia jabarkan. Entahlah, Jenan merasakan kalau Genta bersikap aneh kepadanya sejak kemarin malam.

"Mau samperin Julian, bentar saja kok nggak lama"

Genta mengalihkan matanya ke arah Julian berada. Masih ada Rafael juga Raja di sana, si playboy yang mendekati siapapun yang menarik perhatiannya. Raja, bahkan sudah terkenal di sekolahnya bagaimana laki-laki itu selalu berganti-ganti pasangan setiap harinya.

"Di sini saja, di sini lebih aman" Genta menarik tangan Jenan untuk mendekat padanya.

Jenan menaikkan satu alisnya. Aman katanya...? Sungguh ucapan itu begitu ambigu untuk Jenan jabarkan. Apa pula yang akan mengancam dirinya, bahkan ia tidak melihat apapun yang merasa dirinya terancam di tempat itu.

"Kamu bicara seperti itu kayak di sana ada bahaya saja. Lagian aku mau nyamperin Julian, bukan mau adu jotos"

"Nggak perlu, tetap di sini" Genta terus menahan tidak membiarkan sedikitpun tangan Jenan terlepas dari genggamannya.

"Posesif banget si Ta, kayak Jenan mau di culik saja" celetuk Gafar yang mendapatkan pelototan dari Genta.

"Namanya juga bucin" Edwin mencibir.

"Ngomong apa sih kalian, nggak jelas" Jenan jengah mendengarnya. Ia sama sekali tidak mengerti. Ia bahkan memaksa agar Genta melepaskan tangannya namun lagi-lagi Genta tidak melepaskan genggaman itu malah semakin erat dan membawa tangan Jenan ke dalam saku jaketnya.

"Lebih bagus kamu nggak ngerti sih Jen, supaya kamu tetap waras dan aman" Junan menimpali.

Jenan menghela nafas, ia baru pertama kali ini ikut bergabung dengan geng teman-teman Junan. Sebenarnya ia suka, apalagi ke tempat seperti ini walaupun ada rasa takut jangan sampai terjadi sesuatu dengan Junan namun ia senang. Hanya saja dirinya tidak mengerti dengan sikap Genta padanya. Entahlah, Jenan merasa pusing jika memikirkan hal itu.

Semakin lama tempat itu semakin ramai bahkan tanpa Junan duga seseorang yang ia hindari selama ini rupanya datang ke tempat itu. Caca sumringah melihat Junan, berjalan cepat menghampiri dan menyapa. Gadis itu datang bersama Andin juga Reza hanya saja Reza lebih memilih menyapa Julian yang ia lihat bersama Rafael.

"Gila kamu Lian, rupanya kamu di sini juga" Reza merangkul bahu Julian. Raja sudah pergi meninggalkan mereka mempersiapkan semuanya.

"Kamu datang sama siapa Za...?" Tanya Julian.

"Caca sama Andin, tuh mereka di sana" Reza menunjuk kedua gadis itu dengan dagunya.

Rafael ikut melihat ke arah dimana Reza mengarah pandangan. Caca juga Andin bergabung dengan geng Junan. Ia hanya tersenyum smirk dan menatap tajam orang-orang itu. Julian hanya mengangguk paham, Caca dan Andin memang bersama Junan juga yang lainnya.

"Ngomong-ngomong ya, besok itu hari Senin. Semoga kita nggak bangun kesiangan setelah pulang dari tempat ini" ucap Reza lagi.

"Pasang alarm" Rafael menjawab singkat.

"Nggak mempan, paling hanya bangun kasi mati terus lanjut tidur lagi"

"Kayaknya kamu orang yang susah untuk bangun pagi ya Za" tebak Julian.

"Kok kamu tau...? Dukun ya...?"

"Paranormal aku"

"Ck, sama saja" delik Reza yang sambut kekehan kecil dari Julian.

____

"Aku senang bertemu kamu disini" Caca menampakkan senyum manisnya, ia tidak menyangka akan bertemu Junan di tempat itu dan itu adalah hal yang membahagiakan baginya.

"Tapi aku nggak senang ketemu kamu" Junan berucap tanpa filter dan terdengar jutek.

