Enam pelaku. Enam putusan. Enam kematian yang selalu datang setelah sidang berakhir.
Sebagai hakim muda, Blair dikenal karena putusannya yang tegas dan tidak mudah dipengaruhi. Namun setiap kali sebuah persidangan selesai, seseorang selalu mati dengan cara yang menyerupai dosanya sendiri.
Saat Theodore, penyelidik dari Badan Anti Kriminal, mulai menelusuri rangkaian kematian itu. Blair justru dihantui oleh ingatan yang terasa asing. Obat-obatan yang terus ia konsumsi, masa lalu yang hilang, dan sosok yang seolah hidup di balik kesadarannya perlahan menyeretnya pada sebuah kebenaran yang seharusnya tetap terkubur.
Di balik pengadilan yang terlihat oleh semua orang, ternyata selalu ada pengadilan lain yang tersembunyi dari cahaya dan ketika hukum gagal memberi keadilan, seseorang akan datang untuk menagih akibat yang tak pernah tercatat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17 : Malaikat macam apa sih?
Blair terdiam sejenak. Tatapannya menyapu Lucas dari ujung kepala hingga kaki, perlahan dan tajam. Sulit ditebak apa yang melintas di balik mata itu, ada kilatan geli, jejak kejengkelan, dan sesuatu yang jelas tidak ingin ia jelaskan.
“Aku tetap keluar,” ucapnya akhirnya.
Nada suaranya datar, tanpa ruang untuk tawar-menawar.
Lucas membuka mulut, hendak membantah.
Belum sempat satu kata pun keluar, Blair sudah memutar bola matanya. Ia mendorong bahu Lucas pelan, namun cukup tegas untuk memaksanya bergeser.
“Minggir.”
Tatapannya mengeras, isyarat yang tak perlu diulang dua kali.
Lucas tersentak. Ia menoleh refleks, mencoba memprotes namun Blair sudah melangkah keluar. Detik berikutnya, pintu menutup tepat di depan wajahnya.
Brak.
Lucas terhuyung sedikit. Keningnya menyentuh daun pintu.
“Aduh—!”
Ia mengusap keningnya sambil mendengus kesal, menatap pintu seolah berharap benda itu tiba-tiba terbuka lagi.
“Sejak kapan sih dia jadi emosional dan keras kepala begini…?” gumamnya.
Lucas bersandar ke dinding, menarik napas panjang. Wajahnya mengeras oleh frustrasi yang bercampur bingung.
“Dulu… dia lembut dan patuh banget sama peraturan.” lanjutnya lirih. “bahkan saking lembutnya, sampai rasanya seperti malaikat.”
Ia menutup mata sejenak, menghembuskan napas berat.
“Malaikat macam apa sih, yang sekarang malah ninggalin bekas benjol di dahi orang?”
...
Ruangan itu terasa semakin menyempit.
Lampu di langit-langit berkedip pelan, cahayanya kabur oleh air mata yang menggenang di mata seseorang di lantai. Suara tawa di sekelilingnya bercampur menjadi dengung yang memekakkan telinga. Ia terus menggeleng, seolah gerakan itu bisa membuat semua ini berhenti.
“Jangan… tolong berhenti…”
Suara itu nyaris tak terdengar, tenggelam oleh ejekan.
Seseorang di depannya tertawa, suara yang terdengar terlalu ringan untuk sesuatu yang begitu kejam. Tangan itu membelai wajahnya, bukan dengan kelembutan, melainkan dengan penghinaan. Alis orang itu terangkat, senyumnya miring.
“Hari masih panjang,” katanya santai. “Dan kau masih harus melayani kami semua.”
Tubuh di bawahnya kembali menggeleng. Isak kecil lolos dari bibir yang bergetar. Tangannya ditahan di atas kepala, tak bisa bergerak, sementara kaki-kakinya terkunci. Kulitnya memerah, penuh bekas yang tak sempat sembuh. Rasa dingin, sakit, dan malu bercampur menjadi satu.
“Diam,” suara lain menyela, malas. “Nikmati saja.”
Kata itu membuat dadanya sesak.
Tangisan, rintihan, dan napas terengah memenuhi ruangan namun semua terdengar samar bagi mereka yang berdiri di sudut. Beberapa di antaranya hanya menonton. Ponsel terangkat, layar menyala, merekam semuanya dengan tawa rendah yang tak punya rasa bersalah.
“Dia cantik,” salah satu dari mereka berkata sambil tertawa. “Pantas saja semua orang menginginkannya.”
“Sayang kalau tidak digunakan,” timpal yang lain, matanya menyapu tubuh itu tanpa empati.
Yang lain tertawa lebih keras.
“Dia harusnya berterima kasih,” katanya. “Kami memberinya pengalaman indah di masa mudanya.”
Tubuh yang terbaring itu menoleh ke arah mereka yang berdiri di sudut ruangan. Tatapannya gemetar, basah oleh air mata yang tak henti jatuh. Ia menggeleng pelan, lalu membuka mulut dengan suara serak.
“Tolong… hentikan…”
Permohonan itu tak pernah sampai. Namun tawa justru meledak lebih keras.
Salah satu dari mereka menyeringai, menunjuk ke arahnya. "Sepertinya dia kurang puas..."
Kata itu meluncur begitu saja, kejam, palsu, dan penuh niat buruk.
Ia menggeleng kuat, napasnya tersendat. Namun reaksi itu malah disambut sorak-sorai. Beberapa orang mendekat, tangan-tangan kasar menarik tubuhnya tanpa memberi waktu untuk melawan atau berpikir.