Indonesia
NovelToon NovelToon
Janji Sahabat

Janji Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Romansa / Persahabatan
Popularitas:223
Nilai: 5
Nama Author: Keke Ganteng

"Janji Sahabat" menceritakan kisah tiga remaja yang dipertemukan oleh takdir di bangku SMA. Arga yang pendiam, Nanda yang penuh semangat, dan Dimas yang humoris bersumpah akan tetap menjadi sahabat sampai impian mereka terwujud.
Namun, perjalanan menuju masa depan tidak pernah mudah. Kemiskinan, perpisahan, kegagalan, dan musibah datang silih berganti, menguji kesetiaan mereka. Saat keadaan memaksa mereka memilih antara menyerah atau mempertahankan janji, mereka menyadari bahwa persahabatan sejati tidak diukur dari seberapa sering bertemu, melainkan dari keberanian untuk tetap saling menggenggam ketika dunia terasa runtuh.
Akankah janji yang mereka ucapkan di bawah langit senja mampu bertahan menghadapi kerasnya kehidupan? Ataukah waktu akan memisahkan mereka untuk selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keke Ganteng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Proyek Kelompok

Dua minggu setelah kedatangan Salsabila, Bu Retno mengumumkan tugas kelompok besar untuk mata pelajaran IPS—sebuah proyek riset sederhana tentang sejarah dan budaya lokal Ciandara yang harus dipresentasikan di depan kelas.

"Ibu bagi kelompoknya berdasarkan tempat duduk terdekat, ya, biar gampang koordinasi," umum Bu Retno sambil membacakan daftar nama.

Kebetulan—atau mungkin karena posisi bangku mereka yang memang berdekatan sejak Salsabila pindah—nama Raka, Naya, Adit, dan Salsabila dipanggil dalam satu kelompok yang sama.

"Wah, kompak beneran nih kelompoknya," celetuk Adit senang, langsung menggeser bangkunya mendekat begitu Bu Retno selesai membacakan pembagian kelompok.

Mereka berempat sepakat untuk mengerjakan riset tentang legenda pohon beringin tua yang selama ini menjadi tempat favorit mereka berkumpul—sebuah ide yang muncul dari Naya setelah mengetahui dari Bu Marto, saat berkunjung ke Wonorejo, bahwa hampir setiap daerah punya cerita rakyat tersendiri soal pohon-pohon tua semacam itu.

"Kita bisa wawancara warga sekitar taman, atau cari di perpustakaan daerah," usul Salsabila antusias, menunjukkan sisi lain dari dirinya yang ternyata cukup rajin dan terorganisir, jauh dari kesan pendiam yang ia tunjukkan di hari pertama.

Sepulang sekolah, keempatnya berkumpul di rumah Raka untuk mulai menyusun rencana riset, dengan Bu Sulastri yang senang hati menyediakan camilan sederhana seperti biasa.

"Tante, makasih banyak ya udah bikinin makanan terus tiap kita main ke sini," kata Salsabila sopan, membuat Bu Sulastri tersenyum lebar mendengarnya.

"Nggak apa-apa, Nak. Rumah ini emang selalu terbuka buat teman-teman anak Ibu," jawab Bu Sulastri hangat, menepuk pundak Salsabila sekilas seperti yang biasa ia lakukan kepada Naya dan Adit.

Proses pengerjaan tugas berjalan lancar selama beberapa hari, diselingi obrolan ringan dan tawa yang membuat keempatnya semakin akrab satu sama lain. Salsabila, yang awalnya tampak seperti orang luar, kini mulai terasa seperti bagian alami dari kelompok kecil itu—meski tentu saja, ikatan trio yang sudah terjalin sejak hari pertama sekolah tetap memiliki kedalaman tersendiri yang tidak bisa digantikan begitu saja.

Ketika tiba waktunya mewawancarai warga sekitar taman untuk melengkapi riset, mereka berempat mendatangi seorang kakek tua yang dikenal sering duduk di bangku taman dekat pohon beringin setiap sore.

"Pohon itu udah ada sejak Kakek kecil dulu," cerita kakek itu, suaranya bergetar karena usia namun matanya berbinar mengenang masa lalu. "Katanya orang tua zaman dulu, pohon itu tempat orang-orang menyimpan janji. Kalau janji itu tulus, pohonnya bakal tumbuh makin rindang. Tapi kalau janji itu dikhianati, konon salah satu dahannya bakal mati duluan."

Keempat anak itu saling pandang mendengar cerita tersebut, sebuah kebetulan yang terasa begitu tepat mengingat janji yang telah mereka ukir sendiri di batang pohon itu beberapa bulan lalu.

"Serem juga ya ceritanya," gumam Adit, mencoba menutupi rasa merindingnya dengan candaan seperti biasa.

Namun jauh di dalam hati Raka, cerita itu meninggalkan kesan yang lebih dalam dari yang ia tunjukkan—sebuah firasat samar bahwa janji yang mereka ukir bukan sekadar simbol biasa, melainkan sesuatu yang harus benar-benar mereka jaga dengan sepenuh hati.

Sepulang dari wawancara itu, saat mereka berjalan melewati pohon beringin untuk pulang, Naya secara tidak sengaja memperhatikan sesuatu yang janggal—salah satu dahan kecil di sisi pohon itu tampak mulai mengering, berbeda dari dahan-dahan lain yang masih segar dan rimbun.

"Eh, itu kenapa keliatan layu, ya?" tanyanya, menunjuk dahan yang dimaksud.

Ketiga temannya menoleh, menatap dahan kering itu dalam diam, teringat kembali cerita kakek tua yang baru saja mereka dengar beberapa menit lalu.

1
Dini
jangan lupa mampir juga di karya ku
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
Keke Ganteng: ok siap
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!