Senyuman Caca langsung pudar, selalu saja seperti itu ketika ia bertemu dengan Junan. Laki-laki itu pasti akan bersikap tidak peduli dan tidak suka kepadanya.

Yang lain saling melirik, mereka tidak tau harus bersikap seperti apa sekarang. Kedatangan Caca sudah pasti akan membuat mood Junan rusak dan tidak akan baik-baik saja. Andin hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia juga pusing dengan temannya yang masih saja mengejar Junan padahal dulu temannya itu yang membuang Junan begitu saja.

"Segitu bencinya ya kamu sama aku Jun. Aku bahkan udah minta maaf beribu kali"

"Permintaan Maafmu tidak akan merubah apa yang pernah kamu lakukan Ca"

"Terus aku harus gimana supaya kamu maafin aku"

"Pergi dari kehidupan aku, jangan memunculkan diri di depanku"

"Tapi aku masih sayang sama kamu Jun"

"Itu bukan urusanku" Junan memilih untuk pergi.

"Jun" Caca menahan lengannya, gadis itu tidak ingin Junan terus membencinya. "Aku akan melakukan apapun asal kamu mau maafin aku"

Juna sungguh muak mendengarnya. Dengan sekali hentakkan, tangan Caca terlepas dari lengannya. Junan pergi begitu saja, emosi kini mulai hinggap di kepalanya. Ia benar-benar kesal kenapa bisa ada Caca di tempat ini.

Caca hendak mengejar Junan namun Edwin menahannya dan menarik agar gadis itu mundur sejajar dengan mereka. "Jangan buat kekacauan deh Ca, jangan paksa Junan kalau dia nggak mau"

"Aku nggak peduli mau Junan menolakku seribu kali pun, aku akan tetap mendekat padanya. Kamu nggak punya hak untuk melarang aku" Caca menatap tajam Edwin yang mendengus mendengar jawaban gadis itu.

Sedikit emosi, Edwin menghentakkan tangan Caca dengan kasar hingga Caca bahkan menabrak Andin yang berdiri di sampingnya.

"Kamu memang perempuan nggak tau malu ya. Setelah membuang Junan sekarang kamu datang lagi di kehidupannya. Untuk apa...? Untuk membuatnya hancur lagi seperti yang lalu. Punya otak itu di pake, perempuan seperti kamu nggak akan masuk lagi dalam list kehidupan Junan" Edwin dengan emosinya menatap nyalang Caca yang melotot dengan tatapan tajam.

"Daripada kamu di sini, mending sana samperin pacar kamu. Atau kalian sekarang nggak pacaran lagi ya, karena aku lihat dia udah nggak peduli tuh sama kamu. Kamu nggak dibuang kan...? Kalau iya kasian banget kamunya, jadi perempuan jangan terlalu murahan"

"KAMU"

Caca hendak melayangkan tamparan ke wajah Edwin namun satu tangan menangkap tangannya dan menghempaskan dengan kasar. "Mikir dulu kalau mau main kasar. Kita semua di sini itu laki, satu tanganku saja bisa melempar kamu ke jembatan kalau aku mau" Gafar menatap tajam Caca yang kini semakin kesal dan jengkel

"Ca, udah...jangan buat masalah di sini" Andin menarik Caca, membawa pergi temannya itu. Andin tidak ingin terkena masalah, dia datang ke tempat itu untuk mencari hiburan bukan mencari masalah.

Sebenarnya semua kejadian itu Julian lihat dari jauh. Dari sejak Caca menahan Junan namun laki-laki itu menghentak kasar tangan Caca hingga Junan pergi menjauh. Semakin penasaran dirinya, ia begitu penasaran masalah apa yang ada diantara mereka. Julian ingin sekali menyusul Junan namun Rafael tidak sedikitpun melepaskan rangkulannya dari bahunya.

"Kenapa Lian, mukamu khawatir gitu"

"Nggak kenapa-kenapa" Julian menggeleng dan tersenyum kepada Reza. Tidak mungkin ia mengatakan kalau dirinya mengkhawatirkan Junan, tidak semudah itu untuk memberitahu isi hatinya.

