Alvierra Zea Khanza atau biasa dipanggil Zea rela menjadi gubernur demi mewujudkan impian sang nenek. Tapi sejak menjabat, berbagai teror dan ancaman mulai mengincarnya.
Demi keselamatan Zea, sang kakek mengirim seorang pengawal pribadi bernama Sagara Arya, kapten dingin yang ternyata menyimpan misi rahasia yaitu membunuh Zea.
Sayangnya, menghadapi gubernur yang bar-bar, keras kepala, tetapi begitu tulus mencintai rakyatnya membuat Kapten Sagara perlahan melupakan misinya.
Di antara ancaman, rahasia, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh, sang kapten justru jatuh cinta kepada perempuan yang seharusnya menjadi targetnya.
Ketika tugas dan cinta berada di dua sisi yang berlawanan, akankah Sagara memilih perintah atau melindungi perempuan yang telah mencuri hatinya?
Yuk stay tune ya. Yang gak suka silakan skip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Licik
Di tengah pesta yang berlangsung meriah di sebuah hotel mewah itu, Zea sedang berbincang bersama Intan dan beberapa tamu undangan.
Dari kejauhan, seorang pemuda dengan setelan jas mahal memperhatikan Zea. Di tangannya terdapat segelas jus buah, sementara senyum angkuh terukir di wajahnya.
Setelah meminta izin kepada beberapa orang yang menghalangi jalannya, ia melangkah menghampiri sang gubernur.
"Selamat malam, Bu Gubernur. Sepertinya malam ini saya beruntung bisa bertemu langsung dengan perempuan secantik Anda," sapanya sambil tersenyum lebar.
Zea melirik pemuda itu sekilas. "Selamat malam."
Hanya satu kalimat pendek yang keluar dari mulutnya sebelum ia kembali melanjutkan percakapan dengan Intan.
Pemuda itu sedikit mengernyit karena sambutannya tidak mendapatkan respons seperti yang diharapkan. Namun, ia tidak menyerah dan justru berdiri lebih dekat dengan Zea.
"Perkenalkan, nama saya Alex. Saya putra salah satu anggota legislatif yang cukup dikenal di negeri ini. Mungkin Anda pernah mendengar nama ayah saya?"
Zea menoleh sebentar. "Oh, begitu."
Alex terdiam sesaat. Ia sudah terbiasa melihat orang-orang antusias ketika mengetahui latar belakang keluarganya. Namun, perempuan di hadapannya justru menanggapi dengan ekspresi datar.
"Anda memang selalu sedingin ini kepada orang yang ingin berkenalan dengan Anda?" tanyanya.
"Kalau orangnya tidak tahu kapan harus berhenti berbicara, mungkin iya." Zea membalas datar.
Sementara itu, Alex hanya tertawa kecil, seolah menganggap ucapan Zea sebagai gurauan.
"Wah, ternyata Anda punya selera humor juga. Bagaimana kalau kita berkenalan lebih jauh? Saya bisa mengajak Anda makan malam atau pergi ke tempat hiburan yang bagus. Anggap saja sebagai teman baru."
"Tidak tertarik."
"Jangan buru-buru menolak. Saya yakin kita bisa cocok."
Alex kemudian mengulurkan tangannya, berniat menyentuh bokong Zea, tapi sebelum tangannya sempat menyentuh perempuan itu, Zea segera menghindar satu langkah.
Tatapan matanya berubah tajam. "Jaga batasanmu."
Senyum Alex sedikit memudar. Akan tetapi, ia masih berusaha mempertahankan sikap santainya.
"Astaga, Bu Gubernur. Saya cuma ingin bersikap ramah. Tidak perlu sampai memasang wajah seperti itu. Lagipula itu hal wajar di LN."
"Ramah menurutmu bukan berarti kamu boleh menyentuh orang sesuka hati."
Alex mendengus pelan, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Zea.
"Jangan terlalu jual mahal, deh. Saya tahu berita yang beredar di luar sana. Katanya, Anda bisa menduduki posisi gubernur karena orang dalam, bukan? Jadi, jangan terlalu merasa hebat."
Intan langsung mengangkat wajahnya. Ia sudah hendak menyela, tetapi Zea mengangkat satu tangan untuk mencegah asistennya itu ikut campur.
Alex semakin percaya diri karena mengira Zea tidak mampu membalas perkataannya.
"Tenang saja, saya punya banyak koneksi. Kalau Anda mau menemani saya ke tempat karaoke malam ini, saya bisa membantu Anda masuk ke pemerintahan pusat. Siapa tahu, karier Anda bisa semakin cemerlang."
Zea menatapnya selama beberapa detik. Kemudian, ia tersenyum tipis, tetapi senyum itu sama sekali tidak mencapai matanya.
"Menarik sekali."
Alex mengangkat alisnya. "Nah, begitu dong. Akhirnya Anda mengerti juga."
"Tentu saja. Baru kali ini saya bertemu seseorang yang begitu murah hati menawarkan jabatan yang bahkan bukan miliknya."
Senyum Alex perlahan menghilang.
Zea melanjutkan dengan suara tenang, tetapi setiap perkataannya terdengar menusuk.
"Kamu bahkan belum mampu mengendalikan sikapmu sendiri, tetapi sudah berani menjanjikan posisi di pemerintahan pusat. Kalau memang ayahmu seorang anggota legislatif, seharusnya kamu belajar menghargai orang lain, bukan menggunakan nama beliau untuk merayu perempuan."