Suara Raja terdengar mengentrupsi agar semua orang berkumpul karena acara mereka akan dimulai. Junan menghela nafasnya kasar, moodnya benar-benar kacau setelah kedatangan Caca. Namun ia tidak bisa membatalkan perjanjiannya begitu saja. Dengan langkah berat ia mendekati kerumunan banyak orang, teman-temannya menyambut dan memberikan dukungan. Junan mengambil helm yang diberikan Gafar padanya. Di sisi kirinya sudah ada Rafael yang juga tengah bersiap bersama Julian juga Reza. Caca bahkan merapat pada Junan namun dengan satu kali tarikan gadis itu terhempas jauh itu semua karena ulah Edwin.

"Lepasin" Caca memberontak namun Edwin malah mendorong hingga Caca menabrak orang lain. "Gila kamu ya" sentaknya tidak terima

"Sekali kamu buat masalah lagi, aku nggak akan segan-segan sama kamu Ca. Kamu ingat, aku ini laki-laki, bisa berbuat apa saja sama kamu asal kamu tau" Edwin menyeringai sementara Caca gugup dan melengos pergi begitu saja. Bukan pergi dari tempat itu karena Caca tidak mungkin tidak melihat Junan balapan. Ia hanya menjauh sedikit dari laki-laki yang ia kejar sekarang.

Edwin kembali ke tempatnya, Junan sudah berada di atas motornya begitu juga dengan lawannya. Julian harap-harap cemas, ia takut keduanya kenapa-kenapa. Rafael menoleh ke arahnya, senyuman manisnya ia berikan untuk Julian dan Julian membalas dengan senyuman tipis.

Ketika Julian melirik Junan, rupanya laki-laki itu sedang menatap ke arahnya. Julian memberikan senyumannya namun Junan memalingkan wajahnya dan menutup kaca helm yang ia pakai.

Seorang wanita memberikan aba-aba, suara mesin motor mulai terdengar. Baik Junan maupun Rafael saling melirik dari balik helm yang mereka pakai. Terhitung sampai angka tiga keduanya melaju dengan kecepatan tinggi. Semua orang bersorak bertepuk tangan dimana dua orang yang bertarung balapan meninggalkan garis start.

Semuanya terlihat baik-baik saja, baik Junan maupun Rafael tidak ingin kalah dalam balapan ini. Saling melambung dan bahkan berada dalam posisi yang sama.

Rafael mengangkat tangannya dan mengacungkan jari tengah, Junan hanya tersenyum tipis di balik helmnya dan mengacungkan jempol kanannya ke bawah, pertanda kalau Rafael payah dalam menghadapinya. Junan menarik pedal gas motornya melaju meninggalkan Rafael yang tersenyum smirk. Sayangnya bukankah itu adalah balapan yang keduanya ingin meraih kemenangan. Rafael menyusul Junan hingga ketika semakin dekat dan berada di posisi yang sama, Rafael dengan sengaja menyenggol motor Junan hingga Junan oleng ke samping.

Bukan hanya sekali namun lagi-lagi Rafael melakukan hal itu. Sementara Junan tetap dalam kondisi terjepit sekarang. Ketika Rafael hendak menyenggol dirinya lagi, seketika Junan menginjak rem secara mendadak hingga motornya berhenti seketika dengan ban motor belakangnya yang terangkat ke atas. Sementara Rafael hampir jatuh ketika ia tidak mengenai sasaran yang dituju.

Keduanya berhenti membuka kaca helm dan saling menatap tajam. Bagai ada kilatan kebencian yang dikeluarkan oleh keduanya. Saling memainkan gas motor dengan tatapan penuh emosi.

Kembali mereka melajukan motor masing-masing. Tidak ingin tertinggal dan kalah dalam balapan itu. Garis finis telah terlihat, semua orang mulai bersorak memanggil nama keduanya. Di dekat garis finis, semua orang tegang sebab saat ini baik Junan maupun Rafael dalam posisi yang sama. Tidak ada yang di depan dan tidak ada yang tertinggal, keduanya berada dalam satu garis lurus yang sama.

Namun hal yang tidak diinginkan terjadi ketika Rafael dengan sengaja menyenggol keras motor Junan sehingga keseimbangan Junan oleng dan laki-laki itu jatuh dari motor. Terseret beberapa meter dalam posisi masih mengendarai motornya. Pekikan histeris terdengar ketika Junan menabrak kursi-kursi yang ada di tempat itu sementara Rafael berhasil meraih garis finis.

"JUNAN"

Jenan berlari lebih dulu di susul yang lainnya menghampiri Junan yang terkapar di jalanan. Raja tersenyum smirk dan menyeringai menghampiri Rafael dan merangkul bahu laki-laki itu.

"Good job bro" Raja begitu puas.

Julian menatap tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Rafael. Tanpa aba-aba dia berlari menyusul teman-teman Junan yang membantu laki-laki itu untuk bangkit dan membawanya ke tempat aman.

Celana Junan robek dan meninggalkan luka di sana dengan darah yang keluar. Untungnya ia memakai helm sehingga tidak terjadi apapun dengan kepalanya. Hanya saja jaketnya ikut robek di bagian samping kanan akibat gesekan yang keras di aspal jalanan.

"Jun, kamu nggak apa-apa...?" Julian datang menarik begitu saja Jenan yang sedang memeriksa luka Junan. Ia menggantikan Jenan dan berjongkok di depan Junan.

"Aku baik-baik saja" Junan tersenyum tipis. Ia tidak menyangka saja Julian akan terlihat panik melihat keadaannya.

"Nggak apa-apa gimana, ini kamu luka. Kita ke rumah sakit ya. Kamu harus diobati"

"Nggak perlu, ini hanya luka kecil"

"Luka kecil kamu bilang, luka yang seperti ini kamu bilang luka kecil...? Pokoknya aku nggak mau tau, kita ke rumah sakit sekarang. Mana motormu biar aku yang bawa" Julian bangkit dan mendekati motor Junan yang tergores lumayan parah namun tidak begitu parah dalam kerusakan. Memakai helm dan mendekati Junan di tempat duduknya. "Ayo, aku nggak terima penolakan"

"Kamu bisa bawa motor...?"

"Jangan ragukan kemampuanku. Biar badanku tidak sebesar badanmu tapi aku bisa mengendarai motor" Julian membantu Junan untuk berdiri.

Yang lain hanya melongo kemudian saling tatap dan tersenyum. Mereka tadinya akan memaksa Junan jika tidak ingin ke rumah sakit namun ternyata mereka tidak perlu susah mengeluarkan tenaga karena nyatanya Junan kini patuh pada Julian.

"Kami akan menemani kalian. Ayo Ga, Ed ambil motor kita" ajak Genta.

Jenan mengikuti Julian yang membawa Junan ke arah motor laki-laki itu. Setelah memakai helm, Junan naik ke jok motornya, duduk di belakang sementara Julian tengah menyalakan mesin motornya.

"Kami duluan ya Jen" ucap Julian.

"Iya, kami nyusul sebentar lagi"

Julian mengangguk dan membawa pergi Junan dari tempat itu. Sementara dari jauh Rafael mendengus menatap tajam kepergian Julian juga Junan. Kedua tangannya mengepal dengan rahang yang mengeras. Ia benar-benar benci dengan pemandangan itu.

Mereka sampai di rumah sakit dan Junan segera ditangani oleh dokter. Julian serta yang lainnya menunggu di luar. Untung saja Junan tidak terluka parah, jika tidak Julian akan kebingungan mengatakan kepada Maria tentang apa menimpa Junan.

Luka itu telah di jahit, Junan tidak perlu untuk di menginap dan lagi dia tidak ingin bermalam di tempat itu. Gafar dan Edwin pulang lebih dulu. Gafar masih memakai motor Jenan, ia paham kalau Genta masih ingin mengantar pulang Jenan sehingga Gafar beralasan masih memerlukan motor itu untuk urusan lain dan Jenan sama sekali tidak keberatan.

Masih Julian yang mengendarai motor itu sementara Junan duduk diam di belakangnya. Sesekali Julian melirik Junan di spion motor, tersenyum tipis dan kembali fokus ke jalanan.

Genta mengantar Jenan sampai di rumah laki-laki manis itu.

"Masuk gih, langsung bersih-bersih dan tidur"

"Hummm, makasih dan hati-hati"

Genta tersenyum dan mengacak lembut rambut Jenan. Lagi-lagi perlakuan itu membuat Jenan bingung dan hanya bisa menerima. Genta meninggalkan dirinya yang masih mematung memperhatikan sampai Genta tidak terlihat lagi.