Wajah Alex memerah menahan malu. "Kau77—"
"Dan satu lagi." Zea memotong ucapannya. "Kalau kamu ingin mengajak seseorang berkenalan, belajarlah menerima penolakan. Dunia ini tidak berputar hanya untuk memenuhi keinginanmu."
Zea kemudian melirik gelas jus di tangan Alex.
"Silakan nikmati minumanmu. Sepertinya itu satu-satunya teman yang bersedia mendengarkan ocehanmu malam ini."
Intan langsung menutup mulutnya, berusaha keras menahan tawa.
"Permisi," ucap Zea singkat sebelum berbalik meninggalkan Alex bersama asistennya.
Alex hanya bisa berdiri terpaku. Baru kali ini seorang perempuan berani mempermalukannya di hadapan orang lain tanpa sedikit pun menunjukkan rasa takut.
Setelah Zea menjauh, ia mengepalkan tangan dan mendengus kesal.
"Cih! Sok jual mahal!" gerutunya. "Memangnya dia pikir siapa dirinya? Lihat saja, aku akan membuatnya bertekuk lutut di hadapanku!"
"Kau menyukai perempuan itu?"
Sebuah suara perempuan tiba-tiba terdengar dari sampingnya.
Alex menoleh. Begitu mengenali sosok yang berdiri di sana, ekspresi kesalnya berubah menjadi senyum menggoda.
"Wah, Nona Soraya. Kita bertemu lagi rupanya." Ia mengangkat gelas jusnya sedikit. "Apa kau merindukanku sampai datang menghampiri seperti ini?"
Soraya mendengus jijik. "Jangan bermimpi, Alex. Kita sudah menjadi mantan. Jadi, jalani hidup masing-masing dan jangan menggangguku."
Alex tertawa kecil. "Galak sekali. Padahal dulu kau tidak seperti ini."
Soraya mendengus, "Dulu dan sekarang berbeda. Lagipula, aku sudah punya pria yang sedang kuincar."
Alis Alex terangkat. Ia memandang Soraya dengan rasa ingin tahu. "Oh? Siapa pria beruntung itu?"
Soraya melirik ke arah Zea yang kini sedang berbincang bersama beberapa tamu. Tidak jauh dari sana, Sagara berdiri dengan sikap tegap, mengenakan setelan hitam yang membuat penampilannya terlihat semakin gagah.
"Kapten Sagara," jawab Soraya. "Pria yang menjadi pengawal pribadi gubernur itu."
Alex mengikuti arah pandang Soraya. Matanya kemudian menyipit ketika melihat Sagara.
"Pengawal gubernur? Jadi, kau tertarik kepada pria itu?"
"Tentu saja. Dia bukan pria sembarangan," balas Sagara.
Alex terkekeh. "Kalau begitu, kau sebaiknya segera melupakan keinginanmu."
Soraya menoleh tajam. "Apa maksudmu?"
Alex kembali menatap Zea yang telah pergi ke sisi lain ruangan. Senyum licik perlahan muncul di wajahnya.
"Karena aku sudah memutuskan sesuatu."
"Apa?"
"Aku ingin menikahi Zea."
Soraya terdiam sesaat, lalu menatap Alex seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Kau serius?"
"Tentu saja. Perempuan itu sudah mempermalukanku di depan banyak orang. Aku ingin membuatnya menyesali perbuatannya." Alex memutar gelas di tangannya. "Lagipula, menjadi suami seorang gubernur tentu bukan hal yang buruk, bukan?"
Soraya memikirkan sesuatu. Jika Alex berhasil mendekati Zea dan menimbulkan masalah bagi gubernur itu, ia bisa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menjatuhkan saingannya sekaligus mendapatkan perhatian Sagara.
Akhirnya, Soraya tersenyum tipis. "Bagaimana kalau kita bekerja sama?"
Alex mengerutkan kening. "Bekerja sama?"
"Kau menginginkan Zea sebagai calon istrimu, bukan? Aku bisa membantumu."
Alex memandang Soraya dengan penuh selidik.
"Kenapa kau mau membantuku? Bukankah kau sendiri baru saja mengatakan bahwa kau mengincar pengawalnya?"
Soraya mendekat, lalu berbisik di telinga Alex. Ia menjelaskan rencananya dengan suara pelan agar tidak didengar oleh orang-orang di sekitar mereka.
Semakin lama mendengarkan, senyum Alex semakin lebar.
"Jadi, begitu caranya?" bisiknya setelah Soraya selesai berbicara.
Soraya mengangguk kecil. "Bagaimana? Kau tertarik?"
Alex tertawa pelan, lalu mengulurkan tangannya. "Baiklah. Kita sepakat."
Soraya menyambut tangannya dengan senyum penuh arti.
wehhh piye iki jal
sat set tnpa drama keren
KLO kek gini rasanya negara ini akan damai2 saja
tp kbnykan pada komen dlu sblm tau faktanya
alahhh mboh lah mumet AQ
AQ ora tau melu2 komen ini itu JD tak tau lah
mempan 🤣🤣🤣🤣🤣
kiro2 piye yoooo
apa
ciieeee kapteennnn 🤭🤭🤭🤭🤭🤭