"Kok rasanya aneh ya" gumamnya dan memilih masuk ke dalam rumah.

_____

"Perlu aku bantu...?" Julian melihat Junan yang kesusahan untuk berjalan.

"Nggak perlu, sebaiknya kamu pulang. Kasian tante Lusi mungkin nungguin kamu"

"Tapi jalanmu seperti itu, aku bantu sampai di kamar" Julian mendekat namun Junan menolak.

"Aku bisa Ian, luka seperti ini nggak akan membuat aku kesulitan. Terimakasih sudah memboncengku. Kamu pulanglah, ini sudah hampir larut malam"

"Baiklah" Julian pasrah saja. "Besok aku datang lagi. Selamat istirahat" memasang senyuman manisnya kemudian Julian keluar dari halaman rumah menuju rumahnya di sebrang jalan.

Sebelum masuk ke dalam rumah Julian membalikkan tubuhnya, masih ada Junan yang rupanya sedang memperhatikan dirinya sejak tadi ia meninggalkan laki-laki itu. Julian tersenyum lagi dan melambaikan tangan memberikan isyarat agar Junan masuk ke dalam rumah.

Junan mengangguk dan balik badan melangkah pelan hingga punggungnya tidak terlihat lagi, barulah Julian masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.

1
Mommy Sha
kak kok gak up lagi sih kak lanjutin dong...nungguin nih kirain udah bertumpuk² episode.
kmren akun sya ada yg bajak yg warkop teteh kuningan Bru skrg bisa aktif lagi.
up yah kak semangaaaat....
warkop Teteh kuningan
lanjut thoooor tambah seru,tambah greget
warkop Teteh kuningan
gaaaaassss
Heri Wibowo
lanjutkan
Heri Wibowo
lanjut
warkop Teteh kuningan
diiih othor mah bukannya d bikin marah Lian ke Rafael malah lembek gitu hadeeeh othor mah bikin gregetan aja...
lanjut thoooor...
🇲🇾WatiAsahi
Author...apa ini novel kisah cinta LGBT???🤔🤔🤔
warkop Teteh kuningan
bikin Julian benci sama Rafael Thor gara² celakain junan....
warkop Teteh kuningan
weleh....lqn Lan ternyata kmu duluan toh yg belok.
sya tertarik dgn cerita ini Krena Tahun kmren sya tinggal d daerah yg bnyak orng begininya bedanya ini cewek sama cewe ...jdi penasaran awalnya kek gimana mereka bisa kek begitu.heheh..mungkin gak jauh beda kali yah awal mulanya sama cerita othor.
warkop Teteh kuningan
jiaaaaah jadi 3 3 melehoy Thor,,,emang da othor mah adil hehehe.semuanya ngerasain.
warkop Teteh kuningan
sabar yah Rafa.....
apakah Rafael rival junan Krena merebut Caca dulunya yah
warkop Teteh kuningan
apa Rafael juga belok Thor,,,atau Rafael,junan dan Julian pada tidak sadar klo mereka belok...
jadi penasaran sama cowok ganteng tapi cantik,,blom kebayang gitu siapa artis yg ganteng nan cantik,,,fotonya Thor penasaran....biar ngehalu nya passs.heheheh
Awan Biru: menghayal aja dulu ya kak 😊😊
total 1 replies
warkop Teteh kuningan
kok keknya Julian cowok yg gemulai yah,gak ada tegas² nya gitu nunduk mulu
warkop Teteh kuningan
apa gak tersungging tuh ibu Lusi anaknya di bilang ganteng/cakep tapi cantik
warkop Teteh kuningan
akyu mampir kaaaaak,,,,siap menunggu cerita² nya,,tapi jgn fokus d novel salah satunya brengan aja jalannya....
weleh weleh mungkinkah ini cerita yg d sebut cinta terlarang???
Awan Biru: terimakasih kak 😊🙏🙏
total 2 replies
Aiby Kushina Uzumaki
apaan tuh ?
Heri Wibowo
like pertama sudah mendarat
Awan Biru: terimakasih kak Heri 🙏🙏 😊😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!